INTERMESO

Makelar Perawat sampai Kanada

Try Wibowo baru 28 tahun dan hanya lulus SMA. Masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia.

Salah satu sesi pelatihan di Insan Medika milik Try Wibowo
Foto-foto: dok. pribadi Try Wibowo

Selasa, 27 Februari 2018

Kuliah, kata Bob Sadino, tak penting-penting amat jika ingin jadi pengusaha. Ia sudah membuktikannya sendiri. Tanpa kuliah, dia bisa menjadi pengusaha yang sukses, dan tentu saja kaya raya. Kata-kata Bob (almarhum) itulah yang membulatkan tekad Try Wibowo bertahun-tahun lalu untuk tak melanjutkan sekolah setelah lulus SMA.

Wibowo memang banyak belajar di luar sekolah. Masa kecil yang keras harus ia jalani. Wibowo kehilangan sosok ayah sejak ia kecil karena perceraian. Hal tersebutlah yang menempanya menjadi anak muda yang kreatif dan tangguh. Lelaki berusia 28 tahun itu kini membantu tenaga-tenaga kerja kesehatan lulusan sekolah menengah kejuruan untuk mendapat pekerjaan yang layak dan memberi kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kisah Wibowo berawal dari kota kelahirannya, Ngawi, Jawa Timur. Ibunya, yang hanya lulusan sekolah menengah pertama, berprofesi sebagai pramusiwi atau pengasuh anak di kota itu. "Sejak kecil saya dititipkan di Nenek karena Ibu tak bisa lama-lama menjaga saya," ia membuka pembicaraan saat menuturkan kisah hidupnya kepada detikX, Rabu, 21 Februari 2018.

Tak ingin Wibowo kehilangan kasih sayang, ibunya memutuskan mencari alternatif pekerjaan lain. Pengalaman cukup lama menjadi pramusiwi membuatnya berani mendirikan kursus pramusiwi di Kota Ngawi pada 1996. "Ibu berpromosi dari desa ke desa," ujar Wibowo. "Karena mesin cetak masih jarang, dia buat iklan pada seng dengan huruf dicat, lalu dipasang di perempatan-perempatan jalan."

Tak puas dengan pencapaian di Ngawi, sang ibu pun memutuskan pindah ke Madiun, juga di Jawa Timur. Di kota itu, usaha ibunya berkembang dengan mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Surya Farma Husada sekaligus menyalurkan anak-anak didiknya ke Jakarta melalui pihak ketiga. "Saya ikut pindah ke Madiun," ujar Wibowo.

Try Wibowo saat menerima penghargaan The Most Outstanding Home Health Service in the World in 2016 pada The Global Over 50s Housing & Healthcare Awards di Inggris pada November 2017.

Saya yakin caregiver tak pernah mati. Ini bisnis seumur hidup."

Try Wibowo, pendiri Insan Medika

Madiun menjadi kota tempat Wibowo remaja mengenal teori-teori menjadi seorang wirausaha. Suatu waktu, saat masih menginjak kelas II SMA, ia mendapat brosur seminar Purdi E Candra, pemilik lembaga bimbingan belajar Primagama. "Dia bikin seminar Cara Gila Jadi Pengusaha. Saya ikut dan mulai suka wirausaha," ujarnya. Bersama kawan-kawan sekolahnya, ia mendirikan sebuah distro. Usaha pertama itu hanya berusia 3 bulan.

Bukan pengusaha jika sekali mati dan tak bangun lagi. Wibowo justru makin tergila-gila pada dunia usaha. Setahun kemudian, Wibowo mengikuti seminar Bob Sadino. "Beliau bilang kuliah itu tidak penting. Otak saya seperti tercuci, dan saya makan mentah-mentah ucapan itu," katanya. Benar saja, lepas dari SMA, Wibowo, yang saat sekolah mampu meraih medali emas dalam Olimpiade Manajemen se-Jawa-Bali, memutuskan merantau ke Pulau Bali untuk mencari kerja.

Setahun bekerja di Bali, ia kembali ke Madiun. Ibunya menawarinya berkuliah. Wibowo menolak dan memilih membuka cabang LPK Surya Farma Husada di Jember, Jawa Timur, pada Juni 2010. Tahun pertama jumlah pendaftarnya 80 orang. Namun, memasuki tahun ketiga, jumlahnya merosot hampir separuh.

"Begitu juga dengan LPK di Madiun, kami cari tahu ternyata penyebabnya mulai muncul SMK Kesehatan," ujarnya. Konsep LPK sudah mulai tidak laku karena LPK hanya kasih sertifikat, bukan pendidikan formal. "SMK Kesehatan menggerus jumlah siswa kami."

Saat usaha Wibowo memasuki fase genting, salah seorang anggota stafnya bernama Umi memberinya solusi. Sisa siswanya yang berjumlah 43 orang disalurkan sendiri tanpa bantuan pihak ketiga. Hanya, lantaran posisi mereka di ujung timur Pulau Jawa, hal itu mendatangkan banyak kesulitan. Pasar terbesar ada di kota-kota lain yang jauh dari Jember. "Saya ke percetakan bikin iklan, desainernya bilang nama kepanjangan, akhirnya tiba-tiba terlintas nama Insan Medika," kata Wibowo.

Salah satu anak didik Insan Medika

Selain mencetak iklan, ia memasukkan iklannya ke situs jual beli Toko Bagus. "Ternyata ada yang respons," katanya. Dari situ, Wibowo memutuskan membuat situs web sendiri untuk Insan Medika pada Juni 2013 sebagai perusahaan penyalur caregiver untuk lansia. "Modalnya 2 juta dan ternyata itu menjadi website pertama di Indonesia bidang penyalur caregiver. Tampilannya sih sederhana banget. Pokoknya yang penting 43 siswa terakhir kami dapat pekerjaan semua."

Ternyata respons pasar melebihi perkiraannya. Semua perawatnya sudah tersalurkan, sementara permintaan terus berdatangan. Saat kesulitan memenuhi permintaan tersebut, ia memasukkan iklan lowongan pekerjaan perawat di grup-grup perawat di Facebook. "Dalam dua malam, saya terima lamaran dari 180 orang," ujar Wibowo. "Nyari orang ternyata nggak susah. Akhirnya saya putuskan jadi makelar, penghubung orang yang cari kerja dan orang yang butuh jasa perawat."

Ide cemerlang kembali datang dari Umi, yang mengusulkan menjalin kerja sama dengan SMK-SMK Kesehatan untuk merekrut tenaga-tenaga perawat baru. Bermodal data yang diambil dari internet, ia membuat dan mengirimkan proposal kepada sekitar 300 SMK Kesehatan. "Banyak yang merespons. Dari situ saya mulai diundang untuk presentasi. Saya jelaskan apa itu caregiver. Kebanyakan mereka tidak tahu apa itu caregiver."

Wibowo mulai berpikir untuk pindah dari Jember saat usahanya semakin membesar. Ia mencari kota yang biaya hidupnya tak terlalu tinggi dan posisinya berada di tengah-tengah Pulau Jawa. Mulai 2014, ia memutuskan memboyong kantornya pindah ke Yogyakarta. Kantornya bertambah besar dengan perekrutan sejumlah pegawai tambahan. "Hasil presentasi saya ternyata menarik minat banyak anak SMK. Ini membuat modal kami bertambah," katanya.

Ketika sebuah media bidang teknologi menggelar acara di Jakarta, Wibowo, yang menjadi peserta, merasa situs web Insan Medika sangat tertinggal. Kembali ke Yogyakarta, ia merekrut pegawai baru untuk tim teknologi informasi. "Website kami desain ulang dan bikin aplikasi. Aplikasi ini sesuatu yang baru bagi bisnis agensi caregiver. Kami pun mendapat tambahan publikasi dari media," katanya.

Latihan praktik siswa Insan Medika

Akhirnya pada 2016, Insan Medika membuka kantor perwakilan di Jakarta. "Klien aktif kami paling banyak dari Jakarta," katanya. SMK-SMK Kesehatan yang menjalin kerja sama pun semakin banyak, mencapai 400 sekolah. Saat ini Insan Medika sudah mengembangkan layanan-layanan bukan sekadar caregiver bagi lansia. "Ada layanan home care lengkap dengan alat-alat kesehatan, ada juga home care live-in, baik medis maupun nonmedis, medical tourism, dan medical evacuation," katanya.

Berkembangnya layanan tak membuat Wibowo meninggalkan layanan caregiver. Menurutnya, permintaan paling tinggi tetap dari sektor tersebut. Wibowo bahkan menjalin program kerja sama dengan Universitas Respati Indonesia, Jakarta, untuk pendidikan lanjutan bagi para perawat tamatan SMK Kesehatan di Fakultas Ilmu Kesehatan. "Dalam sebulan, kami kasih libur empat kali akhir pekan untuk dipakai kuliah," ujarnya.

Tak hanya itu, Wibowo juga sudah menjalin kontak dengan tiga negara, yakni Kanada, Jepang, dan Australia, untuk menjajaki kemungkinan mengirimkan caregiver. Bahkan, pada Mei mendatang, ia akan berangkat ke Kanada untuk tanda tangan kerja sama dengan Inscol Canada, sebuah lembaga pendidikan tenaga kesehatan. "Kami kirimkan bagi yang mau belajar di sana sekaligus kerja kalau sudah lulus," ujarnya.

Perhatiannya untuk meningkatkan kemampuan tenaga caregiver bukan tanpa alasan. Wibowo mengatakan selama ini pekerja caregiver dipandang sebelah mata. "Mereka dianggap pekerja kasar. Cara pandang ini yang ingin saya ubah," katanya.

Peraih penghargaan The Most Outstanding Home Health Service in the World in 2016 pada The Global Over 50s Housing & Healthcare Awards di Inggris pada November 2017 dan Forbes 30 Under 30 Asia di bidang Healthcare and Science itu sudah menyalurkan lebih dari 3.000 perawat sejak 2013. "Sekarang perawat yang sedang dalam masa kontrak sekitar 540 orang dengan jumlah klien aktif 600 orang," ujarnya. "Saya yakin caregiver tak pernah mati. Ini bisnis seumur hidup."


Reporter/Penulis: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE