INTERMESO


       JALAN HIJRAH DARI RAJAH

"Tato di kaki ini pernah sekali digosok setrika supaya hilang. Pernah juga pakai obat keras. Malah kulitnya jadi rusak"

Foto : Getty Images

Selasa, 4 September 2018

"Aku punya sembilan tato di tubuh," kata Resti, beberapa pekan lalu. Itu lah jejak-jejak ‘pemberontakan’ masa remaja Resti. Pada Agustus lalu, usianya baru genap 18 tahun. "Ada gambar kupu-kupu, nama orang, mario bros, bentuk kepala, ya banyaklah pokoknya."

Resti, dia minta namanya disamarkan, tumbuh tanpa orang tua di sampingnya. "Mamah waktu itu jadi TKW (tenaga kerja wanita) di Arab. Bapak masuk penjara karena kasus narkoba," dia menuturkan. Tak ada orang tua dan salah gaul, membuat dia jadi anak badung. Dia tak pernah betah di sekolah. Sekolahnya terputus saat dia baru kelas 2 SMP di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. "Aku sering bolos, ya bolosnya cuma ke warnet sih. Tapi karena sering, jadi dikeluarin dari sekolah."

Dari seorang teman, Resti kenal tato. Resti mengaku awalnya ngiler menyaksikan sohib sebaya bertato. "Teman kan mau ditato, aku ngantar. Terus jadi pengin ditato. Setelah itu kecanduan, jadi terus-terusan pengin lagi ditato," ujar Resti. Dari satu tato hingga jadi sembilan rajah di sekujur tubuh remaja asal Ciwidey itu. Demi merajah tubuhnya, dia rela menabung sebagian gajinya sebagai karyawan di salah satu kafe di kota Bandung.

Semulanya keluarganya tak tahu ada banyak tato di tubuh Resti. Jejak Resti bertato terbongkar setelah ia memajang foto-foto di akun Facebook miliknya. Sang ibu kaget bukan kepalang dan murka melihat badan anak perempuannya penuh tato. "Ibu nelepon aku sambil nangis dan marah-marah. Ibu sampai sakit… Ya aku bilang mau bagaimana lagi, sudah terlanjur," tuturnya.

Meski sempat membuat ibunya di rantau sakit, dulu Resti tak menyesali perbuatannya merajah tubuh. Tato, menurut Resti kala itu, adalah seni. Padahal, tak cuma ibunya yang menyayangkan ulahnya. "Piraku geulis-geulis ditato…Masa cantik-cantik ditato," kata Resti berbahasa Sunda, menirukan ucapan tetangga.

Program hapus tato di Bandung
Foto : Baban Gandapurnama/Detik.com

Lain Resti, lain pula kisah Anggi. Dulu, perempuan berusia 29 tahun ini merajah badan untuk menyalurkan kegelisahan, menumpahkan amarah. Anggi, juga bukan nama sebenarnya, galau berat setelah ditinggal pergi ibunya untuk selamanya pada 2010. Enam tahun sebelumnya, sang ayah telah mendahului ibunya. "Dulu saya galau, depresi dan sedih mendalam berlarut-larut," dia menuturkan.

Suatu hari, pada Februari 2014, tamatan SMA ini melipir ke gerai pembuat tato di kawasan Cihampelas, Kota Bandung. Nama tempat itu dia peroleh dari manajer rumah makan tempat Anggi bekerja. Bosnya seorang perempuan, juga bertato. Saat pesan rajah di lengan kanannya, Anggi seolah-olah tengah mencetak ‘manifestonya’, 'I don't fucking care about disquiet'.

Dulu saya galau, depresi dan sedih mendalam berlarut-larut'

Untuk tato pertamanya itu, dia mesti mengambil tabungannya Rp 700 ribu. Satu tato saja rupanya tak bisa meredakan galau Anggi. Tiga bulan kemudian, Anggi kembali datang sambil membawa duit Rp 900 ribu. Kali ini, dia menghiasi dada kiri dengan rajah tiga bola api. "Uang jatah makan saya tabung demi bikin tato. Waktu itu bangga punya tato. Ya keren. Tapi ternyata sesat," Anggi mengenang. "Maksudnya pengen menyemangati diri, tapi caranya salah. Ketika sudah ditato, depresi itu enggak hilang."

Tradisi merajah tubuh sendiri sudah berumur berpuluh-puluh abad. Konon, jejak tato paling tua ditemukan di tubuh fosil Otzi alias Similaun Man, yang sudah berumur lebih dari 50 abad. Otzi ditemukan di Pegunungan Alpen, perbatasan Austria-Italia. Ada banyak alasan orang di setiap kebudayaan merajah tubuh. Ada yang lantaran tradisi, ada pula rajah yang dekat dengan keyakinan setempat atau praktik religi.

Barangkali lantaran pengaruh film-film, kini rajah dianggap sesuatu hal yang kelam, cenderung negatif. Dalam Islam, menurut sejumlah hadist, merajah tubuh juga merupakan hal terlarang. Setelah makin dekat dengan ajaran Islam, Resti dan Anggi bertekad menghapus tato di tubuh mereka.

Kini Anggi mengenakan hijab dan sering menghadiri acara-acara kajian Islam di seputaran kota Bandung. Dia juga rajin salat dan membaca Al-Quran. "Saya bertekad hijrah," Anggi menegaskan. Apalagi tahun ini dia bersiap naik pelaminan. Calon suaminya terus mendukung niat Anggi menyetip dua tato di tubuhnya. Dia sering mendampingi Anggi mengikuti program hapus tato Hijrah Care oleh Komunitas Dakwah dan Sosial (Kodas) Bandung di Masjid Kaaffah, Jalan Kopo No.23, Kota Bandung. "Sekarang sudah kelima kalinya ikut program hapus tato.”

Sama dengan proses pembuatannya, menghapus tato sama menyakitkannya. Bahkan ongkosnya bisa lebih mahal dari biaya membuatnya. "Aku baru pertama ke sini. Baru satu tato di tangan kanan yang dihapus," ujar Resti. Tak ada lagi remaja galau dan badung seperti dulu. Resti sudah menikah dan mengenakan hijab. Ayahnya sudah keluar dari penjara dan ibunya sudah pulang dari negeri orang.

Pada siang yang terik itu, ada beberapa perempuan yang mengantre untuk dihapus tatonya di Masjid Kaaffah. "Trek..trek...trek..trek…trek...," bunyi mesin laser saat menghapus titik-titik rajah. Jemari tangan kanan seorang perempuan bercadar mencengkeram erat pegangan alat laser bercorong besi. Berulang kali ia menenangkan seorang peserta yang meringis kesakitan. "Tahan ya," katanya.

"Astagfirullah...," ucap Deby, 28 tahun, ibu dua anak, kala cahaya berintensitas tinggi menusuk alur guratan tato di kakinya. Deby jauh-jauh datang dari Ciamis, Jawa Barat. Ini kali kedua dia menjalankan proses menghapus rajah kombinasi bunga mawar dan hati yang menempel di kulit tumit kaki kanan. "Panas dan sakit banget lasernya. Kayak ditusuk jarum saat dulu awal bikin tato."


Deby baru dua kali ikut program hapus tato gratis itu. Lantaran sudah hijrah, ia emoh tato di kaki dan wajahnya terlihat. "Anak sering ditanya teman-temannya kalau ibunya ini bertato. Sedih sekali mendengarnya," katanya. Dia tahu program tersebut dari kerabat. Deby sengaja berangkat pergi-pulang dari Ciamis demi menghapus tinta gambar yang bertahun-tahun melekat di kulitnya. "Kalau datang ke tempat lain, harus bayar. Mahal. Sedangkan saya kan enggak punya dana, jadinya ikut program hapus tato gratis di sini saja."

Membuang tinta tato sepanjang satu sentimeter menggunakan laser di tempat komersial, sambung dia, harganya mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Dulu ia sempat nekat melenyapkan tato pada tumit kaki kananya dengan cara kuno. "Tato di kaki ini pernah sekali digosok setrika supaya hilang. Pernah juga pakai obat keras. Malah kulitnya jadi rusak," Deby bercerita.

Banyak kasus peserta yang datang itu tidak hapal surat Ar Rahman. Niatnya enggak tulus

Rifki Saiful Rohman (35), penanggung jawab Hijrah Care, menuturkan para peserta 'TATTO REMOVAL PROGRAM' terdiri berbagai ragam usia dan kalangan. Usia peserta, baik itu lelaki dan perempuan, menurut Rifki kisaran 15-30 tahun. "Ada anak band, pekerja, mahasiswa hingga ibu rumah tangga," ujar Rifki.

Dia mendengar rupa-rupa alasan yang dilontarkan peserta ikhwal rajahnya. "Macam-macam pengakuanya. Mengaku ditato gara-gara pergaulan, faktor lingkungan, keretakan rumah tangga orang tua, dan lainnya," kata Rifki. "Tato dilarang dalam Islam. Nah, pemahaman mereka tentang Islam itu minim. Mereka hijrah dan hapus tato itu juga banyak alasannya, misalnya malu oleh anaknya, lalu ada yang mau nikah, ingin mudah cari kerja."

Program hapus rajah sudah jalan setahun. Jadwal hapus tato gratis di Kota Bandung, kata dia, terbagi dua sesi. Untuk lelaki jadwalnya Senin, Selasa dan Rabu. Sedangkan bagi wanita berlangsung Kamis dan Jumat. Tiap peserta yang datang, menurut Rifki, tahap awalnya diberi anastesi atau dibius untuk mengurangi nyeri. Setelah 30 menit bius bereaksi, tahap selanjutnya melaser tato.

"Beres dilaser, kulit pada tato diolesi salep antibiotik. Jadi tak boleh kena air selama lima jam. Kalau gatal, jangan digaruk. Tiga minggu kemudian, peserta boleh kembali melanjutkan tahapan hapus tato," tuturnya. Sekali ikut jadwal, tak lantas tinta tato lenyap. "Jadi tergantung juga sama kualitas tintanya. Kalau benar-benar hilang tintanya, perlu empat hingga lima kali dilaser."

Kini Kodas Bandung memiliki dua alat laser berlampu merah. "Salah satu alat laser yang harganya 65 juta rupiah ini donasi dari seorang peserta hapus tato," ujar Rifki. Tenaga penghapus tato yang menjalankan program ini bukan orang sembarangan. Mereka, lanjut Rifki, terlatih dan bersertifikat. Hijrah Care menerapkan syarat kepada pendaftar hapus tato gratis.

"Syaratnya muslim, berniat tobat serta hijrah, hapal di luar kepala surat Ar Rahman minimal empat puluh ayat, menyertakan hasil lab bebas HIV AIDS, hepatitis serta diabetes," ucapnya. "Terakhir, syaratnya mau mengikuti proses pembinan dengan mengikuti kajian Islam.”

Setahun bergulir, berdasarkan catatan dia, jumlah peserta mencapai sekitar 150 orang. Mereka mayoritas lelaki. Syarat hapal surat Ar Rahman, menurut Rifki, untuk menguji keseriusan peserta untuk hijrah. "Banyak kasus peserta yang datang itu tidak hapal surat Ar Rahman. Niatnya enggak tulus. Ternyata mereka ingin hapus tato gara-gara tatonya gagal. Jadi bukan niat hijrah. Kami tidak menerima calon peserta seperti itu," ujar Rifki.


Reporter/Penulis: Baban Gandapurnama
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE