INTERMESO

Dulu Kawan,
Lalu Lawan,
Kini Berkawan Lagi

“Aku paham bagaimana perasaan Anwar. Pada masa pemerintahankulah dia dikirim ke penjara Sungai Buloh. Bukan hal yang mudah bagi dia untuk menerima dan bersalaman denganku.”

Anwar Ibrahim saat berpidato di depan pendukungnya di Kuala Lumpur pada Mei 2013

Foto: Rahman Roslan/Getty Images

Sabtu, 12 Mei 2018

Hari itu, 2 September 1998, Nurul Izzah tengah belajar untuk ujian matematika di kampusnya, Universiti Tenaga Nasional. Sekitar pukul 19.30, seorang temannya menelepon. “Aku ikut prihatin,” kata sang teman. Nurul Izzah kebingungan. Ada apa? “Apakah kamu belum dengar? Perdana Menteri telah memecat ayahmu,” temannya mengabarkan.

Kontan Nurul Izzah berurai air mata. Menjelang tengah malam, Nurul baru bisa tersambung lewat telepon dengan ayahnya. “Izzah, kamu harus berani. Ayah akan melawan. Selesaikan ujianmu dan tak usah mengkhawatirkan ayahmu,” Anwar Ibrahim, seperti dikutip Asia Week, menenangkan anak sulungnya itu.

Keesokan harinya, Nurul, kini 37 tahun, menuntaskan ujian dan buru-buru pulang ke rumah dinas ayahnya. Tiba di rumah, listrik mati dan air tak lagi mengalir. Helikopter polisi terbang berputar-putar di atas rumah. Keluarga Anwar terusir dari rumah dinas dan dipaksa pulang ke rumah pribadi di Bukit Damansara, Kuala Lumpur. 

Padahal hanya beberapa hari sebelumnya, Anwar merupakan orang kedua paling berkuasa di Malaysia. Dia adalah Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan. Bisa dibilang saat itu Anwar-lah ‘putra mahkota’, tinggal menunggu waktu untuk menjadi Perdana Menteri Malaysia menggantikan mentor politiknya, Mahathir Mohamad.

Konon, belakangan, Anwar makin sering berselisih paham dengan Mahathir. Anwar juga makin kencang mengkritik korupsi dan kronisme yang menggerogoti birokrasi negeri jiran itu. Malaysia, menurut Anwar kala itu, perlu reformasi politik segera. Perlu suntikan darah muda yang bersih dari korupsi dan kroni. Hubungan Anwar dengan bosnya, Mahathir, makin renggang dan tegang.

Mahathir Mohamad bersama Wan Azizah Wan Ismail, Presiden Parti Keadilan Rakyat.
Foto : Ulet Ifansasti/Getty Images

Dari orang nomor dua di Malaysia, Anwar Ibrahim berubah jadi pesakitan. Bukan cuma dilorot paksa dari jabatannya, hanya beberapa hari setelah dipecat, Anwar juga dinista dengan tuduhan korupsi dan sodomi. Dua tudingan yang tak pernah diakuinya. Di Malaysia, sodomi merupakan hal terlarang. Anwar Ibrahim jadi musuh pemerintah dan pengadilan menjebloskannya ke penjara. Total dia harus mendekam di penjara selama 15 tahun karena dianggap terbukti melakukan korupsi dan sodomi.

Seperti janjinya kepada putri sulungnya, hingga hari ini hampir 20 tahun kemudian, dengan pelbagai cara Anwar terus melawan tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Demikian pula istrinya, Wan Azizah Wan Ismail, dan si sulung, Nurul Izzah. Rumah mereka di Bukit Damansara jadi markas perlawanan menentang pemerintah Malaysia. 

Dari seorang anak sekolah yang hanya tahu mengurus kuliah, Nurul Izzah menjadi aktivis, menjadi orator, berjuang membela ayahnya. “Aku harus membersihkan nama ayahku dan mengembalikan kehormatan keluarga. Bagaimana mungkin aku hanya duduk berpangku tangan?” kata Nurul Izzah, kala itu.

* * *

Barangkali memang benar belaka, tak ada kawan abadi, demikian pula lawan yang kekal, dalam berpolitik. Itulah yang terjadi di Malaysia hari ini, juga mungkin di Indonesia dan di mana pun.

Pada 5 September 2016, Anwar Ibrahim datang ke kantor Pengadilan Tinggi Malaysia untuk menghadiri sidang gugatannya atas Udang-Undang Dewan Keamanan Nasional. Tak disangka, di ruang pengadilan dia bertemu kawan sekaligus lawan lamanya, Mahathir Mohamad. Itulah pertemuan pertama setelah 18 tahun tak bersua. Keduanya bersalaman dan berbincang. 

“Ayahku selalu mengingatkan kami untuk memaafkan,” Nurul Izzah, yang sekarang menjabat Wakil Presiden Parti Keadilan Rakyat, partai yang didirikan ayahnya, mengomentari pertemuan itu, dikutip ABC. “Fakta bahwa ayahku berjabat tangan dan bertukar senyum dengan Mahathir menjadi simbol betapa pentingnya melangkah ke depan untuk memperkuat demokrasi di Malaysia ketimbang berfokus pada penderitaan pribadi.”

Aku harus membersihkan nama ayahku dan mengembalikan kehormatan keluarga. Bagaimana mungkin aku hanya duduk berpangku tangan?”

Nurul Izzah, putri sulung Anwar Ibrahim

Mahathir Mohamad bertemu Anwar Ibrahim di Pengadilan Tinggi Malaysia pada September 2016.
Foto : Reuters

Selama bertahun-tahun di penjara, Anwar tak cuma dihina dan dinista, tapi juga dianiaya dalam bui hingga mengalami cedera serius. Sempat menikmati kebebasan selama delapan tahun, Anwar kembali diseret ke penjara pada 2015 dan tinggal di sana hingga hari ini.

Najib Razak-lah yang menyatukan dua orang yang semula berlawanan itu. Mahathir yang sudah sepuh, sudah lebih dari sepuluh tahun lengser dari posisi Perdana Menteri, ikut turun ke jalan melawan Perdana Menteri Najib Razak. “Dari semua Perdana Menteri Malaysia, tak ada yang dituduh korupsi seperti ini dan semua orang bilang seperti itu,” kata Mahathir saat diwawancarai Guardian pada 2015.

Selama beberapa tahun terakhir, kasus dugaan korupsi di perusahaan milik pemerintah, 1Malaysia Development Berhad (1MDB), jadi isu panas untuk menggoyang kekuasaan Najib. Diduga ada duit sangat besar yang digangsir dari brankas perusahaan negara itu mengalir ke rekening pribadi Najib dan keluarganya. Kejaksaan Agung Malaysia menyatakan Najib bersih, tapi penegak hukum di sejumlah negara, di antaranya Amerika Serikat dan Swiss, terus menginvestigasi kasus korupsi 1MDB lantaran aliran duit haram itu mengalir lewat perbankan mereka.

Mahathir, juga Anwar, tahu betul mereka tak akan bisa menumbangkan kekuasaan Perdana Menteri Najib yang disokong koalisi Barisan Nasional jika mereka bertarung sendiri-sendiri. Repotnya, mereka adalah dua lawan dengan sejarah pahit sangat panjang. Apakah mungkin keluarga Anwar bersedia melupakan derita yang mereka alami sejak 1998? 

Nurul Nuha, putri Anwar, memberikan satu syarat kepada Mahathir. “Sebagai seorang anak yang menyaksikan penyiksaan tak terhitung banyaknya terhadap ayahnya, aku berharap Dr Mahathir menyampaikan maaf secara terbuka dan mengakui rekayasa tuduhan palsu tersebut,” ujar Nuha dikutip Straits Times. Tapi Mahathir enggan memenuhi tuntutan putri Anwar. Menurut Mahathir, tak ada perlunya minta maaf kepada Anwar. “Kita semua sudah saling mengatakan hal buruk. Aku tidak menuntut orang minta maaf atas semua nama buruk yang diberikan kepadaku…. Semua itu terjadi di masa lalu,” kata Mahathir kepada SBS.

Apa pun yang terjadi di masa lalu, setelah pertemuan pertama di Pengadilan itu, kubu Mahathir dan Anwar terus merapat. Mahathir diundang berbicara dalam konvensi Pakatan Harapan, koalisi Parti Keadilan Rakyat, Parti Amanah Negara, dan Parti Tindakan Demokratik pada November 2016. Dalam pidatonya, Mahathir kembali menekankan bahwa mereka tak mungkin menang melawan Barisan Nasional jika tak bersatu.

Mahathir Mohamad, kini Perdana Menteri Malaysia, saat berkampanye untuk Pakatan Harapan di Kuala Lumpur, beberapa hari lalu.
Foto : Ulet Ifansasti/Getty Images

Parti Pribumi Bersatu Malaysia, partai yang didirikan Mahathir bersama Muhyiddin Yassin, Wakil Perdana Menteri yang dicopot Najib, siap bergabung dengan Pakatan. “Itu hanya tinggal soal waktu,” kata Mahathir dikutip Channel News Asia. Wan Azizah, istri Anwar sekaligus Presiden Parti Keadilan, menyatakan siap membuka pintu bagi Mahathir. “Jika kalian cinta pada negeri ini, tolong utamakan kepentingan rakyat,” Wan Azizah mengingatkan peserta konvensi.

Kesepakatan itu tercapai sebulan kemudian. Wan Azizah, Presiden Parti Pribumi Bersatu Muhyiddin, Sekretaris Jenderal Parti Tindakan Lim Guan Eng, dan Presiden Parti Amanah Mohammad Sabu menandatangani pakta koalisi menjelang tutup tahun 2016. Tujuh bulan kemudian, kepemimpinan koalisi terbentuk. Mahathir menjadi Chairman, sementara Wan Azizah menjabat Presiden Pakatan. Satu pekerjaan rumah yang tersisa adalah memilih kandidat Perdana Menteri untuk Pemilihan Umum 2018.

Tanpa Anwar, yang masih dalam penjara, Mahathir menjadi satu-satunya tokoh di Pakatan Harapan yang ‘layak jual’. “Di barisan oposisi, saya sejajar dengan Perdana Menteri Najib. Dia merupakan top dog di pemerintah,” kata Mahathir. Tapi memilih mantan lawan jadi calon Perdana Menteri bukan hal yang gampang diterima dalam Pakatan. Menurut sejumlah sumber yang dikutip media Malaysia, ada faksi dalam Parti Keadilan yang keberatan, walaupun Wan Azizah sudah menyetujui Mahathir jadi kandidat Perdana Menteri Malaysia.

Baru pada awal Januari 2018 kesepakatan itu tercapai. Dengan mata berkaca-kaca, Wan Azizah mengumumkan penunjukan Mahathir sebagai calon Perdana Menteri dari Pakatan Harapan dengan Wan Azizah sebagai Wakil Perdana Menteri. Tapi pemilihan Mahathir ini dengan sejumlah syarat. Jika Pakatan menang dan Mahathir jadi penguasa Putra Jaya, dia harus mengajukan permohonan pengampunan bagi Anwar kepada Sultan Malaysia, Yang Dipertuan Agong Sultan Muhammad V.

Pendukung Anwar Ibrahim menggelar unjuk rasa di Kuala Lumpur pada Agustus 2015.
Foto : Charles Pertwee/Getty Images

Apabila Anwar bebas, Mahathir akan menyerahkan jabatan kepada Anwar. “Aku paham bagaimana perasaan Anwar. Pada masa pemerintahankulah dia dikirim ke penjara Sungai Buloh. Bukan hal yang mudah bagi dia untuk menerima dan bersalaman denganku,” kata Mahathir. “Dan tak hanya bagi Anwar, tapi juga keluarganya yang mengalami banyak kesulitan selama dia dipenjara. Melupakan hal itu bukan hal mudah. Makanya, aku berutang kepada mereka dan berterima kasih kepada Anwar beserta keluarganya.”

Lewat pernyataan tertulis yang dibacakan putrinya, Nurul Izzah, Anwar siap menerima kesepakatan Pakatan Harapan. “Dengan semangat kerja sama, saya menerima kesepakatan itu,” Anwar menulis, dikutip Malaysian Insight.

Bersatunya dua lawan, kubu Mahathir dan kubu Anwar, dalam Pemilihan Umum Malaysia pada Rabu, lalu menciptakan sejarah baru bagi negeri jiran ini. Setelah 62 tahun berkuasa, Barisan Nasional tergusur dari kekuasaan oleh koalisi oposisi. Dan pada usia 92 tahun, Mahathir kembali disumpah sebagai Perdana Menteri Malaysia, dua hari lalu. 


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE