INTERMESO

HIJRAH SANG PERAJAH

“Aku ingin mengabdikan hidupku, membelokkan setir dari seorang pembuat tato menjadi seorang penghapus tato.”

Foto : Getty Images

Rabu, 05 September 2018

"Gara-gara tato, saya dicap cewek nakal. Cari kerjaan, sulit. Enggak kehitung perusahaan yang menolak," Anggi, 29 tahun, asal Bandung, menuturkan kisahnya beberapa pekan lalu. Rajah tak bisa jadi ukuran kelakuan atau moral seseorang. Tapi begitu lah pandangan banyak orang terhadap tato, apalagi terhadap perempuan berajah.

Bertahun-tahun punya rajah, Resti, 18 tahun, sudah kenyang menghadapi tatapan negatif orang sekeliling. "Aku punya sembilan tato di tubuh," kata Resti. Seperti juga Anggi, dia minta namanya disamarkan. Meski sakit hati dan telinga panas, Resti masih sanggup mengontrol emosi. "Dibilang cewek enggak bener lah. Tapi ya sudah lah, aku tak mau membalas cemoohan."

Resti dan Anggi merajah tubuh untuk melampiaskan galau. Resti tumbuh tanpa orang tua di sampingnya. "Mamah waktu itu jadi TKW (tenaga kerja wanita) di Arab. Bapak masuk penjara karena kasus narkoba," dia menuturkan. Tak ada orang tua dan salah gaul, membuat dia jadi anak badung. Dia tak pernah betah di sekolah. Sekolahnya terputus saat dia baru kelas 2 SMP di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. "Aku sering bolos, ya bolosnya cuma ke warnet sih. Tapi karena sering, jadi dikeluarin dari sekolah."

Semulanya keluarganya tak tahu ada banyak tato di tubuh Resti. Jejak Resti bertato terbongkar setelah ia memajang foto-foto di akun Facebook miliknya. Sang ibu kaget bukan kepalang dan murka melihat badan anak perempuannya penuh tato. "Ibu nelepon aku sambil nangis dan marah-marah. Ibu sampai sakit… Ya aku bilang mau bagaimana lagi, sudah terlanjur," tuturnya.

Sandi Widodo saat masih bekerja sebagai seniman tato.
Foto : dok.pribadi via Kitabisa

Lain soal dengan Deby, 28 tahun, ibu dua anak asal Ciamis, Jawa Barat. Dia sudah lebih sepuluh tahun punya tato di tubuh. Deby, juga bukan nama sebenarnya, merajah kakinya pada 2007 bukan lantaran pikiran sedang kalut. "Waktu itu ditato buat menutupi bekas luka yang menghitam di tumit kaki kanan," kata tamatan SMP ini.

Ada bekas luka lama di kakinya yang sering jadi omongan orang. Kesal kakinya yang tak mulus jadi bahan omongan, Deby pergi ke seniman tato di Gegerkalong, Bandung. Dia minta kakinya digambar dengan kombinasi bunga mawar dan hati. Tapi dari semula hanya demi menutupi bekas luka, Deby malah jadi suka rajah. Sempat tinggal dan bekerja sebagai operator produksi di pabrik garmen di Jakarta, dia ikut terpengaruh pergaulan ala kota besar.

Ya awalnya pengen terlihat cantik dan tambah manis saja dengan tahi lalat ini. Biar kayak artis Nikita Mirzani'

Berdalih meningkatkan kepercayaan diri, dia memilih tato setitik tahi lalat di bagian kanan atas bibir. "Ya awalnya pengen terlihat cantik dan tambah manis saja dengan tahi lalat ini. Biar kayak artis Nikita Mirzani, hehehehehe...," Deby menuturkan diiringi tawanya berderai.

Setelah menikah, Deby bertahap mengerem foya-foya dan menata kehidupannya yang semula kusut. Kini dia dikaruniai dua anak yang masih SD dan balita. Suaminya merantau ke Jakarta menjadi buruh bangunan. Satu bulan sebelum Ramadhan lalu, Deby memutuskan berhijab. Ia sudah mantap berhijrah. "Ya saya ingin memperbaiki diri. Selama ini sudah jauh melangkah lama meninggalkan kewajiban sebagai muslim," kata Deby.

Meski hati dan pikirannya sudah ikhlas untuk berhijrah, ada satu hal yang masih mengganjal di benak Deby, juga Resti dan Anggi. Deby tak mau tato di kaki dan wajahnya terlihat. "Anak sering ditanya teman-temannya kalau ibunya ini bertato. Sedih sekali mendengarnya," kata Deby. Dia sudah bertekad menyetip semua rajah di kulit tubuhnya. Yang jadi soal, ongkos untuk menghapus tato jauh lebih mahal dari biaya saat merajahnya. Dulu ia sempat nekat melenyapkan tato pada tumit kaki kananya dengan cara kuno. "Tato di kaki ini pernah sekali digosok setrika supaya hilang. Pernah juga pakai obat keras. Malah kulitnya jadi rusak."

Sandi Widodo, kiri
Foto : dok.pribadi via Kitabisa

Untung lah, ada sejumlah lembaga yang menyediakan jasa menghapus tato dengan cuma-cuma. Di Bandung, ada program hapus tato Hijrah Care oleh Komunitas Dakwah dan Sosial (Kodas) Bandung. Komunitas Gerak Bareng juga punya program hapus tato bagi mereka yang berniat hijrah di sejumlah kota. Di Tangerang Selatan, Sandi Widodo dan istrinya membuka Tattoo Hijrah Removal bagi mereka yang hendak hijrah dan berniat menghapus rajah. Biayanya sangat murah, bahkan banyak yang gratis.

Kini Sandi memelihara jambang lebat, rajin shalat, mengaji dan ibadah di masjid. Namun masih ada banyak ‘bekas’ dari masa lalu Sandi Widodo di wajah, seluruh lengan, leher hingga punggungnya. Sekujur tubuhnya penuh tato. Dulu, Sandi tak cuma suka merajah tubuhnya. Dia sendiri seorang seniman tato. Cari saja nama Aki Tattoo di internet, masih banyak foto rajah karya Sandi.

Sandi kenal tato pertama kali pada 2006. Tak cuma mulai merajah tubuhnya, Sandi juga mulai kenal dengan obat-obat terlarang. Dari seorang teman, dia mulai belajar membuat tato. Dia memang punya bakat seni dan sempat belajar desain grafis. Tiga tahun kemudian, mesti ditentang keluarga, dia memutuskan mencari nafkah dengan menjadi seniman tato. Sandi sempat menetap dan menjual jasanya sebagai seniman rajah di Bali.

Saya buat Tatto Hijrah Removal ini memang dengan niat menebus dosa-dosa saya dahulu sebagai seniman tato

“Entah sudah berapa banyak tubuh orang yang saya rusak,” kata Sandi, kini 32 tahun. Bertahun-tahun meninggalkan rumah orang tua, Sandi merasa ada yang ‘kosong’ dalam hidupnya. Sandi yang berasal dari keluarga religius memutuskan pulang dan mulai belajar kembali ajaran Islam. Empat tahun lalu, dia berhenti jadi seniman tato. Dalam Islam, menurut sejumlah hadist, merajah tubuh memang merupakan hal terlarang. Untuk bertahan hidup, Sandi sempat jadi tukang ojek, sebelum akhirnya membuka usaha sablon.

Sebagai mantan seniman tato, Sandi merasa punya dosa yang harus ditebus. Pada Juli 2017, lewat situs Kitabisa.com, dia membuka penggalangan dana untuk program penghapusan tato. “Saya buat Tatto Hijrah Removal ini memang dengan niat menebus dosa-dosa saya dahulu sebagai seniman tato,” kata Sandi. “Aku ingin mengabdikan hidupku, membelokkan setir dari seorang pembuat tato menjadi seorang penghapus tato.”

Tak disangka, penggalangan dana sebesar Rp 80 juta untuk membeli alat laser penghapus tato itu mendapat sambutan luar biasa. “Alhamdulillah, respon masyarakat sangat positif. Hanya dalam tiga hari, sudah mencapai target.” Bahkan melampaui target. Sandi berhasil mengumpulkan dana Rp 90,4 juta. Dana itu dia pakai untuk membeli dua alat laser penghapus tato.

Persis setahun lalu, Sandi dan istrinya mulai menjalankan program penghapusan tato. Semula dia mempekerjakan pembantu, tapi kini dia kerjakan sendiri proses penghapusan rajah ini. “Mungkin sudah sekitar 500 orang,” Sandi menyebut jumlah orang yang sudah mengikuti program penghapusan tato. Bagi yang berniat hijrah dan menyetip tato di ‘klinik’ Sandi, ‘ongkosnya’ tak mahal. “Dia harus hafal minimal 50 ayat dari satu surat dalam Al-Quran dan patungan biaya operasional Rp 100 ribu.” Biaya itu sebagai ‘pengganti’ ongkos perawatan alat, obat anestesi, dan listrik.


Reporter/Penulis: Baban Gandapurnama
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE