INTERMESO

Kisah Pipin Jadi Raja Minyak Indonesia

“Arifin memang bercita-cita menjadi orang kaya. Dia selalu bilang, ‘Gue ingin jadi orang kaya.’”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 20 April 2018

Saudara-saudaranya memanggilnya Pipin. Dia merupakan anak sulung dari sebelas bersaudara. Pada 14 Maret lalu, usia Pipin menginjak 73 tahun. Di kalangan ‘pemain’ industri minyak dan gas, juga pertambangan dan energi, siapa tak kenal Pipin. Dialah Arifin Panigoro. Bisa dibilang dialah raja minyak di negeri ini.

“Arifin memang bercita-cita menjadi orang kaya. Dia selalu bilang, ‘Gue ingin jadi orang kaya,’” kata Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Negara Lingkungan Hidup periode 1993-1998 dan senior Arifin di kampus Institut Teknologi Bandung, dikutip dalam buku, Tak Henti Berbagi: 70 Tahun Arifin Panigoro.

Bukan cuma pengusaha kaya raya pendiri dan pemilik Medco Energi, perusahaan minyak swasta nasional terbesar di negeri ini, tapi Arifin juga bukan pengusaha ‘biasa-biasa’ saja. Dia pernah nyemplung dalam hiruk-pikuk politik di era awal reformasi sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di DPR. Dia juga pernah habis-habisan bertarung di Senayan untuk mereformasi pengelolaan kompetisi sepakbola di bawah payung Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Meski ayahnya, Jusuf Panigoro, juga seorang pengusaha, Arifin tak tumbuh di keluarga yang kaya raya. Ayahnya meninggal hanya beberapa tahun setelah dia lulus kuliah. Walhasil, Pipin harus jadi tulang punggung keluarga dan menggantikan peran ayah bagi sepuluh adiknya. Bukan banyaknya duit yang jadi modal utama Arifin dan teman-teman kampusnya saat memulai usaha. Inovasi, kerja keras, menjaga kepercayaan dan kelihaian menjalin relasi adalah kunci usaha mereka.

Sejak masih kuliah, Arifin sudah menyandang julukan Mister Flexi dan Mister Optimis, lantaran kepercayaan diri dan keluwesannya dalam bergaul. “Supplier panel listrik kami di Glodok hanya percaya kepada Arifin karena kepintarannya ngomong. Kalau Arifin yang ngomong, mereka mau kasih barang dulu tanpa jaminan. Tapi kalau saya yang ngomong, mereka tak mau kasih barang,” Daniel Mangindaan, teman lama Arifin saat merintis usaha lewat CV Corona Electric di Bandung pada awal 1970-an, menuturkan.

Kadang tak cukup hanya percaya diri yang jadi modal Arifin dan teman-temannya dalam berbisnis, tapi juga nekat. Bambang Subianto, mantan Menteri Keuangan dan teman Arifin di ITB, punya cerita soal kenekatan sobatnya itu. Setelah lulus dari kampus Ganesha, Bambang sempat bekerja di pabrik cat. Suatu kali perusahaannya ingin memasang mesin baru di pabrik.

Arifin Panigoro
Foto : Eduardo Simorangkir/detikcom

Bambang ingat kepada Arifin. “Saya hubungi Arifin dan dia langsung bilang iya,” Bambang menuturkan. Dia asal percaya saja kepada Arifin. “Memang akhirnya dia bisa memasang alat itu, meski belakangan dia mengaku sebenarnya asal mengiyakan saja.” Percaya diri dan modal nekat itulah—tentu tak asal nekat—yang mengantar perusahaan yang didirikan Arifin dan teman-temannya di kampus terus ‘naik kelas’ hingga beranak pinak sampai hari ini.

Suatu hari pada 1979, Arifin dan teman-temannya di Meta Epsi Engineering—perusahaan ini merupakan merger antara Corona dan Infra Design, perusahaan yang didirikan beberapa alumni Teknik Mesin ITB—berkumpul untuk membahas soal serius. Selain Arifin, hadir pula dalam rapat di kantor Meta di Jalan Juanda, Jakarta Pusat, itu antara lain Hertriono Kartowisastro, Syahril Anwar, Daddy Garnadi, dan Anhar Tusin.

Arifin memimpin rapat dan memaparkan idenya. Ide yang membuat seisi ruangan terdiam. “Gila, lo, berani bener,” Lily Irianto, kala itu Sekretaris Direktur Utama Meta Epsi dan satu-satunya perempuan dalam ruangan itu, mengutip reaksi salah satu peserta rapat. Tapi Arifin, seperti biasa, dengan gayanya yang berapi-api dan percaya diri, yakin mereka bisa masuk ke bisnis pengeboran minyak.

Hertriono (almarhum), yang punya pengalaman kerja di perusahaan pengeboran minyak, mendebat usulan Arifin. “Ini bisnis serius banget. Skala usahanya juga jauh lebih besar dari sekadar memasang pipa. Modalnya dari mana?” kata Hertriono, dikutip dalam buku Jejak Awal Medco. Saat itu Meta Epsi memang sudah beberapa kali mengerjakan proyek pemasangan pipa untuk perusahaan minyak bumi dan gas.

Tapi mereka sama sekali tak punya pengalaman dengan rig atau anjungan pengeboran minyak. Saat itu, bisnis pengeboran minyak masih dikuasai perusahaan asing yang bermitra dengan perusahaan lokal. “Kita pasti bisa,” kata Arifin dengan percaya diri. Berkat ‘bantuan’ Direktur Jenderal Minyak dan Gas kala itu, Wijarso, mereka bisa menjadi perusahaan mitra untuk Bawden Drilling, perusahaan pengeboran asal Kanada, untuk proyek pilot hole Pupuk Sriwijaya.

Block A, di Aceh yang dikelola Medco Energi.
Foto : Dok. Medco

Boro-boro senang, perasaan kami malah kebat-kebit nggak keruan. Medco kan nggak punya rig sebiji pun.”

Hertriono Kartowisastro

Lantaran satu dan lain hal, Bawden malah hengkang dari proyek itu dan meninggalkan Arifin, yang membawa bendera Meta Epsi Pribumi Drilling Company, disingkat Medco. Hertriono dan timnya panik. “Boro-boro senang, perasaan kami malah kebat-kebit nggak keruan. Medco kan nggak punya rig sebiji pun,” kata Hertriono. Padahal jadwal pengeboran sudah dekat.

Arifin segera mengirim Hertriono ke Amerika Serikat untuk membeli anjungan pengeboran. Dengan uang saku pas-pasan, Hertriono mendatangi satu per satu pabrik perakitan rig. Ternyata bukan hal mudah bagi perusahaan ‘kemarin sore’ seperti Medco untuk membeli rig. Setelah dapat anjungan pengeboran, giliran Arifin mesti berakrobat untuk mengumpulkan duit untuk membayar rig.

Bermodal satu rig, berkantor di ruangan sempit di Wisma Harapan, bisnis Medco mulai menggelinding. Tender demi tender diikuti dan dimenangi. Nelly Soetrisno, karyawan yang bergabung dengan Medco sejak masih ‘bayi’ sampai hari ini, menuturkan mereka kadang harus begadang di kantor untuk mengejar tenggat tender. Padahal, lantaran mengirit uang sewa, listrik ruangan dipadamkan pengelola mulai pukul 18.00. Satu-satunya lampu yang menyala hanya kamar mandi. Di kamar mandi itulah Nelly dan teman-temannya kadang lembur sampai larut malam.

Dari satu rig, anjungan pengeboran milik Medco terus bertambah hingga belasan unit. Dari semula hanya punya anjungan pengeboran di darat, sejak 1992, Apexindo Pratama Duta, anak perusahaan Medco yang mengelola bisnis pengeboran, juga punya rig untuk mengebor di lepas pantai.

Gedung Medco energi.
Foto : dikhy sasra/detikcom

Bagaimana Medco lewat Apexindo nyemplung di laut ini ceritanya mirip dengan kisah Arifin masuk bisnis pengeboran. Ada bau-bau nekat di sana. Pada awal 1990-an, kepada Hertriono, Arifin menyampaikan niatnya ikut tender pengeboran offshore atau lepas pantai.

Padahal ngebor di laut lain cerita dengan mengebor di darat. Permasalahannya lebih kompleks dan harga anjungan pengeboran di laut jauh lebih mahal dari rig darat. “Kita coba ikut tender dulu,” kata Arifin, dikutip dalam buku Jejak Awal Medco. Dan Medco menang tender. Padahal mereka tak punya rig offshore dan hanya punya waktu sekitar 8 bulan untuk mulai mengebor. Untunglah semua masalah kelar sesuai dengan jadwal.

Tahun 1992 menjadi tahun penting dalam perjalanan Arifin dan Medco. Pada tahun itu Medco mulai masuk bisnis pengeboran lepas pantai. Pada tahun itu pula Medco sah menjadi produsen minyak dan gas setelah menuntaskan pengambilalihan pengelolaan lapangan minyak Sanga-Sanga dan Tarakan di Kalimantan Timur dari perusahaan Amerika Serikat, Tesoro Indonesia Petroleum Company (TIPCO). “Kami butuh waktu dua tahun bernegosiasi dengan Tesoro,” John Karamoy, orang kepercayaan Arifin, menuturkan, dikutip Tempo.

Pada akhirnya Arifin dan Medco melepas bisnis pengeboran minyak pada September 2008. Tapi bisnis Medco terus berkibar, di dalam negeri maupun luar negeri, dari minyak, gas, panas bumi, sampai batu bara. Pada November 2016, Medco menuntaskan akuisisi Newmont Nusa Tenggara senilai US$ 2,6 miliar atau Rp 35,6 triliun dengan nilai tukar hari ini.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE