INTERMESO

Satu Foto Sejuta Rasanya

“Waktu itu saya lihat turis Cina keluar dari bus, semuanya satu-satu keluarin tongsis. Udah kayak lagi lihat pertarungan light saber di film Star Wars”

Armand Maulana dan keluarga
Foto: Dok. SweetEscape

Rabu, 2 Mei 2018

Hanya foto yang mengingatkan Clarissa kepada perjalanan terakhirnya bersama sang ibunda. Usai pulang dari jalan-jalan ke Jepang beberapa waktu lalu, sang ibu pergi untuk selamanya. Padahal rasanya, baru kemarin sore Clarissa mengenggam erat tangan sang ibu sambil berjalan menyeberangi persimpangan Shibuya yang sangat sibuk dan menjelajahi sudut-sudut kota Tokyo seakan tak ada habisnya.

Di foto-foto itu, sang ibu tampak amat gembira, senyumnya merekah, sama manisnya seperti bunga sakura terakhir yang mereka saksikan bersama. “Salah satu pelanggan mengontak kami. Melalui telepon dia mengungkapkan rasa terima kasih. Walaupun mamanya mendadak meninggal karena sakit, tapi setidaknya foto terakhir yang mereka gunakan di rumah duka adalah foto terakhir mama yang terbaik,” David Soong menuturkan kisah Clarissa, salah satu pengguna SweetEscape, jasa fotografi yang menyediakan fotografer untuk liburan.

Selama di Jepang, Clarissa memang sengaja menggunakan jasa SweetEscape untuk mendokumentasikan perjalanannya bersama sang ibunda. “Cerita semacam ini membuat saya merinding. Ternyata SweetEscape bukan cuma sekedar menangkap momen liburan. Tapi dengan foto kami bisa menyimpan memori paling berharga.”

Di bisnis jepret-menjepret kamera ini, David memang bukan pemain baru. Bersama sang istri, Felicia, David sukses menjadikan Axioo, jasa fotografi untuk pernikahan yang kondang di kalangan atas. Telah lama David melihat celah baru di bisnis fotografi. Dia paham, orang-orang tak hanya ingin mengabadikan acara pernikahan, namun juga momen saat mereka bersenang-senang liburan.

Semua orang senang jalan-jalan dan nyaris semua orang suka difoto. Apalagi sekarang jalan-jalan tak mesti menunggu punya banyak uang dulu. Kemudahan akses informasi dan tiket pesawat yang ramah di kantong, telah menyulap liburan hampir menyerupai kebutuhan pokok.

David Soong
Foto : Dok. Pribadi

David pun sering melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia. Entah itu dalam perjalanan bisnis atau dalam rangka liburan. Suatu kali ia dan keluarga sedang menetap di Kota Paris. Saat sedang berjalan menikmati terik matahari, David bertemu dengan serombongan turis asal Cina. Mereka baru saja keluar dari bus wisata menuju lokasi wisata sejuta umat yaitu Menara Eiffel.

Paris memang salah satu destinasi wisata favorit turis-turis asal Negeri Panda itu. “Waktu itu saya lihat turis Cina keluar dari bus, semuanya satu-satu keluarin tongsis. Udah kayak lihat pertarungan light saber di film Star Wars. Kalau nggak hati-hati kena kepala rasanya sakit juga ya,” canda David, CEO dan Founder SweetEscape. “Dari situ saya sadar bahwa pada dasarnya setiap orang kesulitan mendapatkan foto liburan yang bagus.”

Melihat fenomena itu David pun mendirikan SweetEscape dua tahun silam. Bisnis David memang jarang jauh dari hal ‘bersenang-senang’. Selain punya Axioo, dia juga salah satu pendiri jaringan restoran Boga Group. David seolah menjawab doa para pelancong yang galau karena tidak punya foto ciamik untuk diunggah di akun sosial media. Tak perlu memboyong fotografer untuk jepretan ala model papan atas. SweetEscape dapat menghubungkan pengguna dengan fotografer lokal tempatnya berlibur.

Awalnya David yang telah malang melintang di dunia fotografi ini merangkul teman-teman seprofesi untuk bergabung dengan SweetEscape. Mereka tersebar di lima kota di dunia, diantaranya Los Angeles, Tokyo, Paris dan Sydney. “Saya sampai diomelin teman. Katanya gara-gara bikin SweetEscape dia diomelin istri. Sudah jalan-jalan tiga hari di Tokyo, tapi belum ada satu pun foto,” ujar David. Menurut dia, Sweet Escape membantu para pelancong lebih menikmati liburan. Tak usah pusing lagi memikirkan foto-foto keren. “Cuma foto satu sesi 2 jam, and the job is done. Waktu liburannya bisa dipakai untuk hal lain.”

Hingga saat ini SweetEscape telah merangkul lebih dari 2000 fotografer di 400 kota di dunia. Mulai dari fotografer di Pulau Padar di Nusa Tenggara Timur hingga ke pedalaman Tibet. Bahkan hingga destinasi wisata yang kurang familiar di telinga wisatawan seperti Ephesus, kota Yunani Kuno di Turki. Seluruhnya merupakan fotografer lokal yang betul-betul menguasai daerahnya masing-masing.

SweetEscape Team
Foto : Dok. SweetEscape

Menggandeng fotografer sebanyak itu dengan latar belakang budaya yang berbeda bukanlah pekerjaan mudah. Tak hanya jago fotografi, namun mereka juga harus punya kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Di daerah terpencil yang tak mengenal bahasa Inggris sebagai ibu bahasa, mencari fotografer semacam ini menjadi tantangan tersendiri. Dan tak kalah penting, fotografer wajib memiliki kemampuan untuk berkomunikasi serta menjalin hubungan yang hangat dengan pelanggannya.

“Walaupun fotografer pekerjaannya motret, tapi mereka betul-betul mesti perhatian dan ramah. Klien kami sampai nggak nyangka saat sesi pemotretan di Toronto saat musim salju, fotografernya bawain mereka alat penghangat tubuh,” kata David. Fotografer yang tergabung dalam SweetEscape merupakan fotografer lepas. Lebih dari separuhnya perempuan dan banyak pula ibu rumah tangga yang menyambi pekerjaan ini. “Ini jadi penyokong penghasilan mereka dan mereka sangat menghargai yang kami lakukan. Sangat menyenangkan bisa melihat mereka mencurahkan yang terbaik dalam pekerjaannya.”

Selain mengabadikan momen liburan, sesi foto bersama SweetEscape kerap dimanfaatkan kliennya untuk mengabadikan foto keluarga. Ketimbang mengabadikan foto bersama anggota keluarga di studio yang membosankan dan kerap berujung pada wajah datar karena dipaksa orang tua bergaya di depan kamera. Klien SweetEscape memilih momen liburan untuk menghasilkan jepretan yang lebih hidup dan ceria.

“Saya pernah turun langsung untuk foto keluarga besar yang sedang jalan-jalan di Tokyo. Seru banget ternyata. Cuma orang Indonesia saja yang bisa sewa tiga fotografer sekaligus dalam satu sesi foto. Karena saking banyaknya anggota keluarga,” kata David. Satu sesi foto dikenakan biaya berkisar antara 300 hingga 500 dolar Amerika.

Pasangan Winda Napitupulu dan Angga Hutagalung menggunakan jasa SweetEscape untuk mengabadikan sesi foto pra nikah. Bagi Winda, sang calon suami merupakan jawaban dari doanya selama ini. Sebelumnya Winda sempat bertanya-tanya, adakah pria yang dapat menerimanya dengan tulus. Winda punya masalah kesehatan serius.

Dia merupakan penyintas Multiple Sclerosis, penyakit langka yang hanya diderita oleh 2,5 juta orang di dunia. Penyakit autoimun ini membuat Winda kerap merasa lelah berlebihan sehingga membutuhkan alat bantu jalan. “Angga nggak pernah merasa malu meskipun saya harus berjalan dengan alat bantu. Sebisa mungkin saya ingin mengabadikan momen istimewa ini. Tapi biasanya kalau di foto kami berdua nggak pandai bergaya di depan kamera, hasilnya malah kaku,” kata Winda yang dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan.

Winda dan Angga
Foto : Dok. SweetEscape

Sebuah unggahan foto pra nikah SweetEScape membuat Winda terinspirasi untuk melakukan sesi foto serupa. Winda menggunakan aplikasi SweetEscape yang unduhannya kini sudah tersedia di Appstore dan Google Play Store. Ia tak menyangka proses pemesanan fotografer melalui SweetEscape sama mudahnya seperti memesan ojek online. Lebih efesien ketimbang berjibaku dengan foto studio yang umumnya harus dipesan jauh hari dengan jadwal tidak menentu.

“Ada layanan chat dengan fotografernya sehingga kami bisa diskusi tentang konsep, lokasi bahkan sampai baju yang akan kita kenakan. Waktu itu kami ingin sesi foto yang kasual saja. Bahkan bajunya itu nggak ada yang beli. Kami nggak nyangka ternyata hasil fotonya sangat memuaskan,” ujar Winda yang akan melangsungkan foto pra nikah di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

Meski baru seumur jagung, SweetEscape telah mengalami pertumbuhan pesat. Permintaan jasa foto tak hanya datang dari dalam negeri melainkan juga luar negeri. David mencontohkan, ada kliennya yang menyewa jasa fotografer untuk merayakan hari Thanksgiving di Amerika. Ada pula yang merayakan tahun baru imlek di Singapura. Atau pun turis asal Malaysia yang sedang berlibur di Jakarta. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, permintaan dari luar negeri bertumbuh hingga hampir menyentuh angka 50 persen.

“Makanya tagline kami adalah make every moment memorable. Mereka pesan SweetEscape untuk momen apapun, nggak selalu untuk piknik. Dan ternyata fenomena ini bukan hanya permintaan di Indonesian, tapi juga global,” ujar David. Salah satu langkah untuk menjadikan SweetEscape sebagai startup lokal yang mendunia adalah dengan mempersiapkan platformnya dalam beragam bahasa. Dua pekan mendatang SweetEscape akan meluncurkan versi tujuh bahasa yaitu Indonesia, Inggris, Thailand, Mandarin , Korea, Jepang dan Spanyol.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE