INTERMESO

Dalam Bakmi, Jokowi, Megawati, dan Soeharto, Bersaudara

"Pak Jokowi belum pernah pesan langsung. Tapi beberapa kali Pak Jokowi makan bakmi jawa buatan saya di acaranya Bu Mega"

Ilustrasi : Edi Wahyono

Sabtu, 15 September 2018

Ada banyak sekali cerita antara keluarga Sukarno dan Soeharto. Satu kisah pahit yang sulit dilupakan Megawati Soekarnoputri dan saudara-saudaranya adalah bagaimana rezim Soeharto memperlakukan ayah mereka setelah dipaksa turun dari kekuasaan hingga tutup usia. Megawati pasti juga belum lupa bagaimana dia ‘digoyang’ setelah terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) ketika Soeharto masih menjabat Presiden Indonesia.

Jalan hidup dan jalan politik boleh bersimpangan, tapi soal urusan lidah, siapa saja bisa bersaudara, termasuk Soeharto dan Megawati. Bukan di rumah makan mahal di mal atau restoran hotel bintang lima, ‘lidah’ Presiden Soeharto dan Presiden Megawati dipertemukan, tapi justru di warung bakmi sederhana di kolong jembatan jalur kereta di Gondangdia, Jakarta Pusat.

Warung tenda Bakmi Jawa Pak H. Minto berada tepat di bawah jembatan kereta, hanya beberapa langkah dari Stasiun Gondangdia. Berjualan sejak tahun 1964, Bakmi Jawa Pak Minto menjadi saksi sejarah dibangunnya Stasiun Gondangdia pada tahun 1980-an. Kini Bakmi Jawa Pak H. Minto dikelola oleh generasi kedua, Hartanto, salah satu putra Haji Minto.

Waktu ayahnya masih hidup, menurut Hartanto, dia sendiri yang melayani pesanan Presiden Soeharto dan Megawati. Menurut cerita sang Ayah, Soeharto lebih menyukai bakmi rebus berkuah, sementara Megawati lebih sering memesan bakmi goreng. Meski tak jarang pula keduanya membungkus bakmi rebus dan bakmi goreng sekaligus.

“Dulu saya masih SMP, jadi Bapak yang masak. Biasanya ajudan Pak Harto dan Bu Mega datang ke sini pesan beberapa bungkus untuk dibawa pulang,” Hartanto, putra ke-11 almarhum Haji Minto, menuturkan. Tak cuma pesan untuk dibungkus, beberapa kali Minto juga diundang ke rumah Presiden Soeharto di Jalan Cendana, atau ke kediaman Presiden Megawati di Jalan Teuku Umar. Kebetulan, kedua rumah Presiden RI itu tak seberapa jauh dari Gondangdia.

Khusus untuk melayani pesanan istimewa ini, Pak Minto selalu mengganti ayam dan telur negeri dengan ayam dan telur kampung. “Mereka sama-sama nggak mau pakai ayam negeri, karena mungkin jaga kesehatan,” kata Hartanto. Karena disajikan untuk Presiden dan keluarga atau tamunya, semua masakan Minto juga harus melewati pemeriksaan Pasukan Pengamanan Presiden. “Kalau sudah dinyatakan lolos, baru boleh disajikan.”

bakmi jawa
Foto : Detik.com

Sejak Soeharto berpulang, keluarga Cendana memang tidak lagi menjadi pelanggan Bakmi Jawa Pak Minto. Tapi sampai hari ini, Megawati masih tetap jadi pelanggan setia bakmi goreng Pak Minto. Bahkan Megawati pernah membawa dua porsi bakmi godog dan bakmi goreng saat bertamu ke Istana untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Dalam satu foto tampak Presiden Jokowi menyendok bakmi goreng ke piringnya saat bersantap bersama Megawati.

Sering bertandang ke rumah Megawati, lidah Presiden Jokowi memang tak asing lagi dengan bakmi jawa Pak Minto. Megawati kerap menyuruh Hartanto memasak bakmi jawa untuk tamu yang berkunjung ke rumahnya. “Pak Jokowi belum pernah pesan langsung. Tapi beberapa kali Pak Jokowi makan bakmi jawa buatan saya di acaranya Bu Mega,” ujar Hartanto.

Biasanya Pak Taufiq ke sini bareng teman-temannya, ngobrol dari jam 9 malam bisa sampai jam 2 subuh'

Rupanya Ketua Umum PDI Perjuangan ini memang punya kenangan khusus dengan Bakmi Jawa Pak Minto. Almarhum suaminya, Taufiq Kiemas, lah yang mengenalkan Megawati kepada warung kaki lima bakmi jawa yang berada di trotoar Jalan Taman Cut Mutiah ini. Ketika Taufiq masih muda dan baru merintis karir politiknya, konon hampir setiap minggu ia mampir ke kedai milik Pak Minto. “Biasanya Pak Taufiq ke sini bareng teman-temannya, ngobrol dari jam 9 malam bisa sampai jam 2 subuh,” ujar Hartanto.

Berpuluh tahun berjualan dan jadi langganan Presiden, warung bakmi Pak Minto masih tetap bertahan di tenda. Jika datang ke kolong Stasiun Gondangdia jam 5 sore, tenda Pak Minto memang paling ramai disesaki pengunjung. Meski warung sudah beralih tangan ke generasi kedua, tapi pelanggan Pak Minto tak beralih. Hartanto yang mewarisi resep dan keterampilan dari ayahnya sudah sangat lihai mengolah bakmi dan nasi goreng.

Sudah setengah jam Rahayu menunggu pesanannya, sepiring bakmi godog kesukaannya. Karyawati swasta ini merupakan pelanggan lama Bakmi Jawa Pak Minto. Awalnya Rahayu penasaran karena setiap ia bertolak pulang dari Stasiun Gondangdia menuju rumahnya di Pasar Minggu, kedai bertenda biru ini tak pernah sepi. Apalagi ia dengar dari teman sekantornya, orang-orang ternama di negeri ini jadi pelanggan bakmi jawa bertabur bawang goreng dan kerupuk ini.

Rahayu yang penasaran, tak mau ketinggalan mencicip bakmi Pak Minto. “Awalnya saya males karena setiap lewat selalu ramai. Tapi katanya Megawati dan Soeharto aja suka. Pasti rasanya enak. Ternyata benar aja,” kata Rahayu. Maka jadi lah dia pelanggan bakmi Pak Minto. “Sekarang hampir setiap minggu saya makan di sini sebelum pulang.”

Atraksi lempar mie di Bakmi 68 Singkawang
Foto : dok.pribadi

Dian Sastrowardoyo bersama Oka Antara di Bakmi 68 Singkawang
Foto : dok.pribadi Dian Sastro

Kalau wajah jadi ukuran, Liu Tjan Ngiap jelas tak seganteng Andy Lau, tak sebening pula bintang-bintang K-Pop. Tapi di Singkawang, Kalimantan Barat, dia sudah bak artis kondang. Kadang orang-orang antre hanya agar bisa berswafoto bersama Tjan Ngiap. Kabarnya, artis-artis dari Jakarta yang mampir di Singkawang pun harus antre untuk menunggu giliran foto bersama dia.

Liu Tjan Ngiap tak bisa bernyanyi apalagi berakting. Justru ia dikenal karena kelihaiannya melempar bakmi. Aksinya ini membuat Tjan Ngiap terkenal seantero Singkawang. Bahkan fotonya diabadikan di Museum Hakka. Aksi Tjan Ngiap bukan sembarang lempar bakmi. Ritual ini ia lakukan ketika meracik bakmi sebelum dihidangkan untuk pelanggan. Tjan Ngiap merupakan pemilik kedai Bakso Sapi Bakmi Ayam Singkawang 68.

Ini lah atraksi yang dinanti pengunjung warung bakminya. Ketika bakmi yang ia rebus sudah menyembul ke atas permukaan air mendidih, menggunakan saringan kayu, tangan kanannya melempar bakmi hingga setinggi dua meter lalu ditangkupkan pada mangkok berlogo ayam jago. Demi melihat atraksi lemparan bakmi Tjan Ngiap, tentu saja sekaligus menikmati kelezatan semangkuk bakmi Singkawang, mobil berplat nomor RI beberapa kali terlihat parkir di depan tokonya.

Saat perayaan Cap Go Meh di Singkawang pada Maret 2018 lalu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi sempat mampir ke Bakmi Ayam Singkawang 68. Lantaran kondisi warung yang selalu ramai, Lukman Hakim dan Imam Nahrawi tak kebagian meja. Tapi mereka tak keberatan berbagi meja dengan pengunjung lain.

“Saya awalnya agak khawatir karena kondisi ramai sekali. Ternyata Pak Lukman dan Pak Imam mau nyampur dengan yang lain,” ujar Iyan, anak Tjan Ngiap, sekaligus generasi ketiga pemilik Bakso Sapi Bakmi Ayam Singkawang 68 saat ditemui di Jakarta Barat. Iyan dan keluarganya sudah biasa menghadapi pejabat. Bahkan konon Presiden Soeharto pernah mampir ke warung itu saat masih berpangkat Letnan Kolonel dan ditugaskan di Singkawang. “Waktu itu saya masih belum lahir. Tapi di Singkawang ada foto hitam putih Papa dengan Soeharto.”

Bakmi 68 Singkawang
Foto : dok.pribadi

Bakmi seperti buatan Tjan Ngiap memang agak langka di Singkawang. Bukan cuma karena proses pembuatannya yang unik, tapi juga lantaran disajikan tanpa daging babi. Sesuai namanya, Singkawang yang diserap dari bahasa Hakka, mayoritas penduduk kota itu merupakan keturunan Tionghoa-Hakka. Bakmi dengan daging babi dapat dengan mudah ditemukan di seluruh pelosok Kota Singkawang.

Ide untuk membuat bakmi dengan isian daging ayam dan sapi ini tercetus ketika ayah Tjan Ngiap, sekaligus pendiri Bakso Bakmi Ayam Singkawang 68, pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1946. Kakek Iyan datang dari daerah Meixian di Meizhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok. Saat tiba di Singkawang, dia tak punya keahlian apa pun kecuali membuat bakso dan bakmi.

Namun melihat keberagaman penduduk di Singkawang, ia pun berkomitmen berdagang bakmi tanpa daging babi. Sebagai gantinya, ia menambahkan hekeng. Sekilas terlihat seperti otak-otak goreng, hekeng terbuat dari daging udang yang telah dihaluskan kemudian dibungkus dengan lembaran kembang tahu kering dan digoreng hingga kecoklatan.

Padahal biasanya dalam sehari Tjan Ngiap mampu melempar hingga ratusan bakmi

Kakek Iyan mulai berjualan dengan gerobak, hingga akhirnya dia sanggup mengumpulkan uang dan membeli sebuah toko berukuran 4 x 20 meter seharga Rp 1,5 juta. Toko itulah yang digunakan untuk berjualan bakmi hingga saat ini. Kakek Iyan mundur, tanggung jawab mengelola toko bakmi diwariskan kepada putranya, Tjan Ngiap. Tak cuma mengurus warung bakmi, Tjan juga harus bekerja keras menghidupi kesembilan saudaranya. Setelah lulus SD, Tjan Ngiap tak melanjutkan sekolah demi menghidupi adik-adiknya dengan berjualan bakmi.

“Untuk membangun usaha bakmi ini, saya tahu papa kerja keras sekali karena hidupnya sangat susah. Dulu papa buka toko jam 5 pagi dan tutup jam 2 pagi. Jadi cuma ada waktu 3 jam buat istirahat. Selama setahun nggak ada hari libur, bahkan imlek pun tetap buka,” Iyan menuturkan perjuangan bapaknya.

Bekerja monoton hampir 24 jam setiap hari, Tjan Ngiap merasa bosan pula terus menerus mengaduk rebusan bakmi. Ia mulai coba-coba melontarkan bakminya. Semakin jago melempar, bakminya akan terbang makin tinggi. Tapi lemparan bakmi ini rupanya bukan hanya sekadar atraksi. Ayah Iyan merasa, jika dilempar, bakminya tidak akan gampang lengket. “Mungkin saat dilempar serat mienya jadi terpisah dan nggak saling nempel. Pengunjung bilang semakin kenyal bakminya.”

Di usianya yang menginjak kepala tujuh, kini Tjan Ngiap lebih sering menyerahkan tugas memasak bakmi kepada anak buahnya. Hanya sesekali ia turun tangan. Atraksi lempar bakmi yang menjadi ciri khas warung bakmi ini rupanya mengundang perhatian produser film Meiske Taurisia. Bakso Sapi Bakmi Ayam Singkawang 68 dipilih menjadi salah satu tempat syuting film Aruna dan Lidahnya. Film itu diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak.

Film yang akan tayang di bioskop akhir September ini dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Hannah Al-Rasyid, dan Nicholas Saputra. Syuting diadakan dari jam 7 malam hingga jam 3 menjelang subuh untuk mengambil adegan saat Tjan Ngiap sedang melempar bakmi sementara di depannya, Dian Sastro dan Oka Antara bercakap-cakap. “Karena saat itu kondisi Papa sedang tidak fit, jadi sakit karena lempar bakmi sampai 60 kali agar dapat gambar yang bagus,” tutur Iyan. Padahal biasanya dalam sehari Tjan Ngiap mampu melempar hingga ratusan bakmi. 

Ada kejadian lucu ketika syuting sedang dilakukan. Sebelum syuting dimulai Dian Sastro meminta Tjan Ngiap untuk membuatkannya semangkuk bakmi sebagai santap malam. Ketika sedang meracik bakmi, Tjan Ngiap berbisik kepada Iyan. “Sambil bikin bakmi papa tanya, 'Yan, katanya mau syuting, mana artisnya?'” Iyan menjawab dengan geli. “'Loh itu yang tadi duduk di sebelah papa'….Mungkin di pikiran papa, kalau artis tuh serba wah.” Tjan Ngiap memang tak hapal dengan wajah artis-artis dari Jakarta. Justru setiap kali ada artis datang berkunjung, malah banyak di antara mereka yang minta berswafoto bersama Tjan Ngiap.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE