INTERMESO

Dia yang Bikin Jokowi ‘Ketagihan’

“Jaket yang dipakai Pak Jokowi dijual nggak? Saya berani
bayar tiga kali lipat.”

Presiden Jokowi mengenakan jaket karya Nevertoolavish. 
Foto: dok. pribadi Bernhard Suryaningrat via Instagram

Sabtu, 26 Mei 2018

Mata Bernhard Suryaningrat sudah sangat berat dan hampir terlelap saat ada panggilan masuk ke ponselnya. Ingin rasanya Bernhard memaki si penelepon lantaran telah mengusik waktu istirahatnya di Minggu pagi pada April lalu. Belum sempat berbicara banyak, terdengar suara seorang pria berbicara dengan napas memburu.

Laki-laki itu langsung memberondong Bernhard dengan pertanyaan mengagetkan. “Jaket yang dipakai Pak Jokowi dijual nggak? Saya berani bayar tiga kali lipat,” kata Bernhard menirukan si empunya suara di ujung sambungan telepon. Sambil setengah berlari, Bernhard mengarahkan kakinya menuju ruang tamu. Ia menghidupkan televisi dan membuka satu kanal khusus berita. Di layar kaca, dia melihat Presiden Joko Widodo menjajal sepeda motor jenis chopper warna emasnya menelusuri jalan berkelok di Sukabumi, Jawa Barat, ditemani sejumlah menteri.

Bukan sepeda motor Presiden Jokowi yang jadi fokus Bernhard, melainkan jaket denim yang dikenakannya. Mengenakan jaket dengan peta Indonesia berwarna merah-putih, gaya Presiden Jokowi tak ada beda dengan para biker yang mengiringinya. Seakan-akan tak percaya, penantian Bernhard selama satu bulan terjawab sudah. Jaket denim custom yang ia buatkan khusus bersama timnya di Nevertoolavish akhirnya dipakai juga oleh Presiden Jokowi.

Sepatu hasil customizing Nevertoolavish.
Foto: dok. pribadi Nevertoolavish via Instagram

Mungkin orang mengira Bernhard punya jalur khusus dengan orang dalam di Istana. Padahal sebelumnya ia tak pernah bermimpi bakal dapat bertemu dengan Jokowi. Apalagi sampai mendapat order, rasanya mustahil. Kesempatan itu datang ketika ia mengikuti acara Jakarta Sneakers Day beberapa waktu lalu. Di antara 30 stan yang membuka lapak, Jokowi tak sedikit pun melirik jasa customizing miliknya.

Salah satu anggota tim Nevertoolavish, Muhammad Haudy, tak mau melewatkan kesempatan yang barangkali hanya akan datang sekali seumur hidup. Ketika Presiden Jokowi beranjak menuju pintu keluar, Haudy menerobos kerumunan meski ujungnya dihadang prajurit Paspampres.

“Di tengah kerumunan orang, teman saya kasih foto ke Paspampres. Itu foto dompet merek Goyard yang sudah kami custom dengan gambar wajah Pak Jokowi. Kebetulan dompet itu punya salah satu pelanggan dan kami pasang di katalog,” Bernhard menuturkan. Tak disangka, perbuatan nekat Haudy ditanggapi Presiden Jokowi. “Pak Jokowi bilang, ‘Lo, kok ada fotoku?’ Akhirnya beliau tanya, ‘Booth kalian di mana? Saya mau lihat.’”

Presiden Jokowi, yang sudah hampir meninggalkan acara, pun balik kanan, dan menghampiri lapak Nevertoolavish. Selama hampir seperempat jam Jokowi berbincang dengan Bernhard dan teman-temannya. Perbincangan selama hampir 15 menit itu pun berujung pada pesanan jaket denim. Senang sekali mendapat pesanan dari Jokowi, semula Bernhard berniat menggratiskan jaket seharga Rp 4 juta itu. “Tapi Pak Jokowi nggak mau. Katanya, ‘Saya mau bayar saja,’” ujarnya.

Tas hasil customizing Nevertoolavish
Foto: dok. pribadi Nevertoolavish via Instagram

Dalam soal desain, Jokowi bukan orang yang rewel. Desain jaket, kata Bernhard, datang dari tim Nevertoolavish. “Pak Jokowi paling kasih masukan, ini dinaikin atau diturunin gambarnya,” dia menuturkan. Cuma satu permintaan Jokowi yang agak sulit, yakni dia minta jaket itu kelar dalam seminggu. Padahal biasanya dia butuh waktu 4-5 minggu untuk menggarap jaket sekelas itu. “Kenapa sulit? Karena saya mau kasih yang terbaik. Saya berkesempatan bersama teman-teman untuk gambarin jaket buat Bapak Presiden.”

Banyak yang memuji jaket denim Jokowi, meski ada pula yang berkomentar kurang sedap. Tapi Bernhard tak mau ambil pusing. Komentar nyinyir justru membuat nama Nevertoolavish semakin melambung. Bernhard sangat merasakan dampak positif dari efek jaket denim Jokowi. “Memang nggak bisa dimungkiri Pak Jokowi membawa berkah bagi kami. Kenaikan penjualan, terutama jaket, sekitar 30-50 persen. Ini saja kami mau menambah orang dan bakal pindah workshop karena sudah nggak muat,” katanya. Barangkali puas dengan pesanan jaket bergambar peta Indonesia, Jokowi sepertinya jadi ‘ketagihan’ dengan jaket karya permakan Nevertoolavish. Beberapa kali Presiden Jokowi tampak mengenakan jaket Asian Games hasil karya Bernhard dan teman-temannya.

Sampai sekarang minat terhadap jaket Jokowi rupanya masih tinggi. Beberapa hari lalu jaket denim ala Jokowi diluncurkan kembali dan diproduksi terbatas sebanyak 100 buah. Menggandeng label Tugas Negara Bos milik dua putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep, jaket itu ludes tak sampai sehari.

* * *

Asalkan punya duit, semua orang bisa beli sepatu, tas, jaket, atau dompet dengan harga jutaan, bahkan ratusan juta, rupiah. Lalu apa istimewanya, apa bedanya dengan yang lain? Menjadi beda, itulah ide Bernhard dan teman-temannya membikin Nevertoolavish.

“Kalangan milenial, kalau punya barang samaan, mereka pasti merasa gengsi. Customizing ini muncul dari gengsi. Dan ada kebanggaan sendiri kalau kita beli sepatunya sudah mahal terus di-custom pula,” kata Bernhard. Demi menjadi beda inilah, pemilik sepatu Nike yang harganya jutaan rupiah, bahkan tas Louis Vuitton yang harganya puluhan juta rupiah, rela sepatu dan tasnya ‘diobrak-abrik’, dijahit kembali, dan digambari oleh para seniman Nevertoolavish.

Bernhard Suryaningrat
Foto: dok. pribadi Bernhard Suryaningrat via Instagram

Kalangan milenial, kalau punya barang samaan, mereka pasti merasa gengsi. Customizing ini muncul dari gengsi. Dan ada kebanggaan sendiri kalau kita beli sepatunya sudah mahal terus di-custom pula.”

Bernhard Suryaningrat, seniman di Nevertoolavish

Bernhard kini memang telah ahli corat-coret barang yang harganya puluhan juta rupiah. Padahal sebelumnya, Bernhard menggambar dengan bermodal cat Pylox di depan pintu toko atau dinding rumah orang. Ya, dulu Bernhard memang seniman grafiti, seniman jalanan. Di dunia mural, Bernhard memiliki nama beken Hardthirteen. Dia kenal dengan grafiti saat masih sekolah dasar. Sepulang sekolah, dia melihat teman sebayanya di bangku SD bermain cat semprot.

Bernhard belajar secara autodidaktik. Tembok rumahnya di Depok, Jawa Barat, menjadi saksi bisu perjalanan Bernhard hingga akhirnya memutuskan mendalami aliran grafiti portrait realisme. Lantaran menggambar di dinding milik orang tanpa izin, Bernhard kerap menjadi incaran petugas Satpol PP dan amukan warga. “Ternyata grafiti itu akarnya, lu harus vandal. Lu harus gambar di media publik kalau lu ingin nama lu dikenal di seluruh Jakarta. Saya pernah ditangkap Satpol PP karena gambar di depan Cilandak Town Square. Pernah juga dipukulin preman waktu lagi gambar di depan rolling door toko orang,” Bernhard mengenang pengalamannya.

Meski tampak seperti main-main, melukis di jalanan itu rupanya cukup menguras isi kantong. Untuk membeli Pylox saja Bernhard harus mengirit uang jajan setengah mati. Beruntung, jiwa berbisnisnya terasah sejak kecil. Lulusan SMK Grafika jurusan teknik cetak ini memang tidak memiliki jiwa pekerja kantoran. Baru sehari menerima pekerjaan sebagai operator mesin di Tangerang, Bernhard sudah kabur.

Presiden Jokowi mengenakan jaket karya Nevertoolavish saat bertemu dengan pelajar.
Foto: dok. pribadi Bernhard Suryaningrat via Instagram

Untuk memenuhi kebutuhan cat semprot, Bernhard pernah menjual pernak-pernik aksesori tangan di sekolah. Hingga duduk di bangku kuliah, Bernhard juga membantu saudaranya mendistribusikan tahu bulat. Sehari ia bisa mendapatkan bayaran hingga Rp 200 ribu. Uangnya terkadang juga ia gunakan untuk membeli sepatu di Pasar Taman Puring. Kebetulan saat itu Bernhard juga menjadi salah satu pemain inti tim basket sekolah. Dari hobinya itu, dia senang mengoleksi sepatu sporty.

“Saya mulai iseng gambar di sepatu sendiri. Lama-lama saya kepikiran bikin sneaker custom. Sebetulnya yang memulai bisnis begini sudah banyak. Cuma mereka sebutnya jasa lukis sepatu. Saya bikin nama yang bisa menjual. Nilainya meningkat karena saya ubah nama,” ujarnya. Di samping itu, Bernhard menawarkan konsep berbeda. “Kebanyakan sepatu lukis itu mereka beli sepatu lalu digambar. Tapi sepatunya murah. Kalau saya nggak. Sepatu lu apa, sini gua gambarin. Lu tinggal bayar gambarnya saja.”

Sejak 2009, nama Bernhard makin dikenal di dunia permak-memermak sepatu, tas, jaket, dan sebagainya. Makin banyak pesanan datang. Dia pun membuat sebuah usaha khusus custom dengan nama Sepatu23. Namun, lantaran salah urus, akhirnya Bernhard harus melepas Sepatu23 dan bergabung dengan Nevertoolavish. Sebelumnya, Nevertoolavish merupakan penjual barang branded. Setelah Bernhard bergabung, Nevertoolavish beralih fungsi menjadi penyedia jasa custom.

Salah satu diversifikasi yang dilakukan Nevertoolavish dan diminati pengguna jasanya adalah teknik Recon Decon. Teknik ini mengubah material tampilan sepatu menjadi sesuatu yang berbeda. Dengan teknik ini, sangat mungkin mengkombinasikan sepatu Nike dengan material dari tas merek Louis Vuitton. Menurut Bernhard, modifikasi semacam ini boleh dilakukan selama tidak diproduksi secara massal. Karena menggunakan material asli, tak aneh jika satu kali proses Recon Decon bisa memakan biaya hingga Rp 15 juta.

“Biasanya yang rutin order Recon Decon ke kami itu mereka yang sudah kebanyakan sepatu dan kaya banget. Setiap bulan kirim ke kami lima sepatu untuk di-custom. Ratusan order itu datangnya bisa dari satu orang sendiri. Mungkin salah satu alasannya, kalau dibandingkan permak di luar negeri, harga kami lebih bersaing,” kata dia. Dalam sebulan, Nevertoolavish bisa memermak hingga 60 pasang sepatu sekaligus. Penyanyi Krisdayanti termasuk salah satu pelanggan Nevertoolavish.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Habib Rifai

[Widget:Baca Juga]
SHARE