INTERMESO


            PEJUANG-PEJUANG AOV                              DAN WIRO SABLENG

                    "Istilahnya, negara aja dukung, masa orang tua nggak"

Foto-foto : Garena/Tencent

Kamis, 6 September 2018

Segala upaya sudah dilakukan. Siang malam habis-habisan berlatih menempa kemampuan dan kerjasama tim. Pelatih dari luar negeri pun sudah didatangkan untuk memoles kelihaian mereka. Tapi apa boleh buat, gelar juara Asian Games 2018 belum milik mereka, tim nasional Esports Arena of Valor (AOV) Indonesia.

Meski sudah bertarung mati-matian, Glen Richard Pangalila, Farhan Akbari, Franky Ansen, dan teman-temannya, gagal meraih medali. Dua kali bertarung, dua kali pula mereka kalah dari China Taipei dan Thailand. “Memang belum waktunya dan sepertinya kami masih harus lebih banyak belajar lagi,” kata Glen Richard, kapten tim AOV Indonesia kepada DetikX. Kali ini lawan memang lebih baik. Banyak pelajaran yang didapat Glen selama persiapan hingga saat bertanding di Asian Games 2018. “Mulai dari semangat untuk latihan, disiplin waktu, dan disiplin dalam game, juga soal kekompakan tim.”

Medali emas untuk cabang esports nomor AOV akhirnya dibawa pulang tim Tiongkok. Mereka mengalahkan China Taipei di babak final. Empat tahun lagi, Asian Games 2022, bakal digelar di Hangzhou, China. Esports bukan lagi cabang eksebisi, tapi sudah resmi dipertandingkan. Glen dan kawan-kawannya masih muda. Siapa tahu pada 2022 nanti mereka bisa membalas kekalahan di Jakarta.

“Jika memungkinkan dan diberi kesempatan, why not? Kalau bukan sebagai pemain, saya mungkin akan mencalonkan diri sebagai pelatih,” ujar Glen soal peluang main kembali di Asian Games 2022. Hidupnya, kata Glen, memang tak akan jauh dari esports. “Karena esports adalah passion saya, bagian dari hidup saya juga.”

Meski kalah, pengalaman bertanding di Asian Games dengan mengusung bendera merah putih, merupakan kehormatan dan pengalaman tak terlupakan bagi Glen dan timnya. “Terharu dan bangga udah campur aduk waktu awal dengar terpilih. Pertama kali yang saya kasih kabar orang tua,” Glen bercerita bagaimana rasanya saat pertama kali mendengar pengumuman nama pemain Timnas AOV. Ajang internasional ini sangat penting bagi Glen, terutama untuk membuktikan kemampuannya kepada kedua orang tuanya. Selama ini Glen yang dikenal dengan nama DG Kurus kerap mengalami masalah serupa dengan pemain game lain di luar sana yaitu restu dari orang tua.

Tim Nasional AOV Indonesia untuk Asian Games 2018

Glen, sama ceritanya dengan para maniak game, juga melewati pernah melewati masa-masa kabur dari sekolah dan uang jajan hanya demi bermain Ragnarok di warnet. “Setiap pemain profesional pasti pernah bolos sekolah. Bandelnya itu ya balik lagi ke pandangan masyarakat, karena mereka menganggap sebelah mata game. Padahal kalau mereka mau terbuka dan mendukung, nggak akan terjadi begitu,” ujar pemilik akun Youtube, Kurus Esports, ini. Dia berharap, dipertandingkannya esports di Asian Games akan membuka mata dan hati para orang tua. “Istilahnya, negara aja dukung, masa orang tua nggak.”

Orang tua Glen memang tidak pernah terang-terangan melarang anaknya bekerja di dunia game. Namun mereka lebih senang jika Glen memilih pekerjaan ‘kantoran’ atau berwirausaha yang dianggap lebih jelas masa depannya. Glen sempat menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan publisher game asal Vietnam. Di sela-sela kesibukannya itu ia masih mengasah kemampuannya bermain AOV, game buatan Tencent Games yang pernah dinobatkan Google Play sebagai game terpopuler di Indonesia setahun silam.

Pulang bekerja, Glen biasanya langsung ngegas, bekerja keras mendorong rankingnya agar masuk dalam jajaran Top Rank di AOV. Berkat prestasinya yang sering bertengger di posisi Top Rank, Glen dilirik tim eSports Dunia Games (DG), salah satu klub esports besar di Indonesia.

Awal tahun lalu pas masuk tim DG, saya masih dapat pertanyaan dari ayah saya, 'Kamu yakin mau jalani hidup seperti ini?'

“Awal tahun lalu pas masuk tim DG, saya masih dapat pertanyaan dari ayah saya, 'Kamu yakin mau jalani hidup seperti ini?' Saya jawab, 'Saya sangat yakin dan akan saya buktikan'. Setelah seleksi Timnas dan akhirnya terpilih, mereka sekarang jadi lebih paham dengan jalan pikiran saya,” ujar Glen. Di DG, Glen merangkap sebagai Leader sekaligus Manager. Bersama DG, dia pernah menyabet juara 3 di panggung AOV Indonesia Games Xperience 2018 dan juara 4 di Indonesia Games Championship 2018. Saat seleksi untuk tim nasional AOV di Asian Games, Glen menduduki peringkat ketiga.

Untuk tim AOV di Asian Games, Glen yang telah mengenal game online sejak SMP, didapuk menjadi kapten. Menyiapkan strategi yang jitu, menurut Glen, merupakan kunci kemenangan. Bermain game lima lawan lima ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Karena yang diperlukan bukan hanya keterampilan pemain namun juga kekompakan tim. Masing-masing pemain akan mendapat tugas khusus. Dalam AOV, ada peran sebagai Midlaner, Abbysal Laner, DS Laner yang bertugas bertarung di sekitar jalur pertarungan. Ada pula Junggler yang bertugas membantu pemain di lane.

Sang kapten, Glen, mendapat tugas menjadi observer untuk mengatur ritme serangan dan menjadi mata bagi tim. Ibarat seorang playmaker di lapangan sepak bola. “Saya pribadi yakin peluangnya besar banget. Target saya tetap juara. Penginnya juara 1, apalagi kita tuan rumah. Saya nggak mau sia-siakan kesempatan seperti ini, apalagi Asian Games cuma digelar empat tahun sekali,” kata Glen, beberapa pekan sebelum turun bertanding di Asian Games.

Kali ini mereka memang gagal, tapi masih banyak kesempatan di masa depan untuk menebusnya.


Di Asian Games, esports memang baru pertama kali dipertandingkan. Itu pun masih berstatus eksibisi. Walhasil, medali dari cabang esports tak akan dihitung dalam perolehan medali. Namun empat tahun lagi, dalam Asian Games 2022 di Hangzhou, China, cabang esports akan dipertandingkan secara resmi, bukan lagi berstatus eksibisi.

Esports bakal tumbuh menjadi industri yang sangat besar. Bukan tak mungkin esports menjadi industri olahraga yang sama populernya dengan industri olah raga tradisional seperti sepak bola dan bola basket. Jika dulu main game hanya dianggap buang-buang waktu, kini makin banyak anak-anak muda yang bekerja penuh sebagai pemain game. Mereka hidup sepenuhnya dari bermain game. Ada yang menjadi atlet esports seperti Glen, ada pula yang menyambi jadi joki seperti Ibrahim Kamil.

Kini Ibrahim Kamil tergabung dalam tim Rex Regum Qeon atau RRQ. Dia masuk dalam divisi AOV. Dari dulu dia memang suka main game. “Sampai akhirnya ada teman nawarin, eh ini main game dan dibayar, mau nggak?” ujar Ibrahim. Tawaran seperti itu, bersenang-senang dan dapat uang, siapa nggak mau?

Kebetulan, timnya tak melarangnya ngejoki. Sejak November 2017 lalu dia menawarkan jasa joki AOV. Transaksinya dilakukan salah satunya melalui akun Line, ikamil1 shop. Meski saingan tak sedikit, tak ada masalah dengan bisnisnya. Salah satu strateginya yaitu dengan menjual paket ruby. Di game AOV, ruby merupakan item sangat langka yang hanya bisa didapatkan melalui sistem Roulette. Ruby dapat ditukarkan dengan aneka skin langka yang memiliki tampilan serta efek unik.

Ibarat berjudi, pemain AOV tidak selalu bisa mendapatkan ruby meski sudah memutar Roulette berkali-kali. Bahkan ada yang telah mengeluarkan uang Rp 1 juta namun hanya mendapatkan satu ruby. “Ada pemain yang trauma karena ngejar ruby itu. Makanya saya jual paket ruby. Kalau tidak dapat ruby pas Roulette, saya jamin uang kembali. Karena itu lah banyak yang tertarik bertransaksi dengan saya,” ujar Ibrahim kepada DetikX. Paket ruby 3140, vouchernya ia jual seharga Rp 575 ribu.

Untuk memenuhi pesanan jasa joki, Ibrahim dibantu oleh 10 orang pemain. “Mereka rata-rata udah tier atau peringkat atas. Semakin tinggi tier, find match lawan bakal makin lama. Pernah sampai 5 jam. Makanya dari pada bosan, mereka cari solusi. Biar bisa main terus, ya ngejoki,” dia menuturkan. Dari anak SD sampai pegawai kantoran pernah memakai jasa joki Ibrahim. Ibrahim pernah melakukan sekali transaksi besar hingga Rp 13 juta. Sekarang rata-rata, dia bisa mendapatkan penghasilan Rp 5 juta setiap bulan dari jasa joki AOV.

Perusahaan riset dari Jerman, Statista, menaksir, pada 2018 ini, duit yang berputar di bisnis esports di Indonesia berkisar US$ 155 juta atau lebih dari Rp 2,2 triliun dengan 14,1 juta pemain. Pada 2022 nanti, Statista meramal, duit dari bisnis esports di Indonesia bakal menggelembung menjadi US$ 257 juta atau Rp 3,7 triliun per tahun dengan 23,5 juta pemain. Angka ini masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan nilai bisnis esports di Amerika Serikat, Jepang, dan China. Pada 2020 nanti, Newzoo meramal, nilai pasar esports global akan berlipat menjadi US$ 1,48 miliar atau sekitar Rp 22 triliun.

Di antara perusahaan yang paling agresif dalam mengembangkan esports, di dunia maupun di Indonesia, adalah Tencent. Bekerja sama dengan perusahaan properti, Super Generation Investment, Tencent berencana membangun semacam kawasan khusus pengembangan esports di kota Shanghai.

“Esports akan segera memasuki masa keemasan di Tiongkok maupun di seluruh dunia,” kata Cheng Wu, Wakil Presiden Tencent, beberapa pekan lalu. Perusahaan yang didirikan Pony Ma dan teman-temannya hampir 20 tahun lalu itu tentu saja tak mau berada di barisan belakang di industri esports. Dalam lima tahun ke depan, Tencent siap membelanjakan 100 miliar yuan atau kurang lebih Rp 215 triliun untuk mengembangkan esports. AOV salah satunya.

Pada akhir Mei 2018 lalu, BrandZ melansir nama-nama perusahaan dan merek yang punya nilai paling mahal di dunia. BrandZ yang dikelola oleh perusahaan pemasaran asal Inggris, Millward Brown, menyebut 10 nama dan merek paling mahal di dunia. Google ada di urutan teratas, disusul Apple, Amazon, dan Microsoft. Anda keliru jika menebak Facebook ada di urutan berikutnya.

Merek kelima paling mahal di jagat adalah Tencent. BrandZ menaksir, nilai merek Tencent sekarang sekitar US$ 179 miliar atau Rp 2565 triliun, naik 65 persen dari nilai setahun sebelumnya. Wajar saja jika nilai perusahaan yang berkantor pusat di kota Shenzhen, China, itu melenting berlipat kali. Beberapa game yang dibuat oleh studio-studio Tencent laris manis di pasar.

Menurut penelusuran perusahaan riset Superdata pada Juni lalu, League of Legends milik Riot Games berjaya di kelas PC, Fortnite buatan Epic Games jadi ‘raja’ di konsol games dan Arena of Valor (AoV) alias Honour of Kings yang dikembangkan oleh Timi Studio jadi nomor satu di kategori perkakas mobile. Semua studio game itu – Riot Games, Epic Games dan Timi Studio – merupakan anak perusahaan Tencent Games. Game-game itu, juga WeChat, menjadikan Pony Ma, pendiri Tencent, orang paling tajir di Tiongkok.

Timnas AOV Indonesia di Asian Games 2018

Bagi Tencent, Indonesia selalu merupakan pasar strategis bagi AOV dan game-game lain milik mereka. “Di antara lanskap global kami, Indonesia selalu menjadi pasar yang strategis bagi kami. Arena of Valor akan melakukan yang terbaik untuk mengeksplorasi masa depan eSports di Asia dan melangkah menuju sesuatu yang belum pernah orang lain lakukan sebelumnya. Indonesia adalah salah satu target negara bagi kami,” ujar Head of AOV Marketing Director Fenfen You.

Tencent, menurut AOV Global eSports Director, Icy Liu dalam konferensi pers yang digelar di The Ritz-Carlton, Jakarta, beberapa hari lalu, berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan satu-satunya game mobile bergenre Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) ini. “Kami akan bekerja dengan semua partner Tencent demi membangun sistem kompetisi yang komprehensif, melahirkan banyak pemain berbakat, dan membentuk lingkungan yang mandiri untuk klub-klub profesional di seluruh Indonesia,” ujar Icy Liu.

Arena of Valor akan melakukan yang terbaik untuk mengeksplorasi masa depan eSports di Asia dan melangkah menuju sesuatu yang belum pernah orang lain lakukan sebelumnya

Dukungan dari Tencent untuk AOV Indonesia diberikan dengan menghadirkan berbagai program, antara lain The First AOV Four Country League, AOV eSports Academy, Caster Hunt, Professional Training Environment, dam Cross Country Communication. Tak hanya itu, Tencent berencana menginvestasikan setidaknya US$ 500 ribu atau setara Rp 7,3 miliar setiap tahun untuk menjamin para pemain dan pelatih dari AOV Indonesia.

Tencent juga berencana untuk menghadirkan turnamen AOV terbaru yakni AOV Star League Season 2. Bagi pemain yang berhasil menang, Tencent bakal menyediakan hadiah yang jauh lebih besar. “Hadiah untuk AOV Star League Season 2 akan menjadi hadiah terbesar untuk kompetisi eSports di Indonesia. Hadiahnya sebesar Rp 2,6 miliar,” ujar Head of AOV Indonesia eSports, Edwin.

Untuk mendekatkan AOV dengan pasar Indonesia, Tencent bersama Garena Indonesia, Lifelike Pictures dan Caravan Studio, akan menjadikan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng sebagai hero asli Indonesia pertama di AOV. Di Indonesia, siapa tak kenal Wiro Sableng karya Bastian Tito? Tahun ini, ‘umur’ Wiro Sableng sudah setengah abad. Nama Wiro Sableng sudah sama terkenalnya dengan Si Buta Dari Gua Hantu karya komikus Ganes TH atau Panji Tengkorak karya komikus Hans Jaladara.

Setelah berkali-kali ‘main’ di layar televisi, kini, film ‘superhero’ Wiro Sableng yang dibintangi oleh putra Bastian, Vino Bastian, Sherina Munaf, Yayan Ruhiyan, dan Marsha Timothy, tayang di bioskop-bioskop. Fox International Productions (FIP), anak perusahaan 20th Century Fox International, bekerjasama dengan LifeLike Pictures, mengangkat cerita Wiro menjadi film superhero asli Indonesia. “Wiro Sableng merupakan kerja sama pertama film Fox di Asia Tenggara,” kata Sheila Timothy, produser LifeLike Pictures, kepada DetikX.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: SaptoP

[Widget:Baca Juga]
SHARE