INTERMESO

Peramal Sang Jenderal

“Jadi yang mengira Djono itu guru kebatinan saya kecele. Dia sendiri pernah berkata, ‘Saya berguru kepada Pak Harto.’”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Minggu, 25 Maret 2018

Badannya kecil, tampak sangat rapuh, hampir buta, bahkan kabarnya dia sulit berbicara. Dialah E Thi—kadang diringkas menjadi ET—alias Swe Swe Win, penujum kondang dari Myanmar.

Bukan cuma sejumlah selebritas kondang yang minta gambaran masa depan mereka, tapi juga Than Shwe, mantan pemimpin junta militer Myanmar, dan Thaksin Shinawatra, miliarder dan mantan Perdana Menteri Thailand, berulang kali minta ‘petunjuk’ kepada ET. Konon, Than Shwe memindahkan ibu kota Myanmar dari Yangon ke Naypyidaw pada akhir 2005 juga atas bisikan dari ET. 

“Saudara perempuanku ini sangat… sangat besar dan istimewa,” Thi Thi Win, saudara perempuan E Thi, yang selalu mendampingi dan menjadi penerjemahnya, memuji, seperti dikutip South China Morning Post, beberapa tahun lalu. “Para politikus, juga pengusaha, berkunjung.... Semuanya bahagia dan menjadi orang terkenal.” Pada September 2017, E Thi wafat pada usia 57 tahun.

Menurut kabar angin di Myanmar, Than Shwe sangat percaya pada nasihat ET, sekalipun tidak jarang petunjuk itu tak lazim. Suatu kali, sang jenderal tampil dengan mengenakan longyi, semacam sarung tradisional di negeri itu yang biasa dipakai perempuan. Tingkah tak lazim Jenderal Than Shwe ini konon bertujuan ‘menggagalkan’ jalan Aung San Suu Kyi menuju kekuasaan.

“Mereka memang sangat mempercayai klenik,” kata Aung Zaw, redaktur di Majalah Irrawaddy. “Banyak penafsiran soal hal-hal seperti itu, tapi hal ini sering terjadi.” Bagi para pemimpin di Negeri Seribu Pagoda, percaya penujum bukanlah hal janggal. Jenderal Ne Win, yang berkuasa di Myanmar sejak 1962, dikenal sangat percaya kepada peramal.

Tak ada salahnya mendengarkan penujum. Ilmu ramal merupakan satu seni.”

Jenderal Prayuth Chan-ocha, kini Perdana Menteri Thailand

Jenderal Prayuth Chan-ocha, kini Perdana Menteri Thailand.
Foto : GettyImages

Bukan hanya Than Shwe, juga petinggi pemerintah Myanmar dan Thaksin, menurut Thi Thi, sejumlah pejabat kedutaan di Myanmar, bahkan pemimpin politik negara-negara tetangga, merupakan pelanggan ET. Ongkos untuk ‘berkonsultasi’ dengan ET memang tak murah untuk ukuran Myanmar.

Tujuh tahun lalu, setiap orang yang hendak mendengar bisikannya paling tidak harus siap merogoh duit sekitar Rp 600 ribu untuk 30 menit konsultasi karier politik, masa depan bisnis, dan sebagainya. “Sekarang semakin sulit membuat janji dengannya,” ujar seorang staf kedutaan negara Barat di Myanmar. Ongkos untuk bertemu dengan ET juga semakin mahal.

Tapi ongkos itu tentu sama sekali tak jadi soal bagi miliarder kaya raya seperti Thaksin. “Dia mulai berkonsultasi dengan saudara perempuanku sebelum terjun berpolitik. Kala itu dia berkonsultasi untuk urusan bisnis,” kata Thi Thi. 

Setelah naik menjadi Perdana Menteri Thailand, Thaksin masih sering menyimak ramalan ET. Bahkan beberapa hari sebelum ditendang militer dari kursinya, Thaksin masih sempat bertemu dengan ET. Thi Thi menolak mengungkapkan apa yang disampaikan ET kepada Thaksin sebelum dia terjungkal dari kursinya. Yang pasti, apa pun yang disampaikan ET tak bisa menolong Thaksin berkelit dari kudeta.

Lucunya, baik Thaksin maupun Jenderal Sonthi Boonyaratglin, Panglima Militer Thailand yang memimpin kudeta, sama-sama percaya pada juru nujum. Entah siapa peramal yang menjadi rujukannya, Jenderal Sonthi mengumumkan kudeta militer pada 20 September 2006 tepat pukul 9.39 pagi. Di Thailand, angka 9 atau gaow dianggap sebagai angka yang membawa keberuntungan.

Jenderal Prayuth Chan-ocha, Perdana Menteri Thailand.
Foto : GettyImages

Jauh sebelum memutuskan mengkudeta Thaksin, menurut buku Lab Luang Prang Park Pisadarn: Saiyasart Patiwat Awitchatipatai yang ditulis Wassana Nanuam, wartawan Bangkok Post, Jenderal Sonthi pernah ‘berkonsultasi’ dengan Warin Buawiratlert alias Hon Warin, juru ramal kondang di Kota Chiang Mai, Thailand.

Kepada sang jenderal pada Januari 2006 itu, Hon Warin mengatakan, ”Akan ada kudeta di Thailand.” Jenderal Sonthi balik bertanya, ”Siapa yang melakukan?” Dengan yakin Hon Warin menunjuk, ”Anda.” Delapan bulan kemudian, Jenderal Sonthi memaksa Thaksin lengser.

Menurut Hon Warin, Jenderal Sonthi merupakan reinkarnasi panglima perang Raja Taksin, yang berkuasa di Kerajaan Siam pada abad ke-18. Seperti halnya sang panglima Kerajaan Siam, yang berhasil menyelamatkan kerajaannya dari invasi Kerajaan Burma, menurut Hon Warin, Sonthi ditakdirkan sebagai penyelamat Thailand.

* * *

Dalam sejumlah kesempatan, Presiden Soeharto mengakui memang dekat dengan ilmu ‘kebatinan’. Selain Eyang Daryatmo, yang sudah dikenal Presiden Soeharto sejak muda, sejarawan MC Ricklef menulis dalam bukunya, Mengislamkan Jawa, dua orang pendampingnya dalam urusan berbau klenik ini adalah Soedjono Hoemardani dan Soediyat Prawirokoesoemo.

Mayor Jenderal Soedjono merupakan asisten pribadi Presiden Soeharto dan mantan anak buahnya sejak masih di Kodam Diponegoro. Sedangkan Soediyat, atau biasa dipanggil Romo Diyat, adalah pendiri Padepokan Jambe Pitu di Cilacap, Jawa Tengah. Di luar, orang-orang berbisik bahwa Soedjono-lah guru spiritual Presiden Soeharto. Tapi, lewat bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang terbit pada akhir 1980-an, dia membantahnya.

Punya senjata, tentara, dan kuasa saja sepertinya tak cukup bagi para jenderal untuk merasa tenang. Beberapa jenderal masih merasa perlu ‘bisikan’ dari ‘alam lain’. Prayuth Chan-ocha, Perdana Menteri dan mantan Panglima Militer Thailand, berulang kali mengatakan tak percaya pada rupa-rupa hal yang berbau klenik.

Jenderal Than Shwe, mantan penguasa Myanmar, saat melawat ke Cina pada 2010.
Foto : GettyImages

Tapi, seperti para jenderal yang pernah memimpin di Negeri Gajah Putih sebelumnya, dia tak bisa mengabaikan bisikan para penujum. Sebelum memutuskan mengkudeta Perdana Menteri Thailand Chatichai Choonhavan pada 23 Februari 1991, kabarnya Jenderal Suchinda Kraprayoon sempat meminta nasihat kepada juru ramal kondang Kengkiat Jongjaipra guna meminta petunjuk saat yang tepat untuk bergerak.

Dalam sejumlah hal, Jenderal Prayuth mengaku juga berkonsultasi dengan juru ramal. “Tak ada salahnya mendengarkan penujum. Ilmu ramal merupakan satu seni. Tapi, jika penujum mengatakan seseorang bakal kaya raya tapi dia hanya tidur sepanjang hari, lalu apa gunanya?” kata Jenderal Prayuth kepada Reuters beberapa tahun silam. “Aku menyimak kata-kata penujum. Mereka memperingatkan bahwa aku mungkin akan berkonflik melawan media.”

Barangkali atas bisikan penujum itu pulalah Prayuth pindah kantor ke Kompleks Pemerintah Thailand dan mulai bekerja di sana tepat pukul 08.19, tanggal 9 bulan 9 atau 9 September 2014. Sementara itu, sidang kabinet pertama dimulai tepat pukul 9 pagi. Serba-gaow atau 9 itu diyakini bakal membawa keberuntungan.

Pada Juli 2014, Dewan Nasional untuk Perdamaian dan Ketertiban menyetujui renovasi Kompleks Pemerintah Thailand senilai 252 juta baht atau Rp 95 miliar. Termasuk dalam proyek renovasi ini adalah mengganti semua perabot yang pernah dipakai Yingluck Shinawatra, Perdana Menteri Thailand yang dikudeta Prayuth, beberapa bulan sebelumnya.

Segala hal di tempat itu diatur sesuai dengan prinsip feng shui. “Meja kerja Jenderal Prayuth diletakkan di bagian timur ruangan, supaya segala solusi bisa datang lebih cepat,” ujar seorang pembantunya. Sebagian besar gedung dan ruangan juga bersalin warna. “Semuanya bernada hijau, karena dia berasal dari militer dan warna hijau sesuai dengan karakternya sebagai pemimpin militer.”

Pemakaman Swe Swe Win alias ET pada 2017 lalu.
Foto : The Nation

Sebelum pindah ke tempat baru, Prayuth juga sempat dimandikan dengan ‘air suci’ untuk mengusir rupa-rupa ‘kutukan’ dan ‘kekuatan hitam’ yang dialamatkan kepadanya. “Tenggorokanku terasa gatal dan leherku sakit. Ada orang mengatakan ada sejumlah orang yang mengarahkan kutukan kepadaku,” kata Prayuth di muka para pembantunya.

Garis keberuntungan Prayuth juga ‘ditentukan’ oleh empat cincin yang berganti-ganti dia kenakan di jarinya. Empat cincin itu dia beri nama Wan-Phra, Wan-Namoh, Wan-Sondej, dan Wan-Noppakao. “Cincin itu terpaksa aku pindahkan ke tangan kanan jika aku mengenakan seragam militer, karena sulit memberi hormat jika ada cincin di jari,” Prayuth bercanda kepada para wartawan, dikutip Bangkok Post.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE