INTERMESO

Ada Apa Dengan
Jamal Khashoggi

"Siapa yang memberi perintah? Jika ingin menghilangkan kecurigaan terhadap kalian, maka kuncinya adalah 18 orang itu"

FOTO-FOTO : GETTY IMAGES

Sabtu, 27 Oktober 2018

Satu setengah bulan lalu, Jamal Khashoggi menulis opini di Washington Post bertajuk Saudi Arabia’s crown prince must restore dignity to his country — by ending Yemen’s cruel war. Dalam tulisannya, Jamal mengkritik kebijakan penguasa Arab Saudi – dalam hal ini, putra mahkota, Pangeran Mohammad bin Salman – dalam perang di negara tetangga, Yaman.

Pemboman-pemboman serampangan oleh tentara Saudi di Yaman, menurut Jamal, hanya bakal membuat buruk reputasi Saudi dan Pangeran Mohammad di mata negara-negara muslim dan internasional. Makin lama perang berlangsung, tak untung yang diperoleh Saudi, justru buntung didapat. Gencatan senjata dan pembicaraan perdamaian dengan mengakomodasi kelompok Houthi, menurut Jamal, merupakan solusi terbaik.

Bukan kali itu saja Jamal menulis di Washington Post dan mengkritik pemerintah Saudi dan Pangeran Mohammad, putra mahkota yang punya kekuasaan sangat besar di negaranya. Pada April 2018 lalu, Jamal juga menulis di koran itu dan mengkritik Pangeran Mohammad. Tak hanya di The Post, Jamal mengkritik MBS, orang-orang biasa menyebut Pangeran Mohammad. Dalam satu wawancara dengan Al-Jazeera pada Maret lalu, Jamal juga bersuara miring soal MBS.

“Saat kita bicara ini, ada banyak sekali intelektual dan wartawan di Saudi yang dijebloskan ke penjara. Sekarang tak ada lagi yang berani bersuara dan mengkritik reformasi MBS,” kata Jamal. Meski orang-orang memuji beberapa kebijakan Pangeran Mohammad, Jamal yang lahir, tumbuh besar di Arab Saudi dan punya pengalaman panjang sebagai wartawan di negara itu, tak percaya Saudi bakal menjadi lebih demokratis. “Tidak akan terjadi di bawah kekuasaan dia. Sampai sekarang, aku tak pernah mendengar sedikit pun kabar adanya niatnya untuk berbagi kekuasaan atau membuka pintu demokrasi.”

Pada Selasa 2 Oktober lalu, Jamal tewas dibunuh di kantor Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki. Apakah semua kritik itu yang mengantarkan Jamal pada kematiannya? Jamal meninggalkan calon istrinya, Hatice Cengiz, di depan pintu gerbang, menyerahkan dua ponselnya, dan melangkah masuk kantor Konsulat pukul 13.14.

“Doakan aku ya,” Jamal berpamitan kepada Cengiz. “Ini akan menjadi sebuah hadiah ulang tahun,” tunangannya membalas. Mestinya, pada 13 Oktober 2018 ini, Jamal akan tepat berumur 60 tahun. Dia tak tahu, umurnya tinggal beberapa jam saja. Hingga jam pelayanan Konsulat usai pukul 15.30, Jamal tak kunjung keluar. Dia tak pernah keluar lagi dalam kondisi bernyawa.

Presiden Recep Tayyip Erdogan berbicara soal pembunuhan Jamal Khashoggi di depan parlemen Turki di Ankara beberapa hari lalu.
Foto : Getty Images

Semula, apa yang terjadi di balik dinding kantor Konsulat Saudi di kawasan Levent, Istanbul, simpang siur. Berkali-kali pemerintah Saudi meralat pernyataannya, membuat orang bertanya-tanya. Sehari setelah Jamal ‘menghilang’, kepada wartawan Bloomberg, Pangeran Mohammad mengatakan bahwa Jamal sudah keluar dari kompleks Konsulat. “Dia masuk dan keluar lagi dari Konsulat beberapa menit atau satu jam kemudian......Tak ada yang kami sembunyikan,” ujar Sang Putra Mahkota.

Lantaran kantor Konsulat merupakan wilayah yang berdaulat, aparat keamanan Turki tak bisa begitu saja menyelonong untuk menginvestigasi ‘hilangnya’ Jamal. Tapi rupanya, dinas intelijen Turki (MIT) punya ‘sesuatu’ yang membuktikan bahwa ada yang tak beres dengan hilangnya Jamal. Sedikit demi sedikit, rekaman kamera dan percakapan itu dibocorkan ke media.

Kepolisian dan dinas intelijen punya bukti bahwa pembunuhan itu direncanakan'

Jamal tak mati dalam satu perkelahian seperti versi pemerintah Saudi, bahkan tak sekadar dibunuh. “Kepolisian dan dinas intelijen punya bukti bahwa pembunuhan itu direncanakan,” kata Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, seperti dikutip Guardian, beberapa hari lalu.

Pada hari Jamal dibunuh, ada 15 orang terbang dari Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, dengan dua pesawat sewaan. Pesawat pertama dengan nomor penerbangan HZ SK1 mendarat di Bandara Ataturk Istanbul sekitar pukul 03.00 pagi. Pesawat kedua dengan nomor penerbangan HZ SK2 menyusul beberapa jam kemudian.

Rombongan pertama terdiri dari sembilan orang, menyewa kamar di Hotel Movenpick, tak jauh dari kantor Konsulat Saudi. Di antara tamu dari Riyadh ini adalah Kolonel Maher Abdulaziz Mutreb dan dokter forensik, Salah Muhammed al-Tubaigy. Kolonel Maher punya pengalaman panjang di dunia intelijen. Dalam beberapa kali kunjungan ke luar negeri, tampak Kolonel Maher mendampingi Pangeran Mohammad bin Salman. “Dia sangat pendiam,” ujar sumber BBC yang mengenal Kolonel Maher.

Pagi itu, beberapa jam sebelum Jamal Khashoggi datang, kamera merekam Kolonel Maher bersama rombongannya masuk ke kompleks Konsulat Saudi. Beberapa saat sebelum Jamal melewati gerbang Konsulat, tim dari Riyadh itu sudah lengkap di dalam gedung. Mereka lah, menurut rekaman video dan percakapan, yang diduga bertanggungjawab atas kematian Jamal Khashoggi.

Seorang demonstran mengenakan topeng bergambar Pangeran Mohammad bin Salman sebagai protes atas pembunuhan Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi, Istanbul, Turki, pada 25 Oktober 2018 lalu.
Foto : Getty Images

Selain 15 orang yang terbang ke Istanbul, ada beberapa orang lagi yang terlibat pembunuhan Jamal. Dua di antaranya adalah Saud al-Qahtani dan Mayor Jenderal Ahmad al-Assiri. Seorang sumber di dinas intelijen Saudi mengatakan, Jenderal Ahmad, Wakil Kepala Dinas Intelijen Saudi, yang membentuk ‘tim pembunuh’ itu. Di lapangan, peran Saud justru lebih kelihatan.

Lewat aplikasi Skype di telepon miliknya, menurut sumber Reuters, Kolonel Maher menghubungi Saud, pembantu dekat Pangeran Mohammad. Saud ini lah, yang konon memberikan perintah. “Bawakan kepala anjing itu kepadaku,” Saud, menurut sumber di intelijen Turki, memberi perintah usai memaki-maki Jamal.

Lahir di Riyadh pada 1978, Saud lulus dari fakultas hukum Universitas King Saud dan mendapatkan gelar master security sciences dari Naif Arab University. Sejak beberapa tahun lalu, Saud mengepalai semua urusan sosial media Kerajaan Saudi. Ketika Saudi ribut dengan Qatar beberapa waktu lalu, Saud pula yang memimpin ‘perang’ di sosial media melawan Qatar. Dalam sejumlah kesempatan, Saud juga menjadi juru bicara bagi Pangeran Mohammad.

Bukan kali ini saja dia terlibat ‘urusan kotor’. Tahun lalu, Saud diduga terlibat penyekapan dan penganiayaan Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri. Kejadian ‘luar biasa’ ini membuat kelimpungan negara-negara sekutu Saudi. Presiden Prancis Emmanuel Macron sampai perlu terbang ke Saudi untuk menemui Pangeran Mohammad dan meminta Saad al-Hariri dilepas.

Kepada Reuters, tiga teman lama Jamal Khashoggi menuturkan bagaimana upaya Saud al-Qahtani membujuk Jamal agar bersedia pulang ke negara kelahirannya. Berkali-kali ditelepon Saud, berkali-kali pula Jamal menolak permintaannya. Dia khawatir bakal kena ‘masalah’ jika pulang ke Saudi. Meski Saud bicara sopan, Jamal, kata temannya, tak percaya dengan omongannya. “Jamal bilang, ‘Dia pikir aku akan pulang supaya dia bisa menjebloskanku ke penjara,’” kata dia.

Bukan penjara yang akhirnya menunggu Jamal, tapi ‘hukuman mati’. Sampai sekarang jenazahnya belum ditemukan. Seorang pejabat Saudi mengatakan bahwa Saud lah yang meminta tolong Jenderal Ahmad untuk membentuk tim penculikan Jamal. Entah bagaimana, jika benar niat semula hanya menculik, operasi itu berakhir dengan pembunuhan Jamal Khashoggi. Saud, Jenderal Ahmad, dan orang-orang yang terlibat langsung dalam pembunuhan Jamal sudah dicopot dari jabatan dan dijebloskan ke tahanan.

Tapi masih ada pertanyaan belum terjawab. Presiden Erdogan sudah menyampaikan permintaannya agar pemerintah Saudi bersedia menunjukkan di mana lokasi jenazah Jamal disembunyikan. Di mana jenazah Jamal, tentu saja para pelaku pembunuhan itu tahu persis. Presiden Erdogan juga meminta siapa pun pemberi perintah pembunuhan itu mesti diseret ke pengadilan dan diekstradisi ke Turki.

“Siapa yang memberi perintah? Jika ingin menghilangkan kecurigaan terhadap kalian, maka kuncinya adalah 18 orang itu,” kata Presiden Erdogan di muka Parlemen Turki, dikutip Guardian. “Kalian tahu bagaimana caranya membuat mereka bicara. Jika tak sanggup membuat mereka bicara, serahkan mereka kepada kami.”

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman, berbicara dengan Presiden Donald Trump di Washington, D.C pada Maret 2018 lalu.
Foto : Getty Images

Presiden Erdogan maupun sekutu-sekutu Saudi memang tak terang-terangan mengaitkan nama Putra Mahkota, Mohammad bin Salman, dengan pembunuhan Jamal. Tapi keterlibatan ‘orang-orangnya’ dalam pembunuhan itu mau tak mau membuat orang bertanya, apakah dia tahu atau bahkan mungkin memerintahkan operasi itu? Sampai sekarang, rantai itu terputus hingga Saud al-Qahtani dan Jenderal Ahmad. Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump percaya bahwa Pangeran Mohammad paling tidak, tahu tentang rencana operasi itu.

Setelah beberapa pekan tak bersuara soal pembunuhan Jamal Khashoggi, dua hari lalu akhirnya Pangeran Mohammad bersuara. Di depan peserta konferensi Future Investment Initiative di kota Riyadh, dia bicara soal kasus Jamal. “Kejadian itu sangat menyakitkan bagi semua orang di Saudi....Peristiwa itu tak bisa dibenarkan,” kata MBS dikutip Guardian. Penjelasan dan pernyataan Pangeran Mohammad jauh dari cukup untuk menghapus semua desas-desus. “Kami yang tinggal di sini bisa memahami cerita fiksi seperti itu. Tapi teman-temannya di luar tak bisa mengabaikannya seperti kami,” ujar seorang pengusaha Saudi.

Semua negara di dunia menginginkan kontrak seperti itu. Rusia menginginkannya, China juga menginginkannya.... Dan aku tak mau menghilangkan lapangan kerja itu

MBS memang belum menjadi Raja Saudi. Tapi ayahnya, Raja Salman bin Abdulaziz, sudah sepuh dan mulai rapuh. Tak heran jika Pangeran Mohammad punya kuasa sangat besar, baik di bidang ekonomi maupun politik dan keamanan. Beberapa hari lalu, setelah skandal pembunuhan Jamal, Raja Salman merombak struktur dinas intelijen dan menunjuk kepala baru yakni anaknya sendiri, MBS.

Pangeran Mohammad tumbuh besar di Riyadh. Sepanjang masa kecil hingga dewasa, ayahnya merupakan Gubernur Riyadh dan calon Raja Saudi. “Dia memperlakukan semua orang dengan baik. Tapi dia paham status sosial semua temannya,” ujar Mahboob Mohammed, mantan staf rumah tangga di keluarga kerabat MBS, kepada majalah New Yorker. “Pangeran Mohammad selalu ingat bahwa dia orang yang istimewa.” Jika semua sesuai garisnya, MBS akan menjadi Raja Saudi pertama dari generasi cucu Raja Abdulaziz.

Kasus pembunuhan Jamal belum tuntas. Apakah kasus itu bakal menggoyang posisi MBS dan menggusurnya dari garis tahta Saudi? “Orang-orang salah jika berpikir bahwa akan terjadi perubahan dalam garis suksesi tahta Saudi,” kata Pangeran Turki bin Faisal, mantan Kepala Dinas Intelijen Saudi kepada Washington Post. Menurut Pangeran Turki, makin keras kritik kepadanya, justru makin populer dan makin kuat posisi MBS. “Karena warga Saudi merasa pemimpin mereka diserang secara tak adil di media-media luar negeri.”

Di luar negeri, kecuali pemerintah Jerman yang membekukan sementara penjualan senjata, belum ada yang bertindak terhadap pemerintah Saudi. ‘Sekutu utama’ Saudi, Amerika Serikat, pun belum ada tanda-tanda akan menjatuhkan sanksi. Menurut Presiden Trump, kontrak penjualan senjata Amerika ke Saudi telah menciptakan lapangan sangat besar.

“Semua negara di dunia menginginkan kontrak seperti itu. Rusia menginginkannya, China juga menginginkannya....Dan aku tak mau menghilangkan lapangan kerja itu,” kata Presiden Trump kepada CBS. Dan dia tentu juga belum lupa, bahwa Saudi merupakan sekutu utama Amerika untuk membendung pengaruh Iran.


Penulis: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE