INTERMESO

Cerita Tim Indonesia
di Piala Dunia 1938

“Kami tak akan memberikan pertandingan itu sebagai hadiah bagi tim Hungaria.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 2 Juli 2018

Suara peluit menjerit melengking mengingatkan para calon penumpang di Stasiun Den Haag bahwa kereta api siap diberangkatkan. Jarum jam hampir menunjukkan pukul 11.00. Dengan suara hiruk pikuk, serombongan penumpang bergegas naik ke kereta. Wajah mereka ceria dan penuh tawa.

Di antara para penumpang kereta di Stasiun Den Haag, Belanda, pada siang hari itu, Rabu 1 Juni 1938, penampilan mereka sungguh menarik banyak perhatian. Ada beberapa orang tak seberapa tinggi badannya dan berkulit cokelat gelap, sebagian lagi berkulit lebih terang dan bermata agak sipit, tapi ada pula yang berkulit putih dengan postur lebih tinggi. 

Rombongan penumpang dengan tujuan Prancis itu memang datang dari negeri yang sangat jauh, Nederlands-Oost-Indië atau Hindia Belanda, atau kini Indonesia. Mereka, 17 pemain sepakbola tim nasional Hindia Belanda, akan berlaga melawan tim Hungaria di Stadion Velodrome Municipal, Kota Reims, sekitar 140 kilometer arah timur laut Kota Paris, Prancis, empat hari kemudian.  

Bagi Achmad Nawir, sang kapten, Sutan Anwar, Isaak Pattiwael, MJ Hans Taihuttu, Tan Mo Heng, dan kawan-kawan, inilah perjalanan pertama mereka ke Eropa, juga laga pertama sekaligus terakhir bagi Hindia Belanda dan Indonesia di Piala Dunia. Di depan The Magyars—julukan bagi tim Hungaria—Nawir dan teman-teman diramal bakal kalah telak. Dengan tulang punggung para pemain klub Ferencvaros, Hungaria memang menang segalanya. 

Tapi menurut F Van Bommel, Direktur Teknik Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU), Persatuan Sepakbola Hindia Belanda, Nawir dan kawan-kawan tak sudi menyerah kalah sebelum bertanding. “Kami tak akan memberikan pertandingan itu sebagai hadiah bagi tim Hungaria,” kata Van Bommel, dikutip koran Belanda, Alkmaarsche Courant, edisi 2 Juni 1938.

Mereka jadi teman selama perjalanan dan solidaritas di antara mereka makin kuat.”

F Van Bommel, Direktur Teknik Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU)

Tim Hindia Belanda sebelum berangkat ke Prancis
Foto: dok. Soerabaijasch Handelsblad

Setelah Mesir menjadi wakil pertama dari Benua Afrika di Piala Dunia 1934 di Italia, Federasi Internasional Asosiasi Sepakbola (FIFA) berharap ada wakil dari benua terbesar, Asia, pada Piala Dunia 1938 yang diselenggarakan di Prancis. FIFA mengundang Jepang dan Hindia Belanda untuk mengikuti babak kualifikasi. Hindia Belanda, yang diwakili oleh NIVB (Nederlandsch-Indische Voetbal Bond), resmi menjadi anggota FIFA pada 24 Mei 1924, lima tahun setelah berdiri.

Setelah konflik berkepanjangan di tubuh organisasi, NIVB digantikan oleh NIVU (Nederlandsch-Indische Voetbal Unie) pada pertengahan 1935. NIVU pulalah yang menggantikan NIVB, bukan PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) yang berdiri pada 1930. Silang selisih NIVU dengan PSSI reda sementara setelah kesepakatan antara Johannes CJ Mastenbroek dan Soeratin Sosrosoegondo, yang mewakili PSSI, di Yogyakarta pada Januari 1937. 

Untuk menyaring tim Piala Dunia, NIVU menggelar seleksi di sejumlah kota. Terbatasnya waktu seleksi serta persoalan biaya membuat NIVU hanya mengadakan seleksi di Pulau Jawa. PSSI sempat memprotes lantaran tak dilibatkan dalam seleksi, tapi Mastenbroek, sang pelatih tim Hindia Belanda, bersama teman-temannya, jalan terus. “Harapan orang-orang sangat tinggi,” Java Bode menulis soal seleksi di Kota Surabaya pada pertengahan Februari, empat bulan sebelum Piala Dunia 1938. Tapi orang-orang kecewa melihat buruknya stamina para pemain. 

Sepekan setelah seleksi di Surabaya, Komisi Teknik NIVU, yang beranggotakan Mastenbroek, RE Weiss, J Koenekoop, dan AP van Lingen, menetapkan tim yang akan mewakili Hindia Belanda ke Piala Dunia di Prancis. Salah satu koran terbesar di Hindia Belanda kala itu, Bataviaasch Nieuwsblad, menulis Komisi Teknik hanya memilih sebelas pemain inti dan lima pemain cadangan. Belakangan, komposisi tim itu mengalami sedikit perubahan. Jumlahnya juga berubah menjadi 17 pemain dengan enam pemain cadangan. 

Di bawah mistar, ada Tan Mo Heng, dari klub HCTNH Malang, di depannya, dua penghalang, Frans Hu Kom dari klub tentara, Sparta Bandung, dan Jack Kolle dari Excelsior Soerabaja. Nawir, calon dokter dari HBS Soerabaja siap menusuk pertahanan lawan dari sayap kiri bersama-sama Sutan Anwar, di sisi seberang. Barisan depan diisi Isaak Pattiwael, Hans Taihuttu, Suvarte Soedarmadji, Tan Hong Djien, dan Henk Sommers.

* * *

Hindia Belanda melawan Hungaria di Stadion Reims saat Piala Dunia 1938.
Foto: dok. Nationaal Archief

Bagaimana ceritanya tim nasional sepakbola Hindia Belanda bisa menjadi tim negara Asia pertama yang bermain di putaran final Piala Dunia? Bisa dibilang, Hindia Belanda tak perlu berkeringat hingga menjadi satu di antara 15 tim yang berlaga di Piala Dunia 1938.

Semula FIFA menjadwalkan Hindia Belanda menjalani pertandingan kualifikasi melawan Jepang untuk memperebutkan satu tiket Piala Dunia dari Asia. Tapi Jepang memilih mundur lantaran keberatan Piala Dunia digelar di negara Eropa. Bukannya timnas Hindia Belanda langsung melenggang ke Prancis setelah Jepang mundur, FIFA malah menggelar rapat. Hasilnya membuat petinggi NIVU berang. 

Menurut FIFA, timnas Hindia Belanda mesti menjalani pertandingan kualifikasi melawan Amerika Serikat. Rencananya, pertandingan kualifikasi ini akan digelar di Rotterdam, Belanda, pada 26 Mei 1938. JD Hoen, bos NIVU, menilai keputusan FIFA tak adil bagi Hindia Belanda. “Hindia Belanda mestinya langsung lolos ke Prancis setelah Jepang mundur,” kata Hoen, dikutip De Telegraaf edisi 17 November 1937. Untung sekali lagi bagi Hindia Belanda, tim nasional Amerika menolak bertanding melawan mereka di Eropa. Walhasil, Hindia Belanda lolos ke Piala Dunia 1938 tanpa melewati satu pertandingan pun. Hindia Belanda menjadi negara Asia pertama yang berlaga di putaran final Piala Dunia. Pertama bagi Hindia Belanda dan Indonesia, sekaligus yang terakhir.

Sebelum keberangkatan, tim berkeliling Pulau Jawa, mulai Solo, Malang, hingga Batavia, untuk menjajal tim-tim terkuat sekaligus sebagai ajang mengasah kemampuan. Saat berada di Surabaya sebelum menghadapi Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB) pada 18 April 1938,  diperkenalkan juga maskot tim berupa boneka Billiken berwarna oranye. Achmad Nawir, yang ditunjuk sebagai kapten tim, seperti dikutip koran Surabaya berbahasa Belanda De Indische Courant terbitan 19 April 1938, berharap maskot tersebut membawa keberuntungan di Prancis nanti.  

Setelah pertandingan uji coba terakhir melawan klub VBO di Batavia, dengan menumpang kapal MS Baloeran milik perusahaan Belanda, Rotterdamsche Lloyd, Nawir dan teman-temannya berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 27 April 1938. Mereka sempat mampir di Pelabuhan Belawan, Medan, dan menjalani pertandingan uji coba melawan klub klub OSVB. 

Kepada koran Belanda, Utrechts Volksblad, Van Bommel bercerita bagaimana mereka melewatkan beberapa pekan di atas kapal Baloeran. Berhari-hari bersama di kapal, menurut Van Bommel, makin merekatkan hubungan 17 pemain yang berasal dari pelbagai daerah, juga dari bermacam-macam keturunan. Dari 17 pemain, delapan di antaranya merupakan keturunan Belanda, tiga orang keturunan Tionghoa, tiga pemain keturunan Maluku, dua dari Sumatera, dan seorang Jawa. “Mereka jadi teman selama perjalanan dan solidaritas di antara mereka makin kuat,” kata Van Bommel.

Tim Hindia Belanda di Amsterdam pada 27 Juni 1938.
Foto: dok. Nationaal Archief

Perjalanan laut itu berakhir di Pelabuhan Marseille, Prancis. Rupanya tim ini tak langsung ke Kota Reims, lokasi pertandingan pertama melawan Hungaria. Rombongan dari Hindia Belanda itu justru menuju Kota Den Haag, Belanda, dengan menggunakan kereta api Parijschen pada 18 Mei 1938. Di Stasiun Den Haag, Karl Lotsy, Direktur Koninklijke Nederlandse Voetbal Bond (KNVB), organisasi sepakbola Belanda, bersama sejumlah pejabat lain, juga puluhan orang yang tertarik dengan kedatangan tim Hindia Belanda, sudah siap menyambut.

KNVB telah menyiapkan Hotel Duinoord di Wassenaar, daerah pinggiran Den Haag, sebagai tempat tinggal rombongan selama di Belanda. Selain ditempa oleh Bob Glendenning, pelatih KNVB, tim nasional Hindia Belanda juga sempat dua kali bertanding melawan klub Belanda, HBS Den Haag dan VV Haarlem. Hasilnya lumayan juga. Sekali seri, 2-2, dan sekali menang, 5-3.

Hingga sampailah saat itu. Sejak pukul tiga siang, orang-orang sudah memadati Place Drouet d’Erlon di jantung Kota Reims. Di kafe-kafe, seperti ditulis Algemeen Handelsblad, orang-orang berisik membicarakan tim Hindia Belanda, negara jajahan di belahan bumi lain. Dua jam kemudian, tepat pukul 17.00 waktu setempat, wasit Roger Conrie meniup peluit tanda dimulainya pertandingan antara Hindia Belanda melawan The Magyars, Hungaria.

Bagi Hungaria, inilah kedua kalinya mereka berlaga di putaran final Piala Dunia. Beberapa pemain kunci, seperti Gyorgy Sarosi, Vilmos Kohut, dan Geza Toldi, merupakan ‘veteran’ Piala Dunia 1934 di Italia. Tabloid mingguan dari Prancis, Le Miroir Des Sports, edisi 8 Juni 1938 menggambarkan pertandingan dua tim tersebut laksana David melawan Goliat. Dalam hal postur tubuh, tim Hindia Belanda kalah segala-galanya. Baik tinggi maupun berat badan.

 
Foto : De Sumatra Post

Kalah dari segi fisik tak berarti tim Hindia Belanda, yang dilatih Johannes Christoffel Jan Mastenbroek, kalah teknik. "Dalam keahlian individu, pemain-pemain Hindia Belanda tampil luar biasa. Mereka punya kemampuan menggiring bola yang baik, bahkan berani bertarung di udara," tulis Le Miroir. Dengan gagah berani, Nawir, Sutan Anwar, Isaak Pattiwael, Tan Hong Djien, dan kawan-kawan memberikan perlawanan.

Tapi mereka memang kalah kelas. Gol Kohut pada menit ke-13, disusul gol Toldi dua menit kemudian, dan gol Sarosi tak berselang lama, menamatkan perlawanan mereka. Wartawan Leidsche Courant menulis, setelah gawang Tan Mo Heng dijebol Sarosi, semangat bertarung tim Hindia Belanda tampak melorot. Hungaria mengontrol penuh permainan.

Sebenarnya penyerang Hindia Belanda sempat membuat gol balasan melalui Isaak. Cerita itu dituturkan John Izaac Minotty Pattiwael, cucu Isaak. "Tapi gol opa saya dianulir," kaya John kepada detikX. Saat wasit Conrie kembali meniup peluit panjang tanda 90 menit pertandingan usai, Hungaria unggul 6-0 atas Hindia Belanda.

‘Eervolle 6-0 Nederlaag van Indie’, Kekalahan Terhormat untuk Hindia Belanda, harian asal Medan berbahasa Belanda, De Sumatra Post, edisi Selasa 7 Juni 1938, memberikan judul untuk tulisan panjangnya mengenai pertandingan tim Hindia Belanda melawan The Magyars.  


Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE