INTERMESO

Dari Pocong Sampai Love Story

“Saya sendiri juga bosen bikin cerita soal cinta, cinta, dan cinta. Tapi itu lah yang laku.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 16 April 2018

Hampir setengah jam Haqi Achmad membiarkan saja secangkir kopi di depannya disembur mesin pendingin ruangan. Tatapan matanya menerawang jauh, pikirannya mengembara ke masa sepuluh tahun silam, kala dia mulai merangkak di industri film. Saat itu dia benar-benar masih anak bawang, pemuda tanggung yang baru meninggalkan bangku Sekolah Menengah Atas di Jakarta.

Satu hal dia tak punya biaya maka tak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. “Kedua, saya capek sekolah….Saya sekolah di sekolah yang sangat mengagung-agungkan nilai. Makanya, ya udah, saya mau kejar yang saya suka saja,” Haqi, kini 28 tahun, menuturkan kepada DetikX beberapa waktu lalu.

Meski belajar di sekolah unggulan di Jakarta, Haqi tak menemukan dunianya di kelas. Persaingan mengejar nilai malah membuat dia tak betah di sekolah. Walhasil dia malah banyak bolos dan menghabiskan waktu di warnet, warung internet. Kebetulan, sudah lama dia suka sekali menonton dan menulis ulasan film-film Indonesia. Banyak sekali film Indonesia yang sudah dia tonton.

Bermula dari numpang ngetik, Haqi mulai berselancar di dunia maya, mencari informasi seputar film dan para sineasnya. Kadang dia tak masuk sekolah hingga berminggu-minggu. Delapan jam ia habiskan dengan menulis blog mengenai ulasan film, mengirim pesan ke sineas film dan tak ketinggalan menyimpan foto-foto Dian Sastrowardoyo, artis pujaannya di dalam disket. Hobinya menulis ulasan film itu lah yang sekarang jadi modalnya untuk bertahan hidup.

Tapi, meski suka sekali menonton film Indonesia, dari film-film pocong sampai film menye-menye soal kisah cinta anak-anak baru gede, Haqi tak punya pendidikan atau pengalaman menulis naskah film. Dia benar-benar mulai karir dari tangga paling bawah. Tugas pertamanya di rumah produksi Nation Pictures adalah menyiapkan teh hangat untuk pemeran film Rumah Dara, Julia Estelle. Sesekali matanya berbinar-binar menatap The Mo Brothers menyiapkan kepala palsu untuk adegan film horor penuh darah itu.

Haqi Achmad
Foto : dok.pribadi via Instagram

Ada beberapa orang yang ngerasa sineas sejati, nggak pernah menulis skenario sinetron kejar tayang menghina kami. ‘Halah penulis sinetron apaan sih, ecek-ecek.’”

Tisa T.S., penulis skenario film dan sinetron

Kesabaran Haqi akhirnya berbuah juga. Setelah tiga tahun jadi ‘pembantu kantor’, dia mendapatkan kesempatan menulis naskah skenario untuk film di stasiun televisi Trans TV. “Selama tiga minggu saya belajar intensif dengan produser dan sutradara,” kata Haqi. Meski tak tayang di bioskop, pengerjaan film untuk televisi ini tak banyak beda dengan film untuk bioskop. “Saya belajar banyak dari pembuatan film itu.”

Tahun 2011 nama Haqi mulai melejit semenjak mendapatkan kesempatan menggarap film Poconggg Juga Pocong. Saat itu teman ngeblognya, Raditya Dika, memperkenalkan Haqi kepada Arif Muhammad penulis novel Poconggg Juga Pocong. Film perdana yang ia garap itu pun menjadi film terlaris sepanjang karir Haqi.

“Saya sebetulnya nggak terlalu suka komedi. Dan secara konsep, nggak begitu masuk. Tapi saya tahu kalau mau karya debut kita kelihatan di industri film indonesia, kalau nggak bikin film bagus, ya bikin film laku,” kata Haqi. Poconggg laris manis, jadi salah satu film paling laris pada 2011.

Sekarang dia bukan lagi ‘anak bawang’. Sudah puluhan naskah skenario film bioskop maupun film televisi lahir dari tangannya, seperti Poconggg Juga Pocong, Radio Galau FM, This is Cinta, 17 Tahun ke Atas, Ada Cinta di SMA, I Love You, Tukang Sapu, dan sebagainya. Hampir semua film-film dari naskah Haqi berkisah soal cinta-cintaan remaja. Dari cerita mengenai kakak kelas tampan sampai kisah naksir pacar temannya.

Lama-lama Haqi jenuh juga dengan tema-tema seperti itu. Apalagi kini dia bukan remaja lagi. “Walaupun sudah menulis naskah ke-20, ini bukan film yang saya mau. Orang bilang Haqi nulis tentang dede dede melulu. Nulis sampah melulu,” kata Haqi. Tapi ini lah bisnis hiburan. Apa yang bisa mendatangkan banyak penonton, bisa mendatangkan banyak fulus, itu lah yang jadi pertimbangan utama pembuatan film. “Saya sendiri juga bosen bikin cerita soal cinta, cinta, dan cinta. Tapi itu lah yang laku.”

Film Ada Cinta di SMA yang naskahnya ditulis Haqi Achmad
Foto : dok.pribadi via Instagram

Padahal Haqi melihat, masih banyak kompleksitas masalah remaja yang lebih menarik untuk diangkat.”Faktanya kehidupan SMA, nggak kayak cerita di novel. Berkaca dari masa remaja saya sendiri yang berantakan, bagi saya, masa SMA Itu lebih berat dari masalah cinta-cintaan.” Setahun lalu ia memutuskan untuk rehat sejenak dari industri film dan bekerja sebagai copywriter untuk layanan perbankan. Waktu istirahatnya juga dia manfaatkan untuk mencari ide segar bagi karyanya ke depan.

“Sebagai penulis saya harus hidup dulu untuk bisa bikin kehidupan di cerita. Saya pikir sudah saatnya saya punya kehidupan sebagai manusia. Makanya saya mencoba profesi baru ini,” ujar Haqi. Bukan berarti ia menyerah pada industri yang telah membesarkan namanya. Haqi masih menyimpan ambisi untuk membuat karya film seputar drama keluarga yang sesuai dengan idealismenya sebagai seorang penulis. “Setiap kali saya capek dan ingin berhenti, saya selalu bilang, 'Haqi, lu udah menempuh ribuan langkah untuk sampai di sini.’ Saat ini ibaratnya saya harus berjarak dulu dengan yang disayang biar rindu. Dan ketika waktunya tiba, saya bisa bikin film yang saya mau dan paling jujur. Dan itu akan terjadi.”

* * *

Beberapa tahun belakangan ini Lenny Herawati tak pernah menggubris televisi di ruang tamu. Di antara anggota keluarganya, hanya sang Ayah yang sesekali masih jadi pelanggan program berita pagi di salah satu stasiun televisi swasta. Lenny masih ingat betul ketika televisi ‘konde’ di rumahnya berganti menjadi televisi layar datar.

Saat itu Lenny dan adiknya sedang menonton sebuah kisah percintaan di sinetron. Sepasang kekasih dimabuk asmara berdendang dan berjoged ria di sebuah taman penuh bunga. Seketika ada seekor elang raksasa menghampiri mereka berdua. Bukannya kabur, sang pria mengajak pujaan hatinya untuk menunggangi elang berbulu coklat itu. Mereka pun melesat jauh ke atas awan. Lenny tak banyak bicara, ia langsung mematikan televisi. Sejak saat itu ia bersumpah tidak lagi menonton tayangan sinetron di televisi.

“Adegan itu nggak masuk di akal, saya yang nonton jadi geli sendiri dan lama-lama jadi malas nonton televisi. Dari pada saya buang waktu dengan tontonan yang nggak jelas, mending saya browsing film,” ujar Lenny. Meski tak semua tayangan televisi jelek, sinetron Indonesia memang telanjur mendapatkan cap buruk.

Tisa TS
Foto : dok.pribadi

Georgia Patricia Titi Sari atau yang dikenal dengan nama Tisa TS telah melakoni profesi penulis naskah sinetron selama lebih dari lima belas tahun. Kritikan telah menjadi makanannya sehari-hari. Meski kadang kesal pula, dia harus berlapang dada meski komentar pedas itu juga datang dari para sineas film Indonesia.

“Ada beberapa orang yang ngerasa sineas sejati, nggak pernah menulis skenario sinetron kejar tayang menghina kami. ‘Halah penulis sinetron apaan sih, ecek-ecek.’ Mereka merasa, kalau penulis naskah film gengsinya lebih besar,” kata Tisa. Jika kepala sedang panas, hinaan yang merendahkan pekerjaannya itu kerap membuat Tisa terpancing emosi. “Man, please deh, mereka lupa kalau mau diadu saldo rekeningnya, mereka nggak ada apa-apanya dibanding kami. Nggak usah menghina juga kali.”

Sebagai penulis skenario senior, Tisa sudah kenyang pengalaman. Menulis naskah film pernah, menulis cerita sinetron pernah, dikejar-kejar tenggat naskah sinetron kejar tayang juga sudah biasa. Naskahnya yang naik jadi film bioskop misalnya tiga seri London Love Story dan Surat Cinta untuk Starla. Tisa keberatan jika dosa atas cap buruk mutu sinetron di televisi Indonesia dibebankan semuanya di pundak penulis naskah.

Padahal, menurut dia, bagaimana wajah sinetron Indonesia bisa seperti hari ini tak lepas dari sistem kejar tayang di industri sinetron. Tisa mengakui, dengan sistem kejar tayang seperti ini, sangat sulit bagi penulis seperti dia untuk memikirkan kompleksitas cerita, karena setiap saat harus berpacu dengan waktu agar sinetron bisa tayang sesuai jadwal.

Jika sedang dikejar tenggat, dia bisa tidak tidur selama dua hari. Bahkan kadang sistem produksi kebut-kebutan ini tak kenal situasi dan kondisi. Ketika Tisa baru melahirkan buah hatinya, ia sudah harus memikirkan ide untuk episode selanjutnya. “Aku habis melahirkan lewat operasi caesar. Aku selesai pemulihan jam 12 siang, jam 3 sore produser di Rapi Film sudah bawa sceneplot untuk dibahas bareng,” Tisa bercerita.

Kerja bak ‘dikejar setan’ ini memang terdengar mengerikan, tapi imbalannya juga lumayan besar. Di kalangan peracik cerita, memang ada istilah jika ingin cepat kaya jadi lah penulis sinetron kejar tayang. Namun tak banyak penulis yang sanggup bertahan dengan model kerja seperti ini. Kadang Tisa pun harus menggantikan penulis di sinetron lain yang keburu menyerah di tengah jalan. “Tapi aku selalu tanggung jawab, nggak pernah ngilang. Orang masih tahu lah cari aku di mana,” kata Tisa.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE