INTERMESO

Adakah Maaf untuk Mantan Teroris

“Di Facebook saya diancam untuk dibunuh, dikafirkan, dan dimurtadkan oleh sejumlah orang karena dianggap berkhianat”

Seorang perempuan menyalakan lilin saat berkampanye We are not Afraid setelah Jakarta diguncang serangan teroris pada Januari 2015
Foto: GettyImages

Minggu, 04 Maret 2018

Ni Luh Erniati memandang sosok tinggi besar itu dari kejauhan. Ia memperhatikan dengan saksama gerak gerik lelaki itu. Keluarga orang itu lah yang membuat hidup Erniati dan keluarganya jatuh bangun.

"Saya diberitahu ia ada hubungan keluarga dengan pelaku bom Bali," ujar Erniati menuturkan kisahnya kepada detikX usai peluncuran buku Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya karya Hasibullah Satrawi di Jakarta, pada Sabtu pekan lalu. Perasaannya campur aduk. "Ada rasa geram. Dalam pikiran ini melekat cap bahwa ia teroris."

Lelaki itu Ali Fauzi alias Salman alias Abu Ridho, adik termuda dari tiga bersaudara terpidana kasus terorisme di Bali pada 2002 ; Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron. Ali Ghufron dan Amrozi sudah mati ditembak tim eksekusi pada November 2008. Sementara Ali Imron masih mendekam di balik jeruji penjara.

Meski tak terkait langsung dengan bom Bali, Fauzi malang melintang dalam jaringan terorisme di luar negeri seperti di Malaysia dan Filipina. Ia tertangkap oleh aparat keamanan Filipina pada 2004, kemudian dideportasi ke Indonesia dua tahun kemudian. Sementara Erniati, istri dari salah seorang korban tewas pada peristiwa yang menghancurkan Sari Club dan Paddy's Pub, dua tempat hiburan di kawasan Kuta, Bali.

Suami Erniati, Gede Badrawan, adalah kepala pelayan di Sari Club. Pada malam kelam itu, menjelang tengah malam pada 12 Oktober 2002, Erniati tengah tertidur pulas bersama dua anaknya yang berusia 9 dan 1,5 tahun. Suara menggelegar membuatnya tersentak bangun dari tidur. Dua anaknya tetap terlelap, tak terusik dengan suara itu.

"Saya kira gardu listrik yang meledak, tak terpikir sama sekali itu ledakan bom," Erniati menuturkan. Lamat-lamat ia mendengar suara teman-teman indekosnya mulai berdatangan. "Saya dengar mereka bilang ada bom." Bersama Imam Samudra, Ali Ghufron dan Amrozi merupakan tokoh kunci malam jahanam di Kuta pada pertengahan Oktober itu. Mereka lah yang merancang tiga serangan bom di tiga tempat di Bali pada malam itu.

Bangunan dan mobil terbakar setelah ledakan bom di lokasi wisata Kuta, Bali 13 Oktober 2002.
Foto : Darma / AFP PHOTO

Mendengar kabar ada serangan bom di Sari Club dan Paddy’s Pub yang persis ada di seberang jalan, Erniati terperanjat. Ketika keluar dari kamar, teman-temannya lantas menanyakan kabar sang suami, Gede Badrawan, yang berkerja sebagai kepala pelayan di Sari Club, Kuta, Bali. "Saya hanya bisa menguatkan hati, mudah-mudahan suami saya aman-aman saja," ujar perempuan berusia 45 tahun itu. Malam itu jadi malam paling panjang dalam hidup Erniati. Jarum jam seolah bergerak sangat pelan. Ia menunggu sampai matahari terbit namun Badrawan tak kunjung pulang ke rumah. "Padahal biasanya subuh jam 4 sudah sampai rumah."

Ditemani salah seorang teman indekosnya, Erni berinisiatif menyusul ke Sari Club. Perjalanannya terhambat kerumunan orang yang memenuhi Jalan Legian. Tiba di tempat kerja suaminya, yang terlihat hanya bangunan Sari Club yang sudah luluh lantak. Tersisa puing-puing menghitam seolah habis dilanda kebakaran hebat. Begitu juga Paddy's Pub yang letaknya berdekatan.

Tubuh Erniati lunglai. "Relawan hilir mudik mengangkat potongan tubuh. Harapan suami saya masih hidup akhirnya hilang," kata Erni. Peristiwa bom itu tak hanya merenggut nyawa Gede Badrawan, tapi juga 200 orang lainnya, sebagian besar warga negara asing.

Pertemuan pertama Erniati dengan Ali Fauzi yang diinisiasi Aliansi Indonesia Damai (AIDA), sebuah lembaga yang dipimpin Hasibullah Satrawi, terjadi di Bintaro, Tangerang Selatan, pada Maret 2015 lalu. "Walaupun ada rasa geram, tapi kok saya pengin bersalaman," ujar Erniati. Erniati terdiam sesaat saat ditanyakan alasannya berniat menjabat tangan Ali Fauzi. "Saya mau mendengar kisah dia," ujar Erniati lirih, sampai nyaris tak terdengar.

Selain Erniati, hadir juga sejumlah korban teror bom lainnya. Suasana tegang dan nuansa kecurigaan sangat terasa. Keadaan berubah saat masuk sesi dimana satu persatu mereka diminta menceritakan kisah hidup, termasuk Erniati. Dia berkisah saat-saat kehilangan suami dan bagaimana perjuangan berat menjadi orang tua tunggal bagi kedua buah hatinya. "Benar-benar lautan air mata. Semua menangis," kata perempuan yang sampai kini menetap di wilayah Kuta itu.

Keluarga korban berpelukan saat memperingati serangan bom Bali pertama pada Oktober 2003.
Foto : GettyImages

Semakin saya dendam semakin saya sakit"

Ni Luh Erniati, istri korban peristiwa Bom Bali pada Oktober 2002

Diam-diam Erniati mengamati sikap Ali Fauzi yang pernah didapuk menjadi kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah Wakalah Jawa Timur saat para korban lainnya bercerita. "Saya melihat ada rasa sedih. Dia benar-benar nangis sampai tersedu-sedu," kata Erni. Tak hanya para korban yang berbicara saat itu. Ali Fauzi pun diberikan waktu mengungkapkan perasaannya. "Saya saat itu berusaha memahami kondisi dia. Mengapa sampai bergabung dengan jaringan teroris. Dia pun menyatakan niat untuk berubah."

Menjelang selesai acara Erni dan Fauzi bertukar nomor telepon. Mereka juga menjalin pertemanan di media sosial Facebook. "Memang saat pertemuan pertama tak serta merta hati ini memberi maaf. Itu butuh proses. Sekali ketemu langsung memaafkan jelas tak mungkin," ujar Erni. Interaksi antara keluarga korban teror dan eks pelaku terorisme itu semakin intens. Mereka pun bergabung dengan Tim Perdamaian AIDA membawa pesan-pesan perdamaian ke sekolah-sekolah di beberapa kota.

Beberapa bulan setelah pertemuan di Bintaro, mereka kembali bertemu di Lamongan, Jawa Timur, ketika AIDA mengadakan kampanye perdamaian di sana. Lamongan merupakan kampung halaman Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron, juga Ali Fauzi. Erniati mengutarakan niatnya untuk berkunjung ke rumah Ali Fauzi kepada Hasibullah Satrawi. "Saya kaget karena tak ada niat mengajak bu Erni untuk ke rumah pak Ali apalagi bikin agenda ke sana," ujar Hasibullah.

Pertemuan di rumah Ali Fauzi berlangsung hangat. Ali Fauzi menuturkan istrinya pun turut menerima tamu-tamunya. "Saya senang sekali. Istri saya bahkan minta foto," ujar Ali Fauzi. Kunjungan 11 orang korban terorisme ke kediamannya, kata Ali Fauzi, membangkitkan semangatnya mengkampanyekan perdamaian. "Kunjungan itu memperkuat keberanian saya. Meskipun di Facebook saya diancam untuk dibunuh, dikafirkan, dan dimurtadkan oleh sejumlah orang karena dianggap berkhianat."

Keluarga korban berpelukan di depan monumen peringatan serangan bom Bali pertama
Foto : GettyImages

Ali Fauzi sendiri pertama kali bertemu dengan para korban lainnya pada Oktober 2013 di Klaten dalam acara yang juga diadakan oleh AIDA. Saat itu ia mengaku pesimistis. "Saya merasa diadili dan sangat tersiksa, sempat merasa mau mundur dari pertemuan itu," ujarnya. Untungnya para pendampingnya terus memberi semangat. "Proses rekonsiliasi memang tak mudah. Harus selangkah demi selangkah untuk menyamakan persepsi."

Setelah 15 tahun lebih bom Bali pertama memporak-porandakan kawasan Kuta, Erniati mengaku sudah meluruhkan semua dendam di hatinya. "Semakin saya dendam semakin saya sakit," ujarnya. Memendam dendam menurut Erniati membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. "Saya kampanye di sekolah-sekolah bahwa kekerasan tidak harus dibalas dengan kekerasan. Kemarahan bisa dikalahkan dengan kasih sayang. Dulu kita saling membenci, tapi dengan kasih sayang kita bisa jadi saudara. Saya mungkin kehilangan cinta suami, tapi saya harap bisa menumbuhkan seribu cinta."


Reporter/Penulis: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE