INTERMESO

Tak Mudah untuk Islah

Para mantan teroris dan para korbannya bertemu di Jakarta. Berusaha memupus dendam dan memberi maaf.

Petugas forensik memeriksa bekas ledakan bom di Hotel JW Marriot, Jakarta, pada 18 Juli 2009
Foto: GettyImages

Selasa, 07 Maret 2018

Ruang pertemuan di Hotel Borobudur, Jakarta, sontak hening. Ratusan orang yang memenuhi ruangan itu khusyuk menyimak pembacaan untaian doa. Saat itu seolah-olah tak ada beda di antara mereka, dua kelompok yang dipisahkan sakit, dendam, dan kemarahan selama bertahun-tahun.

Selama tiga hari pekan lalu, para mantan pelaku kasus terorisme bertemu dengan para penyintas, orang-orang yang pernah tersakiti oleh ulah mereka. Didik Hariyono adalah salah satu di antara penyintas kasus terorisme. “Pada hari kedua, perwakilan dari kedua kelompok saling mendoakan," ujar Didik. Hari itu mereka berusaha menyembuhkan luka dan memupus dendam.

Hidup Didik luluh lantak gara-gara peristiwa hampir lewat 15 tahun. Dia merupakan salah satu korban dalam ledakan bom mobil di Hotel JW Marriott, kawasan Mega Kuningan, Jakarta, pada Selasa, 5 Agustus 2003. Pada hari yang celaka itu, Didik sebenarnya masih dalam masa cuti. Didik bekerja di salah satu perusahaan swasta yang berkantor di Menara Rajawali, persis di samping Hotel Marriott. "Saya ambil cuti karena kena alergi. Lantaran sudah mendingan dan pekerjaan menumpuk, pada hari Selasa itu saya masuk kerja."

Menjelang jam istirahat, Didik diajak beberapa kawan sekantornya makan siang di Mal Ambasador, sekitar 100 meter dari kantornya. Namun ia memilih menyelesaikan pekerjaan. "Setelah pekerjaan kelar, saya bingung, mau nyusul ke Ambasador atau cari warung dekat kantor," katanya. Akhirnya, dengan pertimbangan waktu istirahat yang mepet, Didik memutuskan makan di samping Plaza Mutiara.

Menara Rajawali dan Plaza Mutiara letaknya di sisi kiri dan kanan Hotel JW Marriott. Setelah selesai makan, Didik melangkahkan kakinya kembali ke kantor. Saat posisinya mendekati hotel, sebuah mobil Toyota Kijang berhenti di gerbang utama. Petugas keamanan hotel memeriksa mobil tersebut. "Begitu saya lewat, mobil itu meledak,” Didik menuturkan.

Serangan bom bunuh diri di Hotel JW Marriot pada Agustus 2003
Foto : GettyImages

Mobil pengangkut bom itu dikemudikan oleh Asmar Latin Sani. Dia bersama 11 korban tewas, lebih dari 100 orang mengalami luka-luka. Dua perencana bom di Hotel Marriott, Azahari Husin alias Dr Azahari dan Noordin M Top, sudah tewas ditembak polisi.

Ledakan bom itu membuat tubuh Didik terpental. Ia melihat sejumlah taksi yang terparkir dekat gerbang terbakar. Ketika ia sadar, sebagian badannya terbakar. Dia segera bangkit kemudian melangkah menuju jalan raya. "Rupanya kaki, pangkal paha, dan lengan saya patah, tapi saat itu masih bisa berjalan," katanya. Ia mendengar sejumlah orang berteriak supaya ia berguling agar api di badannya padam. "Tapi wajah saya masih terbakar. Untungnya ada yang bantu memadamkan."

Pria asal Kediri, Jawa Timur, itu segera dilarikan ke Rumah Sakit MMC, Kuningan. Karena luka bakar yang dialami terbilang parah, ia lantas dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). "Saya terbangun saat di UGD. Saya pikir saya sudah meninggal," katanya. "Saya mengalami luka bakar 80 persen. Operasi sampai dini hari. Leher saya ternyata dilubangi untuk jalan bantu pernapasan."

Sebulan lamanya Didik berjuang melalui masa kritis. Hampir setahun Didik menghabiskan waktu bolak-balik ke rumah sakit. Selama masa itu, 20 kali operasi kulit dan bedah tulang harus dijalani. Otot-ototnya pun mengkerut karena hampir setahun hanya berbaring. "Pegang gelas saja saya tak bisa, apalagi berjalan," katanya. Ia akhirnya memutuskan berhenti bekerja.

Sampai 2007 Didik bolak-balik ke rumah sakit untuk mengobati luka-lukanya. Tak hanya luka di badan, ia juga berjuang mengikhlaskan kondisinya. "Beban sakit saya begitu berat. Saya fokus berpikiran positif supaya selalu semangat. Lama-lama perasaan dendam itu pelan-pelan hilang," katanya. "Kalau terus dendam, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan hidup saya."

Yusuf Adirima, mantan anggota kelompok Abu Tholut
Foto : kredit-GettyImages

Lama-lama perasaan dendam itu pelan-pelan hilang. Kalau terus dendam, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan hidup saya."

Didik Hariyono, korban serangan bom di Hotel JW Marriott, Jakarta, pada Agustus 2003

Sikap itu pulalah yang berusaha dia tunjukkan dalam acara silaturahmi dengan para mantan teroris pekan lalu. Didik menuturkan, setelah sesi doa, acara dilanjutkan dengan bersalaman di antara para peserta silaturahmi. "Beberapa saya sudah kenal dalam sejumlah pertemuan," ujar Didik. Namun tak sedikit pula mantan pelaku teroris yang terlihat dingin menyambut uluran tangannya. "Terutama yang masih berusia muda. Saya positive thinking saja, mungkin mereka takut salah omong."

Salah seorang bekas terpidana kasus terorisme, Mahmudi Haryono alias Yusuf Adirima, menyambut baik silaturahmi tersebut meski menurutnya masih banyak kekurangan dalam sisi penyelenggaraan. "Saya pikir kami akan dibagi dalam grup-grup supaya komunikasi bisa lebih intens," ujar Yusuf. Dia merupakan bekas anggota jaringan teroris Abu Tholut, yang tertangkap di Semarang karena menyimpan bahan peledak dan peluru pada 2003. "Tapi memang pertemuan ini tidak mudah."

Suasana tak cair memang terasa saat puncak acara silaturahmi berupa forum dialog yang menghadirkan sejumlah menteri, di antaranya Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dhakiri, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir, serta Menteri Sosial Idrus Marham. Bagian depan terisi para pejabat negara, korban dan keluarganya tampak duduk di bagian tengah ruangan, sementara sebagian besar eks pelaku terorisme rupanya memilih mengelompok di bagian belakang.

Rencana pemerintah mempertemukan mantan pelaku terorisme dan para korban terorisme diungkapkan ke publik pada awal Februari lalu. Saat itu misi pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) digadang-gadang dalam bentuk rekonsiliasi. "Kami sedang mengembangkan rekonsiliasi antara eks pelaku terorisme dan korban terorisme," ujar Wiranto seusai pertemuan dengan Kepala BNPT Komisaris Jenderal Suhardi Alius.

Para peselancar di Pantai Jimbaran memberikan penghormatan kepada para korban serangan bom Bali 2002
Foto : GettyImages

Di muka peserta forum dialog, Wiranto menyatakan pertemuan antara eks pelaku dan korban merupakan metode baru untuk mengikis terorisme di Indonesia. "Hati yang benci, yang dendam, yang marah, yang kecewa, itu obatnya adalah sabar, sadar, dan pemaafan," ujarnya. "Sebab, kalau hanya pendekatan kekerasan, pasti ada korban. Korban memunculkan dendam baru. Dendam baru memunculkan teror baru. Teror baru memunculkan langkah keras lagi, nggak ada habisnya."

Salah seorang korban Bali 2002, Chusnul Chotimah, mengungkapkan keluh kesahnya. Ibu tiga anak ini sedang berjalan menyusuri gang sempit di samping Paddy's Bar di Kuta ketika bom pertama meledak dan merobohkan tiang listrik. Dia berusaha lari dari lokasi, tapi dia kembali tunggang langgang ketika ledakan bom kedua yang lebih dahsyat meluluhlantakkan Sari Club, yang berada di seberang Paddy’s Bar.

Luka bakar di wajah dan tangan Chusnul masih menyisakan dampaknya sampai hari ini. Dia mengaku selama ini tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah untuk pengobatan rutin luka bakar yang dideritanya. "Saya pernah diberi Kartu Indonesia Sehat oleh Presiden Joko Widodo," ujarnya. "Namun ditolak rumah sakit karena pengobatan saya disebut masuk perawatan kecantikan, jadi tidak dijamin."

Masih banyaknya hak korban yang tak terpenuhi inilah yang akan menyulitkan islah yang sejati. "Indonesia beruntung karena budaya pemaafan cukup kuat. Tapi empati dari pemerintah dibutuhkan untuk pemenuhan hak-hak penyintas," ujar guru besar sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra. "Islah tak bisa tercipta jika kondisi para korban tidak diperbaiki."


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE