INTERMESO


                  MENGAPA PESAWAT                         KINYIS-KINYIS BISA JATUH

“Yang agak aneh bagiku adalah pilot tak pernah menyatakan dalam kondisi darurat”

FOTO : dok. Lion Air

Jumat, 2 November 2018

Sudah beberapa bulan terakhir, terjadi kesibukan luar biasa di pabrik pesawat Boeing di kota Renton, negara bagian Washington, Amerika Serikat. Sebagian besar pegawai diminta lembur, bahkan beberapa pegawai bisa berminggu-minggu terus bekerja nyaris tanpa libur.

“Boeing membiarkan pegawainya kerja lembur sebanyak apa pun yang mereka mau,” ujar seorang pengawas kota Renton, dikutip SeattleTimes, pada September lalu. Seorang mekanik menuturkan, beberapa pegawai yang kelelahan sampai pura-pura sakit agar bisa istirahat di rumah. Pabrik Boeing di Renton ini lah salah satu lokasi perakitan utama pesawat-pesawat generasi terbaru Boeing yakni seri 737 Max.

Pesawat Boeing seri 737 Max (Max 7, Max 8, Max 9, dan Max 10) yang diklaim lebih irit bahan bakar ini memang laris manis di pasar. Hingga September 2018 lalu, menurut data dari Boeing, sudah 4783 pesawat 737 Max yang dipesan oleh 98 perusahaan. Tiga terbesar perusahaan pemesan Boeing 737 Max adalah Southwest Airlines, 280 pesawat, Lion Air, 251 pesawat, dan FlyDubai, 251 pesawat.

Dari 4783 pesawat yang dipesan, baru 219 unit yang dikirim. Artinya pabrik perakitan Boeing masih harus ‘mengejar’ 4564 pesawat lagi. Tak heran jika pusat perakitan Boeing di Renton diminta tancap gas mengejar target. Bahkan demi mengejar target dan tenggat produksi pesawat, Boeing bukan cuma menambah lembur karyawannya, tapi juga merekrut kembali para mekanik dan insinyur yang telah pensiun sejak bulan Agustus lalu.

Tapi tak hanya urusan kekurangan tenaga maupun lembur para insinyur dan mekanik yang bikin Boeing sibuk. Urusan ‘tempat parkir’ pesawat yang belum kelar proses perakitannya pun jadi masalah di Renton. Lantaran keterlambatan pengiriman mesin dan sejumlah komponen, ada puluhan pesawat ‘setengah jadi’ yang terparkir di pabrik Boeing di Renton.

Penyerahan black box Lion Air PK-LQP dari Basarnas kepada KNKT
Foto : Detik.com

“Tim kami telah memitigasi keterlambatan pengiriman ini dan pabrik kami akan terus memproduksi 52 pesawat per bulan,” kata Paul Bergman, juru bicara Boeing kepada Reuters, sebulan lalu. Beberapa bulan lalu, Boeing sudah mengajukan izin penambahan lahan area ‘parkir’ pesawat-pesawatnya ke Dewan Kota Renton.

Pada semua pesawat Boeing 737 Max itu, termasuk pesawat Boeing 737 Max 8 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, tiga hari lalu, dipasang mesin CFM International LEAP-1B. CFM International merupakan perusahaan patungan antara GE Aviation dengan perusahaan Prancis, Safran Aircraft Engine. CFM bersaing ketat dengan Pratt & Whitney dan Rolls Royce memperebutkan tender mesin untuk pesawat-pesawat Boeing dan Airbus.

Kami memutuskan menghentikan sementara semua uji penerbangan Boeing 737 Max'

Dalam industri penerbangan yang punya aturan sangat detail, tak ada tempat untuk cacat dan kesalahan. Satu cacat kecil pada mesin kendaraan di darat mungkin tak jadi soal, tapi jika hal itu terjadi pada pesawat yang terbang ribuan kaki di atas tanah, satu cacat ‘kecil’ bisa berarti celaka besar.

Tahun lalu, pada awal Mei 2017, hanya beberapa hari sebelum mulai pengiriman pesawat pertama kepada pembeli-pembelinya, Boeing terpaksa mengkandangkan semua pesawat 737 Max yang tengah menjalani uji coba setelah menemukan ada kemungkinan ‘cacat’ pada cakram logam (low pressure turbine disc) pada mesin jet CFM LEAP-1B. Menurut para insinyur CFM, seperti dikutip Seattle Times, cacat akibat masalah dalam proses penempaan pada logam itu bisa mengakibatkan keretakan.

Potensi keretakan pada satu bagian mesin pesawat jelas urusan yang sangat serius. “Kami memutuskan menghentikan sementara semua uji penerbangan Boeing 737 Max,” kata Doug Adler. Semua mesin yang bermasalah, akan dikirimkan kembali kepada pembuatnya untuk diteliti yakni CFM International. “Kami harap bisa membereskan masalah ini dalam beberapa minggu,” kata Olivier Andries, bos Safran Aircraft Engine.

Pesawat American Airlines McDonnell_Douglas_DC-10-10
Foto : Wikimedia

Masalah pada sebagian mesin pesawat terbaru Boeing itu tak menunda jadwal pengiriman dan operasi pesawat. Beberapa hari setelah uji coba penerbangan dihentikan, Boeing mengirimkan pesawat perdana Boeing 737 Max 8 kepada salah satu pembelinya yakni Malindo Air dari Malaysia, salah satu anak perusahaan Lion Air dari Indonesia. Pesawat itu terbang komersial perdana pada 22 Mei 2017.

Beberapa bulan kemudian, ada satu masalah kecil ditemukan lagi pada mesin CFM LEAP-1B yakni pelapis keramik pada bagian paling panas dari mesin yakni rotor pertama pada High Pressure Turbine. Keramik ini, menurut Rick Lowden, peneliti pada Laboratorium Nasional Oak Ridge, perlu lapisan untuk melindunginya dari proses oksidasi akibat uap gas dari ruang bakar. “Tapi masalah ini tak terkait isu keamanan atau operasional,” kata Jamie Jewell, juru bicara CFM International. Tapi jelas, masalah itu membuat kecepatan pengiriman mesin terganggu.

Mesin CFM LEAP-1B bukan satu-satunya mesin pesawat baru yang bermasalah. Rolls Royce juga menemukan cacat pada bilah turbin pada mesin Trent 1000. “Jumlah penemuan mesin yang bermasalah melampaui kemampuan kami untuk menyediakan mesin cadangan kepada pelanggan kami,” kata Gary Moore, Direktur Proyek Trent 1000, beberapa bulan lalu.

Penemuan masalah pada mesin Pratt & Whitney GTF membuat banyak sekali pesawat Airbus 320 Neo terkatung-katung menunggu mesin di pabrik mereka. “Kita menghadapi masalah industrial yang harus kita atasi,” ujar Guillaume Faury, Presiden Airbus Commercial Aircraft.

Serpihan pesawat Lion Air dan barang-barang milik penumpang
Foto : Detik.com

Jatuhnya pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 pada Senin pagi lalu tak membuat Qatar Airways menunda atau membatalkan pembelian 60 pesawat sejenis. “Pesawat apa pun yang mengalami kecelakaan, selalu menjadi perhatian serius komunitas penerbangan. Tapi jangan lah mengambil kesimpulan tergesa-gesa,” kata Akbar al-Baker, CEO Qatar Airways kepada Gulf Times, beberapa hari lalu. “Pesawat tak akan mendapatkan sertifikasi jika punya masalah dengan keamanannya. Pesawat jatuh dengan rupa-rupa sebab....Dan Boeing 737 Max bukan pesawat yang sama sekali baru, tapi hasil evolusi dari keluarga 737.”

Pesawat tak akan mendapatkan sertifikasi jika punya masalah dengan keamanannya. Pesawat jatuh dengan rupa-rupa sebab

Jatuhnya pesawat Lion Air di perairan Karawang memang membuat kalangan industri penerbangan bertanya-tanya lantaran pesawat ini boleh dibilang masih kinyis-kinyis. Boeing 737 Max 8 dengan nomor registrasi PK-LQP itu baru mulai beroperasi komersial pada Agustus lalu dengan 800 jam terbang. Bagaimana pesawat yang baru berumur tiga bulan ini bisa jatuh ke laut bersama 189 penumpang dan awaknya, masih jadi tanda tanya besar.

Sebenarnya, kecelakaan yang melibatkan pesawat yang gres bukan kali ini saja terjadi. Pada 13 April 2013 lalu, pesawat Lion Air Boeing 737-8GP mendarat di laut, hanya puluhan meter dari landasan Bandara Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Tak ada korban jiwa, namun badan pesawat rusak lumayan parah. Pesawat ini baru enam minggu dioperasikan oleh Lion Air.

Pada 12 Juni 1972, pintu kargo pesawat American Airlines MD-10-10 yang terbang dari Los Angeles menuju New York, mendadak terbuka di udara. Lantai sebagian kompartemen penumpang tersedot hingga amblas dan menjepit kabel pengendali mesin. Untung lah, pilot Kapten Bryce McCormick yang sudah sangat senior, dengan lebih dari 24.000 jam terbang, bisa mendaratkan pesawat dengan selamat meski dengan kondisi mesin mati. Semua penumpang dan awak selamat. Pesawat MD-10-10 ini pun baru berumur beberapa bulan.

Hasil investigasi Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) menemukan ada masalah pada desain pintu kargo. Tak ada indikator bagi petugas untuk mengetahui apakah pintu kargo sudah tertutup sempurna atau tidak. Setelah kecelakaan itu, McDonnell Douglas membuat perbaikan kecil pada pintu kargo MD-10-10, tapi tetap tak bekerja sempurna. Kegagalan itu dibayar sangat mahal.

Dua tahun setelah kejadian American Airlines, pesawat MD-10-10 milik Turkish Airlines yang terbang dari Istanbul menuju London mengalami kejadian sama persis. Tapi awak dan penumpangnya tak seberuntung awak dan penumpang American Airlines. Gara-gara terbukanya pintu kargo, pesawat itu kehilangan kendali dan jatuh di hutan Ermenonville, di luar kota Paris, dan menewaskan 346 awak dan penumpangnya.

Operasi pencarian pesawat Lion Air PK-LQP
Foto : Detik.com

Sebelum akhirnya hilang dari radar dan jatuh ke laut, seperti terpantau di FlightRadar24, pesawat Lion Air PK-LQP memang menunjukkan gejala-gejala tak wajar. Kecepatannya naik turun, sementara ketinggiannya tak beranjak jauh dari 5000 kaki di atas permukaan laut. Pilot Bhavye Suneja sempat melaporkan kepada petugas pengatur lalu lintas penerbangan (ATC) mengalami masalah dengan kendali penerbangan.

Biasanya, menurut pakar penerbangan Philip Butterworth-Hayes, pada saat tinggal landas, pesawat dikendalikan oleh sistem otomatis. Angka-angka di FlightRadar menunjukkan proses tinggal landas yang sama sekali tak stabil. “Angka-angka itu tak cocok dengan pola penerbangan otomatis. Kecuali pesawat itu berusaha mengkoreksi sendiri karena alasan tertentu,” kata Philip kepada CNN. Lantaran pesawat ini masih baru, dia tak yakin penyebab jatuhnya pesawat lantaran masalah mekanis. “Pesawat tak jatuh begitu saja dari langit.”

Pilot Bhavye Suneja memang sempat minta izin untuk kembali ke landasan (return to base) di Bandara Soekarno-Hatta sekitar delapan menit setelah tinggal landas. “Kami sudah setujui dan kami persiapkan dua landasan,” kata Manajer Humas AirNav Indonesia, Yohanes Harry Sirait. Semua penerbangan yang hendak mendarat di dua landasan itu ditahan sementara. Menurut Philip, permintaan izin kembali ke landasan ini menunjukkan bahwa tak ada kondisi yang benar-benar darurat yang dihadapi oleh Pilot Bhavye. Tapi pesawat Lion Air itu tak kunjung kembali.

“Yang agak aneh bagiku adalah pilot tak pernah menyatakan dalam kondisi darurat,” kata David Soucie, mantan pengawas keamanan di Federal Aviation Administration. “Mestinya, jika dia hendak kembali, dia mesti menjaga ketinggian, berputar dan kembali ke bandara.” Kecelakaan yang melibatkan pesawat baru memang sangat jarang. Namun karena pilot maupun ko-pilot Lion Air PK-LQP punya jam terbang lumayan panjang dan tak ada masalah dengan cuaca, mantan penyelidik kecelakaan udara di NTSB, Peter Goelz, berpendapat, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mesti fokus memeriksa pesawat.

Memang kelewat dini untuk menyimpulkan ada masalah pada pesawat. Tapi ini bukan kali pertama pesawat Boeing 737 Max 8 mengalami masalah. Pada awal Juli lalu, pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai Jet Airways, India, sempat di-grounded selama 36 jam setelah pilotnya melaporkan ada masalah pada mesin. Pesawat itu diizinkan terbang kembali dua hari kemudian.


Reporter: Gresnia Arela
Editor: Sapto P

[Widget:Baca Juga]
SHARE