INTERMESO


DUA PEREMPUAN ASING DI BALIK PIDATO BUNG KARNO

Carmel Brickman Budiardjo sempat ditahan selama tiga tahun lantaran dituduh dekat dengan PKI. Bebas berkat status kewarganegaraannya.

FOTO : Perpustakaan Nasional

Sabtu, 17 November 2018

Hari sudah beranjak sore saat laki-laki itu datang ke rumah Carmel Brickman Budiardjo di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada 3 September 1968. Di rumah Carmel saat itu, sedang ada dua orang muridnya. Sudah beberapa lama Carmel mengajar bahasa Inggris di rumahnya setelah dia diberhentikan dari Kementerian Luar Negeri.

Ketika Carmel datang menemuinya di ruang tamu, laki-laki itu sudah duduk santai dengan kaki terjulur. “Apa Anda Ibu Carmel?” dia bertanya. Carmel mengiyakan. “Apa yang Tuan inginkan?” Carmel bertanya. “Anda harus ikut kami dan menjawab beberapa pertanyaan....Tidak akan lama,” kata laki-laki itu. Seorang temannya, turun dari mobil dan datang menghampiri. Dia berseragam tentara dan menyandang senjata.

Seketika Carmel paham apa yang dimaksud dengan perintah ‘menjawab beberapa pertanyaan’ itu. “Ke mana Anda hendak membawa saya? Apakah Anda membawa surat perintah?” Carmel bertanya, seperti dikutip dalam bukunya, Bertahan Hidup di Gulag Indonesia. Laki-laki itu jadi hilang kesabaran. “Jangan buang waktu. Ayo, cepat!”

Carmel Brickman lahir pada 1924 di London, Inggris, dari keluarga Yahudi. Dia mendapatkan gelar sarjana ekonomi dari London School of Economics pada 1946. Saat bekerja di kantor Sekretariat International Union of Students yang berkedudukan di Praha, Cekoslowakia, dia bertemu dengan warga Indonesia, Suwondo Budiardjo. Suwondo kuliah di jurusan ilmu politik Universitas Charles di Praha. Mereka menikah di Praha pada 1950 dan pulang ke Indonesia setahun kemudian. Carmel mendapat kewarganegaraan Indonesia pada 1954.

Carmel sempat bekerja di kantor berita Antara, juga mengajar di dua universitas, Universitas Res Publica dan Universitas Padjajaran. Sejak awal 1960-an, dia bekerja di Biro Ekonomi Kementerian Luar Negeri. Waktu masih tinggal di Inggris, Carmel sudah aktif di kelompok ‘kiri’. Di Indonesia pun, Carmel dekat dengan tokoh-tokoh komunis seperti Njoto dan aktif di organisasi Himpunan Sarjana Indonesia.

Carmel Budiardjo pada 1995
Foto : Right Livelihood Award

Tapi menurut Carmel, dia tak pernah menjadi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Kedekatan dengan tokoh-tokoh komunis itu lah yang bakal membuatnya berurusan dengan tentara setelah peristiwa 1 Oktober 1965. Setelah pembunuhan para jenderal TNI Angkatan Darat pada hari itu, para tokoh PKI, anggota PKI dan organisasi yang dekat dengan PKI, bahkan orang-orang yang ‘berbau’ PKI pun diburu, ditangkap, dan dijebloskan ke tahanan. Sebagian besar ditahan tanpa lewat pengadilan. Termasuk Suwondo Budiardjo, suami Carmel. Saat itu, Suwondo merupakan salah satu pejabat senior di Kementerian Angkatan Laut.

Tak hanya bekerja di Kementerian Luar Negeri. Carmel juga merupakan salah satu penulis pidato untuk Presiden Sukarno. Dia biasa bekerja bersama Njoto, Menteri Negara dalam Kabinet Dwikora dan mantan Ketua II Komite Pusat Partai PKI. Selain Carmel, ada satu lagi ‘perempuan asing’ yang jadi penulis pidato Bung Karno, yakni Molly Warner, perempuan asal Australia yang menikah dengan warga Indonesia, Mohammad Bondan. Molly merupakan anggota tim penulis pidato di bawah Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri, dr. Soebandrio. Dua tim penulis pidato ini saling ‘bersaing’ untuk dipilih Bung Karno.

Ganis, saya sudah bosan dengan gaya tulisan pidato Soebandrio. Saya ingin pernyataan politik, bukan pidato pejabat yang pilihan kalimat-kalimatnya klise'

Hari itu, Kamis 8 April 1965, Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri, dr. Soebandrio, mendapat tugas mendadak dari Presiden Sukarno. Presiden meminta Soebandrio mendampingi istrinya, Ratna Sari Dewi, pergi umrah. Sehari sebelum berangkat ke Tanah Suci, Soebandrio meminta Ganis Harsono menemuinya. Kepada Ganis, Deputi Menteri Luar Negeri, Soebandrio menyerahkan beberapa lembar kertas bertuliskan rancangan pidato Presiden untuk peringatan Satu Dasawarsa Konferensi Asia Afrika. Soebandrio menyusun naskah pidato itu bersama Molly Bondan.

Mereka memberi judul naskah pidato itu, Keep the Bandung Spirit High. “Tolong minta persetujuan dari Bung Karno,” Soebandrio berpesan kepada Ganis, seperti dikutip dalam buku Ganis, Cakrawala Politik era Sukarno. Menurut rencana, peringatan Dasawarsa Konferensi Asia Afrika akan digelar di Jakarta dan Bandung dari 18-24 April 1965.

Lantaran waktu sudah sangat dekat, keesokan harinya, Ganis berangkat ke Istana Merdeka untuk menghadap Presiden Sukarno. “Sampai di Istana Merdeka pukul 11 saya harus menunggu beberapa lama karena Presiden sedang menerima tamu yang lain,” Ganis menuturkan. Ternyata, tamu yang sedang diterima Bung Karno adalah Njoto, Menteri Negara dalam Kabinet Dwikora dan mantan Ketua II Komite Pusat Partai Komunis Indonesia (PKI).

Carmel Budiardjo, warga Inggris yang pernah menjadi tahanan politik di Indonesia dan penulis pidato Bung Karno
Foto : Right Livelihood Award

Rupanya, hari itu, saat berpapasan dengan Ganis di Istana Merdeka, Njoto juga sedang membahas rancangan pidato Presiden. “Kami saling menyapa, kemudian dia segera berlalu,” Ganis menuturkan. Begitu bertemu dengan Presiden Sukarno, Ganis segera mengutarakan niatnya menyampaikan naskah pidato dari atasannya, Soebandrio. Reaksi Bung Karno tak disangka Ganis.

“Ganis, saya sudah bosan dengan gaya tulisan pidato Soebandrio. Saya ingin pernyataan politik, bukan pidato pejabat yang pilihan kalimat-kalimatnya klise,” kata Bung Karno. Sebagai singa di panggung, pidato Bung Karno memang selalu bergelora, tak pernah datar dan membosankan. “Oratory, I mind you, not a speech. Your minister has got into the habit of falling into philosophical reveries these days.”

Dua hari sebelum pembukaan peringatan Dasawarsa Konferensi Asia Afrika, Soebandrio tiba kembali di Jakarta dari Arab Saudi. Ganis segera menemui bosnya dan mengembalikan rancangan pidato untuk Presiden. Tak lupa dia menyampaikan pesan-pesan dari Bung Karno. Sepanjang hari, pada 17 April 1965, bersama Molly Bondan, Soebandrio menulis ulang naskah pidato untuk Bung Karno supaya bisa dibacakan keesokan harinya.

Sore harinya, ada petugas dari Istana datang mengambil naskah pidato yang sudah ditulis ulang oleh Soebandrio dan Molly Bondan. Satu salinan lagi, oleh Ganis diserahkan kepada sekretarisnya, Ali Alatas, untuk diperbanyak dan dibagikan kepada para wartawan. Tapi apa yang terjadi di Istora Senayan keesokan harinya membuat Ganis kaget bukan kepalang.

“Acara dimulai tepat pukul 10.00. Saya duduk di samping Ali Alatas dan kami masing-masing memegang salinan naskah pidato Presiden,” Ganis menuturkan. Ternyata, pidato yang dibacakan Presiden Sukarno di atas mimbar sama sekali tak mirip dengan naskah di tangan Ganis dan para wartawan. “Saya baru sadar, Presiden ternyata tak jadi memakai naskah yang disiapkan Pak Bandrio.” Tanpa memberi tahu Ganis Harsono maupun Soebandrio, Presiden Sukarno memilih naskah pidato yang ditulis oleh Njoto bersama Carmel Budiardjo. Dan bukan kali itu saja Bung Karno memilih Njoto dan Carmel menuliskan pidatonya.

Setelah pembunuhan para jenderal pada 1 Oktober 1965, nasib keluarga Budiardjo berubah seratus delapan puluh derajat. Suwondo Budiardjo berkali-kali ditahan dan dilepaskan. Tapi Carmel belum ‘disentuh’ tentara dan intelijen militer. Baru tiga tahun kemudian, pada awal September 1968 itu lah, untuk pertama kalinya Carmel ikut diperiksa.

Molly Warner Bondan, perempuan kelahiran Australia yang pernah menjadi penulis pidato Bung Karno
Foto : dok.pribadi

Tak seperti ‘janji’ laki-laki yang menjemputnya ke rumah bahwa pemeriksaannya ‘tak akan lama’, Carmel ditahan lebih dari tiga tahun. Juga tanpa pernah melewati pengadilan. Selama dalam tahanan, Carmel juga mengalami perlakuan buruk, meski tak seburuk tahanan-tahanan lain. Pemeriksa Carmel terus memaksanya mengakui bahwa dia anggota PKI dan tahu banyak soal PKI.

“Kapan saudara mulai menjadi anggota Komite Pusat PKI?” seorang pemeriksa bertanya kepada Carmel. Carmel yang merasa tak pernah menjadi sekadar anggota PKI sekali pun seketika menyergah. “Apa? Betul-betul bohong. Siapa yang mengatakan saya adalah anggota....” Kata-katanya terpotong gebrakan keras di meja di depannya. Membuat Carmel nyaris terlompat kaget. “Bohong! Saya tahu semuanya,” seorang pemeriksa berteriak kencang sembari menggebrak meja.

Di media-media yang dikendalikan tentara saat itu, ada banyak ‘dosa’ yang ditimpakan kepada Carmel. Tak hanya dituding turut mengacaukan perekonomian Indonesia lewat kritik-kritiknya, Carmel juga dituding menjadi intel Inggris. Bahkan dia dituduh menjadi penyusun dokumen Gilchrist, dokumen yang menjadi sumber gosip soal intervensi asing dalam peristiwa 1965. Semua tuduhan yang dibantah oleh Carmel.

Kata mereka semua tahanan wanita telah dibunuh dan mayatnya sudah dikubur di gundukan pasir di bawah gedung ini

Hari demi hari dilalui Carmel tanpa kepastian kapan dia akan dilepas dari tahanan. Interogasi seperti itu makin lama jadi hal biasa baginya. Tapi perlakuan kasar seperti itu itu bukan apa-apa bagi Carmel, apalagi dibandingkan pengalaman teman-temannya di tahanan. Suatu hari, ada seorang tahanan perempuan yang baru dipindahkan ke ruang tahanan Carmel. Dia datang dengan mata kiri lebam.

Begitu penjaga berlalu, perempuan itu langsung menghempaskan pantatnya di lantai. Wajahnya kelihatan lega. “Kata mereka tak ada wanita lain di tempat ini. Kata mereka semua tahanan wanita telah dibunuh dan mayatnya sudah dikubur di gundukan pasir di bawah gedung ini,” kata dia. Rupanya, dia sudah tiga hari ditahan di ruang isolasi dan terus disiksa. Dia mengaku ditelanjangi dan payudaranya dipukuli. Dia belum lama melahirkan dan karena dalam tahanan, tak bisa menyusui anaknya. Sehingga sakitnya luar biasa saat payudaranya dipukuli. Matanya hitam lebam saat tinju salah satu pemeriksa menghajar wajahnya.

Salah seorang teman satu ruangan Carmel adalah seorang pembantu rumah tangga. Dia buta huruf, tak paham sama sekali apa itu komunis dan tak mengerti apa pula Gerakan 30 September. Dia ditahan karena dituduh menjadi anggota Gerwani, satu kata yang dia juga tak mengerti artinya. Dia baru dibebaskan setelah sekitar setahun jadi penghuni tahanan tanpa pernah dibuktikan apa kesalahannya.

Pada akhirnya, statusnya sebagai orang yang lahir di Inggris menyelamatkan Carmel dan dua anaknya yang masih remaja, Tari dan Anto. Selama kedua orang tuanya dalam tahanan, hanya segelintir kerabat yang bersedia mengulurkan tangan membantu Tari dan Anto. Mereka terpaksa bekerja serabutan untuk mencari makan. Pada 1969, lewat lobi Dewan Gereja-gereja Internasional, Tari dan Anto bisa dikirim ke Inggris, ke rumah kakek dan neneknya.

Baru dua tahun kemudian Carmel menyusul dua anaknya. Beberapa pihak yang membantu pembebasan Carmel, seperti pengacara Yap Thiam Hien, menemukan celah pada status kewarganegaraan Carmel. Meski pengadilan pada 1954 sudah memberikan status warga negara Indonesia untuk Carmel, tapi dia dan Budiardjo belum mencatatkan perkawinannya di Indonesia. Walhasil, status warga negara Indonesia itu bisa batal.

Hari itu, Selasa, 9 November 1971, Carmel dibawa dari Penjara Salemba ke markas tentara. Di sana, ada dua diplomat Inggris sudah menunggunya. Ada pernyataan yang harus ditandatanganinya sebelum dia terbang ke Inggris. Pernyataan bahwa dia bersedia meninggalkan Indonesia secepatnya, bahwa dia tak akan memusuhi dan menggugat pemerintah Indonesia.

Dua tentara mengikutinya ke bandara untuk memastikan bahwa Carmel benar-benar telah terbang meninggalkan Indonesia. “Saya tak ingat apa-apa tentang perjalanan itu kecuali bahwa saya memandang keluar jendela pesawat sepanjang waktu,” Carmel mengenang perjalanannya ‘pulang’ kembali tanah kelahirannya.


Editor: Sapto P

[Widget:Baca Juga]
SHARE