INTERMESO


                    DARI LAWAN JADI                           PENULIS PIDATO SOEHARTO

Yusril Ihza Mahendra melayani tiga presiden sebagai penulis pidato. Masing-masing presiden punya 'gaya' sendiri.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 30 Oktober 2018

Lawatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke luar negeri itu masih menyisakan rasa dongkol bagi Yusril Ihza Mahendra. Yusril, yang saat itu menjabat Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), sama sekali tak tahu isi pidato yang akan dibawakan Presiden. Naskah pidato dalam bahasa Inggris yang dibuat Staf Khusus Presiden Bidang Luar Negeri Dino Patti Djalal tak dilaporkan ke Sekretariat Negara lebih dulu.

"Waktu itu saya dan mungkin juga Menteri Luar Negeri Hasan menegur Dino," ujar Yusril kepada detikX, Jumat pekan lalu. Prosedur semestinya, kata Yusril, teks pidato Presiden ditulis dalam bahasa Indonesia. "Kemudian dibuatkan unofficial translation ke dalam bahasa lain."

Bahan-bahan untuk menyusun naskah pidato pun seharusnya dimintakan ke departemen terkait, dalam konteks saat itu Departemen Luar Negeri. "Saya juga ingatkan agar teksnya diketik Sekretariat Negara dan, sebelum ditandatangani Presiden, harus diparaf oleh Mensesneg," ujar Yusril. Dino belum menanggapi cerita Yusril ini.

Ketika dipercaya memegang posisi Mensesneg dalam Kabinet Indonesia Bersatu I, Yusril memang sudah kenyang pengalaman soal tulis-menulis naskah pidato presiden. Kariernya dimulai saat ditawari Mensesneg Moerdiono bergabung sebagai staf di kantor Sekretariat Negara pada pertengahan 1990-an. Saat itu Yusril masih mengajar di Universitas Indonesia. "Saya sendiri agak heran kok tiba-tiba ditawari," katanya. Pasalnya, menurut Yusril, dia kerap mengkritik pemerintah lewat tulisan-tulisan di media massa.

Belum lagi rekam jejak saat masih menjadi aktivis mahasiswa. Sikapnya sangat keras kepada Presiden Soeharto. "Saya pernah menulis spanduk besar menentang Presiden Soeharto dan ikut membakar patung Soeharto di perempatan kampus UI Salemba," ujar bekas Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa UI itu. "Jadi langganan berurusan dengan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban." Dia pun mengaku dekat dengan sejumlah tokoh Petisi 50, yang berseberangan dengan rezim Soeharto.

Presiden Soeharto
Foto: Agung Pambudhy/Detik.com

Dalam pertemuan pertama, Moerdiono mengaku hanya mengenal Yusril lewat artikel-artikel dan hasil wawancara di beberapa media. Moerdiono pun memaparkan tugas-tugasnya, yakni menyiapkan naskah pidato Presiden, surat-menyurat Presiden, segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijakan Presiden, dan perekaman hasil sidang kabinet. "Saya katakan saya ini orang bebas dan biasa mengkritik pemerintah. Kalau bergabung dengan Setneg, apakah saya akan kehilangan kebebasan," ujar guru besar ilmu hukum UI itu.

Moerdiono memberi jaminan bagi Yusril kebebasannya itu tidak akan dibatasi saat berada di luar tembok Istana Negara. "Silakan saja bicara sesuai dengan keyakinan yang Saudara anggap benar dan baik," ujar Yusril menirukan Moerdiono. Kelar dari pertemuan itu, Yusril meminta pertimbangan seniornya di Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Anwar Harjono. "Kata Pak Anwar, silakan saja kalau yakin bisa memperbaiki keadaan dari dalam," kata Yusril.

Silakan saja bicara sesuai dengan keyakinan yang saudara anggap benar dan baik."

Yusril bekerja di bawah supervisi Soenarto Soedarno, Asisten Mensesneg Bidang Urusan Khusus, seorang pejabat eselon I di Sekretariat Negara. Naskah-naskah pidato yang dibuat Yusril dikoreksi Soenarto, baru disetorkan kepada Moerdiono sebelum diserahkan ke meja Presiden. Semua rencana penulisan pidato Presiden, kata Yusril, sudah terencana mengikuti jadwal kegiatan Presiden selama tiga bulan. "Tapi pasti ada kegiatan yang sifatnya insidental."

Penulis naskah pidato pasti selalu berkoordinasi dengan institusi yang terkait dengan kegiatan Presiden. Misalnya saat peresmian gedung kampus perguruan tinggi negeri, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta rektorat universitas terkait harus menyediakan bahan-bahan apa saja yang perlu disampaikan Presiden. "Kami harus bekerja tepat waktu. Jangan sampai Presiden ada di podium, sementara teks pidatonya tidak ada," ujar YUsril. "Selain cepat, juga butuh ketelitian luar biasa dan tidak ada istilah kalau ada mood baru nulis."

Dua gadis kecil berfoto di depan foto Presiden Soeharto
Foto: dok. Getty Images

Presiden Soeharto, kata Yusril, hampir tidak pernah memberi arahan khusus terkait ide-ide yang harus dituangkan dalam pidato. Karena itu, dirinya sebagai penulis naskahlah yang harus memahami alam pikiran Presiden. "Termasuk gaya bahasa, latar belakang kultur, dan pilihan kata-katanya. Isi pidato harus menggambarkan kalau Presiden berbicara seperti itulah dia," ujarnya. "Saya sendiri harus banyak belajar budaya Jawa dan idiom yang sering dipakai Presiden. Selain tentu saja mendalami persoalan dan pergolakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat."

Bahasa yang dipilih untuk pidato Presiden sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan baik tapi tidak rumit. "Pidato Presiden itu harus dimengerti oleh semua orang, mulai profesor sampai tukang becak. Jadi bahasanya oleh kaum intelektual tidak ditertawakan, sekaligus bisa dimengerti orang awam," kata Yusril.

Yusril menulis pidato Presiden tidak terbatas pada bidang tertentu. Mulai sambutan saat Kongres Persatuan Wartawan Indonesia, pidato kenegaraan di Dewan Perwakilan Rakyat, sampai sambutan hari besar keagamaan. Hanya khusus pidato mengenai Islam, menurut Yusril, Moerdiono nyaris tak melakukan koreksi. "Saya tidak mengerti," ujar Yusril menirukan Moerdiono.

Keleluasaan yang diberikan Moerdiono tersebut dimanfaatkan Yusril memasukkan ide-ide pemikirannya yang bernuansa keislaman. Pemikiran Presiden Soeharto yang menurutnya terlalu Jawasentris dalam menafsirkan nilai-nilai Pancasila bisa pelan-pelan diubah. "Kita lihat belakangan pendekatan Presiden Soeharto pada Islam menjadi lebih baik dan simpatik. Pancasila-nya juga tidak terlalu ditafsirkan menurut filosofi Jawa, apalagi sekuler. Tetapi pelan-pelan mendekat pada nilai ketuhanan," katanya.

Pria yang lahir di Belitung Timur, 62 tahun lalu, itu pulalah yang mengonsep pidato terakhir Soeharto saat mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 bersama-sama Wakil Sekretaris Kabinet Bambang Kesowo dan pejabat Setneg Saafarudin Bahar serta Soenarto. Pagi hari sebelum menyampaikan pengunduran diri, Soeharto memanggil Yusril. "Yusril, ada yang mesti kamu tambahkan. Kabinet saya bubarkan dan saya nyatakan demisioner," ujar Soeharto kepadanya. Yusril menolak dengan alasan kabinet bisa dilanjutkan Wakil Presiden BJ Habibie dan nanti Habibie yang menjalankan reshuffle.

Presiden Soeharto, menurut Yusril, tetap ngotot. Pulpen yang berada di tangan Yusril dia ambil. "Dia kelihatannya agak kesal dan bilang, 'Kalau tidak mau tulis, biar saya tulis sendiri,'" ujar Yusril. Soeharto akhirnya menambahkan sendiri kata-kata kabinet demisioner dan permintaan maafnya kepada masyarakat. Berakhirnya kekuasaan Soeharto tak membuat Yusril kehilangan perannya di balik pidato presiden. Habibie, yang menggantikan Soeharto sebagai presiden, tetap memakai tenaganya di Sekretariat Negara.

Yusril Ihza Mahendra, mantan penulis pidato Presiden Soeharto, BJ Habibie, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Ganti bos, ganti pula gayanya di podium. Kebiasaan Habibie berbicara panjang di podium harus diikuti Yusril dengan membuat beberapa perubahan. Panjang naskah pidatonya pun disesuaikan dengan gaya Habibie. "Saya tulis naskah pidato yang panjang," kata Yusril. "Tapi kadang-kadang beliau (Habibie) menambahi di luar teks yang kami buat." Kebiasaan berimprovisasi tersebut, menurut Yusril, tidak dilakukan Presiden Soeharto. "Pak Soeharto tak akan bicara di luar teks."

Tugasnya sebagai penulis naskah sempat terhenti ketika ditunjuk menjadi Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia oleh Presiden Abdurrahman Wahid, kemudian dilanjutkan menjadi Menteri Hukum dan Perundangan-undangan semasa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Namun, ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih jadi presiden pada 2004, Yusril ditunjuk menjadi Mensesneg. Kewenangan menulis pidato presiden menjadi tanggungjawab penuhnya.

Pak Soeharto tak akan bicara di luar teks."

Gaya SBY tentu berbeda dengan dua penduhulunya yang pernah ditangani Yusril. Yusril tak bagitu leluasa karena Presiden Yudhoyono acap kali mendiskusikan konsep pidato yang akan dibawakannya. "Yusril, nanti kita ngomong gini-gini," kata Yusril. Naskah pidato yang diserahkan kepada Presiden Yudhoyono pun lebih sering mendapat revisi untuk penambahan beberapa kalimat. Biasanya berupa penggunaan istilah-istilah asing. "Sejak zaman Soeharto, saya konsisten menulis pidato dalam bahasa Indonesia baku dan sebisa mungkin menghindari penggunaan istilah asing."

Bekerja sebagai penulis naskah pidato presiden, menurut Yusril, adalah pekerjaan yang prestisius dan tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan tersebut. "Saat bekerja sebagai penulis pidato presiden itu, kita bisa menuangkan ide pemikiran tentang apa yang harus dilakukan bangsa ini. Dan hebatnya, pesan tersebut disampaikan lewat mulut presiden," kata Yusril.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE