INTERMESO

Yang Hidup di Jalan Pisau dan Pedang

“Sangat mudah untuk berkompromi dengan permintaan pasar. Tapi kami menjaga kehormatan dan mendedikasikan hidup untuk membuat pedang”

Yoshindo Yoshihara
Foto: Samurai Magazine

Minggu, 04 Februari 2018

Sejak masih bocah, William F. Moran sudah kehilangan selera bersekolah. Hobinya hanya memancing di Sungai Monocacy dan berburu binatang di hutan tak jauh dari rumahnya di Frederick, negara bagian Arkansas, Amerika Serikat. Cintanya memang tak diberikan kepada buku-buku, tapi hanya untuk pisau.

Entah apa yang ada pada benda tajam itu, tapi sejak kecil Bill Moran sudah tergila-gila pada pisau. Segala jenis pisau. Tak sekadar jadi kolektor, Bill ingin bisa membuat pisau dengan tangannya sendiri. Hanya bermodal bertanya kepada tukang pandai besi di Frederick, dia membuat pisau pertama – menempa besi hingga jadi pisau – saat umurnya baru 12 tahun.

“Dia pernah bercerita, dia mencuri alat-alat pertanian milik bapaknya dan menempanya menjadi pisau,” kata Jay Hendrickson, teman kecil Bill dan pembuat pisau di kota Frederick, dikutip Washington Post, beberapa waktu lalu. Selama bertahun-tahun, Bill Moran terus mengasah kemampuannya menempa baja dan membuatnya jadi sebilah pisau.

Berpuluh tahun kemudian, Bill sudah menjadi ‘empu’ pisau yang disegani di Amerika Serikat. Bill menghidupkan kembali teknik tempa kuno membuat bilah ‘baja Damaskus’. Pisau-pisau buatannya dikoleksi tokoh-tokoh kondang seperti Raja Abdullah dari Yordania dan bintang film Sylvester Stallone.

Bahkan Raja Abdullah sempat singgah sendiri ke bengkelnya untuk memesan pisau militer dengan spesifikasi khusus. “Total ongkosnya US$ 3000….Dia juga memberikan jam tangan buatan Swiss. Dia seorang laki-laki yang sangat baik,” Bill menuturkan kesannya terhadap Raja Abdullah. Pada 1976, dia mendirikan American Bladesmith Society (ABS). Organisasi ini lah yang memberikan ‘sertifikasi’ untuk master pembuat pisau : Master Smith. Bill Moran meninggal pada 12 Februari 2006.

Pisau buatan Bill Moran
Foto : Bill Moran

Hanya seorang seniman yang bisa mencurahkan hati dan jiwanya ke dalam sebuah karya”

Aaron Wilburn, master smith dari Redding, California

Hidup Bill Moran sepertinya memang didedikasikan untuk pisau. Saat umurnya baru 14 tahun, dia sudah mulai menjual pisau hasil karyanya. Demi untuk pisau, Bill yang lahir di keluarga petani, memilih menjual ladang pertaniannya, membangun bengkel pembuatan pisau dan hidup untuk mengembangkan teknik pembuatan pisau. Satu teknik kuno pembuatan logam untuk bahan dasar pisau yang memikat Bill Moran adalah teknik membuat Damascus steel alias baja Damaskus.

Berabad-abad silam, teknik tempa baja Damaskus ini berkembang di kawasan Suriah dan sekitarnya. Caranya dengan membakar dan menempa besi dan baja berulang-ulang hingga menghasilkan sebilah logam yang sangat kuat dan tak gampang patah. Pada 1960-an, nyaris tak ada lagi pandai besi di Amerika yang paham teknik membuat baja Damaskus.

“Bill tahu dia bisa menyatukan besi dan baja lewat pembakaran dan penempaan karena dia pernah melakukannya saat masih tinggal di ladang pertanian,” kata Jay Hendrickson. Tapi Bill tak tahu persis komposisi logam seperti apa sehingga bisa menghasilkan baja Damaskus. “Proses itu harus melewati banyak sekali percobaan dan banyak sekali kesalahan.”

Untuk mendapatkan baja Damaskus, Bill menyatukan tiga lapis besi dan baja, membakar, kemudian menempanya, dan mengulangi proses yang sama hingga delapan kali, sampai mendapatkan ratusan lapis logam tempa. Berkat kegigihannya melestarikan teknik tempa baja Damaskus, orang-orang memberi Bill julukan ‘Bapak Baja Damaskus Modern’. Sekarang, banyak ‘pabrik’ dan pembuat pisau memanfaatkan teknik yang dikembangkan Bill Moran

Aaron Wilburn di bengkelnya di Redding, California
Foto : SFGate

Pada masa hidupnya, sebilah pisau karya Bill Moran harganya berkisar US$ 3000 hingga US$ 5000 atau kurang lebih Rp 40 juta hingga Rp 80 juta. Tapi sekarang, sebilah pisau Bill Moran bisa berharga ratusan juta rupiah. Bill tak cuma sering bereksperimen dengan material besi dan baja. Pernah pula dia mencoba membuat pisau dengan bahan dasar meteorit. “Aku berusaha menempanya dan hasilnya retak karena ada kotoran di dalamnya.” Agar meteorit bisa jadi sebilah pisau, Bill menggabungkannya dengan baja.

Sekarang ada lumayan banyak ‘empu’ pisau dan pedang di seluruh dunia. Paling tidak ada lebih dari 100 pembuat pisau dari sejumlah negara yang menyandang ‘gelar’ Master Smith dari ABS. Ada yang namanya kondang di kalangan kolektor pisau seperti Bob Kramer, Jerry Fisk, dan Aaron Wilburn, ada pula yang namanya nyaris tak dikenal. Ada yang lulusan sekolah, ada pula yang otodidak.

Orang-orang seperti mereka menghibahkan hidupnya untuk pisau dan pedang. Seluruh anggota keluarga Aaron Wilburn misalnya, ikut bekerja membuat pisau. Tak ada karyawan lain di bengkelnya. “Hanya seorang seniman yang bisa mencurahkan hati dan jiwanya ke dalam sebuah karya,” kata Wilburn, kepada SFGate.

Demi mendapatkan bilah logam sesuai yang mereka mau, para empu pisau ini bisa tahan berhari-hari di depan tungku yang sangat panas, tanpa pendingin udara. Mereka tak mau mempertaruhkan namanya. Jerry Fisk misalnya selalu mengubur dan menghapus namanya pada setiap karyanya yang gagal. Dia tak mau, puluhan tahun atau ratusan tahun kemudian namanya dikenal karena ada pisau buatannya yang cacat.

Yoshindo Yoshihara
Foto : Samurai Magazine

Kesempurnaan itu lah yang dikejar para empu pisau dan pedang. Sikap itu tak bisa ditawar. “Sangat mudah untuk berkompromi dengan permintaan pasar. Tapi kami menjaga kehormatan dan mendedikasikan hidup untuk membuat pedang,” kata Yoshindo Yoshihara, master katana dari Jepang. Siapa tak kenal katana, pedang para samurai?

Salah satu ‘master’ pembuat katana yang masih bertahan sampai hari ini adalah Yoshindo Yoshihara. Karyanya tersebar di kalangan kolektor dan museum di pelbagai negara. Yoshindo, kini 75 tahun, memang lahir di keluarga pembuat pedang. Dia merupakan keturunan kesepuluh ‘empu’ katana sejak ratusan tahun silam.

Ilmu menempa katana diwariskan turun temurun dalam keluarganya tanpa putus. Tapi, meski lahir di keluarga pembuat katana, sampai hari ini Yoshindo masih terus belajar untuk menyempurnakan katana buatannya. “Pada setiap pedang yang aku buat, aku selalu berusaha membuatnya lebih baik. Namun sampai sekarang, aku belum membuat satu bilah pedang pun yang membuatku puas seratus persen,” kata Yoshindo kepada JPTimes, beberapa waktu lalu. “Aku tahu, mungkin pedang seperti itu tak pernah ada, bahkan sampai hari kematianku nanti.”


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE