INTERMESO

Mereka Tajir,
Kami Mencicil

Ada orang benar-benar tajir dan gila belanja, ada pula yang hobi belanja sekadar untuk pamer di Instagram.

Indra Djokosoetono, keluarga pemilik Blue Bird, saat di Kenya. Foto : dok.pribadi via Instagram

Minggu, 23 September 2018

Hari-hari ini ada banyak sekali cerita sejenis ini di linimasa Twitter, #CrazyRichSurabayans. Cerita seperti itu konon nyata apa adanya, tak terjadi di negeri dongeng. Satu kisah dari @sari2703 soal hadiah ulang tahun anak orang kaya di Surabaya. Sang ayah merupakan pemilik hotel dan pusat perbelanjaan di Kota Pahlawan.

Saat anaknya berulang tahun ke-17, ayahnya memberinya hadiah Toyota Harrier. Kalau melongok di internet, harga mobil ini kurang lebih Rp 1,2 miliar. Ya, harga mobil ini memang mahal karena tak dirakit di dalam negeri, tapi diimpor dari Jepang. Anak yang baru gede ini belum lama belajar menyetir.

Walhasil, Toyota Harrier yang masih kinclong itu pun mencium pagar. “Bukannya dibawa ke bengkel, si anak malah dibeliin Harrier baru lagi,” @sari2703 menulis. Dia mungkin hanya bisa meringis melihat betapa entengnya bapak itu merogoh dompet untuk membeli sekaligus dua mobil semahal itu.

Lain pula cerita @oktvr. Dia bercerita disewa oleh seorang pengusaha di Surabaya untuk membuat pesta kejutan ulang tahun istrinya. Singkat cerita, satu ruang besar di Hotel Java Paragon di Jalan Mayjen Sungkono sudah disewa. Ternyata, cuma dipakai sangat singkat. Sekadar untuk acara tiup lilin di kue ulang tahun dan berkaraoke sekadarnya.

Hidangan yang sudah disediakan tak disentuh sama sekali. “Mereka sudah pesan hotel di seberang jalan untuk makan malam,” @oktvr menulis. Hal seperti itu rupanya biasa saja bagi mereka. Saat suaminya berulangtahun, istrinya menyewa satu ruang bioskop di pusat perbelanjaan besar di Surabaya hanya supaya bisa menonton film berdua dengan sang suami. Tak boleh ada penonton lain.

Anak-anak orang kaya di China
Foto : Getty Images

Bagi banyak orang di negeri ini, hal seperti itu mungkin hanya ada dalam angan-angan dan tak pernah jadi kenyataan. Tak sedikit orang kaya di Indonesia, mungkin pula ada ribuan orang di negeri ini yang punya harta lebih dari Rp 100 miliar. Pada 2015 saja, menurut lembaga keuangan Credit Suisse, ada 987 warga negara Indonesia yang punya harta lebih dari US$ 50 juta atau lebih dari Rp 740 miliar.

Credit Suisse menaksir, jumlah penduduk di Indonesia yang punya harta lebih dari US$ 1 juta atau sekitar Rp 14,7 miliar akan melompat menjadi 151.000 orang pada tahun 2020 dari 98.000 orang pada 2015. Banyak dari orang-orang yang makmur dan super makmur ini berasal dari keluarga sederhana yang kerja keras, kadang sampai tak sempat berlibur, demi naik tangga demi tangga status sosial.

Bagaimana rasanya dari orang tak punya kemudian menjadi orang yang sangat berada? Ada satu cerita di Quora, bagaimana seorang perempuan meniti karir, dari semula hanya bergaji Rp 800 ribu sebulan dan delapan tahun kemudian pendapatannya melompat berlipat-lipat menjadi sekitar Rp 107 juta per bulan.

Aku tak lantas ganti mobil. Tak lagi kalap belanja.'

Panggil saja dia Sophia. Kini dia kerja di Dubai, Uni Emirat Arab. Sebelum pindah ke Dubai, dia bekerja di Jakarta dengan gaji Rp 20 juta. Dengan modal pendidikan dari kampus di Eropa -- keluarganya memang lumayan berada -- Dia bisa mendapatkan pekerjaan di Dubai dengan gaji lima kali lipat. Apa yang dia rasakan?

"Nothing," dia menulis. Dulu, waktu masih kerja di Jakarta, dia perlu menabung berbulan-bulan supaya bisa membeli tas Gucci Dyonisus Bamboo yang harganya puluhan juta rupiah. Tapi kini, setelah gajinya 'terbang' tinggi, dia malah tak lagi berselara memborong barang-barang mewah. "Aku tak lantas ganti mobil. Tak lagi kalap belanja. Nothing." Dia menduga, kini dia sudah lebih dewasa.


Foto : Getty Images

Siapa yang tak ingin tajir, beli barang tak perlu ngoyo menabung dan mencicil berbulan-bulan? Berbelanja memang asyik. Apalagi kalau punya banyak duit. Tak heran jika banyak orang kalap berbelanja, tak peduli dia kaya beneran atau mesti harus hidup ngirit dan bayar mencicil.

May Dita Ginting, 28 tahun, punya banyak cerita soal orang-orang yang 'gila' belanja ini. Dia sudah tiga tahun bekerja sebagai personal shopper, tukang belanja yang membantu orang-orang yang ingin menghamburkan duit membeli barang-barang mahal. Ada satu pelanggan jasanya dari Bandung yang dari bulan ke bulan makin besar nilai belanjanya. Pelanggannya ini, kata May, bekerja sebagai pimpinan perusahaan.

"Awalnya cuma pesan jasa titip satu tas biasa yang harganya nggak sampai Rp 10 juta," kata May kepada DetikX. Nilai belanjanya pun terus naik. Kini yang biasa dia beli rupa-rupa perhiasan. "Bulan ini belum selesai saja dia sudah belanja sekitar Rp 300 jutaan. Pernah dalam sehari transaksi berlian itu Rp 200 jutaan. Habis beli berlian, dia mau beli tas lagi. Aku sampai bilang, 'Kak, setop jangan lagi. Kalau minggu depan masih boleh lah.''

Orang-orang kaya doyan belanja ini ada di mana-mana. Kadang, menurut May, mereka bersaing di antara teman-temannya. "Setiap kali mereka ketemu kayak saing-saingan. Ya kayak crazy rich itu lah. Hari ini temannya beli, besok juga gua harus beli bahkan yang lebih mahal," kata May. Semangat belanja ini memang seperti tak ada habisnya. Tinggal seberapa kuat isi dompetnya

"Ada pejabat salah satu perusahaan BUMN dia japri mau beli gelang dengan anggaran Rp 30-40 juta, eh ujung-ujungnya beli kalung harga Rp 72 juta," May bercerita. "Nggak ada satu bulan, dia pesan lagi gelang Rp 90 juta, karena dapat diskon jadi Rp 70 juta."

Ada pula seorang pelanggan perempuan dari Surabaya yang beli perhiasan dan beli barang-barang mahal bak beli mie instan. Sekali May kirim pesanan, kadang sampai dua kardus.Isinya, 12 tas, enam dompet dan tiga jam tangan. Dahsyat.

Yang agak unik, kata May, ada juga orang-orang kaya yang hampir selalu bayar mencicil. "Duitnya ada, tapi maunya nyicil," kata dia. "Dari total belanja Rp 108 juta, bayar Rp 58 juta dulu, sisanya saya talangin dan bayarnya bisa cicil." Tak semua yang mencicil ini orang kaya beneran, May menduga, ada pula yang cuma buat gaya. "Habis dipakai berfoto di Instagram, dijual lagi."

[Widget:Baca Juga]

Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE