INTERMESO

Antara Fisika, Mertua, dan Amerika

“Yang lebih penting dari gaji adalah kesempatan mengerjakan penelitian yang memberikan impak di bidang sains dan teknologi.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 26 Juni 2018

Jika ada yang bertanya, apa rencana Rezy Pradipta dalam lima atau sepuluh tahun mendatang, jawaban dia kurang-lebih seperti ini: “Dalam lima atau sepuluh tahun ke depan, proyeksi saya masih akan melanjutkan karier sebagai peneliti akademik di Amerika Serikat, sembari memperluas jaringan kolaborasi riset dan diskursus publik dengan peneliti-peneliti di Indonesia.”

Rezy sudah lebih dari 15 tahun bermukim di Amerika Serikat. Setelah lulus dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, dia terbang ke Amerika untuk berkuliah di kampus teknik paling kondang di dunia, Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sepuluh tahun kemudian, pada 2012, dia mendapatkan gelar doktor bidang sains nuklir dari kampus yang sama. Sekarang sudah hampir enam tahun dia menjadi peneliti di Boston College. 

Fokus penelitiannya di Boston College adalah sains antariksa dan lapisan atas atmosfer. Inti dari penelitiannya, menurut Rezy, bagaimana lingkungan antariksa di sekitar bumi berpengaruh terhadap perambatan gelombang sinyal komunikasi radio, kualitas navigasi GPS untuk penerbangan dan maritim, serta keselamatan satelit maupun astronot yang mengorbit bumi.

Amerika Serikat, bagi peneliti seperti Rezy dan ribuan peneliti lain dari pelbagai negara, merupakan ‘rumah’ yang lumayan ideal untuk berkarier. Suka atau tak suka, Amerika masih merupakan kiblat ilmu pengetahuan dan sains di dunia. Iklim penelitian di sana, menurut Rezy, juga sangat atraktif bagi peneliti. Infrastruktur pengembangan ilmu pengetahuan sudah terbangun sangat bagus. Demikian pula hubungan lembaga peneliti dengan industri sangat dekat, sehingga karya peneliti tak semata tersimpan di laboratorium.

Halim Kusumaatmaja, profesor di Durham University bersama mahasiswanya
Foto: dok. pribadi

Di Amerika, juga negara-negara maju lain, semua hal hampir ada. “Kolega-kolega dengan tingkat kepakaran tinggi, kelonggaran bagi budaya berinisiatif, akses terhadap jurnal maupun buku referensi, dan tersedianya fasilitas pendukung, seperti laboratorium,” kata Rezy. Dan tentu saja, meski bukan yang paling penting, penghargaan terhadap peneliti. Gaji untuk peneliti pemula yang baru lulus program doktoral di Amerika berkisar US$ 40-70 ribu atau berkisar Rp 560-980 juta per tahun, tergantung bidang dan lembaga.

Tak mengherankan jika Amerika dan negara-negara maju, seperti Inggris, ‘menyedot’ banyak orang pintar dari seluruh dunia. Rezy mendapat beasiswa di Jurusan Fisika MIT setelah menjadi juara di Olimpiade Fisika Asia (APhO) dan Olimpiade Fisika Internasional (IPhO). Tak sekadar menyabet medali emas, di APhO 2001, Taiwan, Rezy juga memenangi penghargaan untuk penyelesaian soal fisika teori yang paling kreatif. Dia berhasil membuktikan teori J Kepler beberapa ratus tahun silam. Berselang dua bulan kemudian, Rezy meraih medali perak di IPhO, Turki.

Soal masa depan, senior Rezy di TOFI, Halim Kusumaatmaja, punya jawaban kurang-lebih serupa. Halim, yang sudah hampir 18 tahun tinggal di Inggris, belum punya rencana pindah. Lulus dari Universitas Leicester sebagai lulusan terbaik di jurusan fisika, Halim mendapat beasiswa dari kampus kondang, Universitas Oxford. Pada 2008, dia lulus dari Oxford dengan gelar doktor. Selama lima tahun, dia menjadi postdoctoral research associate di Max Planck Institute of Colloids and Interfaces dan Universitas Cambridge. 

Kini, selain menjadi associate professor di Universitas Durham, Halim menjabat co-director di Durham Centre for Soft Matter, dan punya beberapa tanggung jawab di luar Durham, seperti co-leader untuk UK Fluids Network Special Interest Group di bidang ‘droplet and flow interactions with bio-inspired and smart surfaces’.

Kalau sarana penelitian, apresiasi, dan dukungan penelitian di Indonesia sudah bagus, saya kira teman-teman akan bekerja sama, bahkan pulang ke Indonesia dengan sendirinya.”

Rizal Fajar Hariadi, profesor di Arizona State University

Rezy Pradipta, peneliti di Boston College
Foto: dok. pribadi via Flickr

Fokus penelitiannya, menurut Halim, ada dua, yakni soft matter dan biofisika. “Salah satunya, kami mencoba mendesain permukaan supaya susah basah, mereduksi gaya gesek, self-clean, antimikroba, dan sebagainya,” dia menuturkan. Ada banyak aplikasi dari penelitian Halim, misalnya agar kemasan produk tak gampang kotor dan pakaian tak mudah basah serta cepat kering. “Di bidang ini banyak sekali inspirasi dari alam, misalnya dari daun lotus, sayap kupu-kupu, sampai tumbuhan pemakan serangga.”

Kesempatan mengerjakan penelitian-penelitian seperti itulah yang menjadi salah satu alasan yang membuat para alumni TOFI, seperti Rezy, Halim, dan Rizal F Hariadi, betah di perantauan. “Yang lebih penting dari gaji adalah kesempatan mengerjakan penelitian yang memberikan impak di bidang sains dan teknologi…. Kemungkinan untuk berkontribusi di cutting edge science memberikan kepuasan sendiri dalam mengerjakan penelitian,” kata Rizal, kini profesor di Arizona State University, Amerika Serikat, sekaligus peneliti di Laboratorium Biomolecular Mechanics and Nanotechnology.

Alumnus SMA Al-Azhar, Jakarta, itu mendapatkan gelar doktor fisika terapan dari California Institute of Technology (Caltech). Ada tiga bidang yang jadi fokus penelitian Rizal: diagnostik, asal muasal kehidupan, dan biokimia protein. “Laboratorium saya mengembangkan tes kesehatan tanpa sakit, hanya dengan menggunakan satu tetes darah,” kata Rizal. Dari satu tetes darah itu banyak informasi yang bisa digali. Dari tes yang digarap Rizal dan teman-temannya, dokter bisa memperkirakan apakah seseorang bakal menderita sakit serius dalam jangka waktu enam bulan ke depan.

Bukannya mereka tak kangen pada Tanah Air. “Mertua saya sering menanyakan, kapan saya akan menetap di Indonesia,” kata Rizal. Tapi peluang mengerjakan penelitian-penelitian seperti yang mereka garap sekarang di Indonesia memang masih serbaterbatas. Infrastruktur penelitian di negeri ini masih tertinggal jauh dari negara-negara maju. “Kalau sarana penelitian, apresiasi, dan dukungan penelitian di Indonesia sudah bagus, saya kira teman-teman akan bekerja sama, bahkan pulang ke Indonesia dengan sendirinya.”

Rizal Fajar Hariadi, profesor di Arizona State University
Foto: dok. pribadi

Ada lumayan banyak, meski tak sebanyak China dan India, orang-orang pintar dari negeri ini yang kuliah di negeri orang dan akhirnya mengejar karier di luar negeri. Di Amerika Serikat saja, menurut Deden Rukmana, profesor di Savannah State University dan Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), ada 89 warga Indonesia bergelar doktor yang menjadi profesor di pelbagai kampus di negeri itu.

“Kita tidak bisa menghalangi anak-anak unggul Indonesia mendapatkan kesempatan bersekolah di luar negeri. Ini kesempatan baik buat mereka dan kita pun mestinya melihat mereka sebagai komponen bangsa yang suatu saat akan berbuat banyak untuk Indonesia,” kata Deden beberapa pekan lalu. Bersekolah dan bekerja di luar negeri tak serta-merta membuat mereka lupa pada negerinya. “Pengamatan saya selama ini menunjukkan bahwa diaspora ilmuwan Indonesia akan dengan senang hati berbuat untuk kemajuan Tanah Air sejauh ada media bagi mereka untuk berkiprah.”

China punya program Thousand Talents sejak Desember 2008 untuk membawa pulang ilmuwan-ilmuwan top asal China di perantauan. Selain gaji lumayan besar dan dana riset plus fasilitas penelitian yang setara dengan negara-negara maju, banyak ‘gula-gula’ yang ditawarkan agar para ilmuwan dan pengusaha yang sudah hidup nyaman di negeri orang itu mau pulang ke tanah kelahiran, misalnya kemudahan mendapatkan pekerjaan bagi pasangan mereka dan subsidi sekolah bagi keluarga.

“Mereka yang datang bergabung tak melulu tertarik pada gaji yang besar. Yang paling penting adalah fasilitas kami…. Kami punya fasilitas riset setara, bahkan mungkin lebih baik ketimbang yang ada di Amerika. Itu semua berkat investasi pemerintah selama beberapa tahun terakhir,” Tao Cheng, Direktur State Key Laboratory of Experimental Hematology (SKLEH) di Kota Tianjin, menuturkan kepada Science Mag. Sebelum bergabung di SKLEH, Cheng merupakan peneliti di Sekolah Kedokteran Harvard.

Pemerintah China paham betul, supaya bisa berkompetisi dengan negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa dalam segala hal, supaya mesin ekonominya terus melaju kencang, penguasaan sains dan teknologi merupakan satu hal yang tak bisa ditawar. Menurut data dari Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan (UNESCO), besar dana riset China kini hanya kalah dari Amerika Serikat. Total dana riset China sebesar US$ 370 miliar atau Rp 5.154 triliun dalam setahun, nomor dua setelah Amerika Serikat sebesar US$ 479 miliar atau Rp 6.673 triliun setahun.

Rizal Fajar Hariadi, profesor di Arizona State University, bersama timnya
Foto: dok. pribadi

Rezy, Rizal, Halim, dan teman-temannya punya kritik, juga usul, untuk pengembangan pendidikan sains dan penelitian di negeri ini. Di Amerika, menurut Rezy, peneliti seperti dia tak punya kewajiban mengajar. Fokusnya adalah mengerjakan penelitian sebaik-baiknya. “Tapi saya boleh mengajar kalau saya mau,” kata Rezy. Menurut Rizal, penghargaan terhadap ilmu-ilmu dasar, seperti fisika, biologi, kimia dan matematika, di negeri ini juga masih kurang. “Padahal basic science merupakan mesin pendorong kemajuan teknologi.”

Di hulunya sendiri, pendidikan sains di Indonesia, menurut Rezy, terlalu sempit dan kaku, terlalu terpaku menghafal rumus. Dia mengibaratkan, “Kalau dalam metafora novel Harry Potter, pola pendidikan di Asia itu terbukti sukses menghasilkan banyak ‘Hermione’, yang hafal banyak mantra, tapi di Amerika Serikat ternyata lebih sukses menghasilkan banyak ‘Half-Blood Prince’, yang pandai membuat mantra-mantra baru.”

Riset sendiri, kata Halim, tak selalu makan banyak ongkos. Justru yang paling susah dalam riset adalah mencari pertanyaan atau topik riset yang menarik, baru, dan bisa dikerjakan. Yang juga tak kalah penting adalah ambisi. “Penting untuk tidak asal punya publikasi, tetapi apa kontribusi penting di bidang yang ditekuni,” ujar Halim.


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE