INTERMESO

Tergila-gila oleh Bahasa

“Kalau mendengar bahasa asing, saya nggak bisa mengendalkan diri. Malamnya bisa sampai terbayang-bayang, terbawa mimpi”

Foto : GetHow

Senin, 11 Juni 2018

“Jangan pernah membiarkan seseorang memberitahumu bahwa kamu tidak bisa melakukan sesuatu. Bahkan aku. Mengerti?” ucap Chris Gardner sambil menatap anaknya, Christopher, yang masih berusia lima tahun. Chris memberikan semangat, meskipun ia sendiri harus berjuang membesarkan anaknya seorang diri setelah ditinggal sang istri dengan kondisi serba kekurangan. Tidak punya uang, rumah dan pekerjaan.

Adegan dalam film The Pursuit of Happyness yang dibintangi Will Smith dan Jaden Smith ini sangat mengena di hati Rinaldi. Dia tak peduli berapa kali ia menonton kembali film ini. Pernah suatu kali Rinaldi kembali melihat kepiawaian akting keluarga Smith namun dengan suasana yang berbeda di Pusat Kebudayaan Italia di Jakarta. Dialog dalam film itu dialihbahasakan ke bahasa dari negeri Pizza itu.

Menjajal film dengan bahasa yang berbeda bagi pegawai swasta ini bukanlah pengalaman baru. Rinaldi tak pernah melewatkan kesempatan setiap kali digelar acara European on Screen di Goethe Institut, Jakarta. Dari situ ia dapat menonton film dari berbagai macam bahasa di daratan Eropa. Banyak film menggunakan bahasa yang masih terdengar asing di telinga, seperti Rumania, Polandia hingga Ceko.

Bagi Rinadli keragaman bahasa tak jadi persoalan. Ia justru senang mendengarkan orang Italia membawakan lagu opera di panggung. Atau mendengarkan Mademoiselle, sebutan perempuan di Perancis, memesan sepiring croissant hangat di restoran. Setiap bahasa baru terdengar begitu indah dan eksotis di telinga Rinaldi.

“Kalau mendengar bahasa asing, saya nggak bisa mengendalkan diri. Malamnya bisa sampai terbayang-bayang, terbawa mimpi….Akhirnya saya suka coba cari informasi sendiri,” ujar Rinaldi dengan antusias. Ia mulai keranjingan mempelajari bahasa asing semenjak hobi menonton anime Jepang.

Polyglot Indonesia
Foto : dok.Polyglot Indonesia via Instagram

Kami ingin menentang stigma bahwa ilmu bahasa itu dibanding ilmu lain nggak ada apa-apanya”

Mira Fitria Viennita Zakaria, Direktur Eksekutif Polyglot Indonesia

Rinaldi pun mulai rutin mempelajari bahasa secara otodidak. Setiap hari Rinaldi menyisihkan waktu untuk membaca berita dari berbagai macam bahasa di gawainya. Namanya juga belajar sendiri, jika menemukan struktur bahasa yang sulit dipahami, Rinaldi tak punya tempat untuk bertanya. Beberapa kali ia kerap ingin menyerah. Rinaldi juga tak punya teman untuk diajak berlatih bicara dalam bahasa asing selain bahasa Inggris. Repotnya lagi, Rinaldi juga tak punya nyali untuk mengajak seorang turis berbicara. Dia memang pemalu.

Suatu kali ia menemukan komunitas Polyglot Indonesia di jejaring Facebook. Komunitas orang-orang yang menguasai banyak bahasa itu didirikan pada tahun 2012 oleh tiga orang, yakni Arra'di Nur Rizal yang bekerja di Lund University, Swedia, Monis Pandhu Hapsari yang pernah menempuh kuliah master di Italia, dan Krisna Laurensius yang saat pendirian sedang berkuliah di Korea Selatan. Komunitas Polyglot Indonesia menjadi wadah bagi para penggemar bahasa untuk berkumpul dan belajar bersama. Kebetulan di tahun 2012, Polyglot Indonesia mulai mengadakan kegiatan Language Exchange Meetup di Jakarta.

Kesempatan ini tak disia-siakan Rinaldi, ia mengikuti meetup pertamanya. “Kami dilatih berdiskusi dan bertukar pikiran bersama teman dengan topik yang beraneka ragam. Lalu kami diminta presentasi di depan seluruh peserta yang hadir. Jadi kami didorong untuk berani bicara. Kelasnya bisa diselenggarakan di mana saja. Bisa di museum, kafe atau perpustakaan dengan suasana yang menyenangkan,” ujar Rinaldi.

Dalam pertemuan Rinaldi juga bisa berbicara langsung dengan orang asing dari berbagai negara. Seperti saat pertemuan pertama yang diselenggarakan Polyglot Indonesia, hadir seorang polyglot asal Amerika, David Cox, yang menguasai enam bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Mira Zakaria, seorang polyglot
Foto : dok.pribadi

“Kalau beruntung bahkan ada native speaker yang datang langsung. Seperti waktu itu ada orang dari Swedia. Itu kesempatan bagus untuk latihan,“ dia menuturkan. Karena konsistensinya mempelajari bahasa asing, Rinaldi kini telah menguasai lebih dari sepuluh bahasa. Ia layak menyandang julukan hyper polyglot. Bahasa yang ia kuasai di antaranya Inggris, Jerman, Perancis, Rusia, Jepang, Belanda, Spanyol, Portugis, Rumania hingga Ceko.

Mira Fitria Viennita Zakaria, Direktur Eksekutif Polyglot Indonesia menekankan pentingnya melatih bicara dalam bahasa asing pada setiap pertemuan. Perempuan yang lahir dan dibesarkan di Austria ini kerap menemukan pengalaman orang Indonesia, baik yang bekerja di luar negeri maupun perusahaan multinasional, tapi tidak bisa menduduki posisi strategis hanya karena kesulitan berbahasa sehingga mengakibatkan miskomunikasi.

“Karena bahasa Inggrisnya masih kurang bagus atau kalah saing dengan orang ASEAN lain. Nggak cuma dari segi bahasa, keberanian berbicara kita juga kurang. Itu kadang jadi faktor yang mengecewakan. Di sisi lain, kita harus mengasah diri terus menerus,“ kata Mira. Kehadiran komunitas Polyglot Indonesia juga ingin mematahkan pandangan bahwa ilmu bahasa dipandang sebelah mata dibandingkan ilmu pengetahuan yang lain. “Kami ingin menentang stigma bahwa ilmu bahasa itu dibanding ilmu lain nggak ada apa-apanya. Kami mau menunjukkan bahasa juga bisa jadi ladang pekerjaan.”

Pertemuan yang diselenggarakan selama dua hingga tiga jam ini, para anggota akan dikelompokkan sesuai dengan bahasa yang dikuasai. Tiap kelompok dipandu oleh seorang koordinator bahasa. Koordinator biasanya menguasai tiga sampai empat bahasa di luar bahasa Indonesia dan Inggris. Pertemuan Polyglot pun pernah kedatangan Andre Omar Siregar yang kala itu memangku jabatan sebagai penerjemah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama sepuluh tahun.

Komunitas Polyglot Indonesia
Foto : dok.Polyglot Indonesia via Instagram

Komunitas yang keanggotaannya terbuka untuk umum ini mempunyai perwakilan di beberapa daerah seperti Banda Aceh, Bandung, Lombok, Jakarta, Mataram, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta. “Di Yogyakarta juga ada kelas Minggu Lingo dan di Bandung ada Laskar Bahasa. Itu pertemuan khusus dimana mereka akan dikasih pengetahuan dasar mengenai bahasa tersebut. Memang sistem belajar di setiap kota bisa memiliki perbedaan. Kalau di jakarta lebih ke conversation maintanance,” ujar Mira yang menguasai bahasa Inggris, Jerman, Perancis dan mengerti bahasa Spanyol.

Tak hanya bahasa asing, pada pertemuan tertentu, Polyglot Indonesia juga membedah bahasa daerah. Belum lama ini Polyglot Indonesia memanfaatkan jejaringnya dan bekerja sama dengan Wikitounges, sebuah organisasi nirlaba asal Amerika Serikat untuk mengarsipkan bahasa daerah yang mulai punah. Awal Juli ini, Polyglot Indonesia juga akan mengadakan Polyglot Indonesia National Gathering (PING) di Jakarta. Sebuah pertemuan skala nasional bagi pecinta bahasa dari seluruh Indonesia.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE