INTERMESO

Empu Pisau Asli Indonesia

Cornelius sempat tiga tahun belajar membuat pisau di Belgia.
Harga pisaunya bisa belasan juta rupiah.

Foto: Thinkstock

Sabtu, 3 Februari 2018

Hawa panas langsung menusuk kulit saat berada di depan pintu garasi yang disulap jadi bengkel kerja pembuatan pisau milik Cornelius Rusandhy. Embusan angin dari kipas ukuran besar pun tak kuasa menghalau panasnya hawa dari tungku pembakaran.

"Dipanaskan sampai sekitar 800 derajat Celsius," ujar Cornelius sambil memasukkan sebilah lempeng baja dalam tungku yang dioperasikan memakai elpiji tersebut. Setelah beberapa menit dibakar, lempeng baja itu diambil Cornelius dengan jepitan besi panjang. Baja yang membara tersebut lalu diletakkan di atas paron dalam kondisi masih dijepit untuk ditempa. 

Bunyi baja yang beradu bertalu-talu, berdentang memekakkan telinga. Bunga api berhamburan mengenai apron kulit yang dipakainya saat palu baja bertubi-tubi menghantam lempengan baja panas itu. Lengan Cornelius tampak menghitam terkena abu arang baja.  

Sesekali pria berdarah campuran Sunda, Tionghoa, dan Minahasa itu memakai lengan baju kausnya menyeka peluh yang mengucur deras dari kening. "Ini bagian proses heat treatment, pemanasan baja bahan pisau," ujarnya kepada detikX di kawasan Cijantung, Jakarta, Rabu pekan lalu seraya kembali memasukkan baja ke tungku dan menyiapkan oli yang dihangatkan untuk menyepuh baja itu. 

Pisau, bagi Cornelius, ibarat sahabat lama. Ia mengaku kecanduan memiliki benda tajam itu sejak masih remaja. Hobi pria yang kini berusia 33 tahun itu bertualang di alam bebaslah yang mempertemukan keduanya. "Saya suka pisau untuk bertualang."

Cornelius (kiri) saat belajar seni menempa di La Forge d'Ostiches, Belgia
Foto : Dok. Pribadi

Berapa pun harga yang ditetapkan, kalau sudah merasa cocok, kolektor ini berani bayar."

Cornelius Rusandhy, pembuat pisau di Jakarta

Kecintaannya terhadap pisau makin menjadi-jadi saat bekerja di pertambangan. Kali ini dia tak puas hanya mengoleksi pisau. Cornelius mencoba membuat pisau sendiri. "Pakai teknik stock removal dengan bahan baja per mobil," ujar Cornelius. "Bikin pisau seadanya pakai gerinda tangan dan asal tajam saja. Saya tak tahu harus pakai proses heat treatment." 

Perkenalan dengan Forum Pisau di Kaskus pada 2012 membuat Cornelius mendapat pencerahan bagaimana teknik pembuatan pisau yang benar. Ia pun makin tertarik memperdalam kemampuannya. Melalui YouTube, ia melihat teknik pembuatan pisau dengan cara menempa. "Sejarah teknik tempa kita sudah tua banget. Melihat video itu membuat saya tertarik. Boleh juga nih belajar menempa."

Jepang menjadi tujuan awalnya untuk mempelajari teknik tersebut. Ia mengontak seorang ahli pembuat katana, pedang Jepang, di sana. "Setelah berkomunikasi panjang, ujung-ujungnya saya harus tinggal di sana selama 10 tahun. Sudah pasti pada tahun-tahun pertama tidak langsung dikasih kesempatan untuk menempa. Masternya melihat dulu ketekunan kita,” kata Cornelius. Yang jadi masalah bagi Cornelius justru soal waktu. “Mungkin tidak ada biaya yang saya keluarkan, tapi berhubung saya tidak punya waktu sebanyak itu, rasanya susah juga."

Tak cocok dengan persyaratan waktu yang dinilainya sangat berat, tekad Cornelius belajar ilmu menempa tak sirna. Ia mendapat informasi American Bladesmith Society (ABS) membuka sekolah pandai besi di La Forge d'Ostiches, Belgia. Ostiches merupakan sebuah kota kecil yang terletak di sebelah selatan Brussel, ibu kota Belgia, yang terkenal memiliki para pandai besi dengan reputasi mumpuni.

Pria dengan titel sarjana ekonomi itu akhirnya memutuskan mendaftar pada 2014. Masa inisiasi minggu pertama membuatnya terkaget-kaget. "Saya pede saja bermodalkan badan fit karena saya pikir akan belajar fisik. Ternyata masuk kelas belajar teori kimia dan nyatet-nyatet. Padahal sama sekali tidak bawa kertas dan pulpen," ujarnya. "Ini menandakan pekerjaan ini tidak hanya modal otot, tapi juga otak."

Proses menempa lempeng baja yang baru keluar dari tungku pembakaran
Foto : Pasti Liberti/detikX

Berbagai macam teori didapatkannya pada minggu pertama, mulai ilmu metalurgi sampai metalografi. "Kita bisa tahu penggunaan baja yang tepat untuk fungsi tertentu. Kekerasannya seperti apa. Kita harus tahu apa yang terjadi dalam baja ketika dipanaskan. Misalnya kalau orang awam memanaskan baja sekadar panas. Bagi yang paham ilmu metalurgi, akan tahu suhu berapa baja tersebut diangkat, lalu suhu berapa baja itu harus ditempa dan kapan berhenti menempa."

Instruktur Cornelius saat menuntut ilmu di La Forge d'Ostiches tak sembarangan. Semua menyandang titel Master Smith, tingkatan tertinggi pandai besi dari American Bladesmith Society (organisasi para pembuat pisau Amerika Serikat) seperti Jean Paul Thevenot dari Prancis, Timothy Potier dari Amerika Serikat, dan Dirk Bourguignon dari Belgia. "Tahun ketiga saya sempat jadi asisten pengajar saat American Bladesmith Society mengadakan kursus," ujarnya.  

Cornelius saat ini sedang menyiapkan karya akhir sebagai syarat untuk meraih gelar Master Smith. Karya akhir yang disyaratkan, kata Cornelius, adalah pisau yang memiliki nilai sejarah dari negara mana pun. "Saya menyiapkan keris sebagai karya akhir," ujarnya. "Sekarang dalam proses mencari bahan-bahan literasinya." 

Tiga tahun di Belgia, Cornelius kembali ke Indonesia. Selain di Cijantung, Jakarta Timur, ia memiliki bengkel kerja di Tangerang, Banten. Ia mengaku lebih suka menggarap sendirian dengan bantuan mesin. "Hasilnya lebih fancy," ujarnya. Alasan itu pulalah yang membuatnya tak berencana memproduksi massal pisau-pisau buatannya. "Saya kerja berdasarkan pesanan…. Selain itu, kalau ada ide baru, pasti saya bikin." 

Cornelius pernah mendapat pesanan pisau model bowie dengan pola atau pamor tertentu dari seorang kolektor asal Jerman. Setelah pisau selesai dibuat, kolektor itu sepakat membeli dengan harga 1.120 euro atau Rp 19 juta. "Itu pisau termahal yang pernah saya buat," ujarnya. "Kalau pasar dalam negeri, paling mahal sekitar Rp 12 juta." Pisau-pisau buatan Cornelius diberi label CR.

Jenis pisau Batempol (baja tempa berpola) atau pisau berpamor yang dibuat Cornelius
Foto : Dok. Pribadi

Foto : Dok. Pribadi

Harga sebilah pisau, menurut Cornelius, bergantung pada beberapa faktor, di antaranya bahan baku. Reputasi pembuatnya juga ikut mempengaruhi harga. "Kolektor biasanya juga punya fanatisme pada pembuat pisau tertentu," ujarnya. "Berapa pun harga yang ditetapkan, kalau sudah merasa cocok, kolektor ini berani bayar." Faktor penentu lainnya soal jam kerja yang dibutuhkan. Makin sulit dan rumit permintaan, tentu butuh waktu lebih lama untuk membuatnya. "Ada pisau yang penyelesaiannya butuh waktu sampai berbulan-bulan."

Pisau yang pengerjaannya memakan waktu panjang biasanya memiliki kerumitan tertentu, seperti pisau dengan pamor. Pola pamor tersebut, kata Cornelius, tidak sembarangan didapatkan. "Dari awal kita sudah harus rencanakan polanya. Tidak asal tumbuk-tumbuk saja," ujarnya.

Bahan yang disiapkan pun tak hanya satu. Karena dalam mengerjakan pola tertentu, pasti akan ada kegagalan. "Melipatnya sebelah mana, motong sebelah mana, waktu tempa narik sebelah mana, itu sangat berpengaruh pada bentuk pola," ujar Cornelius. "Karena itu harga jualnya tak bisa rendah."

Tak semua pembuat pisau merupakan ‘anak sekolahan’ seperti Cornelius. Banyak pula yang belajar otodidaktik, lewat magang dari pembuat-pembuat pisau lain. Iin Suhendi asal Bandung, Jawa Barat, salah satunya. Pria berusia 45 tahun ini belajar membuat pisau dari pengalamannya berkeliling membantu kawan-kawannya.

Seperti pisau buatannya, kemampuan Iin makin tajam terasah oleh ‘jam terbang’ dan pengalaman. Kini pisau buatan Iin makin diperhitungkan lantaran memiliki ketajaman dan ketahanan di atas rata-rata. "Saya dulu ngebolang, jadi orang panggilan," ujar Iin kepada detikX. "Banyak teman yang bikin pisau sendiri. Kalau ada pekerjaan sering memanggil saya. Selesai satu pekerjaan, pindah lagi ke teman yang lain."

Cornelius Rusandhy sedang menggerinda bilah bakal pisau.
Foto : Pasti Liberti/detikX

Setelah merasa kemampuannya cukup, Iin membuka sendiri bengkel kerjanya pada 2014. Seorang sahabatnya yang berkuliah di jurusan Sastra Rusia Universitas Padjadjaran, Bandung, yang mengusulkan черепаховый нож sebagai merek pisau buatannya. "Biar agak-agak unik, pakai aksara Rusia. Kalau diartikan jadi ‘pisau kura-kura’," ujarnya.  

Setelah bergabung dengan komunitas pencinta pisau Indonesian Blades, Iin sempat ikut pertemuan nasional di Malang, Jawa Timur, pada 2015. Saat itu, ia ikut kompetisi bladesport dan berhasil menang. "Sejak saat itu pesanan selalu ada. Paling laku itu jenis chopper dan bushcraft," ujar Iin. Meski banyak pesanan yang datang, Iin, yang hanya dibantu seorang saudaranya, mengaku membatasi pengerjaan sesuai dengan kemampuannya. "Untuk menjaga kualitas produk saja."  

Ketua Indonesian Blades Omar Jacob Saleh menuturkan pembuat pisau di Indonesia sudah tersebar hampir di setiap provinsi. "Knife maker di luar Jawa Barat juga cukup banyak. Hanya, bagi orang Jakarta, pembuat pisau kesannya lebih banyak di Jawa Barat," kata Omar. "Tak bisa dimungkiri, nama Teddy Kardin yang sangat populer sebagai knife maker di Bandung juga berpengaruh, karena kenyataannya pembuat pisau dari Bandung kebanyakan lulusan Teddy Kardin." Di kalangan pencinta pisau, nama Teddy S Kardin asal Kota Kembang memang sudah lama dikenal.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE