INTERMESO

“Aku Bisa Mencium Bau Napas Setan”

Konon, makin banyak orang kerasukan setan. Repotnya, sangat sedikit yang bersedia menjadi seorang eksorsis.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 9 Juli 2018

Acara pada pertengahan April lalu itu bukanlah acara yang biasa digelar oleh Vatikan. Ada lebih dari 200 pastor pelbagai negara berduyun-duyun datang ke Roma, Italia. Selama lima hari, bertempat di Pontifical Athenaeum Regina Apostolorum, mereka mengikuti ‘kursus’ bagaimana mengusir setan yang digelar oleh Vatikan. Ya, benar, setan alias iblis.

Konon, entah bagaimana, makin banyak orang ‘kerasukan’ setan. “Perang melawan iblis dimulai begitu dunia ini tercipta dan akan terus berlangsung hingga kiamat,” kata Pastor Cesare Truqui, salah satu pemberi materi, kepada Vatican News. “Tapi hari ini kita berada pada situasi yang kritis dalam sejarah. Banyak pemeluk kristiani tak lagi percaya terhadap keberadaan setan, sangat sedikit jumlah eksorsis, dan pastor-pastor muda enggan belajar praktik pembebasan jiwa dari setan.”

Di mata organisasi para pastor pengusir setan, Asosiasi Eksorsis Internasional, yang disokong oleh Vatikan dan punya anggota hampir 250 pendeta dari Gereja Katolik, Anglikan, dan Kristen Ortodoks, kondisinya sudah agak darurat. Pastor Benigno Palilla, eksorsis dari Sisilia, Italia, mengatakan kasus dugaan kerasukan setan di Negeri Spageti melonjak tiga kali lipat menjadi 500 ribu kejadian dalam setahun. Dalam dua setengah tahun terakhir saja, dia melakukan sekitar 50 kali ritual pengusiran setan.

Tak cuma di layar bioskop makin banyak film bercerita tentang setan dan eksorsisme, seperti The Conjuring dan Annabelle, di dunia nyata, setan sepertinya tak pernah kendur merayu manusia agar makin jauh dari jalan Tuhan. “Permintaan untuk eksorsisme, ritual pengusiran setan, naik tinggi sekali,” kata Pat Collins, pastor dari Irlandia, dikutip Guardian. Menurut Pastor Benigno, kursus ‘pembebasan dari setan’ seperti itu sangat penting. “Mereka yang kerasukan setan sangat menderita, sementara para eksorsis yang belajar sendiri banyak melakukan kesalahan.”

Sebelum aku mengerjakan eksorsisme, aku selalu meminta orang-orang yang datang ke sini untuk menemui psikolog atau psikiater.”

Pastor Vincenzo Taraborelli

Eksorsisme di Italia pada 1950-an
Foto: Keystone Features/Getty Image

Tak semua kasus ketika orang merasa dirasuki setan benar-benar kesurupan dan perlu ritual pembebasan. “Masalahnya, saat mereka datang dan mengeluh ke gereja, pihak gereja tak tahu apa yang mesti mereka lakukan terhadap orang-orang itu,” kata Pastor Collins. Dalam beberapa kasus, gejala ‘kerasukan setan’ ini memang mirip sekali dengan gangguan kesehatan, seperti epilepsi, kadang pula menyerupai masalah kejiwaan.

Zaman berubah, praktik eksorsisme ini berubah pula. Kardinal Ernest Simoni dari Albania menuturkan pengalaman bagaimana dia melakukan ritual pembebasan dari setan ini lewat telepon seluler. “Mereka meneleponku dan kami berbicara…. Ya, seperti itulah kami melakukannya,” kata Kardinal Simoni. Dia, menurut Kardinal Simoni, hanyalah perantara. “Dalam setiap eksorsisme yang aku kerjakan, Tuhan selalu membantuku…. Kekuatan Yesus-lah yang membebaskan mereka.”

Ritual pembebasan dari setan ini ada tata cara dan panduannya. Setelah hampir empat abad, akhirnya Vatikan mengubah panduan untuk ritual pengusiran iblis. Paus Yohanes Paulus II menyetujui perubahan itu pada 1998. Panduan eksorsisme bertajuk De Exorcismis et supplicationibus quibusdam bagi pastor-pastor di Gereja Katolik setebal 90 halaman itu ditulis dalam bahasa Latin. Inilah pertama kalinya Vatikan mengubah panduan eksorsisme setelah tahun 1614.

Menurut Kardinal Jorge Arturo Medina Estevez, pastor yang mengawasi revisi panduan eksorsisme itu, tak ada perubahan substansial pada tata cara ritual pengusiran setan. “Setan bergentayangan bak singa mengaum, mencari mangsa jiwa-jiwa untuk ditaklukkan,” pastor-pastor Vatikan menulis dalam De Exorcismis.

Salah satu perubahan penting dalam De Exorcismis adalah peringatan bagi para eksorsis, para pastor yang mendapat otoritas dari gereja untuk melakukan ritual pembebasan, agar hati-hati membedakan antara kesurupan setan dan penyakit kejiwaan. Sebagian tanda orang yang kerasukan setan, menurut De Exorcismis, antara lain ”berbicara dalam bahasa yang tak diketahui atau menunjukkan kekuatan fisik yang tak seperti lazimnya”.

* * *

Pendeta Trevor Dearing melakukan eksorsisme di Gereja Paul's Church, Hainault, Inggris, pada April 1975
Foto: Getty Images

Pastor Vincenzo Taraborelli sudah sepuh, usianya sudah 80 tahun. Dia bukan seorang dokter, bukan pula seorang tabib, tapi hampir setiap hari ada puluhan orang antre di gerejanya di Roma untuk mendapatkan ‘penyembuhan’. Menurut Romo Vincenzo, sudah hampir 30 tahun dia menjadi seorang eksorsis, penyembuh bagi orang-orang yang kerasukan setan. Dalam ruangan tertutup, tanpa jendela, dia akan mengusir setan yang merasuki ‘pasien’-nya dengan doa.

“Sebelum aku mengerjakan eksorsisme, aku selalu meminta orang-orang yang datang ke sini untuk menemui psikolog atau psikiater. Dan aku selalu meminta mereka membawa prognosis dari psikolog,” ujar Romo Vincenzo kepada BBC beberapa waktu lalu. Menurut Pastor Vincenzo, dia sering menjalin komunikasi dengan para psikiater yang mengirim pasien ke gerejanya.

Romo Vincenzo tak sengaja menjadi seorang pengusir iblis. Dia menjadi eksorsis gara-gara seorang pastor meminta bantuannya. “Saat itu aku nggak tahu seperti apa pekerjaan seorang eksorsis. Aku tak pernah mempelajarinya…. Ketika itu dia memberi tahu apa yang harus aku lakukan,” Romo Vincenzo menuturkan pengalamannya.

Dia sudah menemui rupa-rupa kasus. Salah satu kasus tak terlupakan adalah saat dia menangani seorang perempuan yang sudah menikah. Ada laki-laki tergila-gila pada perempuan itu. “Perempuan itu menolaknya. Laki-laki itu mengancam, ‘Kamu akan membayarnya,’” Romo Vincenzo bercerita. Ancaman laki-laki itu bukan omong kosong belaka. Ternyata dia seorang pemuja setan. “Dia mengirimkan guna-guna dua kali seminggu.”

Kardinal Ernest Simoni saat kursus eksorsisme di Roma, Italia, pada April 2018 lalu
Foto: Tony Gentile/REUTERS

Perempuan itu didampingi keluarganya datang ke gereja Romo Vincenzo minta tolong. Setelah Pastor Vincenzo mulai membacakan doa, perempuan itu mulai kesurupan. “Dia mulai mengumpat,” kata Romo Vincenzo. Beberapa saat kemudian, terjadi hal mengerikan. “Saat aku bilang, ‘Dengan nama Yesus, aku perintahkan kamu pergi’, dia mulai memuntahkan logam-logam kecil, rambut, dan serpihan kayu.”

Kisah-kisah seram seperti itu bukan satu-dua kali dia alami. Bagi mereka yang tak meyakini dan tak pernah mengalami, cerita itu sulit dipercaya. Tapi Romo Vincenzo belum berniat pensiun. Sebab, sangat sedikit pastor yang bersedia menggantikan tugasnya sebagai seorang eksorsis, apalagi pastor-pastor muda. “Aku sudah bilang kepada Uskup bahwa aku tak menemukan orang yang bersedia menggantikanku. Sebagian besar ketakutan…. Pendeta pun juga bisa ketakutan. Ini jalan hidup yang sulit,” ujar Romo Vincenzo.

Lantaran tak banyak yang bersedia menjadi eksorsis, sebagian pastor hingga usia lanjut, bahkan hingga tutup usia, masih terus diminta melakukan eksorsisme. Di antara pastor itu adalah Malachi Martin dan Gabriele Amorth. Sepanjang hidupnya, Malachi—dia pernah ditahbiskan sebagai pastor—sudah ribuan kali melakukan eksorsisme. Konon, dialah yang menjadi sumber inspirasi film The Exorcist yang disutradarai William Friedkin pada 1973. Malachi menulis sejumlah buku soal pengusiran setan.

“Eksorsisme bisa penuh dengan kekerasan. Aku sudah pernah menyaksikan kekuatan setan melemparkan barang-barang dalam ruangan…. Aku bisa mencium bau napas setan dan mendengar suara mereka,” kata Malachi dikutip Irish Times. Malachi meninggal pada Juli 1999. Robert Marrow, salah seorang sahabatnya, menuturkan Malachi meninggal setelah jatuh tersungkur gara-gara didorong oleh setan yang bersemayam di tubuh seorang gadis kecil. Sebelumnya, Malachi mencoba mengusir setan itu.

Kursus eksorsisme di Roma, Italia, oleh Vatikan pada April 2018 lalu
Foto: Reuters

Setan-setan ini memang tak begitu saja ‘menyerah’ dan langsung pergi dengan sekali eksorsisme. Pastor Gabriele—meninggal pada 16 September 2016 pada usia 91 tahun—pernah 16 tahun berusaha mengusir iblis dari tubuh seorang laki-laki. Sepanjang hidupnya, Pastor Gabriele sudah ribuan kali melakukan eksorsisme. Dia merupakan eksorsis di Diosis Roma dan pendiri Asosiasi Eksorsis Internasional. Pada April lalu, film dokumenter tentang Pastor Gabriele, The Devil and Father Amorth, mulai tayang di bioskop-bioskop di Amerika Serikat. Film itu disutradarai oleh Williem Friedkin, sutradara film The Exorcist.

Di antara mereka yang pernah datang minta tolong kepada Pastor Gabriele adalah Rosa, bukan nama sebenarnya. Rosa sudah berkali-kali menemui Pastor Gabriele. Rosa, menurut Pastor Gabriele, ‘dikutuk’ oleh pacar saudara laki-lakinya. Perempuan itu dan saudara Rosa merupakan anggota sekte pemuja setan. 

“Exorcizo deo immundissimus spiritus,” Pastor Gabriele, seperti dikutip Vanity Fair, mulai membacakan doa di depan Rosa. Perlahan perempuan itu kehilangan kesadaran dan mulai mengamuk. “Recede in nomini patris!" Atas nama Tuhan, pergi lah kalian!" Setelah menjalani eksorsisme untuk kesekian kalinya, Rosa bercerita bahwa dia sudah pernah datang ke psikiater dan dokter. “Tak ada gunanya pergi ke dokter. Penyakitku disebabkan oleh setan.”


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE