INTERMESO

Kado Istimewa untuk SBY dan Sri Mulyani

“Saya kan udah jalan-jalan ke Istana, istilahnya tinggal selangkah lagi nih. Mau dong bikin wajah Pak Jokowi”

Cutteristic Kado Ulang Tahun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Foto-foto: dok.pribadi

Minggu, 27 Mei 2018

Masih ada satu obsesi Dewi Kocu yang belum kesampaian sampai hari ini. Sebagai seniman potong kertas, sudah banyak sekali bos perusahaan, juga pejabat tinggi perusahaan, yang mendapatkan kado atau hadiah dari hasil karyanya. Beberapa tahun lalu misalnya, dia membuat kado ulang tahun ke-65 untuk mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  dan istrinya, Ani Yudhoyono. Foto Presiden SBY bersama istrinya, Ani Yudhoyono, diukir di atas kertas berukuran 65 x 85 cm dengan latar belakang batik Pacitan, batik asal kampung halaman SBY.

Sekarang, dia ingin mengejar hadiah untuk satu orang lagi yakni Presiden Joko Widodo. Dewi memang sudah berkali-kali mampir ke Kantor Sekretariat Negara yang berada persis menempel kompleks Istana Negara untuk mengantar pesanan staf di sana. “Saya kan udah jalan-jalan ke Istana, istilahnya tinggal selangkah lagi nih. Mau dong bikin wajah Pak Jokowi. Khusus untuk yang ini saya lagi melobi orang di Sekretariat Negara. Saya bilang 'Bapak kan sebentar lagi mau ulang tahun, mau kasih kado nggak?' Semoga tahun ini dapat. Itu target saya,” Dewi menuturkan kepada DetikX dengan bersemangat.

Dewi telah merintis usaha ini sejak tahun 2011. Selama berprofesi sebagai seniman potong kertas dibawah label Cutteristic ini, Dewi memang kerap menerima banyak permintaan, terutama orderan dari kalangan pemerintahan. Mulai dari level Gubernur, DPR, institusi TNI, Polri hingga sederat kantor kementerian. Padahal selama ini Dewi tak pernah mengajukan permohonan proposal agar karya seninya dibeli. Kebanyakan dari mereka datang dengan sendirinya karena kagum dengan kerajinan tangan Dewi yang tak biasa.

Jika mengintip isi dompet Dewi, orang mungkin bakal bergidik ngeri. Karena kemana pun ia pergi, Dewi selalu membawa beberapa jenis cutter koleksinya. Pekerjaannya membuat Dewi tak bisa lepas dari alat potong itu. Cutter milik Dewi tak ada bedanya dengan yang di jual di toko pinggir jalan. Namun berkat keahliannya memainkan cutter di atas kertas berjenis fancy, lahir lah wajah para tokoh nasional beserta sederet nama direktur perusahaan ternama.

Pendiri Cutteristic, Dewi Kocu

Dewi terinspirasi teknik potong kertas yang sudah ada sejak abad ke-6 di China. Pada masa itu dekorasi pintu maupun jendela berbahan dasar kertas dibentuk dengan gunting. Setelah mencobanya sendiri, Dewi baru menyadari bahwa pola yang rumit dan kecil ternyata lebih mudah dikerjakan menggunakan cutter.

“Pertama kali bikin gambar musang untuk hadiah teman. Kecil kok ukurannya paling 15 x 10 cm. Ternyata sekali coba saya langsung bisa. Ilmu ini bukan sesuatu yang saya pelajari, tapi memang bisa sendiri,” ujar Dewi. Kemampuan Dewi di bidang seni memang telah terlihat sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Ia selalu mendapat nilai paling tinggi dalam tugas keterampilan. 

Keahlian Dewi memainkan cutter terasah sejak ia menjadi mahasiswi arsitektur di Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat. Ada banyak tugas kuliah yang membuat dia sering memakai cutter. Ketika terjun di bidang ini, belum ada seniman lain yang memotong kertas menggunakan cutter. Itu sebabnya Dewi berani mengklaim dirinya sebagai seniman kertas dengan cutter pertama di Indonesia. 

Memperkenalkan aliran kesenian baru di Indonesia bukanlah perkara mudah. Dewi pernah mengikuti sebuah acara bazaar yang diselenggarakan di sebuah restoran di Kemang, Jakarta Selatan. Bukannya untung, Dewi malah ketiban sial. “Dua hari nggak ada jualan sama sekali. Malah waktu itu saya bikin display batik Mega Mendung ukuran 30 x 30 cm jatuh pecah oleh orang stand sebelah. Untungnya dia mau tanggung jawab. Tapi dibeli cuma Rp 400 ribu. Kalau karya segitu saya jual sekarang, paling murah aja Rp 1 juta,” ujarnya.

Saya dikasih tahu dan dikirimin foto, ternyata besoknya karya saya sudah dipanjang di ruang kerja Bu Sri Mulyani. Saya senang banget karena hasil kerja saya diapresiasi.” 

Dewi Kocu, pendiri Cutteristic

Cutteristic - Menkopolhukam Jenderal TNI Wiranto

Dewi sadar bahwa Cutteristic tidak bisa dipasarkan dengan menempatkan diri layaknya lukisan yang hanya dibeli untuk dinikmati keindahannya. Dewi pun mengubah strategi bisnis potongan kertasnya menjadi hadiah untuk berbagai kesempatan. Ternyata potongan kertas sketsa wajah yang paling banyak diminati. Sejak itu penjualannya meningkat tajam.

“Kalau kita anggap sebagai seni saja susah. Karena yang mengerti seni sedikit, apalagi orang yang bisa apresiasi. Makanya kemudian saya menempatkan Cutteristic ini sebagai barang yang menjawab kebutuhan pasar,” kata Dewi. Awalnya, dia cuma buat 30 lembar per tahun. “Sejak tahun 2014 produksi selalu naik dua kali lipat. Terakhir tahun 2017, kami produksi sekitar 700 lembar.” 

Karyanya ada yang bisa dijual dengan harga lebih dari Rp 10 juta tergantung tingkat kerumitannya. Tak hanya potret wajah, dia pernah menyulap kertas menjadi lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci.

* * *

Suasana Kantor Kementerian Keuangan di Gedung Djuanda, Jakarta Pusat, pagi itu agak lain dari biasanya. Para jajaran staf menanti kehadiran Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan was-was. Begitu Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu tiba, mereka mulai menyanyi dengan suara lantang disertai tepuk tangan bergemuruh. Rupanya hari itu Sri Mulyani mendapatkan kejutan ulang tahun.

Cutteristic - Susilo Bambang Yudhoyono SBY Ani Yudhoyono

Mereka sudah menyiapkan kue ulang tahun berukuran besar bertabur buah stoberi. Ritual potong kue baru saja usai, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Indonesia, Hadiyanto, kembali mengejutkan Sri Mulyani dengan sebuah hadiah. Ia menyerahkan sebuah bingkai coklat yang lebarnya hampir mencapai 40 cm. Di balik bingkai terdapat selembar kertas berwarna putih yang entah bagaimana telah disulap menjadi wajah Sri Mulyani.

Melihat karya seni itu dihadiahkan padanya, wajah serius Sri Mulyani berubah sumringah. Sebuah senyum lebar pun sukses merekah dari wajahnya. Tak lama kemudian, Dewi Kocu, seniman yang membuat kerajinan dalam bingkai itu mendapatkan pesan dari salah satu staf Kementerian Keuangan.

“Saya dikasih tahu dan dikirimin foto, ternyata besoknya karya saya sudah dipanjang di ruang kerja Bu Sri Mulyani. Saya senang banget karena hasil kerja saya diapresiasi,” kata Dewi. Padahal pesanan itu datang sehari sebelum ulang tahun Sri Mulyani yang jatuh pada tanggal 26 Agustus. Selembar kertas besar yang idealnya dikerjakan dalam waktu dua minggu pun dikerjakan dengan sistem kebut semalam.

Sebelum pesanannya membludak seperti sekarang ini, Dewi selalu mengerjakan seluruh rangkaian proses produksinya seorang diri. Mulai dari membuat desain menggunakan bantuan program komputer, lalu memotong pola menggunakan cutter. Hingga memasukkan pola yang sudah dipotong ke dalam bingkai. Setiap pola memiliki keunikan dan kerumitan yang berbeda-beda. Dibutuhkan keterampilan dan kesabaran esktra. Tidak semua orang tahan duduk lebih dari tiga jam dengan posisi yang sama, sembari mata dan tangan mengikuti pola beraneka ukuran. Jari jemari sakit dan bengkak bagi Dewi barang kali sudah jadi hal biasa.

“Dalam pekerjaan, saya termasuk orang yang perfeksionis. Garisnya miring atau ada cuil sedikit buat saya itu sudah salah walaupun secara kasat mata masih baik-baik saja…..Makanya kerajinan seperti ini sulit kalau dibuat dengan mesin laser karena kertasnya bakal berbekas noda coklat karena terbakar. Terutama untuk pola yang kecil dan halus sudah pasti harus pakai tangan,” kata Dewi. Keterampilan tangan plus kesabaran dan ketekunan ini lah yang menyulap kertas polos menjadi karya seni bernilai tinggi.

Cutteristic - Leonardo Da Vinci, The Last Supper

Meski bahan bakunya hanya kertas, hasil karya Dewi sama sekali tidak murah. Untuk karya ukuran kertas 53 x 53 cm, Cutteristic pasang harga Rp 3,37 juta. Jika mau karya lebih besar, ukuran 120 x 100 cm, siapkan saja duit Rp 12,9 juta. Bagi pembeli sketsa wajah, jika mereka menghendaki, Dewi memberikan kristal Swarovski gratis. Untuk meningkatkan eksklusifitas, Dewi juga menyertakan nomor seri dan cap pada setiap karya yang dibeli pelanggannya.

Dalam waktu dekat ini Dewi berencana akan tinggal di Singapura. Ia juga ingin produk Cutteristic bisa menembus pasar global. Meskipun sebelumnya Cutteristic sudah berkali-kali mendapatkan pesanan dari berbagai negara hingga Amerika Serikat, namun jumlahnya belum signifikan. Untuk itu ia telah menyiapkan tim yang dapat membantunya menyelesaikan permintaan pelanggan. 

Yang masih jadi persoalan, Dewi belum menemukan orang yang dapat membuat desain atau pola di program komputer. Padahal ia telah melatih banyak orang, namun tak ada satu pun yang sesuai dengan harapan Dewi. “Saya sudah pernah kasih pelatihan intensif ke beberapa orang. Padahal medianya sama, saya bikin mata jadi A, orang itu bikin jadi B. karena cara orang lukis beda-beda kan,” Dewi menuturkan. Sulitnya menemukan sumber daya yang tepat juga karena mental seniman yang gampang menyerah. “Padahal untuk mencapai posisi saya saat ini, saya sudah membuat lebih dari 1800 wajah. Ya itu lah proses belajar saya. Ini bikin 10 sketsa saja masa sudah nyerah. Profesi ini memang harus lebih banyak latihan. Makanya saya juga suka buat pelatihan untuk awam agar teknik ini semakin dikenal dan berkembang di masyarakat.”


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE