INTERMESO

BANGKIT DARI NARKOBA

Dari Makan, Tidur, hingga Dijemur

Tahapan paling berat dalam rehabilitasi pengguna narkoba adalah detoksifikasi. Detoksifikasi merupakan pembersihan zat adiktif dari dalam tubuh.

Foto : Agung Pambudhy

Sabtu, 07 April 2016

Guna menghilangkan pengaruh narkoba dan zat adiktif dari tubuh, langkah awal yang urgen bagi pasien pecandu narkoba atau korban penyalahgunaan obat terlarang adalah menjalani rehabilitasi medis. Tahapan awal ini berupa detoksifikasi dan stabilisasi.

Begitu juga dengan para pecandu narkoba yang akan menjadi residen (pasien narkoba) yang hendak menjalani perawatan di Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional di kawasan Lido, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Residen baru dimasukkan ke Rumah Detoksifikasi, yang terletak di bagian paling belakang area tempat rehabilitasi narkoba terbesar di Indonesia itu.

Saat ini Rumah Detoksifikasi dihuni 30 residen baru. Mereka ditempatkan di gedung berlantai dua, yang masing-masing lantai dihuni 15 orang. Ke-30 orang ini memang sengaja dipisahkan dengan residen lainnya yang sudah masuk tahap rehabilitasi sosial, yaitu entry unit, primary, dan re-entry (yang akan pulang), serta pascarehab.

Residen yang tengah menjalani detoksifikasi ini mengenakan seragam kaus berwarna oranye. Di tempat ini mereka menjalani proses pembersihan selama dua minggu, ditambah proses stabilisasi selama dua minggu. Mereka dijaga sangat ketat. Bahkan ruangannya pun dikunci dengan gembok agar mereka tak berbaur ke luar.

“Di tempat inilah tubuh mereka akan dibersihkan dari zat adiktif akibat penyalahgunaan atau ketergantungan narkoba. Ini untuk meminimalkan dampak terhadap fisik yang disebabkan oleh penggunaan narkoba,” kata Kepala Balai Besar Rehabilitasi BNN Mohammad Ali Azhar saat menemani detikX melihat suasana proses rehabilitasi pada Rabu, 28 Maret 2018.

Penunjuk gedung detoksifikasi di Babesrehab BNN
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Ali menegaskan, selama proses detoksifikasi, para pasien baru ini sama sekali tak diberi obat-obatan sebagai pengganti narkoba. Hal tersebut agar proses pembersihan dan penghilangan pengaruh ketergantungan narkoba berjalan dengan cepat. Konsekuensinya memang pasien akan selalu gelisah dan mengamuk sambil teriak-teriak. “Makanya kita gembok ruangan satu barak itu,” ujar Ali.

Hal senada diungkapkan staf dokter Balai Besar Rehabilitasi BNN, dr Dian. Ia mengatakan balai itu berbeda dengan panti rehabilitasi atau Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) lainnya. Di RSKO, pasien masih menggunakan obat-obatan sebagai terapi substitusi atau terapi pengganti narkoba, misalnya obat Metadon.

“Nah, ini sebenarnya buat terapi pengganti untuk pecandu heroin. Jadi untuk menekan penggunaan, mereka lama-kelamaan akhirnya akan abstain, lama-lama dikurangi,” tuturnya kepada detikX di Rumah Detoksifikasi.

Namun penggunaan obat untuk terapi substitusi memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, pasien masih bisa memakai dan merasakan Metadon yang cara kerjanya mirip dengan heroin atau putau. Sedangkan sisi negatifnya, banyak pasien yang akhirnya pindah dari kecanduan heroin ke Metadon. “Makanya Balai Besar Rehabilitasi BNN tidak menggunakan terapi model ini. Penggunaan obat kita putus semua secara total,” ucap Dian.

Karena itu, para pecandu yang direhabilitasi dipaksa mengikuti sistem BNN karena akan lebih efektif. Memang penanganan terhadap pecandu jenis sabu dan obat-obatan lainnya berbeda dengan pecandu heroin.

gedung residen anak
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

“Heroin itu sudah berat. Heroin dan kokain itu paling tinggi, sudah kelas berat. Kalau di sini sabu masih bisa. Dulu di sini pecandu heroin dan kokain itu banyak, ya, pada awal-awal tahun kita buka,” tutur Ali.

Rata-rata pengguna heroin atau putau itu cadel saat berbicara. Keringat para pecandu jenis barang ini juga tercium tak enak. “Rata-rata pecandu heroin atau putau itu ‘lewat’ (meninggal) semua kalau tidak ditangani dengan benar dan ketat,” Ali menambahkan.

Dian menyatakan, pada proses detoksifikasi, residen akan melakukan beberapa pemeriksaan kesehatan, di antaranya pemeriksaan laboratorium, radiologi, ECG, USG, odontogram, VCT, serta pemeriksaan psikiater. Residen pada tahap ini juga diberi terapi edukasi, terapi kelompok, terapi religi, serta konseling kelompok maupun individu.

Setelah menjalani proses detoksifikasi dan stabilisasi, targetnya residen telah melewati masa withdrawal atau putus zat, dan residen kooperatif terhadap rekomendasi dokter dan perawat. Setelah itu, mereka dimasukkan ke tahap berikutnya guna mengikuti entry unit untuk pengenalan program yang akan dijalani. Lalu masuk tahap primary selama empat bulan.

Eka Pralaya, 25 tahun, salah seorang residen yang sudah menjalani detoksifikasi, menceritakan, selama dua minggu, ia diberi makan dan tidur saban hari. Pagi harinya, ia dijemur di bawah sinar matahari pada pukul 08.00-09.00 WIB. “Terus balik lagi ke kamar. Ditanya apa kendala kita,” katanya kepada detikX.

Karena sering gelisah dan berteriak-teriak, pecandu narkoba yang menjalani detoks 'dikurung'.
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Saat detikX bersama Ali Azhar mengunjungi Rumah Detoksifikasi, terlihat beberapa residen, yang sebagian besar mengenakan kaus oranye, berada di dalam ruangan yang terkunci. Namun beberapa residen yang kondisinya sudah dianggap stabil diperbolehkan beraktivitas di luar sekitar gedung.

Saat itu ada beberapa residen yang tengah asyik bermain sepak bola, membersihkan halaman, jalan-jalan sore mengelilingi lapangan bola, dan ada yang sekadar bersenda gurau. Residen yang belum bebas dan terkurung menampakkan diri di balik jendela berjeruji besi.

Mereka berteriak dan bersiul-siul menggoda tamu yang datang. “Sini dong, foto bareng,” ujar beberapa residen dari dalam gedung saat detikX mengambil foto mereka. “Mbak, sini dong, sini…,” salah satu residen meminta kami menghampirinya.

Saat itu tiba-tiba salah satu residen yang tengah menjalani detoksifikasi menghampiri. Ali Azhar pun mengajak ngobrol. “Pak, saya minta Rp 10 ribu, dong, untuk tanaman ini supaya lebih subur,” ujarnya seraya menunjukkan bibit pohon di dalam gelas bekas air mineral. Entah pohon apa yang ditunjukkannya itu.

Memang, secara fisik, residen yang tinggal di Rumah Detoksifikasi memiliki badan yang segar, ada yang gemuk atau berisi. Hanya, terlihat tanda hitam di lingkaran kedua matanya. Wajah beberapa dari mereka terlihat sayu akibat efek menahan ketagihan narkoba.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE