RUBRIK


Jodoh Si Hitam Manis dan Sate Kambing Muda Tegal.

“Stok kecapnya Pak Noto nggak boleh habis. Di luar banyak yang lebih murah, tapi kalau nggak cocok gimana? Yang penting cocoknya itu”

Foto-foto : Melisa Mailoa

Minggu 17 Juni 2018

Sudah belasan kali penjual kecap mendatangi Rumah Makan Sate Kambing Muda Bu Tomo di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, dan menawarkan kecap baru kepada Nur Khaefah, empunya rumah makan. Namun Khaefah tak pernah berpaling ke kecap lain. Satu-satunya kecap yang boleh ada di dapur tiga rumah makan sate milik Nur Khaefah bersama suaminya, Mohammad Indra Kartomo hanya satu yakni Kecap Cap Tomat Lombok.

Selama lebih dari 25 tahun membuka usaha warung sate, Khaefah dan suaminya memang selalu memakai kecap Tomat Lombok, kecap asli buatan Slawi. “Kalau ada orang nawarin kecap, mohon maaf saya nggak bisa bantu,” kata Khaefah kepada DetikX beberapa pekan lalu. Dia memang pernah mencoba merek kecap lain, tapi pelanggan malah protes. Ketimbang pelanggan lari, dia dan suaminya memilih setia kepada kecap lama. “Akhirnya bapak dan saya punya prinsip, nggak usah ribet-ribet, paling cocok pakai kecap ini.”

Tangan seorang pemuda menggerakan kipas bambu dengan cekatan. Ketika bara api di alat pemanggang mulai meredup, ia semakin mengencangkan kibasannya. Aroma khas bakaran daging sate meruap di antara kepulan asap putih pekat. Persis di sebelah kiri tempat pemuda itu berdiri, daging kambing muda utuh yang telah dikuliti dipajang di dalam etalase kaca.

Pemandangan semacam ini begitu mudah ditemui di seluruh pelosok Kabupaten Tegal. Di sembarang jalan di Tegal, dari Slawi hingga ke kawasan wisata air panas Guci dan kaki gunung daerah Slawi, gampang ditemui warung sate kambing muda. Daerah Tegal memang terkenal dengan kuliner sate daging kambing muda. Diburu oleh para penikmat kambing karena dagingnya tidak berbau prengus, empuk serta potongan daging yang royal.

Proses pembuatan kecap di pabrik kecap Cap Tomat Lombok di Tegal.

Salah satu yang terbesar dan buka tanpa henti 24 jam adalah warung sate Bu Tomo di Jalan Mayjen Sutoyo, Slawi. Tak sedikit pejabat jadi pelanggannya. “Anda telat datang. Semalam Pak Ganjar dan rombongan baru saja mampir,” Bu Tomo, sapaan Nur Khaefah, menuturkan. Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, tidak terhitung lagi sudah berapa kali mampir di warung Bu Tomo.

Nggak tahu ya resep ibu sudah cocok dengan kecap ini. Kental dan encernya pas buat sate. Rasa kambingnya nggak hilang, tapi kecapnya juga terasa'

Tak asal daging kambing muda dipanggang jadi resep sedapnya sate Bu Tomo. Tak kalah penting adalah apa merek kecapnya. Sewaktu dibakar, sate kambing dibiarkan polos tanpa bumbu. Setelah matang terpanggang, sate disajikan bersama sepiring kecap serta irisan cabai rawit, bawang merah dan tomat. Inilah ciri khas sate Tegal.

Bagi Bu Tomo, menemukan kecap manis yang pas sama susahnya seperti menemukan jarum di antara tumpukan jerami. “Nggak tahu ya resep ibu sudah cocok dengan kecap ini. Kental dan encernya pas buat sate. Rasa kambingnya nggak hilang, tapi kecapnya juga terasa. Karena kami nggak pakai saus kacang, jadi yang mendominasi itu rasa kecap dan kambing,” kata Bu Tomo. Dalam sehari, warung Bu Tomo bisa menandaskan lebih dari 3000 tusuk sate. Tak heran jika konsumsi kecap manis warung-warung sate milik Bu Tomo sangat besar, sekitar 1200 botol setiap bulan.

Mereka tanya, produksi 120 ribu botol per hari siap nggak? Kalau nggak siap, mereka akan pinjamkan modal untuk produksi dalam skala lebih besar”

Sumarnoto Hadisuwono, pemilik kecap Cap Tomat Lombok


Bagi lidah orang Tegal, si hitam manis Tomat Lombok sudah seperti pacar lama, kenangannya sulit luntur. Umur kecap asal Slawi ini memang sudah lumayan tua. Sekarang kecap Tomat Lombok punya pabrik lumayan besar. Siapa menyangka, pendirinya dulu seorang ibu rumah tangga. Sri Rezeki alias Sie Sioe Lwan mulai merintis usaha pembuatan kecap pada 1940.

Neneknya, menurut Sumarnoto Hadisuwono, cucu Sioe Lwan, menjadi janda saat umurnya baru 38 tahun setelah suaminya meninggal. Padahal saat itu, dia punya lima anak yang masih kecil. “Dapat nasihat dari orang tuanya jangan anggur-angguran. Anak-anak masih kecil butuh biaya,” Sumarnoto, 64 tahun, menuturkan kepada DetikX. Orang tuanya pula yang menyarankan agar Sioe Lwan membuat kecap.

Saat itu, tak banyak orang paham cara membuat kecap. Sioe Lwan, meski bertahun-tahun jadi ibu rumah tangga, kebetulan lumayan pintar bikin kecap. Membuat kecap bukan perkara sulit baginya. Ia memasak kecap dengan dapur sederhana yang terbuat dari semen beserta satu kuali dan dandang. Di depan rumahnya, Sioe Lwan juga membuka toko bahan pokok.

Dulu kecap tak dijual dalam botol. Pembeli kecap membawa wadahnya sendiri. Kemudian kecap di dalam blek atau kaleng minyak dipindahkan ke dalam wadah menggunakan corong dari bahan bambu. Selain ibu rumah tangga, ternyata pelanggannya dari dulu banyak pedagang sate. Bedanya pedangang sate kala itu masih menggunakan pikulan untuk menjajakan dagangannya. Sumarnoto tak tahu bagaimana ceritanya sang nenek memberi nama kecap buatannya Tomat Lombok.

Ketika nama kecap Tomat Lombok mulai dikenal, pelanggan Sioe Lwan melebar hingga daerah Bumiayu, Brebes, puluhan kilometer dari Slawi. Kecap diangkut menggunakan truk. Kecap dikemas di dalam tong kayu berukuran 22 kilogram dan diperkuat dengan jalinan bambu. “Memang dulu laku banget jualan kecap. Baru masak langsung habis, dan masak lagi. Sampai sehari penjualan hasilnya bisa dikumpulkan dalam satu blek minyak penuh uang koin semua,” Sumarnoto bercerita.

Dari sang nenek, usaha kecap Tomat Lombok dioper ke Soenarto Hadisuwono, ayah Sumarnoto. Lantaran tergiur mendapatkan keuntungan lebih cepat, Soenarto sempat jadi pengepul drum bekas aspal dari proyek jalan di Cirebon pada awal 1970-an. Drum aspal ini dijual ke pengrajin untuk dijadikan ember dan alat kebutuhan rumah tangga lainnya. Di luar prediksi, bahan baku plastik masuk menyingkirkan alat rumah tangga berbahan kaleng. Alih-alih dapat untung besar, gara-gara usaha drum bekas ini, Soenarto malah terjerat utang.


Sumarnoto Hadisuwono dan istrinya, pemilik kecap Cap Tomat Lombok

Modal yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan usaha kecap tersedot untuk mencicil utang. Sumarnoto terpaksa mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah.Dia membantu melanjutkan usaha kecap manis yang bagai hidup enggan, tapi mati pun tak mau. Meski anak pemilik pabrik, Sumarnoto memulai karirnya sebagai tenaga penjualan.

“Saya nggak malu walaupun harus mulai sebagai sales. Cuma susahnya kalau datang pas toko rame dan mau nagih hutang. Istilahnya saya kayak nomor duanya pengemis. Saya harus sabar nungguin,” ujar Sumarnoto. Baru lima tahun kemudian Marnoto bisa melanjutkan kuliah di Universitas Stikubank Semarang. Dia sempat bekerja di sebuah bank swasta dan perusahaan minuman teh hingga akhirnya pulang ke Tegal dan mengambil penuh pengelolaan Kecap Tomat Lombok.

Kondisi keuangan Kecap Tomat Lombok perlahan pulih, utang lama terus dicicil hingga akhirnya benar-benar lunas. Pemasaran pun melebar hingga seluruh pelosok Kabupaten Tegal dan sekitarnya. Pemakainya didominasi oleh pengusaha makanan dibandingkan ibu rumah tangga. Bagi Sumarnoto, pola penjualan seperti ini lebih menjanjikan. Tak hanya berjodoh dengan warung sate, kecap manis Tomat Lombok ternyata juga cocok bagi lidah pelanggan warung nasi. Seperti Warung Makan Bu Tuti Toyo di depan SMP Negeri 1, Tegal.

Kecap Cap Tomat Lombok

Usaha kecap cap Tomat Lombok didirikan oleh Sri Rezeki alias Sie Sioe Lwan di Slawi, Tegal, pada 1940. Usaha pembuatan kecap ini diwariskan turun temurun hingga kini dipegang oleh generasi ketiga, Sumarnoto Hadisuwono. Meski hanya mengandalkan pasar daerah Tegal dan sekitarnya, kecap Tomat Lombok bisa bertahan hidup di tengah gempuran merek-merek besar.


Pemiliknya pasangan suami istri, Muji Hastuti dan Sudarso. Dalam seminggu, warung nasi Hastuti dapat menghabiskan 120 botol kecap Tomat Lombok ukuran 620 ml untuk rupa-rupa menu seperti nasi lengko dan semur. Sepiring nasi lengko biasanya disajikan dengan sepiring kecap manis beserta cabai rawit ulek. Kecap manis ini dicocol bersama tahu jembrong yang disediakan di setiap meja.

“Stok kecapnya Pak Noto nggak boleh habis. Di luar banyak yang lebih murah, tapi kalau nggak cocok gimana? Yang penting cocoknya itu. Hubungan kami juga sudah dekat. Sejak mulai jualan tahun 1950, saya sudah pakai kecap ini. Kalau mau komplain juga langsung didengarkan dan dibenahi,” kata Sudarso.

Rasanya dari awal kami jualan sampai sekarang masih sama. Makanya sekali diganti, konsumen langsung tahu

Kecap cap Tomat Lombok memang kalah besar dan tak sekondang kecap Bango, Indofood atau ABC, tapi Sumarnoto tak main-main dengan rasa kecapnya. Untuk urusan pengecekan kualitas kecap, istrinya, Harjanti, rajin turun ke lapangan, dari satu warung ke warung lain untuk menanyakan keluhan pelanggan. “Selain itu, rasanya dari awal kami jualan sampai sekarang masih sama. Makanya sekali diganti, konsumen langsung tahu. Kami nggak bakal berani,” kata Sumarnoto. Dia juga tak mau pakai penyedap rasa. “Nggak usah pakai bumbu masak juga sudah enak kok.”

Meski kini proses produksi Kecap Tomat Lombok sudah lebih modern dan sudah dikelola generasi ketiga, Sumarnoto konsisten menjaga resep turun temurun itu. Ditemani Sumarnoto, detikX melihat proses pembuatan kecap yang dimulai setengah sembilan pagi hingga setengah tiga sore. Terdapat enam kuali berdiameter dua meter dengan tinggi satu meter. Empat diantaranya digunakan untuk melelehkan gula merah yang didatangkan dari Bobotsari, Purbalingga, dan Ajibarang, Banyumas. Sementara dua kuali lainnya digunakan memanaskan fermentasi kedelai hitam. Satu kuali bisa menampung hingga 500 kilogram gula merah. Sementara bahkan bakarnya menggunakan sekam.

“Untuk alat pemasak saya nggak mau ganti. Nanti rasanya beda. Yang saya cari bukan kecepatan. Yang penting gulanya sebelum dicampur air harus betul-betul dijaga, aduknya harus merata. Itu yang paling susah,” kata Sumarnoto yang mempekerjakan 32 karyawan. Kini pabrik kecap Tomat Lombok bisa menghasilkan 1440 botol ukuran 620 ml per hari, di luar kecap yang dibungkus dalam kemasan plastik.

Banyak perusahaan kecap ngos-ngosan melawan merek-merek besar, tapi Sumarnoto tak cemas dengan masa depan Tomat Lombok. Walaupun hanya mengandalkan pasar daerah Tegal dan sekitarnya, menurut Sumarnoto, penjualan mereka terus menanjak. “Kami punya pangsa pasar sendiri. Produk kecap nasional untuk di daerah biasanya yang pakai menengah ke atas,” kata dia.


Soal harga, kecap Tomat Lombok memang lebih murah ketimbang merek-merek besar. Jika bukan karena konsumen yang loyal, menurut Karmen, pemilik toko sembako di Pasar Terayeman, Tegal, pelanggan membeli Kecap Tomat Lombok karena harganya lebih murah. Kecap Tomat Lombok kemasan plastik ukuran 200 ml dijual Rp 5200-5500, lumayan jauh di bawah harga kecap nasional. “Di sini beda harga berapa ratus rupiah aja pelanggan bisa kabur. Makanya mereka lebih cari yang murah,” kata Karmen. Kecap Tomat Lombok pun otomatis lebih cepat habis, bahkan lebih laku ketimbang kecap lokal merk sebelah.

“Saya stok rutin 600 botol per dua minggu habis lah. Kalau yang sachet setiap order 100 bal yang 260 ml nggak sampai sebulan kurang lebih 2-3 minggu. Satu bal isinya 25 bungkus. Habisnya barang nggak pernah sampai kedaluwarsa, perputarannya cepat,” ucap Karmen. Pelanggannya paling jauh berasal dari Kota Brebes.

Melihat perkembangan pesat Kecap Tomat Lombok, satu perusahaan raksasa pernah datang menyodorkan proposal kerjasama kepada Sumarnoto. Dia enggan menyebutkan nama perusahaan itu. “Mereka tanya, produksi 120 ribu botol per hari siap nggak? Kalau nggak siap, mereka akan pinjamkan modal untuk produksi dalam skala lebih besar,” Sumarnoto bercerita. Bukannya senang, dia malah cemas. “Saya takut nggak bisa ikutin mereka, nanti saya yang terjebak.” Dia memilih menolak proposal yang tampak menggiurkan itu.

Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE