INTERMESO


       OPERASI MATA BALAS MATA                         UNTUK AL-MABHOUH

Jamal Khashoggi, Mahmoud al-Mabhouh, Saeed Karimian, Kamran Hedayati, bukan yang pertama dan tak akan jadi yang terakhir.

Ayah Mahmoud al-Mabhouh memegang foto anaknya. Foto : Reuters

Kamis, 25 Oktober 2018

Pada 25 September 1997, sekitar pukul 10.00, Khaled Meshaal baru melangkah keluar dari mobilnya. Dia hendak masuk ke kantor Hamas di Amman, Yordania, ketika dua orang laki-laki yang berpenampilan seperti 'turis' menghampirinya.

“Mereka seperti orang asing, bukan orang Arab. Dari pengalaman, aku kira mereka mirip orang-orang Yahudi Israel,” kata Khaled, kala itu Kepala Biro Politik Hamas, dikutip New York Times. Dengan sangat cepat, dua orang 'turis' itu menangkap Khaled dan menyemprotkan racun ke telinganya. “Telingaku rasanya berdengung. Badanku mulai gemetar dan seluruh tubuhku seperti tersengat listrik.”

Salah seorang pengawal Meshaal, Mohammad Abu Seif, segera mengejar dua penyerang majikannya. Kedua turis palsu itu melarikan diri dengan mobil sewaan. Setelah beberapa kejar-mengejar, dengan bantuan polisi Yordania, dua turis itu bisa dibekap. Dari tubuh kedua orang itu ditemukan dua paspor Kanada atas nama Shawn Kendall, 28 tahun, dan Barry Beads, 36 tahun. Terbukti belakangan, kedua paspor itu palsu.

Khaled Meshaal, tengah, di Amman, Yordania, pada 2016
Foto : Getty Images

Meshaal sendiri yang sudah kehilangan kesadaran, segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter segera memberinya alat bantu pernafasan. “Saat itu masih belum jelas apakah aku diracun atau disengat dengan alat kejut listrik,” kata Meshaal.

Dari penelusuran Dinas Intelijen Yordania segara diketahui bahwa dua turis palsu itu merupakan agen Mossad, Dinas Intelijen Israel. Sepekan sebelum upaya pembunuhan Meshaal, enam agen Mossad mendarat di Bandara Internasional Queen Alia, Yordania. Mereka terbang dari tiga kota yang berbeda ; Amsterdam, Toronto, dan Paris.

Saat itu masih belum jelas apakah aku diracun atau disengat dengan alat kejut listrik'

Setelah Meshaal tumbang dan dilarikan ke rumah sakit, petugas keamanan Yordania segera mengepung kantor Kedutaan Israel, tempat empat agen Mossad lainnya menyembunyikan diri. Mendengar kabar upaya pembunuhan Meshaal, penguasa Yordania, Raja Hussein, marah besar. Dia merasa dipermalukan Israel. Raja Hussein segera menelepon Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan minta obat penawar bagi Meshaal.

Kepala Biro Politik Hamas itu ternyata disemprot dengan turunan Fentanyl, senyawa kimia hasil sintesis opium. Biasanya, Fentanyl digunakan dokter untuk meredakan sakit dan mematikan rasa. Kekuatannya jauh lebih dahsyat ketimbang morfin. Fentanyl diberikan ke pasien lewat suntikan di kulit atau diminum. Namun dosis yang disemprotkan ke telinga Meshaal ini sangat mematikan. Untunglah, berkat tekanan Raja Hussein, Mossad bersedia menyerahkan antidotnya sehingga Meshaal terlepas dari maut.

Direktur Mossad Danny Yatom sendiri yang terbang ke Amman mengantarkan penawar racun. Kepada harian Jepang, Mainichi, setahun lalu, Yatom mengakui bahwa kegagalan mereka membunuh Meshaal merupakan kegagalan Mossad terbesar. Seandainya intel Mossad bisa membunuh Meshaal diam-diam, menurut Yatom, maka akan memberikan keuntungan psikologis sangat besar bagi Israel. “Para pemimpin Hamas bakal selalu dicekam ketakutan bahwa mereka akan jadi target berikutnya,” ujar Yatom.

Duta Besar Israel untuk Inggris Ron Prosor menjawab pertanyaan soal pemalsuan paspor dalam pembunuhan al-Mabhouh pada Februari 2010
Foto : Getty Images

Pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi di Konsulat Jenderal Arab Saudi, Istanbul, Turki, tiga pekan lalu, mengingatkan kembali pada banyak kasus pembunuhan (diduga) atas perintah penguasa-penguasa di Timur Tengah, juga Rusia.

Baru dua pekan lalu Buzzfeed menulis soal operasi pembunuhan Anssaf Ali Mayo, pemimpin Partai Al-Islah di Yaman. Menurut Abraham Golan, bos perusahaan ‘tentara bayaran’ Spear Operations Group yang berbasis di Delaware, Amerika Serikat, yang memimpin operasi pembunuhan itu, mereka bekerja atas perintah penguasa di Uni Emirat Arab.

Ada beberapa mantan prajurit pasukan elite Navy SEAL dan Green Beret yang terlibat operasi pembunuhan pada Desember 2015 itu. Menurut Golan, model operasi seperti itu lah yang mestinya diterapkan Amerika Serikat untuk menyingkirkan musuh-musuhnya. “Mungkin aku seorang monster. Mungkin aku pantas dipenjara. Mungkin aku juga seorang penjahat. Tapi aku benar,” ujar Golan.

Pada 29 April 2017 lalu, Saeed Karimian ditembak mati di Istanbul, Turkey. Para pelakunya mengendarai sepeda motor dan menutup rapat mukanya. Saeed, bos GEM TV, pernah dijatuhi hukuman enam tahun penjara secara in absentia oleh Pengadilan di Teheran, Iran, lantaran menyebarkan propaganda anti-pemerintah lewat saluran televisinya.

Bagaimana nasib kasus pembunuhan Saeed masih remang-remang sampai hari ini. Ada satu berita di koran kecil Turki soal penangkapan dua warga Iran di Serbia yang hendak terbang ke Iran. Dua orang ini yang diduga terkait pembunuhan Saeed menggunakan paspor palsu.

Saeed bukan satu-satunya kasus pembunuhan pelarian Iran yang tak pernah terungkap. Pada 1996, Kamran Hedayati terluka parah dan akhirnya tewas setelah membuka bom surat yang dikirim ke apartemennya di Stockholm, Swedia. Beberapa tahun sebelumnya, Efat Ghazi, juga tewas akibat ledakan bom surat yang dialamatkan ke rumahnya di Vasteras, Swedia.

Paul John Keeley, salah satu nama yang dicatut dalam pembunuhan al-Mabhouh
Foto : Getty Images

Negara yang punya catatan panjang ‘hukuman mati’ bagi musuh-musuhnya tanpa lewat pengadilan ini adalah Israel. Ronen Bergman, wartawan Yedioth Ahronoth, menggambarkan dengan detail operasi-operasi itu dalam bukunya, Rise and Kill First. Satu kasus yang sangat kondang adalah Operasi Wrath of God alias Operasi Bayonet alias Operasi Mivtza Za'am Ha'el.

Perintah operasi ini turun langsung dari Perdana Menteri Golda Meir sebagai pembalasan atas pembunuhan 11 atlet Israel oleh kelompok Black September pada Olimpiade 1972 di Munich, Jerman Barat. Diduga, ada lebih dari 20 orang anggota Black September dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang menjadi target pembunuhan tim Mossad yang dipimpin Michael Harari.

Menachem Begin, Perdana Menteri Israel, periode 1977-1983, berkilah bahwa pembunuhan-pembunuhan itu adalah usaha Israel membela diri. Untuk operasi-operasi pembunuhan ‘diam-diam’ itu, Dinas intelijen Israel punya banyak koleksi racun mematikan. Salah satu korbannya adalah Mahmoud al-Mabhouh.

Pada 19 Januari 2010, salah satu komandan militer senior Hamas, Mahmoud al-Mabhouh, ditemukan tewas di kamar nomor 230 hotel Al-Bustan Rotana di Dubai, Uni Emirat Arab. Dari sejumlah kamera di hotel dan bandara, diduga Mabhouh merupakan korban operasi intelijen Mossad. Dengan menggunakan paspor palsu, 27 agen Mossad berdatangan ke Dubai dari sejumlah negara Eropa. Beberapa saat setelah operasi tuntas, intel-intel Mossad itu berhamburan kabur dari Emirat Arab.

Dari hasil otopsi, ditemukan jejak Succinylkolin. Di kalangan dokter anestesi, senyawa ini sering disebut 'Sux', fungsinya untuk melemaskan otot. Reaksi Sux ini sangat cepat. Jejaknya juga sulit diendus uji forensik. Hanya butuh 20 detik untuk membuat laki-laki seberat 70 kilogram lunglai dengan 100 miligram Sux. Beberapa detik setelah disuntiuk Sux di kakinya, Mabhouh langsung lemas.

Agen-agen Mossad membunuhnya dengan membekap mukanya dengan bantal. Tak ada perlawanan sedikitpun dari Mabhouh yang sudah lemas-lunglai. Sampai saat ini, belum ada satu pun pembunuh Mabhouh yang tertangkap dan diadili. Seperti biasa, pemerintah Israel dan Mossad tak pernah mengakui, juga membantah keterlibatan mereka dalam pembunuhan al-Mabhouh.

Saeed Karimian, dibunuh di Istanbul, Turki, pada April 2017
Foto : RFERL

Nasib Mabhouh sudah ditentukan Mossad bertahun lalu. Perintah ‘Red Page’ dari Perdana Menteri Israel, perintah pembalasan dendam, sudah turun sejak 1989. Saat itu, Mabhouh yang masih muda, baru saja membunuh dua tentara Israel, Avi Sasportas dan Ilan Saadon. Sejak saat itu pula Mabhouh jadi incaran para pembunuh dari unit Kidon, pasukan pembunuh di bawah Departemen Caesarea di tubuh Mossad.

Bukan sekali saja Mossad berusaha membunuh Mabhouh. Mereka pernah mengirim drone ke Sudan untuk menamatkan hidup Mabhouh, tapi aktivis Hamas itu lolos dari maut. Pada 2009, menurut sumber majalah Der Spiegel, agen-agen Mossad mengoleskan racun di saklar kamar hotel Mabhouh. Tapi sekali lagi Mabhouh, meski sempat sakit, bisa selamat. Namun tidak untuk ketiga kalinya.

Kita akan tetap berteman, tapi ada ongkos yang harus dibayar untuk ini semua

Bertahun-tahun berusaha mengendus jejak Mabhouh, Mossad paham betul bagaimana pola pergerakan aktivis Hamas itu. Sebagai pemasok senjata ke Palestina, Mabhouh biasa mondar-mandir antara China, Iran, Suriah, Emirat Arab, dan Sudan. Mossad memutuskan bahwa Dubai lah lokasi paling cocok untuk membunuh Mabhouh. Keluar-masuk Dubai sangat gampang dari pelbagai kota di Eropa.

Majalah Der Spiegel menelusuri jejak operasi pembunuhan Mabhouh dari kota Cologne di Jerman hingga berakhir di kota Herzliya dan Desa Liman, Israel. Beberapa bulan sebelum pembunuhan Mabhouh, Michael Bodenheimer mengajukan pembuatan paspor di kota Cologne. Dia mengaku anak dari korban persekusi rezim Nazi sehingga berhak mendapatkan kewarganegaraan Jerman. Michael mengaku lahir di Desa Liman dan tinggal di kota Herzliya. Kenyataannya, menurut Der Spiegel, tak ada warga Desa Liman yang kenal keluarga Bodenheimer. Alamatnya di kota Herzliya juga palsu.

Michael Bodenheimer ini merupakan satu dari 27 orang yang diduga terlibat pembunuhan Mabhouh. Tak ada satu pun dari 27 orang ini yang menggunakan paspor asli. Mereka memakai paspor dengan identitas palsu dari Inggris, Irlandia, Jerman, Australia, dan Prancis.

Pemakaian paspor palsu dari negara mereka ini membuat pemerintah Inggris dan Prancis sewot. Tak cuma soal paspor yang membuat pemerintah Prancis kesal. Pada Juli 2018 lalu, harian Le Monde menulis bahwa komando operasi pembunuhan Mabhouh bertempat di satu hotel di kawasan Bercy, Paris.

Kabarnya, dinas intelijen Prancis mengirimkan dua agennya ke Israel untuk menemui Meir Dagan, Direktur Mossad, dan memprotes ulah Mossad memalsukan paspor dan memakai Paris sebagai basis operasi pembunuhan. “Kita akan tetap berteman, tapi ada ongkos yang harus dibayar untuk ini semua,” agen itu menekankan kepada Dagan, dikutip Le Monde.


Penulis: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE