INTERMESO

Siapa di Balik Pidato Bung Karno

"Hari ini, nama kita bukan Sukarno, bukan Subandrio, bukan Ali, bukan Idham, bukan Aidit, bukan Dadap, bukan Waru, bukan Suto, bukan Noyo, bukan Sarinah, bukan Fatimah....Hari ini nama kita Indonesia!"

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 29 Oktober 2018

Hari itu, Kamis 8 April 1965, Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri, dr. Soebandrio, mendapat tugas mendadak dari Presiden Sukarno. Presiden meminta Soebandrio mendampingi istrinya, Ratna Sari Dewi, pergi umrah.

Sehari sebelum berangkat ke Tanah Suci, Soebandrio meminta Ganis Harsono menemuinya. Kepada Ganis, Deputi Menteri Luar Negeri, Soebandrio menyerahkan beberapa lembar kertas bertuliskan rancangan pidato Presiden untuk peringatan Satu Dasawarsa Konferensi Asia Afrika. Soebandrio menyusun naskah pidato itu bersama Molly Warner Bondan.

Mereka memberi judul naskah pidato itu, Keep the Bandung Spirit High. “Tolong minta persetujuan dari Bung Karno,” Soebandrio berpesan kepada Ganis, seperti dikutip dalam buku Ganis, Cakrawala Politik era Sukarno. Menurut rencana, peringatan Dasawarsa Konferensi Asia Afrika akan digelar di Jakarta dan Bandung dari 18-24 April 1965.

Lantaran waktu sudah sangat dekat, keesokan harinya, Ganis berangkat ke Istana Merdeka untuk menghadap Presiden Sukarno. “Sampai di Istana Merdeka pukul 11 saya harus menunggu beberapa lama karena Presiden sedang menerima tamu yang lain,” Ganis menuturkan. Ternyata, tamu yang sedang diterima Bung Karno adalah Njoto, Menteri Negara dalam Kabinet Dwikora dan mantan Ketua II Komite Pusat Partai Komunis Indonesia (PKI).

Presiden Sukarno berpidato dalam Sidang Umum Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) pada 1960
Foto : Perpusnas

Meski seorang orator yang hebat, Bung Karno tetap punya tim penulis pidato. Apalagi umurnya makin bertambah dan tak semua hal dia pahami serta kuasai. Sudah lama Soebandrio jadi penulis pidato Bung Karno. Di antara anggota tim penulis pidato Soebandrio adalah Molly Warner, perempuan asal Australia yang menikah dengan warga Indonesia, Mohammad Bondan. Tapi Soebandrio bukan satu-satunya penulis pidato untuk Bung Karno. Ada pula Ruslan Abdulgani dan Njoto.

Your minister has got into the habit of falling into philosophical reveries these days'

Rupanya, hari itu, saat berpapasan dengan Ganis di Istana Merdeka, Njoto juga sedang membahas rancangan pidato Presiden. “Kami saling menyapa, kemudian dia segera berlalu,” Ganis menuturkan. Begitu bertemu dengan Presiden Sukarno, Ganis segera mengutarakan niatnya menyampaikan naskah pidato dari atasannya, Soebandrio. Reaksi Bung Karno tak disangka Ganis.

Ganis, saya sudah bosan dengan gaya tulisan pidato Soebandrio. Saya ingin pernyataan politik, bukan pidato pejabat yang pilihan kalimat-kalimatnya klise,” kata Bung Karno. Sebagai singa di panggung, pidato Bung Karno memang selalu bergelora, tak pernah datar dan membosankan. “Oratory, I mind you, not a speech. Your minister has got into the habit of falling into philosophical reveries these days.”

Dua hari sebelum pembukaan peringatan Dasawarsa Konferensi Asia Afrika, Soebandrio tiba kembali di Jakarta dari Arab Saudi. Ganis segera menemui bosnya dan mengembalikan rancangan pidato untuk Presiden. Tak lupa dia menyampaikan pesan-pesan dari Bung Karno. Sepanjang hari, pada 17 April 1965, bersama Molly Bondan, Soebandrio menulis ulang naskah pidato untuk Bung Karno supaya bisa dibacakan keesokan harinya.

Sore harinya, ada petugas dari Istana datang mengambil naskah pidato yang sudah ditulis ulang oleh Soebandrio dan Molly Bondan. Satu salinan lagi, oleh Ganis diserahkan kepada sekretarisnya, Ali Alatas, untuk diperbanyak dan dibagikan kepada para wartawan. Tapi apa yang terjadi di Istora Senayan keesokan harinya membuat Ganis kaget bukan kepalang.

“Acara dimulai tepat pukul 10.00. Saya duduk di samping Ali Alatas dan kami masing-masing memegang salinan naskah pidato Presiden,” Ganis menuturkan. Ternyata, pidato yang dibacakan Presiden Sukarno di atas mimbar sama sekali tak mirip dengan naskah di tangan Ganis dan para wartawan. “Saya baru sadar, Presiden ternyata tak jadi memakai naskah yang disiapkan Pak Bandrio.”

Tanpa memberi tahu Ganis Harsono maupun Soebandrio, Presiden Sukarno memilih naskah pidato yang ditulis oleh Njoto bersama Carmel Brickman Boediardjo.

Presiden Sukarno di Payakumbuh, Sumatera Barat, pada 1948
Foto : Perpusnas

Di Istana Tampaksiring, Bali, mestinya Bung Karno berniat beristirahat dengan tenang. Tapi hari itu dia justru tampak kurang tenang, kelihatan gelisah. Peringatan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 1965 kurang beberapa pekan lagi. Tapi justru Njoto yang dia tunggu tak tampak batang hidungnya.

Hingga beberapa hari kemudian, setelah malam sebelumnya meninjau Depo Pertamina di Plumpang, Jakarta Utara, dan sempat menyantap sate di Cilincing, pagi harinya Bung Karno muntah-muntah. “Mangil....” Bung Karno memanggil pengawal pribadinya, Mangil Martowidjojo. “Celukno Njoto, Panggilkan Njoto.”

Mangil yang dapat perintah kebingungan. Bung Karno muntah-muntah, sementara dia tahu, Njoto bukan seorang dokter. “Dawuh menopo, Pak?” Mangil bertanya kepada Presiden. Sembari bersandar di kasur dan membaca koran, Bung Karno menyahut, “Iki wis sasi Agustus, Bapak kudu pidato. Yen ora pidato, bubar Indonesia.” (Ini sudah bulan Agustus, Bapak harus berpidato. Kalo tidak berpidato, bisa bubar Indonesia).

Sudah beberapa lama Njoto jadi penulis pidato untuk Presiden Sukarno. Meski sudah punya Ruslan Abdulgani dan tim penulis pidato di bawah Wakil Perdana Menteri Soebandrio, konon Bung Karno merasa lebih cocok dengan gaya pidato yang disusun oleh Njoto. Sebagai mantan Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda PKI, Njoto tentu saja tak asing bagaimana cara memilih kata-kata yang membakar massa.

Lahir dari keluarga bangsawan Jawa di Jember, Jawa Timur, dengan nama Koesoemo Digdojo, entah karena alasan apa, dia memilih nama yang sangat ringkas dan sederhana: Njoto. Sejak muda, Njoto sudah kenal dengan komunisme. Setelah PKI sempat babak belur gara-gara peristiwa Madiun 1948, D.N. Aidit, M.H.Lukman dan Njoto, membangkitkan dan berhasil membesarkan partai komunis itu.

“Bung Karno merasa pemikirannya cocok dengan Njoto,” ujar almarhum Joesoef Isak, sahabat Njoto, dikutip buku, Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara. Menurut Joesoef, Bung Karno menyukai Njoto yang jauh lebih muda karena dia satu-satunya pimpinan Partai Komunis yang ‘liberal’, pragmatis, dan tak dogmatis. Apalagi Njoto juga pintar memainkan alat musik dan tak canggung dalam pesta. "Kehebatan Njoto terletak dalam cara mengemas gaya bahasa Bung Karno, menempatkannya dalam pikiran politiknya."

Soebandrio, Wakil Perdana Menteri I dan salah satu penulis pidato Bung Karno
Foto : Wikimedia

Saat itu, dari akhir Juli hingga pekan pertama Agustus 1965, Njoto sedang ada di Eropa. Menurut Joesoef, Njoto pergi ke Belanda untuk menegosiasikan pembelian pesawat Fokker. Dari Belanda, rupanya Njoto tak langsung pulang ke tanah air, tapi malah mampir ke Uni Soviet untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Partai Komunis. Baru setelah Soebandrio memberi kabar bahwa Bung Karno mencarinya, Njoto pulang ke Indonesia. Njoto tiba di Jakarta kembali pada 9 Agustus 1965. Begitu tiba di Jakarta, Njoto bergegas ke Istana Bogor dan menyusun pidato di sana.

Biasanya, Njoto berpasangan dengan Carmel Brickman Boediardjo saat menulis pidato untuk Bung Karno. Perempuan asal Inggris itu menjadi warga negara Indonesia setelah menikah dengan Suwondo Boediardjo. Lulus dari London School of Economics, Inggris, Carmel dipekerjakan oleh Soebandrio sebagai Kepala Seksi Urusan Ekonomi di Kementerian Luar Negeri.

Hari ini, nama kita bukan Sukarno, bukan Subandrio, bukan Ali, bukan Idham, bukan Aidit....Hari ini nama kita Indonesia!

Pidato Presiden Sukarno bertajuk Tjapailah Bintang-bintang di Langit: Tahun Berdikari dalam peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 itu sungguh membakar. “Hari ini, nama kita bukan Sukarno, bukan Subandrio, bukan Ali, bukan Idham, bukan Aidit, bukan Dadap, bukan Waru, bukan Suto, bukan Noyo, bukan Sarinah, bukan Fatimah....Hari ini nama kita Indonesia!” Bung Karno berpidato. “Jabatan kita hari ini bukan Kepala Negara, bukan Menteri, bukan pegawai, bukan buruh, bukan petani, bukan nelayan, bukan mahasiswa, bukan seniman, bukan sarjana, bukan wartawan, - hari ini jabatan kita patriot!”

Beberapa tahun menjelang 1965, Njoto memang makin dekat dengan Bung Karno, tak semata-mata karena dia jadi penulis naskah pidato. Di mata kawan-kawannya di Partai Komunis Indonesia, pemikiran-pemikirannya pun makin dekat dengan Bung Karno. "Dia sudah lama tak diajak Aidit dalam diskusi-diskusi mengenai gerakan....Njoto tidak diajak Aidit karena berdasar pengalaman, dia lebih dianggap seorang Sukarnois ketimbang seorang komunis," kata Iskandar Subekti, anggota Komite Pusat PKI.

Nasib Njoto, demikian pula dua penulis pidato Bung Karno, Soebandrio dan Carmel Boediardjo, berakhir tragis setelah peristiwa 1 Oktober 1965. Njoto ditangkap di jalan, dibunuh, dan jenazahnya tak pernah ditemukan sampai hari ini. Soebandrio dijatuhi hukuman mati, meski kemudian diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup oleh Mahkamah Militer Luar Biasa. Gara-gara dianggap sangat dekat dengan PKI, Carmel sempat mencicipi penjara selama beberapa tahun sebelum akhirnya dibebaskan dan dipulangkan ke Inggris.


Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE