INTERMESO

Demi Viral Bersama Kuda Liar Sumba

“Sebagai fotografer yang menemani turis, ternyata pintar motret saja nggak cukup. Saya harus pintar lihat kondisi.”

Bukit Wairinding di Pulau Sumba.

Foto: dok.pribadi MySumba via Instagram

Senin, 30 April 2018

Gulungan ombak menyapu pasir hitam yang melekat di kaki Zebedeus Mboy Kea. Hampir setengah jam ia berdiri di bibir Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, sembari menikmati desiran suara angin laut. Jecky, ia biasa disapa, tak peduli meski celana semata kakinya kebasahan. 

Delapan tahun silam sejak Jecky pindah ke Yogyakarta, ia sering mampir ke pantai untuk menghalau rasa rindu akan kampung halamannya. Selepas SMA, Jecky diminta kedua orang tuanya merantau, jauh dari kampung halamannya di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Mereka menginginkan Jecky menuntut ilmu di Kota Pelajar. 

Meski ayahnya orang Flores dan sang ibu berasal dari Kupang, Jecky lahir dan dibesarkan di Pulau Sumba. Jecky terbiasa menghabiskan masa kecilnya bermain air laut. Seakan tak ada habisnya sudut-sudut pantai yang ditelusuri Jecky di Kota Waingapu, Sumba Timur, kota tepi pantai di sisi utara Pulau Sumba. Dari sekian banyak pantai yang pernah ia temui, bagi Jecky, tak ada yang lebih indah dari pantai-pantai sepi di Sumba. Meski musim liburan tiba, pantai-pantai di Sumba tak pernah ramai. 

Selain warga lokal yang hendak melaut, paling hanya ada segelintir wisatawan asing yang tengah asyik sendiri dengan papan selancarnya mengejar ombak. “Saat itu saya heran. Di pantai lain, sudah masuknya kebanyakan harus bayar, padahal mereka belum lihat pantainya seperti apa. Sedangkan di Sumba bebas masuknya dan nggak kalah bagus, tapi kok sepi,” kata Jecky kepada detikX beberapa waktu lalu. Sampai saat ini, dia masih terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Pantai di Pulau Sumba.
Foto : dok.pribadi MySumba via Instagram

Melihat ‘surga’ di Sumba yang masih belum banyak dikenal orang, terlintas di benak Jecky untuk mempromosikan keindahan alam Sumba. Saat Instagram tengah naik daun, ia pun membuat akun @marapuheaven pada 2014. Nama Marapu diambil dari kepercayaan asli yang dianut penduduk di Sumba. Jecky mengklaim @marapuheaven sebagai akun pertama yang memviralkan ‘virus’ Sumba di antara pengguna Instagram.

Tapi Jecky punya satu masalah, koleksi foto-foto pemandangan keren di kampung halamannya masih sedikit sekali. Saat itu belum banyak orang mengetahui betapa indahnya air terjun, padang sabana, dan pantai di Sumba. Alhasil, Jecky hanya dapat memanfaatkan foto segelintir bloger atau wisatawan asing yang pernah berkunjung ke Sumba.

“Ketika saya buat akun itu, sangat susah untuk cari foto tempat wisata di Sumba. Saya sendiri juga kalau simpan foto pun kebanyakan foto selfie, tidak kelihatan pemandangannya,” kata Jecky. “Makanya saya suka pasang foto Sumba yang diambil oleh Pastor Robert Ramone. Beliau memang asli Sumba seperti saya.”

Foto-foto ‘surga’ di Sumba yang dipajang Jecky di Instagram ternyata menarik banyak orang. Bahkan ada yang memintanya membuka jasa tur lokal di Sumba. Tapi apa boleh buat, Jecky belum pede. Dia merasa belum punya keahlian untuk mengembangkan paket perjalanan pariwisata di Sumba. Sampai suatu kali, perjalanan pulang ke kampungnya, Jecky bertemu dengan serombongan wisatawan asing di atas kapal. Mereka hendak melancong ke Sumba.

Dengan bahasa Inggris yang terbata, Jecky mengajak mereka ngobrol. “Modal nekat, saya ajak mereka bicara pakai bantuan Google Voice. Ternyata mereka mau jalan ke Sumba dengan buku pedoman yang sudah usang,” Jecky menuturkan. “Saya bilang Sumba sudah banyak berubah.”

Bersama fotografer, kami sudah menunggu hampir satu jam. Masalahnya, deketin kuda itu susahnya minta ampun."

Andrew Tjoa, turis dari Yogyakarta

Pantai di Pulau Sumba.
Foto : dok.pribadi MySumba via Instagram

Turis-turis asing itu pun dengan senang hati menerima tawaran Jecky untuk mendampingi mereka selama perjalanan di Sumba. Jecky mengantarkan mereka menyaksikan tarian dan nyanyian petani yang menjadi tradisi petani Sumba saat hendak menanam padi. Rupanya pengalaman unik itu membuat mereka terpesona.

Salah seorang wisatawan dalam rombongan itu merupakan manajer hotel di Spanyol. Melihat potensi pariwisata Sumba, wanita itu memberikan saran kepada Jecky untuk membuka jasa perjalanan wisata di Sumba. “Saya bahkan diajari mulai hal-hal kecil, seperti membuat itinerary, rencana perjalanan,” ujar Jecky. Setelah mulai paham cara mengelola paket tur wisata lokal, dia baru berani membuka jasa perjalanan My Sumba dan menawarkannya lewat Instagram.

Selain mempromosikan wisata Sumba, salah satu tujuan Jecky membuka jasa perjalanan wisata adalah memberdayakan warga lokal. Tak hanya mempekerjakan warga sekitar sebagai pengemudi, Jecky juga mempekerjakan tenaga muda menjadi fotografer pribadi. Kebanyakan dari mereka adalah anak baru lulus kuliah yang belum mendapatkan pekerjaan, tapi punya hobi di bidang fotografi. Kemampuan fotografi yang Jecky cari sebetulnya tak muluk-muluk amat. Setidaknya mereka mengetahui teknik pengambilan gambar. Dan yang paling penting, hasil jepretannya instagrammable, tak bikin malu jika dipamerkan di Instagram.

Jecky menyadari tenaga foto pribadi sangat dibutuhkan kliennya. Meskipun kadang klien @mysumba telah membawa kamera yang lebih canggih. Terutama jika klien My Sumba melakukan perjalanan seorang diri, seperti Andrew Tjoa, yang baru saja menuntaskan liburan di Pulau Sumba pada Desember tahun lalu. Andrew, yang kini juga tinggal di Yogyakarta, merupakan seorang solo traveller

Perjalanan seorang diri membuat Andrew ketagihan. Saat jalan-jalan tanpa teman, Andrew menemukan kebebasan untuk melakukan semua keinginan pribadi. Ia tak perlu repot bersilat lidah dengan orang lain saat mengatur waktu dan tujuan jalan-jalan. Selain itu, Andrew punya beberapa pengalaman kurang menyenangkan ketika berlibur bersama teman-temannya.

Pemandangan Bukit Wairinding di Pulau Sumba.
Foto : dok.pribadi MySumba via Instagram

Salah satunya dalam urusan foto-foto. “Waktu itu aku ke Bali bareng teman. Saya fotoin mereka bagus, tapi giliran saya difoto, nggak sesuai harapan. Itu sedih banget…. Difoto teman itu, kalau nggak nge-blur, back light, atau nggak simetris. Aku jadi hopeless. Mending aku keluar duit dan cari fotografer lokal saja daripada ngerepotin,” kata pria asal Ambon ini.

Saat menelusuri Sumba pada akhir tahun lalu, dia ditemani fotografer lepas Vecky Djoh. Diantar sopir, mereka menempuh perjalanan sekitar 24 kilometer dari pusat Kota Waingapu menuju Puru Kambera. Sebelum berangkat, Andrew sudah berangan-angan mendapatkan foto-foto instagrammable di padang sabana yang kondang dengan vegetasi pohon kerdil dan kuda-kuda liarnya itu. Padang sabana yang menguning keemasan dengan latar belakang langit biru yang sangat bersih seolah-olah sedang berada di Afrika. Rasanya Andrew ingin segera membagikan dokumentasi perjalanan di Sumba melalui akun Instagram-nya.

Sayangnya, kuda liar ini sangatlah peka. Butuh kesabaran ekstra dan keberuntungan agar mereka tidak kabur menjauh. “Bersama fotografer, kami sudah menunggu hampir satu jam. Masalahnya, deketin kuda itu susahnya minta ampun. Kalau ada orang, pasti mereka kabur. Akhirnya aku nggak dapat momen itu,” kata Andrew. Ketika matahari mulai tenggelam di langit barat, akhirnya Andrew dan sang fotografer menyerah. “Walaupun nggak kesampaian foto bersama kuda, aku senang banget bisa dapat foto di padang rumput dan pohon kerdilnya yang keren.”

Kondisi alam tak menentu di Sumba kadang jadi tantangan bagi fotografer wisata, seperti Ferdinan Ndakuramba, terutama jika musim hujan tiba. Seperti ketika ia menemani wisatawan berkunjung ke spot favorit wisatawan Bukit Warinding. Pemandangan hamparan sabana di atas bukit yang berlapis-lapis itu memang bikin merinding.

Tempat ini pernah jadi lokasi pengambilan gambar dalam film Pendekar Tongkat Emas, yang dibintangi oleh Nicholas Saputra. Aksesnya tak sulit, tak jauh dari Kota Waingapu. Lokasinya mudah dijangkau karena berada di tepi jalan. Bukit Warinding berada sekitar 100-200 meter di atas permukaan laut. Tapi kadang tiba-tiba hujan deras mengguyur.

Laguna Weekuri di Pulau Sumba.
Foto : dok.pribadi MySumba via Instagram

Jika menemui kejadian seperti itu, tak ada pilihan lain, Ferdinan terpaksa mengajak kliennya mencari tempat berteduh hingga hujan reda. “Wisata di sekitar Sumba Timur memang salah satu kendalanya cuaca dan lokasi ekstrem. Kalau di Sumba Barat, kadang suka kena palak,” ujar Ferdinan. “Sebagai fotografer yang menemani turis, ternyata pintar motret saja nggak cukup. Saya harus pintar lihat kondisi. Beruntung, saya warga sana, jadi nggak pernah ada kendala berarti.”

Sejak lulus kuliah, baru beberapa bulan terakhir Ferdinan melakoni pekerjaan ini. Terutama sejak wisata Sumba makin dikenal di media sosial, sering kali ia kewalahan menerima panggilan. “Di luar My Sumba, kadang saya dapat juga permintaan untuk foto sendiri. Satu minggu saya bisa dapat dua klien. Itu pun satu klien bisa pakai saya sampai empat hari,” ujar Ferdinan.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE