INTERMESO

Dalam Pisau Kami Bersaudara

“Anak saya bilang, ‘Jangan punya emak kayak emak gue. Mainnya aneh-aneh. Belinya pisau bukan kosmetik.’"

Foto: Grandyos Zafna

Senin, 05 Januari 2018

Sebilah pisau melesat dari genggaman Lily Hitler, lalu berputar dengan cepat. Sepersekian detik kemudian menancap pada sasaran berupa potongan kayu bulat yang berjarak 3 meter dari tempatnya melempar. Hanya sedikit meleset dari pusat sasaran. Perempuan paruh baya itu mencoba pisau kedua dari jarak sama, yang juga masih belum berhasil.

Usaha terakhir rupanya lebih buruk, pisau ketiganya malah gagal menancap dan jatuh ke tanah. "Begini nih kalau seminggu lebih tak latihan," ujarnya seraya berjalan mengambil pisau-pisau itu. Tak puas dengan lemparan pisaunya, Lily mengambil kapak berbilah satu dari tas.

Gerimis yang turun di lapangan basket Eleven Trees Cafe, Cilandak, Jakarta Selatan, tak dihiraukannya. Beberapa detik ia berkonsentrasi, kapak pun melayang ke arah target, yang penanda poin warna merah putihnya memudar. Clap! Kali ini kapak menghunjam dengan mulusnya di tengah-tengah kayu sasaran berdiameter 50 sentimeter.

Lily belum genap empat tahun memainkan pisau lempar. Perjumpaan dengan pisau dan kayu sasaran berawal dari menemani anak laki-lakinya yang minta diantar ke Komunitas D'Lempar Pisau Indonesia di Bandung. Anaknya ternyata mampu menguasai dengan cepat cara melempar yang benar. "Beberapa kali kena bulls-eye (pusat target). Kata ketuanya, anak saya bibit atlet muda," ujarnya. "Daripada bengong, akhirnya saya nyoba juga. Akhirnya jadi nyandu lempar (pisau)."

Hanya satu masalah bagi Lily dengan ‘kecanduan’-nya, yakni jarak antara Jakarta dan Bandung. Untungnya, waktu itu seorang anggota D'Lempar Pisau Indonesia, Ahmad Thoriq, yang sedang bekerja di Jakarta membentuk Jakarta Knife Thrower Indonesia (JKT 1). Lily lantas bergabung dengan komunitas tersebut, yang saat itu biasa berlatih di Taman Langsat, Jakarta Selatan.

Komunitas Jakarta Knife Throwing, salah satu cabang D'Lempar Pisau Indonesia
Foto: Grandyos Zafna

"Sejak itu sampai sekarang saya punya enam set pisau dan satu kapak tomahawk impor dari Amerika Serikat," ujarnya. "Sambil bercanda, anak saya bilang, ‘Jangan punya emak kayak emak gue. Mainnya aneh-aneh. Belinya pisau, bukan kosmetik.’"

Ketua Jakarta Knife Throwing Hendry Jaya Agustian menuturkan aktivitas lempar pisau dapat dilakukan semua kalangan, dari anak kecil sampai dewasa, tanpa batasan gender. "Lempar pisau ini olahraga untuk semua. Yang penting kuat bisa melempar pisau," kata Hendry kepada detikX. "Pastinya, kalau masih berusia di bawah 18 tahun, harus ada izin dari orang tua."

Meski namanya pisau, jangan bayangkan bentuknya seperti pisau yang dipakai untuk memotong. Ujungnya saja yang runcing, sementara kedua sisinya tumpul. Indonesia, menurut kata Hendry, saat ini masih mengadopsi standar dan aturan dari International Knife Throwers Hall of Fame (IKTHOF), Amerika Serikat, baik untuk standardisasi pisau maupun aturan-aturan kompetisi. Panjang pisau 30,5-40,6 cm, sementara beratnya minimal 250 gram. "Modelnya macam-macam, hanya sama di berat dan panjang," ujar Hendry.

Cara melempar pun tidak sembarangan. Paling tidak ada tiga teknik yang dinilai paling benar. Pertama, teknik spin atau memutar. Teknik ini paling mudah, terutama untuk pemula. Kemudian, teknik half spin atau setengah memutar. "Saat dilempar, pisau melayang lurus. Sesaat sebelum mencapai sasaran, pisau berbalik dengan posisi mata pisau mengarah pada sasaran," kata Hendry. Terakhir teknik no spin atau tanpa putaran. Sejak awal dilempar, mata pisau sudah mengarah ke sasaran dan tidak berputar.

Dalam kompetisi, kata Hendry, jarak lempar dibatasi, dari 2 meter sampai 7 meter. Jarak ganjil dan genap masing-masing ada cara tersendiri bagaimana memegang pisau, begitu pula dengan teknik lempar yang dipakai. "Kalau pakai teknik spin pada jarak genap, pisau harus dipegang pada bagian blade atau ujung runcing. Sebaliknya, jika jarak ganjil, pisau dipegang pada handle," kata Hendry. Sementara itu, saat menggunakan teknik half spin, pisau dipegang pada bagian blade. "Kalau teknik no spin, pegang pada gagangnya."

Foto: Grandyos Zafna

Kami membuktikan bahwa pisau itu bukan sumber konflik atau kejahatan, tapi bisa jadi media untuk meningkatkan persaudaraan"

Omar Jacob Saleh, Ketua Indonesian Blades

Aksi melempar pisau tentu saja memiliki risiko. Pelempar sangat mungkin tergoda untuk melempar sembarangan. Untuk mencegah hal itu, sejak awal dibuat aturan tegas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Para anggotanya diwanti-wanti tak menjadikan makhluk hidup sebagai sasaran pisau lempar dengan alasan apapun. "Pisau tidak boleh sembarang digunakan. Kami selalu mengutamakan safety. Anggota tidak boleh melempar pisau misalnya ke pohon," kata Hendry.

* * *

Kehadiran Komunitas D'Lempar Pisau (D'Lempis) Indonesia di Bandung tak bisa dilepaskan dari Ellen Ramlan. Pria yang mendapat panggilan "Chief" dari kawan-kawannya itu menuturkan, awalnya D'Lempis lahir dari kegiatan iseng-iseng mahasiswa Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengisi waktu luang setelah kuliah atau saat libur di akhir dekade 1980-an. "Kegiatan ini salah satu yang diminati oleh sebagian mahasiswa terutama mahasiswa yang suka bermalam mengerjakan tugas dikampus," ujar Chief Ellen pada detikX.

Terbatasnya referensi saat itu, membuat para mahasiswa itu hanya meniru teknik dari film-film laga yang aksi lempar pisaunya hanya muncul sekilas. Akhirnya mereka mencari tahu bagaimana tentara melempar pisau. Teknik militer pun mereka kembangkan dengan memakai sangkur dan belati. "Kadang memakai benda apapun yang bisa dilempar karena jujur saja ini aktivitas iseng," ujar Chief Ellen. Beberapa nama kawannya yang menggemari kegiatan itu diantaranya Goy Gautama, Zen Ahmad Subarga, Anta Wijaya, Daniel Dakosta, dan Acung Bragowo.

Rupanya setelah mereka lulus, kegiatan tersebut tetap dilanjutkan generasi berikutnya. Baru di akhir tahun 2009, setelah mendemontrasikan lempar pisau di acara Braga Bike Festival yang dibantu oleh komunitas Indonesian Blade, Chief Ellen terdorong menghimpun kembali para teman-teman lamanya untuk membuat grup di Facebook. Nama yang dipilih D'Lempar Pisau. "Nama ini sebenarnya sudah ada saat di ITB," katanya.

Foto: Grandyos Zafna

Saat ini D'Lempis Indonesia sudah memiliki cabang atau chapter di lebih dari 20 kota di Indonesia. Bahkan menjadi satu-satunya grup lempar pisau di Asia yang mendapat pengakuan dari IKTHOF. "Sejumlah atlet dari Indonesia pun sudah masuk daftar International World Rankings in Knife Throwing," kata Chief Ellen. Impian selanjutnya, kata Chief Ellen, adalah menjadikan lempar pisau sebagai cabang olahraga resmi seperti olahraga akurasi panahan dan menembak. Pada September 2017, semua chapter dari seluruh Indonesia secara resmi mendeklarasikan Federasi Olahraga Lempar Pisau dan Kapak Indonesia (Forlempika) di Bandung.

* * *

Iin Suhendi memegang erat pisau jenis chopper miliknya. Sejumlah rintangan, mulai balok kayu, tali tambang, sedotan plastik, gulungan kertas, kaleng minuman ringan, sampai botol air kemasan, berjejer di depannya. Saat aba-aba terdengar, pria asal Bandung ini bergegas menuju rintangan balok kayu. Sambil meletakkan tangan kirinya di belakang, dengan kekuatan dan kecepatan penuh, ia memotong kayu sampai patah, kemudian menebas tali tambang yang tergantung serta gulungan kertas.

Berhasil melalui semua itu, rintangan mengiris sedotan plastik menanti. Jejeran lima botol air kemasan pun harus terbelah menjadi dua dalam sekali ayunan. "Sayangnya, saya gagal juara, hanya nomor dua," ujar Iin menceritakan pengalamannya mengikuti ASEAN Bladesports Cutting Competition di Putrajaya, Malaysia, Februari 2017. "Butuh kesiapan fisik, konsentrasi, dan tentunya pisau yang benar-benar kuat dan sangat tajam," ujar Iin. Saat itu Iin menggunakan pisau dari baja DC53 DAIDO buatannya sendiri.

Olahraga Bladesports Cutting di Indonesia berkembang dalam komunitas Indonesian Blades, yang sebelumnya hanya berupa grup di forum komunitas Kaskus bernama Forum Pisau atau Forpi. Komunitas ini beranggotakan para pencinta, kolektor, sampai pembuat pisau. "Kita sharing ilmu dan pengalaman cara bikin pisau, asah pisau. Sampai Juni 2009 akhirnya kami bikin grup Indonesian Blades," ujar Ketua Indonesian Blades Omar Jacob Saleh.

Omar Jacob Saleh, Ketua Indonesian Blades
Foto: Pasti Liberti

Saat acara pertemuan nasional di Jayagiri, Bandung Barat, pada 2010, diperkenalkan kompetisi bladesport. "Lihat di YouTube, di Amerika ada olahraga namanya bladesport. Satu pisau melawan rintangan-rintangan. Selesai rintangan, pisau harus masih tajam," kata Omar. Akhirnya pertemuan tersebut menyepakati adanya kompetisi pada pertemuan nasional selanjutnya di Kaliurang, Yogyakarta. "Sejak itu setiap chapter rajin mengadakan kompetisi internal untuk seleksi."

Aturan-aturannya masih berkiblat ke Amerika Serikat, termasuk ukuran pisau yang digunakan. Pisau maksimal memiliki panjang keseluruhan 15 inci dan panjang bilah 10 inci. "Berat dan ketebalan bilah tidak diatur," ujar Omar. "Sementara rintangan ada beberapa yang kami modifikasi." Sistem penilaian berdasarkan total nilai yang didapatkan para atlet. "Setiap rintangan punya nilai. Kalau ternyata akhirnya sama, baru dihitung waktu."

Menurut rencana, akhir tahun ini Indonesian Blades akan menggelar ASEAN Bladesports ke-2 di Jakarta. Kejuaraan ini akan digabung dengan pameran pisau internasional yang pertama kali digelar di Indonesia. "Kami membuktikan bahwa pisau itu bukan sumber konflik atau kejahatan, tapi bisa jadi media untuk meningkatkan persaudaraan," kata Omar.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE