INTERMESO

Srimulat, Jambul, Kadir dan Gogon

"Lucu kayak apa pun, kalau tak bisa improvisasi, jadinya hanya lola-lolo (bengong) di panggung. Pasti seminggu saja akan dipulangkan."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 10 September 2018

Tukang potong rambut di bawah pohon sekitar Alun-alun Kidul Yogyakarta tertawa saat Kadir Mubarak meminta rambutnya dipotong ala Kuncung. Kuncung salah satu tokoh sandiwara boneka berbahasa Jawa “Kuncung-Bawuk” yang diputar TVRI Yogyakarta pada era 1970-an sampai 1980-an. Kepala nyaris plontos dan hanya tersisa sedikit rambut di bagian atas.

"Sampeyan mau jadi artis?" ujar tukang potong itu dalam bahasa Jawa seperti yang ditirukan Kadir. Resep mengubah penampilan rambut itu pula yang disampaikan Kadir kepada Margono alias Gogon bertahun-tahun kemudian hingga muncul gaya rambut Gogon yang kondang itu.

Saat itu tahun 1983 dan Kadir memang punya angan menjadi terkenal di panggung hiburan. Seperti pelawak muda lainnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur lelaki asal Kediri itu kepincut setengah mati ingin bergabung dengan Aneka Ria Srimulat. Ketertarikannya muncul setelah menonton Srimulat di Tamah Hiburan Rakyat Surabaya. Baginya hanya Srimulat yang mampu mengembangkan bakat dan mengantarkannya menjadi pelawak terkenal di Jakarta.

Tekad itu membuatnya nekat. Kadir rela tampil dan terlihat konyol. Berbekal topi di kepala, ia naik bus menuju Taman Hiburan Srimulat di Bale Kambang, Solo. Kadir bertemu sutradara Srimulat Solo bernama Mintarjo. Saat itu ia langsung membuka topi. "Mintarjo langsung bilang, ‘Mau jadi pelawak ya, dik? Besok datang lagi.’ Dites satu minggu kalau kalau nggak lolos, ya pulang," kata Kadir kepada detikX di kediamannya di kawasan Jatibening, Bekasi. Kadir kembali ke Yogyakarta menyelesaikan kontrak pertunjukan di acara sekaten.

Anggota Srimulat di layar televisi
Foto : Detik.com

Tak hanya kali itu Kadir melamar jadi pelawak di Aneka Ria Srimulat. Beberapa bulan sebelumnya Kadir yang kenyang pengalaman di pentas ludruk dan kemudian sandiwara diiringi musik gambus itu mencoba peruntungannya di Srimulat Surabaya. Belum sampai ikut tes, ia sudah ditolak. "Waktu itu saya memang gondrong dan hitam. Saya dinilai tak punya potongan pelawak," ujar Kadir masih dengan aksen Maduranya yang khas.

Berbekal pengalaman itu, Kadir mengubah penampilannya. Modalnya pernah "nyantrik" di Grup Rudi Hartamin, pecahan kelompok sandiwara Lokaria yang juga menjadi saingan Srimulat di Jawa Timur, membuat Kadir pede menjalani tes pada Februari 1983. "Tes di Solo langsung pentas. Saya bisa improvisasi. Bisa mengumpan, bisa membeli," kata Kadir. "Senang semua. Seminggu saya lolos. Tes sampai tiga bulan. Lolos lagi." Akhirnya, Kadir resmi jadi anggota Srimulat.

Bukan hal yang mudah menembus tes masuk Srimulat. Banyak pelawak muda dan pintar melucu tapi akhirnya gagal karena minus improvisasi. Mereka tak berkutik saat naik panggung dan diadu dengan pemain Srimulat. "Lucu kayak apapun, kalau tak bisa improvisasi jadinya hanya lola-lolo (cuma bengong) di panggung. Pasti seminggu saja akan dipulangkan," kata Kadir.

Kadir
Foto: Monica Arum/20detik

Pendiri Srimulat, Teguh Slamet Rahardjo, sedari awal memang sudah mendesain penggunaan dan kekuatan improvisasi masing-masing pelawak sebagai "tiang pancang" dalam pertunjukan lawak Srimulat. Teguh hanya menyusun skrip sederhana berisi garis besar cerita. "Nah pemain bebas bermain di benang merah cerita tadi dengan improvisasi. Biasanya saya yang diberi tugas mengembalikan ke jalur kalau sudah melenceng," ujar Toto Maryadi alias Tarzan. Tarzan bergabung dengan Srimulat pada 1979. Sebelumnya dia merupakan pemain Lokaria, kelompok yang menjadi saingan Srimulat.

Dua tahun Kadir melawak di Bale Kambang, lalu datang permintaan agar dirinya pindah ke Srimulat Surabaya. Srimulat Surabaya butuh orang baru karena banyak pemain yang direkrut Srimulat Jakarta. Cuma setahun di Surabaya, ia diminta pindah ke Jakarta. Angan-angannya pentas di Jakarta pun terwujud. "Tapi saya hanya 6 bulan di Srimulat Jakarta. Basuki membujuk saya keluar bikin grup baru," kata Kadir.

Keluar dari kelompok Srimulat, Kadir laku keras. Ia membintangi sejumlah film layar lebar. Dalam film pertamanya Cintaku di Rumah Susun pada 1987, Kadir beradu peran dengan Deddy Mizwar, Tuti Indra Malaon, Eva Arnaz, dan Doyok. Sejak itu pula Kadir punya ciri khas logat Madura yang kental.

Tak lagi berada di kelompok Srimulat, Kadir tetap menjaga hubungan baik dengan pemain dan eks anggota Srimulat. Bahkan saat Srimulat resmi dibubarkan pada 1990. "Kami sering ketemu di disco dangdut samping Kartika Candra,"kata Kadir. Sampai suatu ketika, Kadir bertemu Jujuk Juwariyah, istri Teguh yang sedang mementaskan Srimulat di Kediri bersama pemain-pemain muda. Jujuk memintanya menggagas reuni Srimulat. "Saya yang dianggap paling berhasil dan punya duit," ujar Kadir.

Biasanya saya yang diberi tugas mengembalikan ke jalur kalau sudah melenceng."

Toto Maryadi alias Tarzan

Anggota Srimulat di televisi
Foto : Detik.com

Kadir akhirnya sepakat dengan syarat-syarat tertentu. Berbekal uang pribadinya, Kadir menyewa Taman Ria Senayan. Baliho besar bergambar wajah-wajah pemain Srimulat yang dilukis Margono alias Gogon dipasang dekat tempat pertunjukan. "Promosi sebulan lewat radio dan dibantu liputan beberapa media," kata Kadir. Kadir pun memanggil sutradara Srimulat Surabaya, Rustamaji, dan Sarjito dari Solo untuk memegang pertunjukan. Skrip-skrip lama dikumpulkan untuk didaur ulang ceritanya.

Pada Februari 1995, pertunjukan reuni pertama digelar dan berlangsung sangat sukses. Berkaca dari itu, Kadir kembali menyusun rencana pertunjukan pada bulan Agustus menyambut ulang tahun kemerdekaan. Tak tanggung-tanggung kali ini digelar tujuh hari nonstop. "Tiap hari penonton full. Hari keempat masuk stasiun televisi swasta," ujar Kadir.

Kadir lalu membawa rombongan Srimulat pentas keliling di beberapa kota di Pulau Jawa. Kontrak dengan televisi swasta pun didapatkan. Sampai tahun 2000, Jujuk akhirnya meminta kembali manajemen Srimulat agar berada di tangan keluarga Teguh. Sampai akhirnya Srimulat berhenti tayang pada 2003. Putra pertama Teguh, Eko Saputro menyatakan keluarga tak berniat membangun kembali panggung lawakan seperti yang dibuat ayahnya. "Ada yang menawari, tapi kerja seperti Bapak (Teguh) itu capek. Kalau film soal Srimulat lebih realistis," katanya.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE