INTERMESO

Yang Tajir Dari Ojek dan Tukang Bubur

“Makanya penulis sinetron stripping mobilnya Alphard semua dan punya apartemen sendiri ”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 17 April 2018

Nama mereka tak sekondang Chris Evans, sosok di balik kostum Captain America. Bahkan barangkali jarang orang kenal dengan wajah mereka. Tapi kedua orang inilah ‘nyawa’ tiga seri film Captain America yang telah mengisi kantong Marvel Studios hingga puluhan triliunan rupiah.

Dua orang itu adalah Christopher Markus dan Stephen McFeely. Christopher dan Stephen adalah penulis naskah skenario untuk sejumlah film laris, seperti sekuel The Chronicles of Narnia, Thor: The Dark World, Captain America: The First Avenger, Captain America: The Winter Soldier, dan Captain America: Civil War. Sekarang Christopher dan Stephen dipercaya Marvel untuk menulis naskah untuk sekuel film yang bakal segera tayang di bioskop: Avengers: Infinity War.

Mereka bertemu saat masih kuliah di Universitas California, Davis. Karya perdana mereka adalah naskah film komedi The Life and Death of Peter Sellers. Film produksi 2004 ini mendapat sejumlah penghargaan, di antaranya Golden Globe. Nama Christopher dan Stephen mulai dikenal setelah mereka menulis skenario The Chronicles of Narnia.

Struktur cerita, Stephen menuturkan kepada The Verge beberapa waktu lalu, merekalah yang menyusun. Tapi bukan berarti mereka bekerja di kamar atau hotel dan menuntaskan naskah itu sendirian. “Saat aku mengatakan bahwa pekerjaanku adalah penulis naskah skenario film, orang-orang berpikir aku orang yang sangat nyeni, sangat artistik, but hell no,” kata Stephen seperti dikutip Variety. Menjadi penulis skenario, menurut dia, harus pintar merangkai banyak ide dari banyak kepala. “Pekerjaan itu seperti menyusun batu bata dan aku berusaha menjadi penyusun batu bata sebaik yang aku mampu.”

Christopher Markus dan Stephen McFeely, penulis skenario film Avengers - Infinity War
Foto : GettyImages

Sekarang, tentu saja, kemampuan mereka ‘menyusun batu bata’ itu nilainya sudah sangat mahal. Sebagai gambaran, M Night Shyamalan dibayar US$ 5 juta, atau sekitar Rp 69 miliar, untuk naskah skenario film Unbreakable pada 2000. Peter Jackson dibayar US$ 20 juta atau Rp 275 miliar untuk menulis skenario dan menyutradarai film King Kong pada 2004.

Mengutip THR, penulis Simon Kinberg mengantongi US$ 8 juta, atau setara dengan kurang-lebih Rp 110 miliar, untuk setiap naskah skenario X-Men yang dia setor ke Marvel. Dan kabarnya, pada 2008, studio 20th Century Fox mengontrak penulis Seth MacFarlane senilai US$ 100 juta, kurang-lebih Rp 1,35 triliun, untuk tiga seri komedi Family Guy, American Dad, dan The Cleveland Show, selama lima tahun. Siapa yang tak ngiler?

* * *

Haqi Achmad, kini 28 tahun, mulai meniti karier di industri film benar-benar dari tangga paling bawah. Lantaran tak punya biaya kuliah, dia bekerja setelah lulus sekolah menengah atas di Jakarta.

“Kedua, saya capek sekolah…. Saya sekolah di sekolah yang sangat mengagung-agungkan nilai. Makanya, ya sudah, saya mau kejar yang saya suka saja,” Haqi, kini 28 tahun, menuturkan kepada detikX beberapa waktu lalu. Sudah lama dia punya hobi menonton segala jenis film Indonesia. Makanya dia memilih bekerja di dunia film.

Haqi Achmad bersama aktris Acha Septriasa
Foto : dok.pribadi via Instagram

“Saat aku mengatakan bahwa pekerjaanku adalah penulis naskah skenario film, orang-orang berpikir aku orang yang sangat nyeni, sangat artistik, but hell no

Stephen McFeely, penulis skenario film Avengers : Infinity War

Tapi, meski suka sekali menonton film Indonesia, dari film-film pocong sampai film menye-menye soal kisah cinta ‘anak baru gede’, Haqi tak punya pendidikan atau pengalaman menulis naskah film. Tugas pertamanya di rumah produksi Nation Pictures adalah menyiapkan teh hangat untuk pemeran film Rumah Dara, Julia Estelle.

Baru tiga tahun kemudian dia dapat kesempatan menulis skenario film Poconggg Juga Pocong bersama Arif Muhammad. Film komedi produksi 2011 ini lumayan laris. Haqi dapat bayaran Rp 14 juta untuk skenario Poconggg. Makin banyak pengalaman, makin laris film-film yang pernah ditulis, mestinya honor penulis naskah skenario seperti Haqi makin besar pula.

Meski tak sebesar honor Night Shyamalan atau Steve Kloves, penulis skenario film Harry Potter, pendapatan penulis naskah skenario film dan sinetron di negeri ini lumayan juga. Menurut Georgia Patricia Titi Sari atau yang dikenal dengan nama Tisa TS, seorang asisten penulis skenario sinetron kejar tayang bisa dibayar dengan upah Rp 750 ribu hingga Rp 2 juta per episode. Sedangkan penulis inti bahkan ada yang berani mengganjarnya dengan harga Rp 15 juta per episode.

Titi sudah punya jam terbang tinggi di dunia film dan sinetron. Naskah karyanya sudah lumayan banyak yang naik jadi film di bioskop, seperti tiga seri London Love Story, Di Sini Ada Setan, dan Surat Cinta untuk Starla. Tapi dia juga sama sekali tak asing kejar-kejaran dengan tenggat naskah sinetron kejar tayang.

Tisa TS
Foto : dok.pribadi

Di kalangan peracik cerita, memang ada istilah, jika ingin cepat kaya, jadilah penulis sinetron kejar tayang. Bayangkan saja sinetron seperti Cinta Fitri atau Tukang Ojek Pengkolan, yang panjangnya menembus 1.000 episode. Bahkan sinetron Tukang Bubur Naik Haji sudah melampaui 2.000 episode. Jika satu episode penulisnya dibayar Rp 5 juta, silakan hitung sendiri penghasilan mereka. “Makanya penulis sinetron stripping mobilnya Alphard semua dan punya apartemen sendiri,” kata Tisa.

Tapi cara kerja bak dikejar setan ini memang berat. Ketika Tisa baru melahirkan buah hatinya, ia sudah harus memikirkan ide untuk episode selanjutnya. “Aku habis melahirkan lewat operasi caesar. Aku selesai pemulihan pukul 12 siang. Pukul 3 sore produser di Rapi Film sudah bawa scene plot untuk dibahas bareng,” Tisa bercerita. Tak cuma kerjanya yang berat, menurut Tisa, penulis naskah sinetron kejar tayang kadang ‘makan hati’ dan bikin emosional mendengar komentar orang yang merendahkan mutu sinetron di televisi. “Man, please deh, mereka lupa, kalau mau diadu saldo rekeningnya, mereka nggak ada apa-apanya dibanding kami. Nggak usah menghina juga kali.”


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE