INTERMESO


BERBELANJA SEPERTI ORANG KAYA

“Kami pernah diminta memasang pelek berlapis emas, interior platinum, dan kristal Swarovski di lampu depan.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 8 Oktober 2018

Di China, mereka disebut daigou. Pekerjaannya, jalan-jalan dan berbelanja sampai gempor. Dan untuk semua hal itu, mereka dibayar lumayan besar. Terdengar sedap?

Mengenakan gaun putih nan cantik sembari satu tangan menenteng tas Chanel dan satu tangan lagi kerepotan membawa tas-tas hasil berbelanja di Harrods, satu pusat perbelanjaan kelas atas di London, Inggris, Julie Li, 30 tahun, tampak tak ada beda dengan orang-orang kaya yang berbelanja di tempat itu. Padahal semua barang yang dibeli Julie bukan miliknya.

Dulu Julie, bukan nama sebenarnya, bekerja kantoran sambil menyambi jadi daigou. “Tapi beberapa bulan lalu aku berhenti bekerja dan bekerja penuh sebagai daigou karena keuntungannya sangat menarik dan waktu kerjanya bebas,” kata Julie dikutip China Daily beberapa waktu lalu. Untungnya lumayan besar dan pekerjaannya tak susah amat.

Dia tinggal berbelanja di Inggris, Australia, Amerika Serikat, atau negara mana pun, dan mencari barang apa pun yang diinginkan pelanggannya di China. Untuk berkomunikasi, Julie mengandalkan aplikasi WeChat. Dia tak cuma melayani satu per satu pelanggan. Kadang dia berbelanja untuk puluhan pelanggan sekaligus. Kali itu dia memborong kosmetik di Harrods dan menghabiskan lebih dari 10 ribu pound sterling atau kurang-lebih Rp 200 juta.

“Pelanggan-pelangganku berasal dari kalangan menengah atas di China yang menginginkan barang-barang bagus,” kata Julie. Dan mereka tak sayang merogoh kantong dan membayar mahal demi mendapatkan barang bagus dan dijamin tak palsu. Sebagai daigou, Julie mesti paham betul seperti apa selera pelanggannya dan apa yang cocok buat mereka.

Tak sedikit mahasiswa asal China di luar negeri yang menyambi jadi daigou. Saat orang-orang tengah menunggu menyantap kalkun di Hari Thanksgiving, Wang Heping malah bersiap naik bus ke luar kota. Tujuannya adalah Woodbury Commons Premium Outlets, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Kota New York. Mahasiswi Universitas Georgetown ini sudah berkali-kali ke Woodbury, tempat ratusan toko yang menjual rupa-rupa ‘barang bermerek’, memberikan potongan harga.

Pengunjung pameran perhiasan di Beijing pada 2007
Foto: dok. Getty Images

Heping tak berniat belanja untuk diri sendiri. Dia, seperti juga dua temannya, adalah daigou yang menawarkan jasa personal shopper bagi pelanggan di China sana. Ada banyak daigou yang menyerbu Woodbury pada Black Friday, sehari setelah Thanksgiving, saat toko-toko di Woodbury memberikan potongan harga lumayan besar.

“Para daigou ini sangat agresif,” kata Heping. Mereka siap menyambar barang apa saja yang didiskon toko di Woodbury. “Aku ada di grup pertama saat toko Kate Spade buka. Aku sedang menimbang-nimbang warna apa untuk salah satu tas ketika ada daigou datang, langsung mengambil semua tas itu, dan bertanya kepada pelayan, ‘Apakah kalian masih punya tas dengan warna seperti ini?’”

Ibu-ibu kaya itu bisa belanja ratusan ribu pound sterling tanpa banyak tanya."

Bisnis daigou di China sebenarnya baru mulai berkembang pada 2010-an setelah terjadi skandal pencemaran melanin pada susu formula untuk bayi. Kasus itu bikin heboh dan membuat orang-orang tua di China takut membeli susu bayi buatan pabrik lokal. Mereka, orang-orang yang punya duit lebih dari cukup, memanfaatkan orang-orang China yang sedang berada di luar negeri untuk memborong susu untuk bayinya.

Dari semula hanya susu bayi, bisnis daigou melebar ke barang-barang mewah. Bertahun-tahun kemudian, bisnis ‘jasa titip’ ini sudah bernilai triliunan rupiah. Namun ada kabar kurang asyik untuk para daigou. Ada selentingan, pemerintah China bakal menerapkan pemeriksaan lebih ketat mulai Januari 2019 dan bakal menyita barang-barang mewah yang dibawa pulang para daigou jika melebihi batas yang diatur undang-undang.

Tak jadi soal apakah rencana pemerintah China itu bakal terlaksana atau tidak. Para daigou sudah mengantongi duit lumayan banyak. Chelly, 24 tahun, misalnya. Dia tinggal di London. Chelly, bukan nama sebenarnya, punya pelanggan lumayan banyak di daratan China. Jika sedang banjir pesanan, dia bisa mengantongi duit hingga 46 ribu pound sterling atau Rp 900 juta per bulan.

“Klienku kebanyakan ibu-ibu kaya. Aku menghindari berbelanja untuk ibu-ibu kelas menengah,” kata Chelly kepada Financial Times beberapa bulan lalu. Ibu-ibu kelas menengah, dia menilai, kelewat bawel. “Mereka selalu curiga apakah barang yang mereka beli tidak palsu, padahal hanya berbelanja beberapa ratus pound sterling. Ibu-ibu kaya itu bisa belanja ratusan ribu pound sterling tanpa banyak tanya.”

Antrean masuk gerai Chanel di Shanghai pada 2015
Foto: dok. Getty Images

Di China, daigou mungkin hanya bisnis musiman, sangat bergantung pada kelonggaran pemerintah. Di negara-negara Barat, jasa personal concierge atau personal shopper sudah jadi hal biasa bagi orang-orang kaya. Ketimbang menghabiskan waktu untuk mengantre atau mencari informasi di mana barang yang dia mau dijual, mending menyewa jasa personal shopper atau personal concierge seperti Quintessentially atau LaLaLuxe. Ini bukan lagi sekadar jasa titip beli barang. Makin tajir pelanggannya, makin mahal ongkos jasanya, makin luar biasa pula pelayanannya.

Beberapa waktu lalu, Kim Kardhasian mengunggah video ke Instagram dan menulis, "How cute is this gift for North and Saint, you guys? The best gifts ever! They're gonna die when they wake up in the morning." Rupanya Kim, yang selalu jadi sumber gosip, baru saja mendapat kiriman hadiah untuk dua anaknya, North dan Saint. Pengirimnya konon seorang putri dari Kerajaan Arab Saudi. Hadiah untuk dua bocah kecil ini harganya puluhan ribu dolar Amerika Serikat—jika dirupiahkan mungkin ratusan juta rupiah.

Adalah Nicole Pollard, orang yang diminta putri dari Arab Saudi itu memilihkan hadiah bagi North dan Saint. Nicole, personal shopper pendiri LaLaLuxe, punya pelanggan dari pelbagai negara. Dari para pemimpin negara, pengusaha, sampai putri-putri kerajaaan. Satu kesamaan mereka: punya duit segudang. Orang-orang ini punya duit yang tak habis sepuluh keturunan sekalipun, tapi duit itu tak bisa membeli waktu.

Ada-ada saja permintaan orang-orang kaya raya itu. Namanya juga orang tajir, apa yang dia mau kadang di luar bayangan orang kebanyakan. Misalnya, minta dicarikan buku dengan tanda tangan Presiden Abraham Lincoln atau sepatu yang sudah tak ada lagi di pasar. Dan tak ada kata ‘tidak’ bagi personal concierge atau personal shopper. Misalnya satu kali, ada satu keluarga kaya raya meminta Nicole Pollard dari LaLaLuxe mendatangkan penyanyi Justin Bieber untuk pesta menyambut tahun baru.

Untuk permintaan seperti ini, Nicole tak perlu lagi bertanya berapa batas anggarannya. Sebab, berapa pun Justin Bieber minta, akan dibayar. “Kami tak bisa mendapatkannya untuk tahun baru, tapi kami bisa mendatangkan Justin beberapa hari kemudian,” kata Nicole kepada majalah VanityFair beberapa waktu lalu. Untuk ongkos jasanya, Nicole dibayar US$ 400 atau sekitar Rp 6 juta per jam atau berdasarkan persentase dari nilai transaksi.

Gerai Louis Vuitton di Berlin, Jerman
Foto: dok. Getty Images

Lain orang kaya, lain pula seleranya. Saat ‘musim’ belanja ke Los Angeles, kedatangan para superkaya dari Timur Tengah itu gampang dikenali. Ada berderet-deret mobil Ferrari atau Lamborghini diparkir di depan lobi Hotel Bel Air. Biasanya semua mobil itu diangkut langsung dari Arab Saudi. Jika tak diangkut langsung dari kampung halamannya, kadang pangeran dan putri-putri kaya raya itu membeli mobil di Amerika.

Tak puas hanya dengan tampilan standar Ferrari atau Lamborghini yang dibeli di Amerika itu, mereka minta bengkel Car Connection mendandaninya. “Kami pernah diminta memasang pelek berlapis emas, interior platinum, dan kristal Swarovski di lampu depan,” ujar Allen Klevens dari Car Connection kepada Hollywood Reporter. Bahkan mereka pernah diminta menyepuh seluruh permukaan Lamborghini Aventador dengan emas.

Etalase gerai Neiman Marcus
Foto: dok. Getty Images

Urusan mobil beres, tugas Nicole menemani mereka berbelanja sepuasnya. Jika malas berdesakan di toko, tinggal telepon perancang busana atau manajer toko yang mereka inginkan. Baju, tas, sepatu, dan sebagainya akan dikirim ke hotel, lengkap dengan para pelayannya. Orang-orang kaya ini bisa memilih dengan leluasa tanpa terganggu orang lain.

Rumah mode atau pemilik toko bakal dengan senang hati melayani mereka. Demi orang-orang berduit ini, apa saja diiyakan. Mau buka toko selepas subuh atau menjelang tengah malam khusus untuk mereka, tak jadi soal. Duitlah yang bicara. Sekali bertransaksi, putri dan pangeran ini bisa menandaskan ratusan ribu, bahkan jutaan dolar, Amerika—kalau dirupiahkan berarti puluhan miliar. “Bahkan ada klien sampai perlu menyewa beberapa kamar tambahan khusus untuk menyimpan belanjaan,” Nicole menuturkan.

Terbiasa berbelanja atas nama orang kaya, Nicole pun turut diperlakukan bak putri Saudi. Jika dia terbang ke Paris, begitu turun dari pesawat dan masuk kamar hotel, kiriman bunga dari sejumlah rumah mode sudah ada di sana. Mau makan di tempat makan sangat eksklusif, dia tak perlu repot pesan dan cari tempat duduk. Di Neiman Marcus, salah satu tempat belanja mewah di Amerika, Nicole bisa bertindak seperti ini.

“Aku masuk Neiman Marcus dan bilang kepada manajernya, ‘Aku mau 40 parfum Tom Ford sekarang’, mereka langsung memasukkannya ke dalam kantong-kantong belanja dan aku langsung melenggang keluar,” kata Nicole Pollard. Urusan pembayaran bisa belakangan.

Kadang tugas seorang personal shopper tak hanya jadi konsultan busana dan melayani saat orang-orang kaya itu hendak berbelanja. Ada kalanya, seperti pengalaman Alarna Hope dari Sydney, Australia, dia diminta ‘bersih-bersih’ lemari pakaian pelanggannya. Alarna diminta menyingkirkan baju-baju yang sudah tak mau dipakai kliennya. “Aku menyingkirkan barang senilai Aus$ 150 ribu (kurang-lebih Rp 1,6 miliar), bahkan sebagian besar masih ada label harganya,” ujar Alarna kepada News.com.au.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor:Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE