INTERMESO

Dia Mampu Bicara
50 Bahasa

“Aku ingin belajar sebanyak mungkin bahasa sampai aku mati.”

Foto: GetHow

Minggu, 10 Juni 2018

Lebih dari dua abad silam, berkat pertolongan seorang diplomat Prancis, Pastor Felix Caronni bisa bebas dari sekapan perompak di Laut Mediterania. Selama setahun, dia hidup sengsara dalam kurungan di satu wilayah di Afrika Utara. Setelah pulang kembali ke Italia, Pastor Caronni berniat menuliskan semua pengalamannya.

Ada satu dokumen yang dia bawa pulang ditulis dalam bahasa Arab. Lantaran tak paham bahasa Arab, Caronni minta tolong seorang profesor dan pastor muda dari Universitas Bologna, Giuseppe Mezzofanti. Saat itu Giuseppe baru berumur 29 tahun dan konon bisa berbicara dalam 24 bahasa. 

Sekitar 30 tahun kemudian, ada serombongan turis dari Inggris berkunjung ke Vatikan dan hendak menemui Giuseppe. Kala itu Giuseppe sudah menjadi pustakawan Vatikan dan akan ditahbiskan sebagai kardinal. Seorang turis bertanya soal kemampuan Giuseppe bercakap dalam banyak bahasa. “Saya mendengar banyak versi soal kemampuan Anda, tapi sekarang saya ingin mendengar langsung dari mulut Anda, berapa bahasa yang Anda kuasai?”

Giuseppe sebenarnya enggan bercerita tentang kemampuannya. “Tapi baiklah jika Anda benar-benar harus tahu, saya bisa bicara dalam 45 bahasa,” kata Pastor Giuseppe Mezzofanti, dikutip Michael Erard dalam bukunya, Mezzofanti’s Gift. Jawaban singkat tak terduga ini tentu saja membuat para turis itu terperangah. “Empat puluh lima?” kata seorang turis, nyaris tak percaya. “Romo, bagaimana Anda bisa mendapatkan kemampuan bahasa sedemikian banyak?”


Georges Awaad, polyglot asal Montreal, Kanada. Foto : CBC

“Aku tak bisa menjelaskannya,” ujar Pastor Giuseppe. “Tentu saja kemampuan ini karunia Tuhan. Tapi, jika kalian ingin tahu bagaimana aku bisa menguasai bahasa-bahasa itu, aku hanya bisa bilang, sekali saja aku mendengar arti suatu kata dalam bahasa asing, maka aku tak pernah lupa lagi.”

Hingga akhir hayatnya, konon, Pastor Giuseppe Mezzofanti bisa bercakap dalam tak kurang dari 50 bahasa, di antaranya Arab, Ibrani, Koptik, Persia, Turki, Prancis, Jerman, Belanda, Inggris, Mandarin, dan Gujarat. Bangsawan dan sastrawan Inggris, Lord Gordon Byron, memberi julukan Pastor Giuseppe: Monster Bahasa. Lord Byron sendiri juga seorang polyglot, orang yang mampu bercakap dalam banyak bahasa. Jika Pastor Giuseppe, sang kamus berjalan itu, hari ini masih hidup, barangkali yang mampu menandinginya hanyalah Google Translate.

Pada 1820, bangsawan dan astronom asal Hungaria, Baron Franz Xaver von Zach, mengunjungi Pastor Giuseppe di Vatikan. Sambutan Pastor Giuseppe membuat Franz tertegun. Pastor Giuseppe menyambutnya dalam bahasa Hungaria yang sangat sempurna. “Kemudian dia bercakap dalam bahasa Jerman, awalnya dengan dialek Saxon, kemudian berganti ke dialek Austria dan berganti lagi ke dialek Swabia. Semuanya dengan ketepatan yang membuatku terkagum-kagum,” Baron Franz Xaver menuturkan.

* * *

Bagi rata-rata orang, mampu bercakap secara fasih dalam dua atau tiga bahasa asing barangkali sudah merupakan kemampuan yang mengagumkan. Tapi ada sebagian orang, tanpa perlu ikut kursus bertahun-tahun, mampu bercakap hingga lebih dari lima bahasa, bahkan hingga dalam puluhan bahasa asing.


Dikembe Mutombo, mantan bintang NBA, juga seorang polyglot. Foto : Getty Images

Bagi Ray Gillon, juga Georges Awaad, menguasai bahasa baru sudah seperti hobi, juga obsesi, yang tak ada habisnya. “Aku ingin belajar sebanyak mungkin bahasa sampai aku mati,” kata Georges, kini 18 tahun, kepada CBC, beberapa waktu lalu. Pemuda asal Montreal, Kanada, itu mampu bercakap-cakap dalam 16 bahasa, di antaranya Prancis, Inggris, Rusia, Arab, dan Mandarin.

Georges mulai tergila-gila belajar bahasa saat umur 11 tahun. Dia belajar bahasa hanya dengan bantuan Google Translate dan YouTube. “Aku ingat saat pertama kali memperkenalkan Google Translate kepada dia. Itu seperti Disneyland bagi Georges,” Elie Awaad, ayahnya, menuturkan. Setelah menguasai bahasa-bahasa utama di dunia, kini target Georges adalah bahasa-bahasa di Afrika yang terancam punah.

Ray Gillon bukan seorang ahli bahasa. Dia sarjana teknik elektronika. Tapi dia mampu bercakap dalam 18 bahasa, 10 di antaranya sangat fasih. Dia mulai belajar bahasa Prancis dan Latin saat umur 11 tahun. Di bangku kuliah, dia mulai belajar bahasa Jerman. “Tapi aku baru benar-benar suka belajar bahasa setelah mendapatkan pekerjaan pertama dan dikirim ke wilayah selatan Prancis,” kata Ray, dikutip BBC, beberapa waktu lalu.

Di tempat kerja, dia bergaul dengan beberapa teman dari Italia. “Aku pergi ke Italia selama seminggu dan aku benar-benar jatuh cinta pada bahasanya,” kata Ray. “Aku memborong buku dan belajar bahasa Italia. Setelah tiga tahun tinggal di Prancis, aku sudah fasih kedua bahasa itu, Prancis dan Italia.”

Pekerjaan membawa Ray keliling dunia dan berkenalan dengan banyak bahasa, mulai bahasa Spanyol, Portugis, Swedia, Turki, Norwegia, sampai bahasa Mandarin. Menurut Ray, selama lebih dari sepuluh tahun, dia memakai sekitar enam bahasa dalam percakapan sehari-hari. Untuk terus mengasah kemampuan bahasanya, Ray membaca koran dan menonton acara televisi dalam banyak bahasa.


Jose Mourinho, Manajer Manchester United, polyglot di lapangan sepak bola. Foto : Getty Images

Menguasai tiga atau empat bahasa asing mungkin bisa diperoleh dengan kursus dan belajar sungguh-sungguh. Tapi menguasai lebih dari 10 bahasa, menurut Michael Erard, penulis buku Mezzofanti’s Gift dan Babel No More: The Search for the World's Most Extraordinary Language Learners, suatu hal yang langka di dunia. Sebagai seorang ahli bahasa, Erard tak punya jawaban apakah ada sesuatu yang istimewa dalam otak para hyper-polyglot ini.

“Jika ada orang yang datang kepadaku dan bilang bahwa dia kenal seseorang yang menguasai 15 bahasa, aku akan bilang, ‘Jika kamu mengatakan bahwa dia seorang kidal, aku tak akan terkejut. Jika kamu mengatakan bahwa dia tak bisa menyetir mobil dan sering kesasar, aku juga tak akan terkejut,‘” kata Erard kepada majalah Time. “Demikian pula jika kamu mengatakan bahwa di seorang yang tertutup, independen, dan laki-laki.”


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE