INTERMESO

JALAN TARUNG THATHI

Tak banyak perempuan memilih jalan hidup seperti mereka. Adu pukul, baku tendang, adu banting, di atas ring.

Foto-foto : Agung Pambudhy/Detik.com

Minggu 3 Juni 2018

Begitu bel berdering, dua petarung perempuan itu tanpa ragu merangsek ke tengah ring Mixed Martial Arts (MMA) One Championship yang digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, pada 12 Mei lalu. Petarung dari Indonesia, Priscilla Hertati Lumbangaol, mengambil insiatif melontarkan tendangan kaki kiri ke arah kepala lawannya, petarung asal Filipina Rome ‘The Rebel’ Trinidad. Tendangan petarung yang punya nama ring Thathi itu tak kena sasaran. Lawannya segera membalas dengan tendangan, tapi juga luput dari sasaran.

Setelah beberapa kali bertukar tendangan dan pukulan, memasuki menit pertama Trinidad bergerak maju mendesak Thathi ke pinggir ring sambil berusaha melakukan bantingan. Thathi menahan gerakan itu dengan tangan kanan berada di leher lawannya. Saat Trinidad menunduk hendak membanting, Thathi dengan cepat mengubah posisi tangannya. Ia mengalungkan lengannya pada leher untuk mencekik dengan teknik Guillotine Choke. "Momennya pas aja ketika posisi tangan saya di lehernya," ujar Thathi kepada detikX, Jumat, pekan lalu.

Trinidad berusaha keras melepas cekikan dengan cara menunduk, mendorong sampai mencoba membanting. Namun Thathi tak mengendorkan tenaganya. Sesekali lututnya mendarat di perut Trinidad. Sampai saat memasuki separuh dari ronde pertama Thathi menjatuhkan lawannya ke matras tanpa mengubah kuncian di leher. Tak berapa lama Trinidad akhirnya menepuk bahu petarung dari Siam Training Camp itu tanda menyerah. Kemenangan tersebut menjadi yang ketiga secara berturut bagi Thathi, dan kekalahan kedua Trinidad, dalam ajang MMA Championship di awal tahun 2018.

Tiga bulan sebelumnya, Thathi membukukan kemenangan atas petarung Filipina lainnya Krisna Limbaga. Dalam pertarungan yang digelar di Thuwunna Indoor Stadium, Yangon, Myanmar itu, Thathi mengalahkan lawannya dengan teknik kuncian lengan Scarf Hold Armlock. Pada Januari 2018, dia meraih kemenangan atas Audreylaura Boniface Raphael dari Malaysia lewat kemenangan Technical Knock Out melalui kombinasi tendangan dan pukulan. Thathi mendapatkan ketiga kemenangan tersebut pada ronde pertama.


Thathi tergolong orang baru di dunia laga MMA. Dua tahun lalu ia baru berkenalan dengan ring heksagon. Kala itu petarung yang tahun ini berusia 30 tahun itu memutuskan menanggalkan statusnya sebagai salah seorang atlet cabang olahraga beladiri Wushu. "Saya kecewa kepada perangkat pertandingan saat bertarung di Pekan Olahraga Nasional di Bandung, Jawa Barat," ujar Thathie.

Dalam kejuaraan nasional yang digelar pada September 2016 itu, Thathi yang turun tanding mewakili Provinsi DKI Jakarta harus menelan pil pahit di babak pertama wushu Sanda kelas 52 kg. Ia kalah angka saat bertarung melawan atlet tuan rumah yang kemudian meraih medali emas kelas tersebut. "Saya memang kalah di ronde pertama, tapi di ronde kedua harusnya saya menang. Lawan atlet tuan rumah memang harus menang KO," ujarnya.

Pulang dari Bandung,Thathi memutuskan meninggalkan Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) wushu Provinsi DKI Jakarta. "Saat itu rasanya karier saya di wushu sudah habis," kata perempuan asal Dolok Sanggul, Sumatera Utara itu. Ia mencari tantangan baru dan memutuskan berlatih dengan Siam Training Camp di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Sebenarnya Siam TC bukan tempat baru bagi Thathi. Ia sering berlatih fisik dan teknik bertarungnya di tempat itu saat masih menyandang status atlet wushu. "Waktu itu fokus latihan saya belum seni bela diri campuran atau MMA," katanya. Baru setelah bergabung penuh di akhir tahun 2016, seorang pelatih di Siam TC menawarinya mendaftarkan diri berlaga di kejuaraan MMA One Championship.

Terjun ke kejuaraan seni bela diri campuran tak pernah dibayangkan Thathi sebelumnya. Ia hanya pernah menyaksikan kejuaraan MMA saat pemegang sabuk juara One Championship asal Singapura, Angela Lee, bertarung di Jakarta pada 20 Februari 2016. Saat itu Angela menang atas Rebecca Heintzman dari Amerika Serikat dengan kuncian di leher pada ronde ke-2. Thathi bahkan tak terkesan melihat pertarungan itu. "Ah menangnya gitu doang dalam hati saya," kata Thatie.

Bagi perempuan, olahraga tarung bebas itu bukan hal yang menakutkan lagi"

Muhammad Nurul Fikri, mitra latih tanding Tathie

Priscilla Hertati 'Thathi' Lumbangaol

Undangan masuk ring diterimanya Januari 2017. Padahal saat itu, bekal tekniknya untuk bertarung di kejuaraan bela diri campuran belum lengkap. Thatie hanya menguasai teknik pertarungan atas seperti pukulan dan tendangan. Ia sama sekali tak punya teknik mengunci lawan di matras seperti yang lazim diterapkan atlet tarung bebas. Pemilik Siam TC akhirnya membantu dengan mengirim Thathi belajar Brazilian Jiu Jitzsu ke Niko Han pendiri Synergy Jiu-Jitsu Academy di Bali. Niko Han merupakan pelatih pemegang sabuk hitam Jiu Jitsu. "Saya latihan hanya dua minggu untuk pengenalan saja," kata Thatie.

Pada 10 Februari 2017, Thathi naik ring heksagon pertama kalinya di Stadium Negara, Kuala Lumpur, Malaysia, untuk kelas Atom dengan berat 56,7 kg. Lawannya, Tiffany Teo, asal Singapura, punya ‘jam tarung’ lebih panjang di ring MMA. Tiffany dijagokan bakal mengalahkannya dalam waktu singkat. Demi naik ring, Thathi memang harus menaikkan berat badannya. Saat masih jadi atlet wushu Sanda ia turun di kelas 52 kg. Lantaran naik kelas dan mesti menambah berat badan, gerakannya menjadi lamban.


Thathi pun memilih bertarung atas dalam pertarungan perdananya itu. Tak sekalipun ia berusaha menjatuhkan lawannya. "Ego saya masih tinggi waktu itu. Paling kalau dia mau take down, saya berusaha menahan. Karena di wushu juga ada teknik menahan bantingan," ujar Thatie. "Itulah awal saya hijrah ke MMA."

Thathi akhirnya harus menerima kekalahan pada pertandingan perdananya. Namun ia masih mujur dapat bertahan penuh dalam tiga ronde. "Hasilnya ya kalah angka dan mata lebam," katanya. Beberapa bulan kemudian panggilan pertandingan kedua datang. Kali ini lawannya datang dari Filipina, Gina Iniong. Thathi kembali menelan kekalahan dalam pertarungan di Filipina itu. Gina menjatuhkannya, mengunci tangannya kemudian memukulnya bertubi-tubi. "Pulang dari situ saya bertekad memperdalam teknik jiu-jitsu. Ternyata teknik kuncian, bantingan penting banget buat saya."

Dua kali kekalahan berturut-turut dalam pertarungan perdana tak membuat semangat Thatie surut. "Saya bukan tipe yang gampang menyerah terhadap masa depan. Banyak orang yang gagal setelah mengalami kekalahan. Tapi saya tidak seperti itu orangnya. Ketika gagal, itu justru memberikan saya pandangan yang berbeda terhadap diri saya. Saya semakin kuat," kata petarung asal Sumatera Utara itu.

Mulai dari saat itu Thathi bertekad kerja keras untuk mengatasi ketertinggalannya dalam teknik pertarungan bawah. Selain latihan reguler pagi dan sore selama dua jam, ia juga diharuskan melahap latihan teknik-teknik Brazilian Jiu-Jitsu dua kali dalam seminggu. "Kalau mendekati hari pertandingan jadwal latihan ditambah satu sesi di malam hari," katanya.

Abangnya, Fransisco Lumban Gaol, lah yang ‘menjerumuskannya’ ke dunia bela diri. Fransisco memintanya bergabung dengan Sasana Naga Mas Cipayung saat usianya masih 17 tahun. Kebetulan sasana wushu itu berada dekat rumahnya. Sementara Fransisco berkawan dekat dengan pemilik sasana. "Abang saya diminta mencari atlet perempuan," kata Thathi. Karena tak ada kenalan perempuan yang bersedia jadi atlet, akhirnya Fransisco membujuk adiknya sendiri. "Bujukannya sih supaya saya bisa mandiri, biayai sekolah sendiri."


Dulu Thathi memang anak rumahan. Dia juga bukan gadis remaja yang gemar olahraga. Hari-harinya hanya diisi kegiatan di sekolah. "Setelah sekolah, pulang ke rumah, ya begitu saja tiap hari. Anak rumahan," katanya. Rupanya garis tangannya berubah setelah ikut latihan. Dua minggu setelah bergabung dengan sasana, Thathi diikutkan dalam Pekan Olahraga Provinsi Banten. "Saya menang saat itu."

Kemenangannya itu membuat Thathi dimasukkan dalam Pelatda Provinsi Banten. Namun ketika ada seleksi atlet untuk Provinsi DKI Jakarta, Thathie juga ikut dan meraih kemenangan. "Akhirnya ketika saya diminta memilih, saya memutuskan masuk Pelatda DKI Jakarta," kata Thathi. Berbagai kejuaraan diikutinya mulai dari tingkat nasional sampai internasional. Puncak kariernya ketika berhasil meraih medali perunggu Kejuaraan Dunia Sanda di Istora Senayan, Jakarta, pada November 2014.

Memilih hidup di ‘jalan tarung’, Tathi tak mau serba tanggung. Bela diri campuran yang kini ditekuninya bagi Thathi saat ini bukan hanya pertarungan biasa. Untuk mengeluarkan potensi dan menempa diri, ia tak segan berlatih tanding dengan petarung lelaki. Salah satu rekan latih tandingnya, Muhammad Nurul Fikri, mengatakan bela diri campuran kini bukan dominasi kaum lelaki.

"Bagi perempuan, olahraga tarung bebas itu bukan hal yang menakutkan lagi," kata Fikri. Dalam latihan pun, atlet perempuan melahap porsi latihan yang sama dengan petarung laki-laki. "Latihan fisik tak dibedakan kamu perempuan atau pria. Bahkan untuk teknik jiu jitsu, kami latih tanding bersama."


Reporter/Penulis: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE