INTERMESO


Siapa Bisa Ramal Juara Piala Dunia

Di antara seekor kucing, perusahaan raksasa Goldman Sachs, dan jago-jago matematika, siapa yang paling akurat meramal juara Piala Dunia?

Brasil saat menghadapi Belgia di babak perempat final Piala Dunia 2018. Foto-foto : Getty Images

Sabtu, 14 Juli 2018

Siapa yang lebih bisa dipercaya dalam menebak juara di Piala Dunia ; Paul Si Gurita, Shaheen Sang Unta, Achilless Si Kucing, atau Soccerbot dan raksasa di bisnis keuangan, Goldman Sachs?

Delapan tahun lalu, Paul yang mati pada Oktober 2010, bisa meramal dengan akurat tim mana yang bakal juara dalam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Di babak final, Spanyol menundukkan Belanda 1-0 lewat gol Andres Iniesta. Setelah Paul mati, posisinya digantikan oleh Shaheen. Dalam Piala Dunia 2014, Shaheen bisa menebak dengan tepat tujuh dari delapan pemenang di babak perdelapan final. Tapi unta ini meleset saat menebak hasil pertandingan final. Shaheen meramal, Argentina akan melindas ‘panser’ Jerman. Hasilnya justru kebalikannya.

Bagaimana seekor gurita dan unta bisa menebak hasil pertandingan, tentu saja tak usah pusing dipikir. Sudah pasti, Paul dan Shaheen tak meramal hasil pertandingan-pertandingan di Piala Dunia dengan teori grafik atau ilmu statistik secanggih milik UBS, raksasa keuangan dari Swiss. Sepekan sebelum pertandingan pertama Piala Dunia 2014, UBS mengumumkan hasil simulasi pertandingannya.

Andreas Hoefert, Kepala Investasi UBS di Eropa, bersama timnya, telah merancang model statistik untuk meramal juara Piala Dunia. Tim tuan rumah Brasil, menurut Hoefert, akan menjadi juara setelah menyikat Argentina di babak final. Model yang UBS pakai ini, terbukti akurat saat meramal juara Piala Dunia 2006. “Aku melawan semua prediksi para ahli di Piala Dunia 2006 dan meramal Italia bakal jadi juara,” kata Hoefert. Tapi di Brasil, metode UBS meleset meramal juara. Tim tuan rumah Brasil malah dipermalukan Jerman 7-1 di semifinal. Di babak final, Jerman menang tipis 1-0 atas Argentina.

Aku melawan semua prediksi para ahli di Piala Dunia 2006 dan meramal Italia bakal jadi juara”

Andreas Hoefert, Kepala Investasi UBS di Eropa

Tim Inggris setelah ditaklukkan Kroasia di semi final Piala Dunia 2018
Foto : Getty Images

UBS tak perlu malu prediksinya tak akurat di Piala Dunia 2014. Goldman Sachs, perusahaan raksasa di bursa keuangan, juga gagal meramal dengan tepat juara Piala Dunia di Brasil. Ramalan Goldman Sachs, mirip dengan UBS, menjagokan tuan rumah Brasil jadi juara dunia setelah menjegal saingannya, tim tango Argentina. Brasil memang diunggulkan di sebagian besar ramalan, baik oleh para pengamat lapangan hijau maupun jago-jago statistik. Andrew Yuan, analis data di KPMG, bisa akurat meramal 45 dari 63 pertandingan di Piala Dunia 2014. Tapi dia pun gagal memprediksi juaranya.

Dalam olahraga apa tim underdog lebih sering menang? Itu lebih sering terjadi dalam sepakbola'

Tapi itu lah serunya sepakbola. Jika hasil pertandingan bisa diramal, apa lagi menariknya Piala Dunia? Michael Mauboussin, penulis buku The Success Equation dan profesor di Sekolah Bisnis Columbia, mengatakan faktor keberuntungan memainkan peran lumayan besar dalam pertandingan sepakbola. Dia sudah membandingkan antara Liga Primer Inggris dengan Liga Basket NBA di Amerika Serikat.

Kesimpulannya, keberuntungan lebih menentukan hasil di Liga Primer ketimbang NBA. “Dalam olahraga apa tim underdog lebih sering menang? Itu lebih sering terjadi dalam sepakbola,” kata Mauboussin. Lalu bagaimana dengan Piala Dunia 2018 yang bakal segera berakhir, tim mana yang diramal jadi juara dan siapa yang paling jago meramal? Yang pasti, tak ada yang meramal tim Kroasia bisa melaju hingga babak final, bahkan mungkin bisa jadi juara.

GOLDMAN SACHS

Ini lah ketiga kalinya dalam Piala Dunia berturut-turut, perusahaan keuangan raksasa ini menjagokan tim Brasil jadi juara. Di babak final, menurut simulasi Goldman Sachs Global Investment Research, Neymar dan kawan-kawan akan menjegal tim Jerman. Dalam dua Piala Dunia sebelumnya, Goldman Sachs meleset. Dan kali ini pun ramalannya juga tak akurat. Prancis, kini kandidat kuat juara, dalam perhitungan Goldman, merupakan favorit juara setelah Brasil dan Belgia.

UBS

Setali tiga uang dengan temannya di bisnis keuangan, prediksi UBS dalam tiga Piala Dunia terakhir juga tak ada yang pas. Pada Piala Dunia 2018 di Rusia kali ini, UBS meramal, Jerman akan mempertahankan gelarnya. Tapi jauh panggang dari api, tim panser Jerman tersingkir di penyisihan grup. Favorit juara berikutnya setelah Jerman, berdasar model statistik yang dibuat UBS, adalah Brasil dan Spanyol. Semua tim ini kalah sebelum semi final.

University of Innsbruck, Austria

Profesor Achim Zeileis dan timnya merancang model statistik untuk menghitung kemungkinan setiap tim jadi juara berdasarkan 26 bursa taruhan di internet.Menurut dia, rata-rata bursa taruhan lumayan akurat dalam menggambarkan peta kekuatan sebenarnya di lapangan. Setelah menghitung, Profesor Achim menjagokan Brasil jadi juara, disusul Jerman, Spanyol dan Prancis.

SOCCERBOT

David Sumpter, matematikawan dan penulis buku Soccermatics membuat model Soccerbot berdasarkan angka di bursa taruhan dan analisis pertandingan semua tim. Menurut Soccerbot, Jerman merupakan favorit juara, disusul Brasil, Prancis dan Spanyol. Menurut Soccerbot, kemungkinan Kroasia bakal jadi juara hanya 40 berbanding 1.


Editor: Sapto Pradityo





SHARE