INTERMESO

Perempuan Tanpa Wajah di Balik Kamera

“Aku sengaja nggak mau kasih lihat wajah supaya fokusnya jangan ke aku, tapi ke pemandangannya.”

Longny Marcello
Foto-Foto: dok.pribadi via Instagram

Sabtu, 28 April 2018

Perempuan itu berdiri mematung menatap kejauhan. Sejauh mata memandang, hanya tampak hamparan padang rumput yang menguning keemasan terpanggang kemarau panjang. Rambut dan gaun panjang yang dia kenakan berkibar-kibar diterpa angin.

Di ujung langit Pulau Kenawa, Nusa Tenggara Barat, matahari sudah hampir pulang ke peraduan. Perlahan perempuan itu hilang ditelan gelap. Dia tak pernah menampakkan wajahnya. Hanya punggung yang selalu menghadap kamera. Hanya gambar di kamera yang mengabadikan pemandangan perempuan di tengah sabana pada sore itu.

“Aku sengaja nggak mau kasih lihat wajah supaya fokusnya jangan ke aku, tapi ke pemandangannya,” perempuan itu menuturkan kepada detikX beberapa hari lalu. Namanya Longny Marcello. Dia memang tak pernah menampilkan wajahnya pada semua foto yang dia unggah ke Instagram. Tapi justru itulah yang membuat 8.485 follower-nya ingin tahu. “Ternyata followers-ku penasaran. Mereka sampai kepo, scroll hingga posting-an paling bawah.”

Sejak bermukim di Bali sepuluh tahun silam, Longny ketagihan jalan-jalan mengunjungi setiap surga tersembunyi hingga pojok Nusantara. Pekerjaannya memang dekat dengan dunia jalan-jalan. Longny kerja di hotel. Namanya jalan-jalan, bak makan gorengan tanpa cabai, tentu tak asyik tanpa berfoto.

Melalui foto yang ia unggah ke akun Instagram, perempuan yang akrab disapa Nie ini berbagi cerita keindahan alam Indonesia. Akun Instagram pribadi Nie perlahan berubah menjadi foto apik dengan tema panorama. Namun ada konsep unik yang diangkat Nie untuk akun Instagram-nya. Nie hampir tak pernah memperlihatkan  wajahnya.


Nie biasa menyembunyikan wajahnya di balik topi atau hanya menampakkan punggung. Ia sengaja tidak ingin menjadikan wajahnya sebagai objek utama agar dapat berbaur dengan lanskap alam. Wajahnya yang misterius ini pun kerap menimbulkan pertanyaan tentang siapa gerangan pemilik akun @nie.marcello ini.

Saat melancong, Nie tak pernah pergi sendiri. Ia menelusuri pantai-pantai tersembunyi di Pulau Dewata, juga daerah-daerah lain yang masih perawan, ditemani seorang fotografer pribadi. Merekalah barangkali yang paling mengetahui sosok Nie. Jika kebanyakan wisatawan harus merogoh kocek untuk menyewa jasa fotografer pribadi, hobi jalan-jalannya itu mempertemukan Nie dengan banyak fotografer amatir maupun profesional. Banyak di antara fotografer itu justru meminta bantuan Nie menjadi model. Sebagai balasannya, Nie pun mendapatkan hasil jepretannya secara cuma-cuma.

Belum lama ini, Nie janjian dengan Achmad Mirza, seorang fotografer lepas yang tengah merintis bisnis jasa fotografi khusus liburan. Mirza biasanya melayani permintaan foto untuk daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Nie mengajak Mirza menjelajahi ‘negeri di atas awan’, yang kerap jadi buah bibir di kalangan wisatawan Yogyakarta.

‘Negeri di atas awan’ merupakan sebutan untuk Bukit Panguk Kediwung, Dlingo. Disebut demikian karena wilayah yang sebagian besar merupakan daerah perbukitan ini kerap diselimuti kabut tebal. Namun tidak setiap saat model yang berpose di atas gardu pandang dapat mendapatkan momen kabut tebal menyerupai awan yang pas.

“Aku memang pengin banget foto di sana. Dan aku sengaja minta tolong Mirza karena dia kan orang Yogyakarta, jadi dia paling tahu spot yang bagus, kapan harus pergi, dan angle yang tepat,” kata Nie. Beruntung, dia mendapatkan foto yang dia inginkan di ‘negeri di atas awan’. “Nggak sia-sia kami berangkat jam 4 subuh.” Di foto hasil jepretan Mirza, sosok Nie yang membelakangi kamera seolah berada di atas awan.

Untuk mendapatkan sudut yang pas, pemilik akun instagram @masmeya tak tanggung-tanggung. Jika perlu, Mirza tak sungkan memanjat pohon. Berendam di tengah ombak demi memotret model pun kerap ia lakukan. Begitulah kira-kira cerita dari balik kamera Mirza. Namun, dengan kehadiran sosok Nie, Mirza juga dapat menajamkan kemampuannya membidik kamera tanpa perlu menyewa model.

Longny Marcello membelakangi kamera Achmad Mirza di Bukit Panguk Kediwung, Dlingo.


Sudah hampir tiga tahun Mirza menekuni pekerjaan sebagai fotografer lepas. Kecintaannya terhadap dunia fotografi muncul ketika Mirza duduk di bangku SMA. Fotografi merupakan hobi yang mahal. Saat itu Mirza menekuni fotografi dengan bekal pinjaman kamera dari temannya.

Mirza baru mulai berani unjuk gigi ketika ia memiliki kamera sendiri. Kamera Canon 600D ia beli dari temannya dengan ‘harga teman’ Rp 2,5 juta. Jauh lebih murah ketimbang membeli kamera baru. Awalnya Mirza memfokuskan jepretannya untuk melayani jasa foto pre-wedding. Baru setelah banyak orang tergila-gila pasang foto saat piknik di Instagram, Mirza melebarkan sayapnya dengan menjadi fotografer jalan-jalan.

“Awalnya saya iseng fotoin teman pas liburan. Ternyata, setelah diunggah di Instagram, responsnya bagus,” kata Mirza, kini 23 tahun. Ada orang yang berminat pakai jasanya. “Nggak nyangka saya bisa dapat job pertama itu dari Instagram. Jadi ada pasangan dari Solo kirim pesan untuk difotoin selama jalan-jalan di Yogya.”

Saat itu dia pasang harga sangat murah. “Karena masih coba-coba, saya cuma pasang harga Rp 300 ribu. Ternyata mereka puas. Saya malah dikasih tambahan tip Rp 100 ribu. Sejak saat itu saya makin percaya diri buat jalanin usaha ini,” dia bercerita awal kariernya jadi fotografer jalan-jalan.

Dalam sebulan, Mirza bisa mendapatkan sembilan panggilan foto dari para pelancong. Tak hanya foto, terkadang ia juga membuat video perjalanan. Kesibukannya ini membuat kuliah mahasiswa semester VI jurusan sistem informasi di sebuah perguruan tinggi swasta di Bantul, Yogyakarta, keteteran.

“Namanya juga sudah kenal sama duit. Apalagi kalau dapat klien dari Kalimantan. Mereka nggak tanggung-tanggung, nggak mundur lihat harganya berapa pun. Nggak pakai mikir, saya ambil pekerjaannya. Beda kalau orang Jakarta, lebih banyak menawarnya,” kata Mirza terbahak.

* * *

Muhammad Fahmi pendiri Malang Travel Photography

Aku bilang Malang Raya ini, kalau digabungin semua tempat wisatanya, bisa ngalahin Bali. Masih banyak yang bisa dijual."

Muhammad Fahmi, pendiri Malang Travel Photography

Dulu Muhammad Fahmi sering menyumpah melihat jalan depan rumahnya di Malang, Jawa Timur, yang selalu padat merayap saat akhir pekan. Pada akhir pekan, apalagi saat libur panjang, Malang memang selalu dipadati wisatawan dari pelbagai kota.

Tapi, belakangan, ‘kemacetan’ itu justru mendatangkan berkah bagi Fahmi dan teman-temannya. Melihat banyaknya turis di Malang, Fahmi menangkap celah bisnis. Fahmi paham kegiatan liburan tak bisa dipisahkan dari foto. Dan untuk mendapatkan foto liburan yang kece di era foto serba-instagramable ini, selfie bermodal kamera pada ponsel saja tidak cukup.

“Mau makan saja foto dulu, apalagi orang jalan-jalan. Semua orang ingin punya momen yang ingin dibanggakan di media sosial atau ingin jadi simpanan pribadi dengan kualitas yang bagus. Jadi kenapa nggak pakai jasa fotografer pribadi?” kata Fahmi, pendiri Malang Travel Photography.

Menengok keberhasilan startup SweetEscape yang terlebih dulu menyediakan layanan jasa fotografer pribadi untuk liburan, tahun lalu Fahmi mendirikan Malang Travel Photography. Selain Batu Secret Zoo dan Museum Angkut, yang telah menjadi spot favorit wisatawan, Fahmi, yang sudah bertahun-tahun tinggal di Kota Apel, tahu persis tempat-tempat keren tersembunyi untuk berfoto di Malang.

“Aku bilang Malang Raya ini, kalau digabungin semua tempat wisatanya, bisa ngalahin Bali. Masih banyak yang bisa dijual,” ujar Fahmi. Dia menunjuk Desa Pujon Kidul, desa yang punya pemandangan bagus dan dijadikan tempat wisata. “Bahkan tempat itu belum lama dikunjungi Presiden Jokowi…. Nah, aku lihat orang ke sana, nggak lain dan nggak bukan, ya pasti foto-foto.”

Fotografi, bagi Fahmi, merupakan hobi yang ia tekuni dan kebetulan bisa dijadikan duit. Sehari-hari dia juga mengelola bisnis penyedia alih daya jasa kebersihan. Fahmi menjalankan bisnis jasa fotografi liburan dibantu dua temannya yang berprofesi sebagai fotografer. Permintaan yang datang tak sekadar sesi foto liburan. Kadang Fahmi juga diminta mengabadikan momen penting, seperti lamaran atau acara kumpul keluarga.

Yurike Ang bersama suami dan anaknya di Wisata Coban Talun, Kota Batu, Malang.

“Ada satu klienku sudah kakek-nenek mau merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-40. Anaknya dari Hong Kong, Jakarta, Surabaya, semua kumpul di Malang. Momen berkumpul itu kan jarang-jarang terjadi. Daripada ada anggota keluarga ada yang nggak inframe, nggak masuk di foto, lebih baik mereka sewa jasa fotografer,” kata Fahmi, yang menggunakan kamera mirrorless Fujifilm XT-20. Fahmi membanderol sesi foto dengan harga Rp 500 ribu per dua jam atau disesuaikan dengan permintaan kliennya.

Salah satu pelanggan yang pernah menggunakan jasa Malang Travel Photography, Yurike Ang, tak mempermasalahkan membayar uang lebih demi mendapatkan foto liburan keluarga di Malang. Biasanya, jika sedang bepergian bersama suami dan anaknya yang berusia 11 bulan, Yurike kesulitan mendapatkan foto keluarga lengkap. Suami Yurike sering berkorban agar sang istri dan anak bisa mendapatkan foto liburan.

“Suami saya kebetulan ngerti fotografi juga. Cuma kan nggak mungkin kalau kita liburan bertiga sebentar-sebentar minta tolong orang buat ambil foto. Terus kalau difotoin suami, nanti nggak ada foto bertiga, dong,” ujar Yurike. Layaknya selebritas yang selalu dikuntit paparazi, Fahmi sang fotografer membuntuti acara jalan-jalan Yurike dan keluarga hampir seharian penuh. Tak lupa Yurike berpesan kepada Fahmi untuk mengambil foto candid agar terlihat lebih natural. “Dari sesi foto dengan fotografer pribadi kemarin, saya malah dapat total lebih dari 200 foto. Bahkan sampai beli kartu memori baru karena nggak muat.”


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE