INTERMESO

Raja Minyak di Lapangan Bola

“Mereka berjuang mati-matian agar PSSI tidak diambil. Saya bilang ke Pak Arifin, ’Mereka berbuat begitu karena periuk nasi mereka kita ambil.’"

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 19 April 2018

Pada suatu malam pada Maret 2010, Griya Jenggala di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, begitu riuh oleh tamu dari berbagai kalangan. Mulai pengusaha, pejabat tinggi negara, mantan atlet, sampai duta besar negara sahabat memenuhi rumah di pojok Jalan Jenggala yang sangat lapang itu.

Hari itu adalah hari yang istimewa bagi sang tuan rumah, Arifin Panigoro. Dia merayakan ulang tahun ke-65 dan mengundang kolega-koleganya. Saat sebagian besar undangan menyantap rupa-rupa hidangan yang disajikan, sang empunya hajat memilih menuju sayap bagian kiri teras rumahnya.

Ia bergabung dengan beberapa gelintir tamunya yang sudah menunggunya di situ. Terlihat Jenderal George Toisutta, kala itu menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Evert Ernest Mangindaan, serta mantan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Agum Gumelar. Mereka segera terlibat dalam percakapan serius.

"Saat melihat mereka, saya menduga obrolan Arifin bersama tiga jenderal itu seputar penurunan Nurdin Halid dari kursi Ketua Umum PSSI," ujar Meiriyon ‘Yon’ Moeis, wartawan olahraga senior yang turut menghadiri pesta ulang tahun Arifin Panigoro delapan tahun lalu, kepada detikX. Memang saat itu persiapan Kongres Sepak Bola Nasional, yang kemudian digelar di Malang, Jawa Timur, pada akhir Maret 2010, sedang panas-panasnya. Pelengseran Nurdin Halid disebut-sebut menjadi salah satu poin rekomendasi Kongres.

Ternyata sangkaan Yon Moeis itu meleset. Arifin, kata Yon, kemudian membeberkan pembicaraannya bersama tiga tokoh tersebut pada pertemuan dengan sejumlah mantan pemain tim nasional PSSI beberapa hari kemudian. "Arifin bicara lebih jauh ke depan…. Karena penyakit PSSI sudah sangat kronis, untuk memperbaiki sepak bola Indonesia, penyelesaiannya bukan sekadar menurunkan Nurdin Halid," Yon menuturkan.

Arifin yang baru sebulan lalu merayakan ulang tahun ke-73, memang bukan pengusaha 'biasa-biasa saja'. Tak cuma sangat tajir sebagai pemilik konglomerasi Medco, dia juga pernah nyemplung dalam hiruk pikuk dunia politik di era awal reformasi sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR. Prihatin dengan benang kusut pengelolaan kompetisi sepak bola di negeri ini, Arifin juga tak segan bertarung di Senayan untuk mereformasi PSSI.

Arifin Panigoro
Foto : Ari Saputra/Detikcom

Kegeraman Arifin pada kondisi sepak bola nasional memuncak saat pergelaran SEA Games di Vientiane, Laos, pada Desember 2009. Tim nasional Indonesia tak hanya gagal meraih medali perunggu, tapi juga pulang dengan menanggung malu. Tim nasional Indonesia luluh-lantak dalam fase penyisihan grup. Hanya berhasil bermain imbang 2-2 melawan Singapura pada pertandingan pertama, lalu dihajar Laos 1-2 dan disikat Myanmar 1-3 pada dua pertandingan selanjutnya. Padahal sebelumnya dominasi Indonesia atas Laos tak pernah terpatahkan.

Sepulang tim nasional Indonesia dari Laos, Yon bercerita, dia dan sejumlah pemerhati sepak bola diundang ke Griya Jenggala. "Kami ngopi-ngopi sore," ujar Yon. Mereka berdiskusi panjang-lebar tentang persoalan sepak bola Indonesia. "Dari situ darahnya (Arifin) naik. ‘Kita harus buat sesuatu, nih. Harus ada perubahan untuk sepak bola Indonesia yang lebih baik,’" Yon menirukan kata-kata Arifin Panigoro, sang raja minyak. Sejak malam itu pula, bos Medco Energi ini memutuskan ikut berkubang untuk membenahi kisruh pengelolaan sepak bola Indonesia.

Tim kecil itu segera bergerak. Bersama sejumlah tokoh, pencinta sepak bola, dan beberapa wartawan, mereka membentuk Gerakan Reformasi Sepak Bola Nasional Indonesia (GRSNI) pada awal Mei 2010. Dibentuk pula Satuan Tugas GRSNI untuk membuat kajian berdasarkan pengalaman reformasi sepak bola di negara-negara lain. "Arifin Panigoro menyokong penuh gerakan ini," ujar Yon. "Satgas ini juga menindaklanjuti rekomendasi Kongres Sepak Bola Nasional di Malang yang tak dijalankan PSSI."

Diskusi dan kajian terus bergulir, termasuk mempelajari laporan kajian komite independen Australia yang dibuat pada 2005. Kajian komite itulah yang menjadi panduan bagi gerakan reformasi sepak bola di Australia. Arifin menyediakan rumahnya sebagai tempat berdiskusi sampai akhirnya gerakan ini menerbitkan ‘Buku Putih Reformasi Sepak Bola Indonesia’ pada pertengahan Juli 2010. Saat Presiden Yudhoyono menggelar nonton bareng final Piala Dunia Afrika Selatan di Cikeas, sejumlah perwakilan GRSNI turut diundang. "Sebelum nonton final Piala Dunia, kami membahas isi buku tersebut," kata Yon.

Arifin Panigoro pun didorong untuk maju mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI pada Kongres PSSI 2011. Sedangkan George Toisutta disiapkan sebagai wakilnya. "Kami sudah bicarakan sampai sejauh itu. Untuk membenahi, kami harus masuk ke dalam. Perubahan tidak mungkin dari luar," kata Yon. Tapi rencana tersebut batal. Resistensi dari sejumlah pihak menguat tajam. "Kelompok sebelah sana merasa terganggu. Mereka berjuang mati-matian agar PSSI tidak diambil. Saya bilang ke Pak Arifin, ’Mereka berbuat begitu karena periuk nasi mereka kita ambil.’"

Sebenarnya bukan kali itu saja Arifin Panigoro digadang-gadang maju sebagai Ketua Umum PSSI. Sebelum Kongres PSSI di Makassar pada 2007, nama Arifin Panigoro sempat disebut-sebut sebagai salah satu kandidat. Bahkan, kata Yon, sekelompok orang yang punya hak suara dalam kongres sempat mengunjungi Arifin Panigoro di Jenggala.

Yon Moeis
Foto : Dok. Pribadi

"Minta maaf, perjuangan yang kami lakukan berakhir seperti ini."

Yon Moeis, wartawan olahraga

Tapi dukungan itu ternyata tak diberikan cuma-cuma. "Mereka menyebut angka yang harus dikeluarkan Arifin agar suara mereka terbeli," ujar Yon. Untungnya, pendiri Medco Group itu menolak dan memilih membesarkan program pembinaan usia dini dengan mendirikan Liga Medco bagi pemain-pemain di bawah 15 tahun.

Liga Medco, yang bergulir sejak 2006, setiap tahun melibatkan 3.000 anak dan 500 pemain yang tampil di putaran final. Arifin membiayai liga ini langsung dari kocek pribadinya. Tak kurang dari Rp 2 miliar harus dikeluarkannya untuk menggulirkan kejuaraan tersebut setiap tahun.

* * *

Akhirnya Liga Primer Indonesia (LPI) mulai bergulir pada Januari 2011 dengan pertandingan perdana Solo FC melawan Persema, meski pihak kepolisian sempat enggan memberikan izin pertandingan.

Padahal ‘tuan rumah’, Wali Kota Solo Joko Widodo, sama sekali tak merasa keberatan. "Saya harap pertandingan hari Sabtu akan mendapat izin. Nanti siang saya akan bertemu beberapa pihak untuk membahas laga perdana agar dikemas sebagai pertunjukan yang bagus, agar pertandingan akbar itu bisa tercapai. Ini untuk revolusi sepak bola Indonesia," kata Joko Widodo, kini Presiden Indonesia, dikutip detikcom, kala itu.

Pada mulanya PSSI memang tak mau mengakui kompetisi LPI, yang disokong Arifin Panigoro, dan mengancam akan mendegradasi klub-klub yang bergabung dengan Liga Primer. Namun LPI jalan terus dengan 19 klub peserta. Liga Primer tuntas pada Mei 2011 dengan juara Persebaya 1927. Tapi kisruh di tubuh PSSI malah berlarat-larat hingga akhirnya Arifin Panigoro dan timnya dipaksa mundur.

Merasa gagal dengan gerakan reformasi tersebut, dalam sebuah pertemuan santai dengan Arifin, Yon meminta maaf kepada bos Medco Group itu. "Minta maaf, perjuangan yang kami lakukan berakhir seperti ini," ujar Yon. Namun respons Arifin mengagetkannya. Menurut Arifin, perjuangan mereka tidak bisa dibilang gagal. Sejumlah poin rekomendasi mereka bisa diwujudkan, seperti penghapusan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk klub sepak bola dan penggantian rezim. "Kita sudah berbuat yang terbaik," ujar Yon menirukan ucapan Arifin.

Tim Nasional U23
Foto : Dok. PSSI

Bob Hippy, mantan pemain nasional yang ikut dalam gerbong Arifin Panigoro saat itu, juga menyayangkan gerakan reformasi sepak bola itu mati sebelum tuntas. Bob kecewa terhadap sikap pemerintah. "Presiden saat itu tidak tegas. Menteri Olahraga juga setengah-setengah," kata Bob kepada detikX. "Jadinya Arifin serba salah."

Padahal, seperti kata Arifin, jika diurus dengan benar, sepak bola tak hanya membuahkan prestasi. "Potensi bisnis dari sepak bola itu sangat besar. Lihat saja kompetisi sepak bola di Eropa yang sudah sangat maju," ujar Bob. Demi membenahi pengelolaan kompetisi sepak bola di Tanah Air, Arifin tak sayang merogoh duit sangat besar dari kantong pribadinya. “Komitmennya membangun sepak bola Indonesia menjadi lebih baik sungguh luar biasa."

Sayangnya, banyak orang yang tidak mengapresiasi apa yang dilakukan Arifin Panigoro untuk sepak bola Indonesia. "Mereka tidak mengerti terobosan yang dilakukan Arifin. Mereka menilai Arifin hanya ingin meraih hasil akhir tanpa melalui proses panjang," kata Bob.

Keinginan membenahi sepak bola nasional yang dilakukan Arifin Panigoro, kata Bob, muncul dari keinginan hati nuraninya. Bukan lantaran Arifin memiliki kekayaan. "Arifin adalah nasionalis sejati. Saya bangga berteman dengan dia," ujar Bob.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE