INTERMESO

Dari YouTuber Brasil untuk Agnez Mo

Dari Curvelo, Brasil, dia datang ke Jakarta. Demi Indonesia dan Agnes Monica.

Foto-foto: dok. pribadi via instagram

Minggu, 28 Januari 2018

Dream, believe, and make it happen. Felipe Valdes Nascimento sengaja menulis kalimat itu besar-besar dan menempelkannya di dinding kamar. Bagi Felipe, begitu ia disapa, tulisan itu bukan hanya sekedar kalimat penyemangat, melainkan slogan yang dipopulerkan oleh penyanyi favoritnya, Agnes Monica alias Agnez Mo.

Saban hari ketika Felipe belum mengenal Agnez Mo, ia punya mimpi untuk tinggal dan menetap di negara lain. Felipe ingin melihat dunia yang lebih besar dari kota kelahirannya, Curvelo, kota kecil di negara bagian Minas Gerais, Brasil, puluhan ribu kilometer jaraknya dari Indonesia. Meski saat itu dia tak paham bahasa Indonesia, Felipe tak hanya sekadar menyukai Agnez Mo dan lagu-lagunya. Dia bercita-cita berkunjung ke Indonesia. 

Felipe telah jatuh cinta dengan Indonesia bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di negara ini. Bendera Indonesia ia pajang di salah satu sudut kamarnya. “Karena dari dulu cita-citaku ingin tinggal di negara lain. Aku suka negara yang eksotik dan jarang orang pergi ke sana. Indonesia itu negara baru untukku. Orang Brasil jarang ada yang tahu soal Indonesia. Makanya aku penasaran banget,” Felipe bercerita kepada detikX beberapa waktu lalu.

Felipe mengenal Indonesia dari seorang perempuan yang ia kenal di sebuah aplikasi chatting. Aplikasi itu memungkinkan penggunanya di seluruh dunia saling berinteraksi dan belajar bahasa. Barang kali sudah jodoh, Felipe bertemu dengan perempuan asal Indonesia yang hingga kini masih menjadi temannya. Mereka rutin berkomunikasi dan bertukar cerita mengenai negara masing-masing.

Hingga suatu ketika ia meminta temannya untuk mengirimkan lagu dalam Bahasa Indonesia. Lagu Matahariku yang dinyanyikan oleh Agnez Mo. Meski tak paham maksud liriknya namun Felipe langsung suka. “Pada 2011, setelah mendengar lagu aku putuskan buat cover lagu untuk kukirim ke dia. Aku latihan dan buat video untuk bikin kejutan ya tapi tidak bagus. Aku sengaja upload di YouTube supaya dia bisa lihat,” kata Felipe.

“Banyak orang Brasil yang minta aku bikin video soal kehidupan di Indonesia.” 

Felipe Valdes Nascimento, youtuber asal Brasil

Felipe Valdes di Bali.

Tak disangka justru video cover lagu yang ia unggah malah ditonton oleh pengguna YouTube di Indonesia. Lagu yang Felipe nyanyikan mendapat respon positif. Bahkan beberapa televisi nasional ikut memberitakan video Felipe lagu viral. Sejak saat itu Felipe keterusan membuat cover lagu. Lagu Goyang Dumang milik pedangdut Cita Citata hingga lagu kebangsaan Indonesia Raya ia nyanyikan dengan lafal setengah bulenya.

Di dunia maya sosok Felipe semakin dikenal. Kala itu ia bahkan punya banyak teman Indonesia dari sosial media. Felipe juga menjadi salah satu pengguna Kaskus. Melalui forum itu ia kembali mencurahkan keinginannya untuk bisa berkunjung ke Indonesia. Setelah menamatkan kuliah di jurusan teknologi informasi. Felipe bekerja di pemerintahan Kota Brasil. Selama tiga tahun ia mengumpulkan uang hanya dengan satu tujuan, yaitu agar bisa berangkat ke Indonesia.

Kesempatan akhirnya pun datang kepada orang yang berusaha. Felipe lolos seleksi menjadi relawan di sebuah SD di Semarang. Rencananya Felipe akan berkunjung selama dua bulan. Perasaan Felipe campur aduk. Ia begitu senang namun juga khawatir karena pertama kali dalam hidupnya ia meninggalkan Brasil dan pergi ke negeri orang nun jauh di sana. Lebih gugup lagi karena setibanya di Indonesia Felipe juga harus melayani undangan tampil di televisi.

Felipe yang kala itu belum mahir berbahasa Indonesia itu diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia. “Aku itu orangnya pemalu dan sebetulnya nggak suka tampil di depan kamera. Aku kan dari kota kecil, istilahnya kampungnya di Brazil. Pas aku tiba di Indonesia dan diundang di beberapa media, aku malu sekali,” ujar Felipe. 

Dari semula hanya berencana tinggal di Indonesia selama dua bulan, Felipe malah memutuskan memperpanjang kunjungannya. Hingga kini sudah hampir dua tahun ia menetap di Jakarta. Awalnya dia kaget juga melihat keramaian kota Jakarta. Saat itu dia kerap menemui kendala saat bepergian, terutama ketika menggunakan ojek online. Kala itu Felipe memang belum mahir berbahasa Indonesia. Baru belakangan ia belajar secara otodidak.  

Felipe Valdes di Jakarta,

Pemilik 30 ribu subscriber ini sebetulnya enggan disebut sebagai YouTuber karena dia membuat akun YouTube semula hanya iseng belaka. Felipe yang ingin menonton konser dangdut mengaku hanya membuat konten YouTube untuk bersenang-senang. Ia tak begitu rutin mengunggah video di YouTube. Namun akhir-akhir ini Felipe makin sering dapat permintaan dari orang-orang di Brasil untuk memperkenalkan Indonesia dengan menggunakan Bahasa Portugis, bahasa nasional Brasil.

“Karena banyak orang Brasil yang minta aku bikin video soal kehidupan di Indonesia. Sekarang aku pakai Bahasa Portugis dan terjemahan Indonesia. Sekarang ada banyak orang Brasil yang mau datang ke sini untuk ketemu pacar atau bekerja. Ada banyak yang mengontakku minta informasi soal Indonesia,” ujar Felipe. 

Felipe tidak tahu kapan ia akan pulang ke Brasil karena masih ingin menikmati waktunya di Indonesia. Suatu saat nanti, ketika kembali ke kampung halaman, Felipe ingin menjadi pengajar Bahasa Indonesia. “Aku lihat sudah ada teman-teman yang minta diajarkan Bahasa Indonesia. Semoga ketika kembali aku bisa membagikan pengalaman dan mengajarkan Bahasa Indonesia di sana.”

Ada beberapa youtuber asing atau keturunan orang asing yang membuat video soal Indonesia. Yang lumayan kondang dan punya banyak penonton misalnya Sascha Stevenson. Ada pula Mathias Pettersen, Mas Bas Bule Prancis, Hari Jisun, dan Martin Johnson alias Pak Martin. 

* * *

Mempelajari bahasa asing seperti Bahasa Indonesia merupakan hal baru bagi Martin Johnson dan keluarga. Ketika itu di tahun 2005, Martin yang lahir dan dibesarkan di California, Amerika Serikat, memboyong sang istri, Julie Johnson, dan kedua anaknya Sarah dan Seth ke Papua. Martin mendapatkan tugas menjadi tenaga pengajar di sekolah alkitab di Papua. Sehari-hari ia bekerja sebagai pembimbing rohani di gereja.  

Martin Johnson bersama keluarganya di Merapi Park, Yogyakarta.

Di Papua, Martin harus menghadapi hidup serba sulit. Genset listrik yang hanya bisa dihidupkan hingga sore hari. Air bersih dengan mengandalkan air hujan. Namun saat itu Martin dan keluarga tidak terlalu merasa terganggu. Sebab ia pernah memiliki rumah di California yang masih mengandalkan genset dan sumur untuk kebutuhan sehari-hari.

Masalah utama justru karena hanya segelintir orang Papua yang paham Bahasa Inggris. Untuk itu ia sekeluarga belajar bahasa Indonesia selama empat bulan di Bandung. Meski telah mempelajari Bahasa Indonesia, Martin masih sungkan mempraktekkannya. Dia malu lantaran aksen yang berbeda dan masih kaku. 

Terlintas di pikiran Martin untuk membuat akun di YouTube sebagai sarana berlatih berbicara dan membuat video dalam Bahasa Indonesia. “Pada 2015 saya buat akun Pak Martin untuk berlatih Bahasa Indonesia. Karena saya mau buat video setiap hari untuk berlatih, saya pikir vlogging lebih tepat,” ujar Martin. Sebelumnya Martin juga sudah membuat sebuah akun YouTube bernama Riding Java yang kini telah berubah nama menjadi Martin Johnson. 

Akun bertemakan motoblog itu ia buat ketika Martin dan keluarga dipindah tugaskan ke Yogyakarta. Martin membuat video motoblog mengelilingi Yogyakarta sambil membawa motor dan kamera Go Pro. “Saya memang sengaja membuat motoblogging supaya orang tua dan kerabat di Amerika bisa melihat situasi di Indonesia tempat kami tinggal.” 

Awalnya Martin merasa lebih nyaman mengelola akun motoblog. Sebab biasanya ia merekam perjalanannya sambil menggunakan helm sehingga penonton tidak bisa melihat wajahnya. Berbeda dengan gaya vlogging yang membuat Martin dan keluarga harus lebih banyak berinteraksi. Butuh waktu hingga akhirnya Martin merasa nyaman berbicara di depan kamera dengan Bahasa Indonesia.

Martin Johnson dalam kereta api dari Yogyakarta.

Melalui akun Pak Martin, ia menampilkan kehidupan keluarganya di Yogyakarta. Kontennya bisa dari hal sepele seperti tanaman tomat yang membusuk di pekarangan rumah hingga mengikuti tren makanan pedas. Tak jarang penonton memuji kekompakan dan keharmonisan keluarga Martin.

“Di tengah banyaknya konten negatif di televisi maupun YouTube, channel Pak Martin bisa jadi tontonan untuk keluarga yang mengibur,” kata salah seorang penonton YouTube Pak Martin. Menurut Martin, penonton video di dua akun YouTube-nya, 70 persen orang Indonesia. Tahun lalu akun Pak Martin mendapatkan piagam Silver Button atas pencapaiannya meraih 100 ribu subscriber. Jika ditengok saat ini Pak Martin memiliki lebih dari 180 ribu pengikut. Meski punya lumayan banyak ‘pelanggan’ video-videonya, Martin tak ada niat menjadikan youtuber sebagai pekerjaan utama. Sehari-hari ia masih bekerja sebagai pembimbing rohani di sebuah yayasan di Yogyakarta.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE