INTERMESO

Memburu Tas Birkin Sampai Jepang

“Saya jual tas semacam Hermes dan Chanel itu peminatnya banyak banget. Saking lakunya udah kayak jual kacang goreng”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 9 Oktober 2018

Suara dering telepon pada jam tiga pagi itu seketika membangunkan Dewi dari tidur lelapnya. Sambil menahan rasa kantuk, ia meraih telepon genggam. Dewi penasaran siapa orang yang menelepon di pagi buta tersebut. Di seberang, terdengar suara akrab seorang perempuan yang kabarnya telah ia tunggu-tunggu.

“Tas Dior-nya udah ketemu. Jadi mau beli?” tanya si perempuan tanpa basa-basi lagi. Mendengar kabar itu, kontan kantuk Dewi menguap entah ke mana. Matanya yang redup seketika menyala. Ia begitu semangat membayangkan impiannya memiliki tas Lady Dior dengan hiasan gantungan huruf R dan D akan segera jadi kenyataan.

Dewi segera membangunkan suaminya yang tengah mendengkur. “Pa, boleh ya beli tas ini,” ujar Dewi merajuk sambil menunjukkan layar ponselnya. Entah sang suami mendengar atau tidak, yang jelas ia hanya mengangguk dan kembali melanjutkan mimpinya. Begitu kegirangan, Dewi tanpa banyak pikir lagi memberikan ‘lampu hijau’ untuk tas seharga Rp 50 juta kepada perempuan bernama Meilisa itu.

Saat menelepon Dewi, Meilisa tengah berada di butik Dior, London, Inggris. Dior, rumah mode kelas atas yang didirikan oleh perancang busana ternama, Christian Dior, pada 1948. Begitu menemukan barang yang ia cari, Meilisa segera memberi kabar kepada Dewi, kliennya, karena jadwal belanjanya sudah habis. Keesokan harinya, Meilisa harus terbang kembali ke tanah air.

Belanjaan Meilisa
Foto : dok. pribadi

Bukan barang sekali dua kali Meilisa terbang ke London untuk berbelanja. Profesi personal shopper yang sudah ia tekuni sejak tahun 2013 membuatnya sering melancong ke berbagai kota di Eropa seperti Paris, Milan, maupun London. Tak terhitung berapa kali Meilisa menyusuri pertokoan dan butik di Galeries Lafayette, Paris, surga belanja tempat berkumpulnya rumah-rumah mode papan atas. “Saya sebulan sekali pasti pergi untuk belanja,” Meilisa menuturkan kepada DetikX.

Meilisa dasarnya memang senang belanja. Ia selalu hati-hati dalam memilih barang belanjaannya supaya tak menyesal di kemudian hari. Dulu, sebelum belanja Meilisa bisa berdebat semalam suntuk di salah satu forum kecantikan online hanya untuk memutuskan memilih warna tas yang ia inginkan. Kini ia memanfaatkan hobinya itu untuk menghasilkan duit dengan membantu orang-orang kaya berburu barang-barang yang mereka incar.

Makanya selama ini chat klien masih saya tangani sendiri, nggak bisa pakai admin. Saya malah pernah delapan jam non stop balasin pesan calon pembeli'

Hobi belanja dan sekian lama melayani orang-orang kaya berbelanja, kini Meilisa sudah jadi ‘ahli’ soal ‘barang-barang bermerek’. Cukup melihat dari foto yang dikirimkan klien saja, ia sudah bisa mengetahui detail barang branded itu. “Di Eropa, tren fashion bisa berubah dua bulan sekali. Tentu saya sebagai personal shopper harus punya pengetahuan khusus soal barang yang mereka mau,” ujar Meilisa. Biasanya, dia menawarkan jasanya melalui akun Instagram, @littleblackbag.id . “Makanya selama ini chat klien masih saya tangani sendiri, nggak bisa pakai admin. Saya malah pernah delapan jam non stop balasin pesan calon pembeli.”

Tapi maaf, Meilisa hanya melayani merek-merek mahal seperti Hermes, Chanel, Dior, Fendi, maupun Louis Vuitton. Demi memuaskan pelanggan jasanya, dia siap memburu koleksi langka atau barang terbaru yang kebanyakan sulit diperoleh. Seperti Hermes Birkin yang mendapat gelar sebagai tas termahal di dunia. Di Indonesia tas mewah ini juga dipakai oleh penyanyi Syahrini. Jika laki-laki beli Mercedes Benz atau Lamborghini untuk menunjukkan status sosialnya, tas Birkin adalah Mercedes bagi perempuan.

Tas Louis Vuitton
Foto : dok.pribadi Meilisa

Harga tas Hermes Birkin bervariasi, dari kelas puluhan juta rupiah hingga setara Ferrari atau Lamborghini. Tas Hermes Birkin termahal saat ini dirancang oleh Ginza Tanaka dan ditaksir harganya sekitar US$ 1,9 juta atau kurang lebih Rp 29 miliar. Untuk mendapatkan Hermes juga tak bisa sembarangan. Calon pembeli super tajir yang punya uang dengan angka nol tak terhingga sekali pun belum tentu bisa membawa pulang tas Hermes. Tas mewah ini punya aturan main sendiri. Tas dengan stok terbatas namun peminatnya tersebar di seluruh dunia ini hanya dijual di toko resmi. Dan pembeli harus terdaftar sebagai pelanggan VIP.

Cara lain, sebelum membeli tas, pelanggan diwajibkan membeli produk lainnya dengan harga ratusan juta. Jika mau bersabar, pembeli bisa ‘mengejar’ Hermes Birkin lewat daftar antrean. Konon masa tunggunya bisa bertahun-tahun. Meski tak memiliki akses VIP, Meilisa memiliki ‘celah’ untuk membeli tas Hermes. Seperti ketika ia membeli tas Hermes Vert Emerald Emeraude, tas bermotif kulit buaya hijau tua yang nampak elegan dan cantik.

“Saya menemukan tas itu di Hermes Jepang. Kurang dari sehari sejak saya beli, langsung ada yang pesan. Saya buka harga dari Rp 725 juta, ternyata laku dijual Rp 775 juta. Ada beberapa orang yang berebutan,” Meilisa menuturkan. Kabarnya, penyanyi Nia Daniati juga punya tas seperti ini. Bagi Meilisa, jual beli satu tas dengan harga hampir menyundul Rp 1 miliar bukan lagi hal mengagetkan. Tas termahal yang dia jual harganya Rp 1,3 miliar. “Saya jual tas semacam Hermes dan Chanel itu peminatnya banyak banget. Saking lakunya udah kayak jual kacang goreng.”

Pembelinya beragam. Ada yang berasal dari kalangan artis, ada ibu-ibu kaya raya, tapi ada pula yang berstatus karyawan. Para karyawan ini memang tak membeli tas sekelas Hermes Birkin, tapi daftar belanjaan mereka juga lumayan mahal. Tak jarang mereka beli tas hingga puluhan juta rupiah.

Tas Tory Burch belanjaan Carolyne
Foto : dok.pribadi

Jika Meilisa menyasar tas bermerek dari Eropa, Carolyne, justru berkonsentrasi pada barang-barang dari Amerika Serikat. Personal shopper asal Bandung ini menerima pesanan rupa-rupa merek, dari Tory Burch, Michael Kors, Kate Spade sampai Coach. Harga produk-produk dari Amerika ini tak ‘segila’ tas Hermes dan tak semahal Chanel atau Dior. Barang yang dipesan oleh klien Carolyne juga beragam. Mulai dari barang fashion sampai rupa-rupa alat kecantikan.

Sebelum jadi personal shopper, Carolyne menjalankan usaha garmen. Kebetulan adiknya tinggal di Amerika. Iseng, ia meminta bantuan sang adik untuk membelikan dan mengirimkan barang pesanan kliennya ke Indonesia. Ternyata peminatnya makin banyak. Adiknya mulai kerepotan. Carolyne yang menawarkan jasa melalui Instagram @carolyncloset putar otak.

Sekarang karena nilai dolar naik, saya lihat orang bukan mengurangi beli barang tapi mereka beli barang yang lebih murah

Carolyne mencoba berburu barang-barang ‘bermerek’ itu melalui situs jual beli eBay. Lewat cara ini, dia bisa menemukan barang yang dia incar dengan harga lebih miring. Selain eBay, Carolyne juga biasa memesan langsung ke situs resmi produk yang dipesan pelanggan jasanya. Saat para perempuan tergila-gila lipstik Kylie Lip Kit milik artis Kylie Jenner, Carolyne sampai memelototi laptop jam 3 pagi hanya untuk ikut berebut memesan lipstik.

Selain melalui internet, ia juga kerap berbelanja langsung ke New York. Terutama pada hari Thanksgiving atau Natal saat butik-butik di Amerika memberikan diskon gede-gedean. “Waktu Black Friday semua barang dijual murah, terutama barang elektronik. Orang Amerika sampai berkemah dari satu hari sebelumnya. Tapi kalau barang fashion paling cuma antre 30 menit sampai 1 jam,” kata Carolyne.

Menurut Carolyne, meski kini nilai tukar rupiah tidak stabil tidak serta merta membuat para pelanggannya puasa berbelanja. “Sekarang karena nilai dolar naik, saya lihat orang bukan mengurangi beli barang tapi mereka beli barang yang lebih murah,” kata Carolyne. Salah satu merek yang sekarang disukai pelanggan-pelanggannya adalah Steve Madden.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE