INTERMESO

Kepala Balai Besar Rehabilitasi BNN Mohamad Ali Azhar

Tingkat Kambuhnya Kecil

Ilustrasi : Edi Wahyono

Minggu, 08 April 2018

Balai Besar Rehabilitasi milik Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor, Jawa Barat dikhususkan untuk merawat para pecandu atau korban narkotika. Selama ini, banyak keluarga pecandu narkoba merasa enggan untuk memasukan mereka guna direhabilitasi.

Di tempat rehabilitasi yang dikelola BNN ini, hampir 6.260 orang yang dirawat sejak tahun 2013-2018. Semua biaya perawatan selama enam bulan sampai mereka pulang ditanggung oleh BNN. Tingkat relaps (kambuh) kecil, sekitar 7 persen.

“Pasien di sini itu gratis semuanya. Maka tolong disosialisasikan, di sini itu gratis. Tidak dipungut biaya sepeserpun untuk rehab,” kata Kepala Balai Besar Rehabilitasi BNN, Mohammad Ali Azhar.

Berikut petikan wawancara khusus detikX dengan Mohammad Ali Azhar di Babesrehab BNN Lido, Bogor, Jawa Barat, 28 Maret 2018 lalu.

Bagaimana sistem rehabilitasi terhadap para pecandu narkoba yang ditangani di sini?
Begini, Balai Besar ini ada sejarahnya. Jadi awalnya 1974 menangani masalah anak-anak nakal dan wanita pekerja seks komersial (PSK) yang akan dibawa ke pengadilan. Dulu namanya Wisma Pamardi Siwi di Cawang. Lalu berubah namanya jadi Unit Terapi dan Rehabilitasi.

Masuk tahun 2002, Unit Terapi dan Rehabilitasi Balai Kasih Sayang Pamardi Siwi masih menangani korban narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza). Lalu berubah menjadi Unit Terapi dan Rehabilitasi BNN yang diresmikan pada 26 Juni 2007. Kemudian tahun 2013 itu sudah menjadi Balai Besar Rehabilitasi. Kemudian dalam Peraturan BNN No. 15 Tahun 2014 perubahan organinasi dan tata kerja Balai Besar Rehabilitasi yang menangani pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkoba.

Visinya menjadi pusat rujukan nasional pelaksanaan rehabilitasi bagi penyalahgunaan dan atau pecandu narkoba secara profesional. Sedangkan misinya, pertama, melaksanakan pelayanan secara terpadu rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahgunaan dan atau pecandu narkoba. Kedua, fasilitas pengkajian dan pengembangan rehabilitasi. Ketiga, melaksanakan wajib lapor pecandu. Keempat, memberikan dukungan informasi dalam rangka pelaksanaan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Targetnya kita di sini menangani kasus pengguna narkoba itu ada 800 orang.

Mohammad Ali Azhar
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Kalau sekarang, tahun 2018?
Ada 446 orang yang di sini, tetapi kan sudah ada yang pulang. Jumlah residen sekarang yang ada itu ada 264. Female-nya (wanita) ada 19 orang dan 4 orang anak. Problemnya juga berbagai macam, ada yang karena broken home, ada yang suaminya pengguna narkoba akhirnya dia ikut-ikutan pakai, terus keluarganya pakai, anaknya juga pakai. Ada tiga orang pasangan suami-istri berada di sini sedang rawat inap.

Rawat inapnya berapa lama?
Nah,  itu tergantung dari berapa lama rehabilitasinya. Kan, bagaimana assessment-nya. Itu kan seberapa dia menggunakan narkoba, tim dokter dan psikolog yang akan memutuskan apakah dia dirawat atau tidak. Apakah hanya 4 bulan atau 6 bulan. Prosesnya nanti dia masuk ke detoksifikasi.

Saat detoks, residen (pecandu yang tengah direhab) matanya masih merah, suka teriak-teriak. Jadi untuk memutuskan hubungan zat adiktif di situ. Kemudian masuk ke Entry Unit, lalu mulai pengenalan program, selajutnya masuk ke tahap Primary. Ada Primary Hope, Primary Change, Primary Faith dan lain-lain. Di situlah sudah mulai banyak kegiatan, pengenalan diri, peningkatan kesadaran kemudian diberikan vokasional.

Jadi jadwalnya itu dari pukul 05.00-22.00 WIB. Padat. Makanya itu ada yang nggak mau dirawat karena padat jadwal kegiatannya. Beda kalau kita masuk di Lembaga Pemasyarakatan, bebas. Di sini tidak boleh menggunakan narkotika, apalagi mensuplai. Kalau di Lapas masih banyak kan? Malah ada yang jadi bandar.

Di sini ibadah rutinitas digalakkan. Kalau telat dikenakan sanksi dan diberikan pembelajaran dari segi pembinaannya. Bahkan ada anak-anak yang lapor ke saya, ada anak yang dijauhi, mereka bilangnya di-bully. Padahal, di sini nggak ada itu namanya di-bully. ‘Dia enak sendiri Pak. Waktunya sholat subuh, dia banggunnya telat Pak.’ Jadi orang salat subuh jam setengah lima, dia baru bangun jam enam. Yang lain membersihkan kamar, dia ngga. Jadi temen-temennya menjauhi dia, kan ini namanya sanksi sosial.

Mereka ini kan anak-anak, kasian. Berada di lingkungan orangtua yang kurang harmonis dan kurang perhatian juga. Akhirnya berteman dengan orang yang tidak baik dan terjerumus. Bahkan, ada anak yang nggak mau kembali ke rumah.

Dr Dian salah satu tenaga medis di balai besar
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Anak-anak itu diantar orangtuanya ke sini?
Harus ada orangtua yang mengantarkan. Jadi syaratnya itu kan begini, ada yang titipan, ada yang voluntary (sukarela), ada tangkapan penyidik dan dikasih ke kita. Kebanyakan sih awalnya bukan kesadaran si pemakai. Kebanyakan juga dari orangtuanya yang nggak sanggup lagi menangani lalu dibawa di sini. Sebenarnya walau rawat inap di sini, orangtua jangan sepenuhnya melepas begitu saja. Tetap harus ada peran orangtua. Ini kan tanggung jawab orang tua juga.

Terus harus menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), mengisi surat pernyataan kalau dia bersedia mengikuti semua kegiatan yang ada di balai ini. Memang kalau masih dalam tahap detoksifikasi belum bisa dikunjungi sama keluarga.

Kalau sekarang ini kan (residen) umur 15-45 tahun. Padahal kan umur 55-60 tahun kan juga ada yang menggunakan narkoba. Kenapa kita nggak menerima yang sudah lanjut usia? Karena mereka itu tidak mau mengikuti aturan kegiatan yang ada di sini. Aturan rehab di sini itu buat dia semaunya aja. Contohnya artis Tesi itu. Dia nggak mau yang repot. Bagaimana dia mau sembuh kalau dia nggak mau ikut kegiatannya itu.

Di sini lengkap ada dokter, psikiater, inilah yang memberikan motifasi untuk sembuh. Dan ada dokter gigi juga, karena rata-rata pecandu narkoba giginya rusak, jadi butuh perawatan juga. Pasien di sini itu gratis semuanya. Maka tolong disosialisasikan, di sini itu gratis. Tidak dipungut biaya sepeserpun untuk rehab.

Pernah ada tim dari Ombudsman yang datang menyamar ke sini. Mereka mengecek benar ada biaya atau nggak? Ternyata tidak ada. Kalau ada yang memungut biaya akan saya besi sanksi, apalagi anggota saya. Cuma kadang-kadang oknum yang bermain di daerah yang minta dibeliin tiket pesawatnya, terus hotelnya tempat dia nginap dan operasional dia. Padahal mah itu nggak ada aturannya. Mungkin gara-gara keluarga pasien panik, kan mereka mau-mau aja membayar. Yang penting, bagaimana caranya anaknya bisa direhab.

Vokasional residen di balai besar
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Harusnya orangtua pasien untuk datang ke sini pun tanpa harus meminta bantuan orang lain. Datang aja ke sini langsung, nggak dipungut bayaran sama sekali. Mereka (pasien/residen) di sini dapat makan sehari tiga kali sehari dengan menu gizi yang bagus. Kalau makan sembarangan kan nanti lemes, karena badannya belum stabil. Di sini ada ahli gizinya. Snack juga enak-enak. Tapi bagi yang tengah menjalani detoksifikasi, itu semua dianggap kurang. Karena habis putus zat adiktif dalam tubuhnya kan membutuhkan makanan yang banyak.

Seragam dan obat-obatan semua ditanggung BNN. Kecuali di luar kekuasaan kita. Misalnya, ini mudah-mudahan nggak terjadi, ada yang mengalami luka berat kan harus dirujuk ke rumah sakit lain. Atau tiba-tiba dia jatuh karena nekat menjatuhkan diri dari lantai tiga lalu kakinya patah. Itu kan bukan tanggung jawab kita, itu semua di luar biaya Balai Besar lah ya.

Jumlah total pecandu yang sudah ditangani Babesrehab BNN sejak mulai berdiri di sini berapa?
Di Balai Besar ini, dari tahun 2013-2017 sudah merehabilitasi 5.846 orang. Tingkat relapsnya (kambuh) pun kecil, hanya 7,56 persen. Pada penelitian terdahulu sampai 20 persen, lalu turun menjadi 10 persen, sekarang hanya 7,56 persen, ini artinya sudah bagus.

Rata-rata usia berapa yang masuh program rehabilitasi di sini?
Di sini residen latar belakangnya banyak profesi dan usia produktif antara 21-30 tahun, ini rekor jumlah terbanyak, bisa 56 persen. Urutan kedua yang berusia antara 26-30 tahun. Jadi mungkin 70 persen itu usia produktif semua. Makanya banyak itu, orang generasi muda yang dijadikan pangsa pasar narkoba. Kebanyakan yang berasal dari daerah Sumatera Utara, itu urutan nomor satu. Urutan kedua dari DKI Jakarta.

Kadang-kadang mereka nggak mau berobat di tempat dekat rumahnya, karena malu. Padahal mereka itu sakit, bukan kriminal. Tapi mereka banyak mengganggap ada anggota keluarga jadi pengguna narkoba itu sebagai sebuah aib yang memalukan. Kemarin, misalnya datang perwakilan dari PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) datang ke sini, “Pak, nanti tolong anggota saya banyak yang mau masuh rehabilitasi di Babes,” katanya.

Saya tungguin seminggu, dua minggu, nggak ada yang datang-datang. Kan nanti ngeri juga popularitasnya turun kalau datang. Dulu kayak Raffi Ahmad di sini, itukan susah benar bangun subuh, nggak kuat. Sholat subuh, olahraga, bersihin kamar, sarapan dan juga terapi kelompok. Kan, itu harus tepat waktunya, kalau nggak tepat waktu nanti dimarahi sama pembinanya, kena sanksi sosial juga.

Residen perempuan di House of Female
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Kadang sebulan sekali saya ajak kumpulin, biar ada kebersamaan antara residen juga petugas. Mereka juga kita perhatikan disini. Kadang juga orangtuanya malah bersikap masa bodo sama anaknya. Seharusnya mereka datang, ada kebersamaan dan motivasi juga ada.

Soal komunikasi ke luar bagaimana?
Oh, waktu mereka berada di sini nggak boleh sama sekali bawa handphone. Bawa uang saja nggak boleh. Itu diberlakukan selama mereka berada di dalam Babesrehab. 

Siapa lagi tokoh top yang pernah di sini?
Selain artis juga ada Amr Zoni, dia di sini pas ketangkap kemarin itu. Lalu ada oknum pernah di sini. Sekarang aja ada 11 anggota polisi yang jadi pemakai dan sedang direhab, ada karena titipan dari penyidik dalam proses hukum, dan ada atas perintah komandannya untuk berobat.

Tapi di depan ada minimarket, berati residen pegang uang dong?
Oh maksudnya ke minimarket itu untuk jalan-jalan sampai sana, tapi mereka tetap nggak boleh megang uang. Mereka di sini kan komplit semua, aktivitas apa saja ada, kaya basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, ngegym, main musik dan lainnya. Mereka mau apa saja, ya bisa aja semua. Terus dua sampai tiga orang jalan-jalan cari udara segar, boleh itu yang sudah masuk program re-entry.

Pasca rehab itu apa saja?
Ya diberikan keterampilan lagi. Walaupun di sini sudah diberikan keterampilan mungkin nanti dia akan dibekali lagi keterampilan yang lain. Di sini ada perbengkelan, kalau wanita membuat tas dan dompet, sablon, salon, broadcast, itu semua dikelola sama residen.

Untuk ke depannya, bukan hanya residen saja, biarkan mereka berkembang. Kita sangat berharap, Babesrehab BNN ini menjadi pusat unggulan rehabilitasi. Jadi Balai Besar Rehab ini berubah menjadi COE (Center of Excellent) yang bisa memberikan rekomendasi tempat berdirinya sebuah Panti Rehabilitasi.

Kepala Babesrehab BNN Mohammad Ali Azhar tengah berbincang dengan seorang residen perempuan
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Saat ini kan banyak panti-panti rehabilitasi tanpa rekomendasi dari BNN. Itu semua kan rata-rata komersil. Misalnya saja yang di Pondok Indah atau Lebak Bulus, Jakarta Selatan kan itu bayar semua, malah ada satu paket rehabilitasi harganya mencapai Rp 100 juta, padahal belum tentu sembuh. Mereka kan komersil, di sini semua gratis, sama sekali nggak bayar.

Jadi untuk perorangnya butuh berapa dana yang ditanggung BNN?
Di sini perorang/residen rata-rata butuh biaya Rp 3,5 juta perbulan. Kalikan saja kalau mereka di sini selama enam bulan, jadi Rp 21 juta. Kalau program empat bulan jadi Rp 14 juta. Jadi tergantung residennya. Nah mungkin panti rehabilitasi yang komersil kan kaya di hotel, ada kolam renang, tempat tidur kaya di hotel. Saya rasa, itu hanya orang-orang tertentu saja, paling 5-6 orang aja yang masuk atau maksimal 10 orang. Tapi di sini total populasinya ada ada 264 orang, femalenya ada 19 orang.

Kapasitas residen di sini bagaimana? 
Memang kapasitasnya untuk 350 orang.  Tapi inikan ada yang masuk dan ada yang keluar. Kalau lebih dari itu nggak bisa, bisa rebutan nanti, kaya nanti waktu detoksifikasinya. Detoks itu paling banyak 30 orang atau 35 orang yang menghuni dua lantai.

Karena kan kalau mereka tidurnya masih bareng-bareng, mandi bareng, kayak di barak gitu. Di ruang detoks itu pintunya masih digembok, tapi kalau sudah masuk tahap Entry Unit sudah tidak digembok lagi. Jadi digembok sama-sama satu barak selama dua minggu. Setelah itu masuh Entry Unit sudah bisa ngobrol bareng dan berbaur dengan yang lainnya.

Harapannya ke depan seperti apa Babesrehab BNN ini?
Ya, Balai Besar ini kita harapkan banyak menyembuhkan para pecandu narkotika sehingga dapat mengurangi angka penyalahguna narkotika. Kalau angka penyalahgunaan narkotika bisa turun, maka permintaan narkotika akan berkurang. Nah, itu yang sangat kita harapkan sekali. Di sinilah tempat para pecandu untuk kembali sembuh dan dapat diterima lagi oleh masyarakat.


Reporter: Gresnia F Arela
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE