INTERMESO

Tukang Belanja untuk Orang Kaya

“Cuma untuk jualan perhiasan saja dari September tahun lalu, omzetku sekarang sudah Rp 2,5 miliar.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Sabtu, 6 Oktober 2018

Sudah lewat setengah jam May Dita Ginting membolak-balik tas Gucci Marmont berwarna nude di tangannya. Kedua matanya awas mengamati setiap lekuk dan sudut jika ada cacat barang setitik pun pada tas selempang seharga Rp 30 juta itu. Dita tak sadar pelayan toko itu terus memperhatikannya dengan saksama, dari ujung kaki hingga kepala.

Sejak dia melewati pintu kaca ke rumah mode butik asal Italia itu, Dita sudah jadi perhatian para pelayan. Bukan karena tampilannya yang wah dan gemebyar seperti pelanggan VIP Gucci pada umumnya. Justru pelayan-pelayan bersetelan jas serbalicin itu menyangsikan pengunjung toko berkaus oblong, bercelana jins, dan mengenakan sepatu olahraga itu mampu membeli tas mewah seharga puluhan juta rupiah.

Mereka salah terka. Dita tak cuma membeli satu tas Gucci, melainkan memborong empat tas sekaligus. Sampai-sampai pelayan itu dibuatnya tercenggang, nyaris tak percaya. “Aku memang ke mana pun pakaiannya begini. Nggak heran kalau yang jaga toko sering sinis. Padahal yang pakai sasak nggak beli, tapi yang pakai kaus beli, malah memborong,” Dita menuturkan pengalamannya kepada detikX dengan nada bercanda.

Dita memang hobi keluar-masuk rumah mode butik ternama, kebanyakan di pusat-pusat belanja kelas atas di Jakarta. Ia sampai tak menghitung lagi jumlah duit yang dia belanjakan setiap bulan. Meski doyan belanja barang-barang mahal, sebenarnya Dita bukan pemilik atau anak pemilik perusahaan besar. Suaminya juga bukan pengusaha tambang batu bara atau juragan perkebunan sawit.

Dita hanya ibu rumah tangga yang punya hobi belanja. Dan kebetulan disuruh orang-orang yang punya dompet tebal untuk membantu menghamburkan uang mereka. Tugas utama Dita, mencarikan dan membelikan barang-barang yang orang-orang kaya itu inginkan. Tentu saja ini bukan kerja sosial dan kerepotan Dita tak gratis.

May Dita dan barang belanjaannya
Foto: dok. pribadi

Pekerjaan sebagai personal shopper ini sudah Dita jalani sejak 2015. Dulu ibu dua anak ini sempat kerja di perusahaan ekspor-impor, sempat pula menjadi staf di perusahaan sekuritas. Tak ada satu pun pekerjaan yang membuatnya betah. Dita, yang lincah berbicara, akhirnya mengundurkan diri dan sempat bekerja menjadi pembawa acara lepas di mal-mal. Rupanya penghasilannya lumayan. Dita bisa mengantongi Rp 20 juta di tangan. Tapi uang itu pun ludes untuk memuaskan hobinya berbelanja. Begitu pula nasib jatah bulanan dari sang suami.

Meski suka dibelikan tas kesukaan oleh suami, rasanya Dita tak puas jika tidak belanja lagi. Jika orang tak hobi belanja, memang sulit memahami kepuasan orang-orang seperti Dita setelah memborong barang. “Kalau ada diskon, langsung beli. Tahu-tahunya pas di kasir, jreng…. udah belanja sekian juta. Memang nikmat banget belanja, bagaimana dong? Tapi aku mikir juga, eh gila, kalau begini terus, nggak bisa. Padahal aku nggak ada kerjaan tetap,” ujar Dita.

Kalau ada diskon langsung beli. Tahu-tahunya pas di kasir, jreng… udah belanja sekian juta. Memang nikmat banget belanja, bagaimana, dong?"

Untunglah hobi belanja itu ternyata bisa dijadikan duit. Berdasarkan pengalamannya sebagai shopaholic, Dita mulai berburu tas merek Fossil. Dengan pasang muka tebal, Dita mengunjungi salah satu toko Fossil di Jakarta dan mengambil foto beraneka ragam tas yang dijual di sana. Pelayan toko saat itu memang mengizinkan Dita mengambil gambar meski tak jadi membeli.

Dita memasarkan foto tas itu melalui akun Instagram. Tentu orang tak akan serta-merta percaya mengirimkan uang jutaan rupiah ke rekeningnya. Agar orang mau percaya, Dita menyebar foto diri lengkap dengan kartu tanda penduduk. Dita hampir tak percaya, dengan cara ini, ia sukses menjual tujuh tas sekaligus.

Perlahan ia mulai dibanjiri beraneka ragam pesanan tas-tas bermerek, dari harga beberapa juta sampai puluhan juta rupiah. Ketika modal mulai terkumpul dan barang sedang diskon, ia juga kerap memborong stok yang ada di toko untuk ditawarkan kembali kepada pelanggan-pelanggannya.

Namun sejak melabeli diri sebagai personal shopper, kebanyakan pesanan datang dari permintaan kliennya sendiri. Bukan hanya tas-tas mahal, sewaktu-waktu Dita juga melayani pesanan alat-alat kebutuhan rumah tangga, misalnya dari IKEA. Kata orang-orang, Dita siap jadi ‘palugada’, apa lu mau gua ada.

Barang-barang mahal seperti inilah yang dicari oleh pelanggan May Dita
Foto: dok. Getty Images

Di luar negeri, jasa personal concierge atau personal shopper sudah jadi hal biasa bagi orang-orang kaya. Orang-orang ini punya duit berkarung-karung tapi duit itu tak bisa membeli waktu. Ketimbang menghabiskan waktu untuk mengantre atau mencari informasi di mana barang yang dia mau dijual, mending menyewa jasa personal shopper atau personal concierge seperti Quintessentially atau LaLaLuxe.

Ada-ada saja permintaan orang-orang kaya raya itu. Namanya juga orang tajir, apa yang dia mau kadang di luar bayangan orang kebanyakan. Misalnya, minta dicarikan buku dengan tanda tangan Presiden Abraham Lincoln atau sepatu yang sudah tak ada lagi di pasar. Dan tak ada kata ‘tidak’ bagi personal concierge atau personal shopper. Misalnya satu kali, ada satu keluarga kaya raya meminta Nicole Pollard dari LaLaLuxe mendatangkan penyanyi Justin Bieber untuk pesta menyambut tahun baru.

Untuk permintaan seperti ini, Nicole tak perlu lagi bertanya berapa batas anggarannya. Sebab, berapa pun Justin Bieber minta, akan dibayar. “Kami tak bisa mendapatkannya untuk tahun baru, tapi kami bisa mendatangkan Justin beberapa hari kemudian,” kata Nicole kepada majalah Vanity Fair beberapa waktu lalu. Untuk ongkos jasanya, Nicole dibayar US$ 400 atau sekitar Rp 6 juta per jam atau berdasarkan persentase dari nilai transaksi.

Dita mungkin belum menemui permintaan ‘segila’ itu. Tapi ada banyak rupa polah pelanggannya yang gila belanja. Untuk jadi seorang shopaholic, memang tak usah menunggu jadi menantu konglomerat. Jika sudah terkena 'candu' belanja, memang sulit untuk menghentikannya. Apalagi ditambah kemudahan berbelanja dengan adanya jasa personal shopper ini.

Dari pengalaman klien Dita, bisa dibilang sebagian besar pelanggannya, sekali belanja, dia akan belanja lagi dan belanja lagi. Dita sampai harus memberikan peringatan kepada calon kliennya dengan menuliskan kata 'dangerously addictive' di akun instagramnya, @preciousiting.

“Sekali beli pasti ketagihan karena, kalau sudah nyaman, orang akan balik lagi dan saling percaya,” ujar Dita. Sebagai ‘tukang belanja profesional’, kepercayaan adalah kuncinya. Makanya Dita tak mau mencederai kepercayaan pelanggan-pelanggannya. “Aku memposisikan pembeliku adalah aku. Aku nggak mau dong beli barang cacat, yang ada gompal. Noda setitik aja aku fotoin. Sampai 30 orang yang order dalam sehari pun aku foto japriin satu per satu.”

May Dita setelah berbelanja untuk pelanggan-pelanggannya
Foto: dok. pribadi

Selain tas branded, sejak akhir tahun lalu, Dita melayani pelanggan yang ingin tampil kinclong dengan perhiasan emas dan berlian. Kebetulan ada seorang temannya bekerja di salah satu toko perhiasan ternama. Dari temannya itu, ia mendapatkan akses dan informasi mengenai perhiasan terbaru yang sedang jadi tren. Dita melayani order khusus untuk perhiasan di CMK Group, seperti Frank n Co, Mondial, Miss Mondel, dan The Palace.

Itu juga nggak nyangka. Mulainya dari cuma belanja Rp 4-5 jutaan, tahu-tahu 4 bulan terkumpul Rp 1 miliar. Manajer tokonya sampai bilang, ‘Gila, lu diamond member tercepat."

“Cuma untuk jualan perhiasan saja dari September tahun lalu omzetku sekarang sudah Rp 2,5 miliar. Kalau ditambah dengan belanjaan tas dan yang lain, sudah nggak kehitung berapa total omzetnya,” ujar Dita, yang mematok tarif Rp 200 ribu untuk satu barang pesanan. Artinya, dalam sebulan Dita paling tidak belanja lebih dari Rp 200 juta.

Salah satu alasan perhiasan banyak peminatnya, Dita sanggup mendapatkan harga jauh lebih murah ketimbang beli sendiri langsung ke tokonya. Dita menggunakan potongan dari kartu anggota. Ditambah diskon dari posisi peringkat member. “Karena aku membelikan semua pesanan klien aku pakai satu nama, yaitu namaku. Nah, di situ aku dibuatkan semacam kartu member. Aku ngumpulin poin dari setiap transaksi. Dan juga ada tiering points. Jadi kita naikin tingkat dari member biasa ke Emerald, Ruby, baru ke Diamond, peringkat paling tinggi. Semakin tinggi tiering member-ku, dapat tambahan diskon lebih besar lagi,” kata Dita.

Syarat menjadi anggota Diamond ini lumayan berat juga. Dita harus bertransaksi belanja minimum Rp 1 miliar. Ternyata hanya dalam 4 bulan Dita sanggup memenuhinya dan menjadi anggota Diamond. “Itu juga nggak nyangka. Mulainya dari cuma belanja Rp 4-5 jutaan, tahu-tahu 4 bulan terkumpul Rp 1 miliar. Manajer tokonya sampai bilang, ‘Gila, lu Diamond member tercepat,’” Dita bercerita.

Berkat ‘kartu sakti’ itu pula, Dita kerap mendapat undangan acara yang digelar khusus untuk pelanggan kelas kakap. “Pernah aku diundang ke acara Miss Mondial, khusus bagi anggota kelas Diamond yang sudah berbelanja lebih dari Rp 3 miliar.... Yang datang rata-rata pakai baju brokat, sasaknya tinggi, menenteng Chanel, Bottega, Hermes. Lagi-lagi aku cuma pakai kaus. Tapi meski cuma kausan gini, aku bertransaksi Rp 84 juta,” kata Dita sambil menyeringai.

Nikmatnya menjadi personal shopper tak cuma dapat berkenalan dengan orang kaya atau sekadar mendapatkan komisi dari hasil membelanjakan barang mereka. Dita kerap mendapat bonus 'perintilan' dalam bentuk emas atau berlian dari undian atau penukaran poin belanjaannya. Kini Dita sudah mengantongi emas lebih dari 100 gram. Kadang sebagian koleksi emasnya itu ia bagikan sebagai ‘hadiah’ bagi followers di Instagram. Belum lagi rupa-rupa fasilitas sebagai pemegang kartu Diamond, misalnya menikmati lounge di Grand Indonesia sembari memandang tugu Selamat Datang ditemani secangkir susu cokelat hangat dan biskuit keju edam.

Satu lagi enaknya jadi tukang belanja untuk orang kaya. Dita juga kerap diminta berbelanja sampai Malaysia, Singapura, dan Hong Kong. Selain mendapat komisi, dia dapat bonus jalan-jalan gratis bersama keluarga. “Kalau lagi banyak-banyaknya, setahun saya bisa jalan sampai tiga kali. Dan dari keuntungannya sekarang lumayan, bisa buat uang muka rumah,” ujarnya. Sudah hasrat belanja tersalurkan, dapat banyak bonus pula. “Sampai satu titik aku jenuh dengan berlian karena setiap hari lihat.”

Pernah dalam sehari dia beli berlian Rp 200 juta. Dan habis beli berlian, dia masih mau beli tas lagi."

May Dita, 28 tahun, personal shopper

Klien Dita tak melulu orang yang benar-benar tajir, yang tak banyak pikir beli tas ratusan juta rupiah dengan bayar tunai. Ada ibu-ibu sosialita, ada pula keluarga 'Crazy Rich' dari Surabaya, bahkan ada pula pelanggan dari Sorong, Papua. Tak sedikit juga klien yang ingin terlihat wah namun isi rekening tak sebesar nafsu belanjanya. Menurut istilah Dita, 'BPJS' alias bujet pas-pasan jiwa sosialita.

"Bahkan ada juga yang pegawai negeri," kata Dita. Biasanya, sekali belanja, kliennya ini hanya habis belasan juta rupiah. Tapi lain cerita jika dia mendapat pembayaran gaji ke-13 atau ke-14. "Sekali belanja bisa habis seratusan juta rupiah."

Belanja mungkin memang mirip 'candu'. Beberapa kliennya, menurut Dita, bisa kalap saat belanja barang-barang mewah. "Pernah dalam sehari dia beli berlian Rp 200 juta. Dan habis beli berlian, dia masih mau beli tas lagi.... Aku sampai bilang, 'Kak, setop, jangan lagi. Kalau minggu depan, masih bolehlah,'" dia menuturkan. Padahal masih ada beberapa barang lain yang masih dalam pesanan kliennya itu.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE