INTERMESO


YANG TAK BISA HIDUP TANPA KECAP

“Kemana-mana saya selalu bawa kecap sachet. Di kantor juga selalu saya siapin kecap botol plastik”

Foto-foto : dok. pribadi Lutfi Ubaidillah

Rabu 20 Juni 2018

Sejak masih kecil, lidah Lutfi Ubaidillah sudah sangat akrab dengan rasa kecap manis. Begitu akrabnya, sampai-sampai dia jadi ‘mencandu’ kecap. Segala macam makanan, harus selalu ada si hitam manis yang mendampingi. Dari nasi goreng dan mie goreng, hingga telur ceplok atau dadar harus disantap bersama kecap manis.

“Karena saya tinggal di Bandung, kecap yang selalu ada di meja adalah kecap Cap Borobudur dan kecap Cap Noni….Khas Bandung semua,” Lutfi menuturkan, dua pekan lalu. Rasa manis si hitam kental itu rupanya terus melekat di lidahnya. Sampai sekarang, dia kini sudah 39 tahun, punya tiga orang anak, dan bekerja sebagai pengusaha swasta, Lutfi tak bisa lepas dari kecap manis. “Kemana-mana saya selalu bawa kecap sachet. Di kantor juga selalu saya siapin kecap botol plastik.”

Bagi lidah kebanyakan orang, rasa kecap manis mungkin tak ada beda antara kecap Bango, ABC, Indofood, Sedaap, atau kecap Mirama yang kondang di Semarang dan kecap Zebra asal kota Bogor. Tapi untuk lidah Lutfi, setiap merek kecap manis punya ‘jodohnya’ sendiri. Tak semua kecap manis cocok untuk setiap jenis makanan. Siomay Bandung misalnya, menurut dia, paling cocok disantap bersama kecap Cap Anggur.

Kecap ‘tulen Cap Anggur’ diproduksi oleh pabrik Senglie Bandung. “Kecap ini paling cocok dengan baso tahu, siomay atau mie,” kata Lutfi. Lain pula kecap yang pas untuk kupat tahu. “Kupat tahu biasanya dengan kecap kampung seperti Cap Telor. Kalau bubur ayam, cocoknya dengan kecap Cap HD.”

Bertahun-tahun hidup bersama kecap, terutama kecap manis, Lutfi sudah kenal banyak sekali rasa kecap. Dari kecap asal Bandung seperti Cap Borobudur sampai kecap dari daerah-daerah lain yang tak banyak dikenal orang. “Kecap Benteng dan kecap SH dari Tangerang, saya juga suka….Rasanya khas daerah pecinan banget. Ada rasa caramelnya,” kata Lutfi.

Saya bisa menebak apakah kecap itu dari Jawa Tengah, Jawa Timur-an, kecap dari luar Jawa atau kecap daerah pesisir”

Lutfi Ubaidillah, penggemar dan kolektor kecap

Kecap koleksi Lutfi Ubaidillah

Dia memang penggemar sangat serius kecap. Lutfi tak keberatan dibilang ‘tak bisa hidup tanpa kecap’. Tak cuma harus makan dengan kecap, dia juga kolektor botol kecap dari pelbagai daerah di Indonesia dan membuat blog khusus kecap-kecap asli Indonesia, Wikecapedia. “Saya koleksi kecap sejak awal kuliah, sekitar 1996,” dia menuturkan. Dulu dia masih sembunyi-sembunyi dengan hobinya itu. Ya, koleksi botol kecap memang bukan hobi yang biasa. Sejak 2010, dia makin getol mencari rupa-rupa merek kecap dari pelbagai kota di Indonesia. “Sekarang koleksi saya ada kurang lebih 270 botol kecap.”

Sekarang koleksi saya ada kurang lebih 270 botol kecap.”

Walaupun banyak sekali orang mengkonsumsi kecap manis, pengetahuan kita soal kecap asli nusantara ini masih terbatas. Almarhum Bondan Winarno, pernah menulis buku dan artikel soal kecap produksi pabrik-pabrik di Indonesia. Semasa hidupnya, Bondan, mantan wartawan yang hobi kuliner itu juga sempat mengkoleksi kecap-kecap nusantara. Koleksinya sudah lebih dari seratus merek, di antaranya kecap Zebra dari Bogor, Sawi dari Kediri, Bentoel dari Banyuwangi, Kambing Dua dari Singkawang, kecap Buah Kelapa dari Sumenep, dan Roda Mas dari Banjarmasin.

Mungkin tak banyak penggemar kecap sekaligus kolektor botol kecap seperti Bondan, Lutfi, Chef Alifatqul Maulana, dan Andrew Mulianto. Tapi mestinya, ada banyak sekali penggemar kecap di seluruh Indonesia. Tak heran jika ada ratusan perusahaan kecap yang tersebar dari Medan, Bangka, Garut, Pangandaran, Majalengka, Singkawang, Sumenep di Pulau Madura, Banjarmasin, sampai Banyuwangi.

Bahkan sebagian merek kecap, sudah bertahan hingga beberapa generasi. Dari yang kelas raksasa seperti Bango, Indofood, Sedaap, dan ABC, sampai kelas industri rumah tangga yang hanya dikenal di daerah itu seperti kecap cap Pulau Djawa di Pekalongan, kecap Kentjana di Kebumen, atau kecap Konci asal Garut, Jawa Barat.

Warung kelontong bahan pokok di Tegal
Foto : Melisa Mailoa/detik.com

Meski namanya sama-sama kecap manis atau kecap asin, menurut Alifatqul Maulana, chef sekaligus dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, sekaligus pula kolektor kecap, rasa masing-masing kecap di tiap daerah tak sama persis. “Kecap itu unik di setiap wilayah,” ujar Alif. Ada yang lebih pas untuk penyedap masakan, ada yang lebih cocok untuk pelengkap bakaran daging. “Atau untuk hidangan.”

Sejak kecil suka kecap, Alif baru mulai rajin mengumpulkan botol kecap dari pelbagai merek dan banyak daerah di Indonesia sejak 2005. Gara-gara hobinya itu, istrinya sempat sebal juga lantaran dia selalu bawa ‘oleh-oleh’ botol kecap setiap kali pulang dari luar kota. Dulu, koleksi botol kecap Alif pernah menyentuh angka 300-an botol.

Tapi sial betul. Mungkin lantaran tak paham nilainya dan tak tahu betapa sulitnya mengumpulkan semua botol kecap itu, tukang bangunan yang merenovasi rumahnya menjual hampir separuh koleksi botol kecap Alif ke tukang loak. “Sekarang masih ada 175-an botol,” kata Alif. Sebagai orang yang jago masak, dia tak sekadar mengumpulkan dan mencicip rasa kecap-kecap aneka merek itu, tapi juga memakainya untuk memasak.

Saking akrabnya dengan banyak kecap, lidah Alif dan Lutfi sudah sangat kenal dengan rasa kecap-kecap Nusantara. Mereka mengaku, tanpa melihat mereknya, hanya dari rasanya saja, bisa menebak dari daerah mana kecap itu berasal. “Kalau tahu mereknya agak sulit. Tapi saya bisa menebak apakah kecap itu dari Jawa Tengah, Jawa Timur-an, kecap dari luar Jawa atau kecap daerah pesisir,” kata Lutfi. Bahkan Alif mengaku bisa menebak merek suatu kecap hanya dengan mencicip rasanya. “Insyaallah bisa menebaknya.”


Reporter/Penulis: Pasti Liberti, Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE