INTERMESO


MEREKA DIRASUKI SETAN

“Sambil menahan sakit luar biasa setan itu teriak dengan kencang, 'I am Lucifer'. Sampai detik ini kalau mengucap nama setan itu saya selalu merinding.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 10 Juli 2018

Mimpi Ink pada malam itu sungguh aneh. Di tengah tidur, Ink, bukan nama sebenarnya, seperti mendapatkan sebuah penglihatan. Dalam mimpinya, gadis itu dihampiri oleh dua orang anak kecil keturunan Tionghoa. Mereka mengajak Ink bermain dalam sebuah ruangan yang sekelilingnya berwarna serba putih. Selama bercakap-cakap, dua anak itu selalu bicara dalam bahasa Inggris.

Dua anak laki-laki itu sempat menyebutkan nama, tapi Ink tak mengingatnya setelah terjaga. Ketika terbangun dari tidur, Ink dikagetkan dengan berita serangan bom yang terjadi di beberapa rumah ibadah di Surabaya. Alangkah kagetnya begitu melihat deretan foto korban. Terdapat dua foto bocah laki-laki yang wajahnya mirip dengan bocah dalam mimpinya. Seketika Ink bergidik ngeri, tak percaya dengan penglihatannya semalam.

Sejak melakukan eksorsisme keempat beberapa waktu lalu, Ink memang sering mengalami kejadian di luar nalar. Jauh hari sebelum mengetahui bahwa dia dirasuki setan, sebetulnya Ink juga sudah sering mengalami hal-hal aneh. Ia bisa melihat penampakan, bahkan hingga tak bisa membedakan manusia maupun arwah. Dalam beberapa kesempatan, Ink merasa seolah jiwanya bisa beranjak keluar dari tubuhnya.

“Dari dulu saya sudah beberapa kali mengalami keanehan semacam ini, tapi saya tidak pernah menggubrisnya,” ujar perempuan asal Solo yang kini bekerja di Jakarta ini. Ink seperti bisa meneropong masa depan. Sebelum membuat janji temu dengan detikX, dia mendapatkan firasat jika akan ada seseorang yang bakal bertanya-tanya mengenai pengalaman eksorsismenya. “Sebelum kita bertemu, aku nggak bisa tidur semalam. Dan aku tiba-tiba blank. Tiba-tiba aja lupa, kapan pertama kali dieksorsis. Untungnya aku tulis semua pengalamanku di buku catatan. Karena si setan nggak suka kalau kita memberikan kesaksian.”

Ink sadar ada hal tak wajar dalam badannya melalui peristiwa yang tidak ia sangka. Tepat di hari ulang tahunnya pada Februari lalu, Ink mendapat telepon dari ayahnya di Solo. Begitu sumringah, ia mengangkat panggilan itu. Dia menyangkan ayahnya akan memberikan ucapan selamat ulang tahun. Yang terjadi malah sebaliknya. Di ujung telepon, terdengar suara ayahnya bergetar. Rupanya sang ayah baru saja bertengkar hebat dengan Ibunya. Tapi ini bukan sekadar cekcok. Ibunya kalap, mengamuk sampai melemparkan piring makan ke arah suaminya. Ink hampir tak percaya. Sepanjang hidupnya selama 23 tahun, semarah apa pun sang ibu, dia tak pernah kesetanan seperti itu.

Seorang laki-laki di Italia sebelum menjalani eksorsisme pada 1970-an
Foto : Getty Images

Dengan sisa uang tabungan dan cuti yang terbatas, Ink buru-buru membeli tiket kereta untuk kembali ke kampung halamannya. Dalam perjalanan Ink berkomunikasi dengan Romo Lukas Bagus Taufik Dwiko Nanda Pratisto atau yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Dwiko. Dia adalah imam yang melayani Pastoral Mahasiswa Surakarta atau Parmas. Ink tak begitu ingat bagaimana ia memperoleh kontak Romo Dwiko. Ia lantas membuat janji untuk mempertemukan kedua orang tuanya dengan Romo Dwiko agar mereka tak jadi berpisah.

Ketika berhadapan dengan Romo Dwiko, orang tuanya malah membisu. Ink justru yang lebih banyak bercerita soal pertengkaran itu. Namun sepanjang pertemuan, pandangan Romo Dwiko justru lebih tertuju kepada Ink. “Romo bilang, 'Kayaknya kamu yang ada masalah dan orang tuamu kena imbas,'” Ink bercerita. Dia tak habis pikir, bagaimana dia bisa jadi sumber masalah pertengkaran orang tuanya. “Lah kok saya? Orang saya ke sini mau bantuin orang tua.”

Romo Dwiko tak asal bicara. Ia mengajak Ink yang masih kebingungan untuk membuktikannya. Romo Dwiko memberondong dengan berbagai macam pertanyaan mengenai masalah pribadinya. “Apa kamu pernah sakit hati? Apa kamu pernah merasa buntu dan mencoba untuk bunuh diri?” tanya Romo Dwiko. Setelah berkali-kali ditanya, Ink mengakui bahwa dia pernah mencoba bunuh diri. Entah mengapa jawaban itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

Anehnya juga, meski mata saya terpejam, tapi saya bisa lihat sekeliling, seolah saya bagian dari penonton pertunjukan”

Untuk mengetahui apakah dia benar-benar kerasukan setan, Romo Dwiko mengajak Ink membaca doa pengusiran. Ink duduk di hadapan Romo Dwiko yang telah mengenakan Stola. Dia diminta untuk berdoa Bapa Kami, Salam Maria dan Aku Percaya. Rangkaian doa itu terus menerus diulang, sampai di satu titik, lidahnya terasa kebas. Ia sama sekali tak bisa melafalkan doa umat Katholik itu. Tubuhnya makin sulit dikontrol. Kedua tangannya mencengkeram kuat. Mahasiswa di Parmas membantu memegang tubuh Ink yang mulai memberontak.

“Tahu-tahu saya tertawa dan teriak. Suaranya melengking. Tapi itu bukan suara saya. Saya bisa dengar dia memaki romo dengan bahasa kasar. Anehnya juga, meski mata saya terpejam, tapi saya bisa lihat sekeliling, seolah saya bagian dari penonton pertunjukan,” Ink menuturkan pengalamannya. Romo Dwiko menyudahi doanya. Setelah memastikan bahwa INK memang dirasuki setan, Romo Dwiko segera mempersiapkan diri untuk ritual eksorsisme. Ink bingung dan takut bukan main. Dia tak paham apa itu eksorsisme.

Tujuan eksorsisme malam itu adalah untuk mengetahui identitas setan yang merasuki gadis itu. Orang-orang yang membantu Romo Dwiko dalam eksorsisme bersiap. Mereka berkumpul di Kapel St. Maria Magdalena, kompak mengenakan seragam berwarna hitam. Sebelumnya mereka telah meminta absolusi dalam sakramen pengakuan dosa. Orang yang terlibat dalam ritual eksorsisme memang wajib mengaku dosa dihadapan Pastor. Sebab beberapa kali pernah terjadi, setan membongkar aib mahasiswa yang membantu Romo Dwiko. Jika dosa telah diakui dihadapan Tuhan dalam sakramen tobat, setan tidak memiliki kuasa untuk mengungkitnya kembali.

Setan itu menjawab 'Saya tidak tahan. Doa rasanya lebih panas ketimbang api di neraka”

Romo Dwiko dari Solo

Pendeta Trevor Dearing melakukan eksorsisme di Gereja Paul's Church, Hainault, Inggris, pada April 1975. Foto : Getty Images

Pastor Emmanuel Milingo melakukan eksorsisme di sebuah desa di pinggiran kota Roma, Italia. Foto : Getty Images

Ritual eksorsisme dimulai dengan doa dan nyanyian. Romo Dwiko mulai membacakan doa eksorsisme. Ink juga ikut berdoa. Perlahan Ink mulai hilang kesadaran. “Saya dengar romo bertanya terus menerus, 'Siapa kamu?', tapi suara itu selalu menjawab, 'Siapa lagi? Ini saya Ink'. Tapi romo tahu dia berbohong,” ujar INK. Nyanyian dan doa terus didengungkan, membuat si setan terdesak. “Sambil menahan sakit luar biasa setan itu teriak dengan kencang, 'I am Lucifer'. Sampai detik ini kalau mengucap nama setan itu saya selalu merinding.” Lucifer merupakan salah satu setan yang juga pernah merasuki Anneliese Michel, perempuan asal Jerman. Kisah Anneliese ini diangkat dalam film berjudul The Exorcism of Emily Rose.

Pada eksorsisme yang berikutnya, sikap Lucifer berubah 360 derajat. Ia menangis sambil memohon di hadapan Romo Dwiko. “Si Lucifer memohon dan mengancam romo, 'Stop jangan ganggu atau kamu akan tahu akibatnya. Ink tolong kembalilah ikuti aku'. Romo sampai bilang baru tahu setan bisa menangis,” kata Ink.

Beberapa waktu lalu, setelah eksorsisme yang terakhir Ink lakukan, ia mendapatkan sebuah penampakan ilahi. Saat itu ia diminta Romo Dwiko untuk menyentuh sakramen maha kudus yang dipercaya umat Katholik sebagai perwujudan tubuh Kristus. “Saya melihat cahaya memancar terang sekali sampai nggak bisa dipandang. Di situ saya bisa melihat Bunda Maria, Santo Mikhael dan Santa Faustina. Yang saya ingat Bunda Maria dengan jubah putih tersenyum cantik banget. Aku awalnya juga nggak tahu bahwa itu Bunda Maria,” ujar Ink. Sejak melihat penampakan itu, dia makin percaya diri melawan setan di tubuhnya.

Romo Dwiko
Foto : Melisa Mailoa/Detik.com

Entah bagaimana, hari itu tiba-tiba saja Romo Dwiko mengalami sakit gigi luar biasa hebat. Sembari menahan sakit yang menjalar hingga ke ubun kepala, perasaannya tak karuan. Dia seperti mendapat pertanda akan terjadi suatu hal yang buruk. Benar saja. Keesokan harinya, ia didatangi seorang mahasiswi. Sebetulnya tak ada yang aneh dengan kedatangan mahasiswi itu di siang bolong. Sebab Parmas, tempat Romo Dwiko berkarya, memang sering menjadi tempat kumpul mahasiswa-mahasiswa Katholik.

Perempuan itu mulanya mengeluh karena setiap organisasi kemahasiswaan yang diikuti selalu berakhir dengan pertikaian. Melihat gelagat kurang baik, Romo Dwiko melakukan doa pengusiran. Tiba-tiba perempuan itu berteriak dan mulai mengamuk. Logo, jemaat Romo Dwiko, yang tengah melakukan pelayanan latihan kesadaran dan luka batin di Parmas bergidik ngeri menyaksikannya.

Eksorsisme di Italia pada 1950-an  Foto : Getty Images

“Dipikir Romo cuma kesurupan biasa. Ternyata setelah ditelisik anak ini punya kemampuan menjauhkan orang dari Tuhan. Jadi banyak agenda kemahasiswaan yang kacau karena dia. Selalu banyak pertikaian, tapi dia nggak masuk dalam pertikaian itu,” ujar Logo. Perempuan itu pingsan di tengah doa. Romo Dwiko segera mengambil stola, selendang yang digunakan imam Katholik dan sebuah salib. Ketika doa dilanjutkan, dipan tempat perempuan itu berbaring berguncang hebat, seperti sedang gempa. Anehnya, perempuan itu sama sekali tak merasa terusik.

Melihat Romo Dwiko dan orang-orang di Parmas yang membantu, si setan bicara mengejek. “Ah kamu aja nggak kompak, gimana mau usir aku,” ujar suara itu terkekeh.. Dari siang hingga matahari terbenam, bahkan hingga larut malam, setan di tubuh perempuan itu terus melawan. Saat memegangi tubuh perempuan ini, Logo mengalami sakit perut luar biasa. Romo Dwiko juga mulai kehabisan energi. Dia lantas meminta bantuan Romo Clay Pareira.

Saat itu Romo Clay sedang berada di Akademi Teknik Mesin Industri Surakarta atau ATMI. Awalnya Romo Clay tak menganggap serius omongan Romo Dwiko. “Ah paling cuma kesurupan biasa, kamu doakan saja,” cerita Romo Clay. Tapi begitu mendengar si perempuan ini bisa bicara dalam lima bahasa, termasuk bahasa kuno yang tidak mungkin dikuasainya, Romo Clay terperanjat. Berbekal stola, minyak dan air suci Romo Clay bergegas menuju Parmas. “Saya pernah lihat eksorsisme, tapi tidak pernah ambil bagian.Itu pengalaman pertama. Terus terang saya takut juga. Ini beneran apa nggak. Kalau beneran harus bagaimana.”

Suasana makin mencekam. Bukannya merasa terancam dengan kedatangan Romo Clay, iblis itu lagi-lagi mengejek mereka. “Kalian nggak punya kuasa untuk mengusir saya.” Rupanya si setan tahu kalau Romo Dwiko dan Romo Clay kala itu belum mengantungi izin eksorsisme dari Keuskupan Agung Semarang. Di lingkungan Gereja Katholik, seorang romo yang hendak melakukan eksorsisme memang harus mendapatkan izin dari keuskupan agung setempat.

Tak ingin berakhir sia-sia, Romo Dwiko pun menelepon Keuskupan Agung Semarang. Tapi ada saja halangannya. Meski memiliki pulsa, entah mengapa telepon dari Romo Dwiko sulit sekali tersambung. Akhirnya, berkat pengutusan diberikan untuk keduanya. Eksorsisme bisa diteruskan, Romo Dwiko terus mencecar pertanyaan untuk mengetahui setan itu. Baru belakangan diketahui, setan yang merasuki perempuan itu bernama Lucifer.


Foto : Melisa Mailoa/Detik.com

“Dia akan berusaha mati-matian untuk mempertahankan identitasnya. Karena setiap setan punya musuhnya, entah para kudus atau malaikat. Kalau Lucifer jelas musuhnya Santo Mikhael. Disebut nama Santo Mikhael terus menerus, setan sudah ketakutan,” kata Romo Dwiko. Pernah dalam satu sesi eksorsisme, Romo Dwiko iseng bertanya kepada si setan. “Kenapa kamu begitu ketakutan dan mau keluar dari tubuhnya?’ Setan itu menjawab 'Saya tidak tahan. Doa rasanya lebih panas ketimbang api di neraka.”

Pertarungan melelahkan melawan setan berakhir setelah lewat dinihari. Setelah pulih, mahasiswi ini baru menyadari jika kakek buyutnya pernah melakukan perjanjian dengan setan lewat dukun. Pantas saja selama ini hidupnya selalu gelisah. Ia juga sering mencium bau daging terbakar dan bau kotoran tanpa asal muasal yang jelas. Pernah pula suatu hari ia melihat penampakan malaikat bersayap hitam.

Berdasarkan pengalaman Romo Dwiko melakukan eksorisme, terdapat berbagai macam ciri orang kerasukan. Misalnya muncul bercak atau lebam tanpa sebab. Kadang pula muncul penyakit, dari nyeri punggung, diare, sakit kepala dan demam berlebihan tanpa diagnosa medis yang jelas. Gejala yang lain yaitu kerap bangun pada pukul 3 subuh. Maksud si setan untuk membalikkan peristiwa Kristus wafat di kayu salib pada pukul 3 sore.

....setelah dieksorsis, setan akan berupaya sebisa mungkin untuk masuk lagi. Mereka akan menunggu saat kita lengah

Orang yang kerasukan juga memiliki kecenderungan merasa bahwa hidup tak bermakna sehingga muncul niat bunuh diri. “Harus ada kerja sama antara dokter medis dan saya untuk memastikan bahwa ini memang kasus supranatural. Dan ini hebatnya setan. Dia selalu bersembunyi di balik logika. Orang kalau ditanya, ah nggak masalah kamu paling kecapekan kerja,” ujar Romo Dwiko.

Orang sering mengira bahwa dengan sekali melakukan ritual eksorsisme maka segala masalah setan itu akan selesai. Padahal faktanya, dalam beberapa kondisi, eksorsisme harus dilakukan hingga berulang kali, bahkan ada pula yang makan waktu bertahun-tahun untuk mengusir setan.

Ketika berkunjung ke Parmas beberapa waktu lalu, Romo Dwiko mempertemukan detikX dengan Fea, mahasiswi di salah satu universitas swasta di Solo. Dulu Fea, bukan nama sebenarnya, memiliki ‘kemampuan’ tak lazimnya mahasiswa. Ketika ujian sekolah, dia sering mendengarkan bisikan jawaban soal. Keberadaan setan di tubuh Fea diketahui tanpa sengaja. Orang tua Fea kala itu mengalami masalah rumah tangga. Tak tahan dengan keributan di rumah, Fea bersama sang ibu berinisiatif menemui Romo Dwiko untuk mencari jalan damai. Namun setan yang menaungi tubuh Fea seolah mengetahui rencana itu dan berusaha mengacaukannya.  

“Waktu mau ketemu romo, mama saya diare hebat. Akhirnya kami pesan taksi online, padahal dari rumah ke Parmas jaraknya dekat. Bisa-bisanya sopirnya nyasar sampai 30 menit,” Fea menuturkan. Belakangan, setelah mengetahui ada yang tidak beres dengan Fea, Romo Dwiko segera menjadwalkan waktu untuk eksorsisme. Ketika hari yang ditunggu tiba, Romo Dwiko malah mendadak sakit. 

Tak menyerah, Romo Dwiko justru semakin gencar ingin mengusir si setan. Terutama setelah Romo Dwiko mendapati keanehan pada foto keluarga Fea. Pada suatu kesempatan, orang tua Fea pernah mengundang Romo Dwiko dan seorang mahasiswa ke rumah. Orang tua Fea ingin melakukan pemberkatan rumah. Si mahasiswa yang punya karunia bisa melihat setan sangat terkejut ketika mendapati foto keluarga Fea. Ia melihat lambang pentagram di dahi Fea. Lambang bintang berujung lancip lima ini sering dikaitkan dengan setan.

Kini, sudah dua kali Romo Dwiko berhasil melakukan eksorsisme untuk Fea. Setan bernama Baphomet itu semakin tersudut. Demi menyelamatkan posisinya, si setan tak segan melakukan intimidasi terhadap Fea. Setan di tubuh Fea tak hanya mengusiknya dengan jawaban soal ujian, tapi juga berusaha menjauhkannya dari gereja. Belakangan, Fea makin tak kerasan berada di gereja. “Sekarang jujur saja kalau bukan dipanggil romo ke sini, aku nggak akan ke sini. Aku nggak betah, moodku lagi jelek banget. Kalau lagi misa aku sambil nahan emosi. Dalam hati, aku bisa menghancurkan kapel ini,” kata Fea.

Kunci pembebasan dari setan, menurut Romo Dwiko, adalah usaha orang itu sendiri. Ibarat rumah, jika tuan rumah kedatangan tamu penganggu, yang paling berhak mengusir tamu tak lain adalah pemilik rumah itu sendiri. Ritual eksorsisme sebagai pendukung. “Tergantung orangnya seratus persen pertobatan apa tidak. Harus ditunjukkan dengan doa terus menerus tanpa bolong dan beribadah semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Justru pendampingan setelah eksorsisme itu penting. Sebab setelah dieksorsis, setan akan berupaya sebisa mungkin untuk masuk lagi. Mereka akan menunggu saat kita lengah,” kata Romo Dwiko.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE