INTERMESO

Jalan-jalan Ke Eropa untuk Mama

"Karena selama ini mama single parent, buatku mama itu hero yang serba kuat dan hebat. Aku nggak punya pengalaman bahwa, mama sudah selemah itu"

FOTO : dok. pribadi Edna Caroline

Senin, 5 November 2018

Malam itu Edna Caroline Pattisina tancap gas membelah kemacetan ibu kota menuju Cilandak Town Square di Jakarta Selatan. Ia ada janji penting dengan Steven, adik laki-laki semata wayangnya. Pertemuan rahasia ini sengaja dilakukan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan ibu mereka, Jeanne Pattisina R.

“Mama kan sudah lama ingin lihat bunga tulip di Belanda. Ini salah satu impiannya,” ujar Edna memulai percakapannya dengan sang adik. Setelah belasan tahun tenggelam dalam kesibukan sebagai wartawan harian Kompas, Edna punya satu rencana untuk sang mama, panggilan dia dan adiknya untuk ibu mereka. Dan dia sudah tak sabar mendiksusikan keinginannya memberikan hadiah kejutan untuk ‘mama’ dengan adiknya. Hadiah yang dirahasiakan dari mamanya itu adalah jalan-jalan ke Eropa.

Ide Edna memberikan hadiah jalan-jalan untuk sang mama sebenarnya agak nekat juga. Bukan lantaran jauhnya perjalanan atau soal ongkosnya yang tak murah. Tapi karena usia sang ibu yang sudah tak lagi muda, 68 tahun. Apalagi Jeanne punya masalah pada jantungnya. Sudah 13 tahun belakangan ini ia rutin bolak balik ke rumah sakit karena penyakit aritmia, gangguan irama jantung. Aritmia menyebabkan jantung berdetak lebih cepat atau sebaliknya, lebih lambat atau bisa pula tak beraturan.

Sebagai anak sulung, Edna tentu tak asal modal nekat merencanakan perjalanan ke Eropa untuk mamanya. Meski harus berobat jalan, Jeanne masih bisa beraktivitas normal sehingga masih mungkin untuk pelesir jauh ke Eropa. Bagi Edna, hadiah jalan-jalan ke Eropa merupakan ungkapan terima kasih atas perjuangan ibunya yang banting tulang membesarkan kedua buah hatinya dalam kondisi serba sulit.

Ketika usia Jeanne masih 35 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit. Suaminya berpulang, meninggalkannya bersama dua anak yang masih kecil. Saat itu Edna masih berusia 8 tahun, sedangkan adiknya terpaut 3 tahun lebih muda. Harta yang ditinggalkan suaminya untuk melanjutkan hidup hanya sebuah rumah kecil di daerah Sunter, uang dan pesangon yang jumlahnya tak seberapa. Dari semula ibu rumah tangga, Jeanne bekerja sebagai sekretaris di satu perusahaan. Dia memikul tugas ganda, sebagai ibu sekaligus ayah bagi kedua anaknya.

Fokus mamanya kala itu, Edna menuturkan, hanya satu hal yaitu bagaimana anak-anaknya bisa terus bersekolah. “Dulu hidupnya hanya diisi dengan kerja...kerja doang. Fokus dia pokoknya anaknya harus sekolah,” kata Edna saat berbincang dengan detikX pekan lalu. Pelesiran, apalagi ke luar negeri, ada di urutan ke-100. “Jangankan jalan-jalan, dia nggak beli baju, makan juga sehemat mungkin. Akhir bulan cuma masak tumis kol dicampur telor. Kalau gajian baru beli sate, sepuluh tusuk dibagi bertiga.”

Edna Caroline bersama ibunya, Jeanne Pattisina
Foto : dok. pribadi Edna Caroline

Sampai suatu hari Edna merasa tersentil setelah mendengar kisah sahabatnya, Yayah. Kala itu sahabatnya tengah merawat ibunya yang sakit. Rupanya cerita itu sangat membekas di hati Edna. “Yayah menyesal karena uang yang dia punya bukannya dipakai untuk dinikmati bersama, malah digunakan buat merawat mamanya yang sakit. Makanya, saya pikir mumpung mama masih sehat dan bisa menikmati, manfaatkanlah waktu untuk jalan-jalan,” kata Edna.

Pertemuannya dengan Steven malam itu diakhiri dengan sebuah kesepakatan. Edna dan Steven sepakat membagi dua ongkos hadiah ‘rahasia’ jalan-jalan ke Eropa itu. Piknik ke Eropa selama lebih dari dua minggu itu diperkirakan akan memakan biaya sekitar Rp 30-40 juta untuk dua orang.

Dulu hidupnya hanya diisi dengan kerja...kerja doang. Fokus dia pokoknya anaknya harus sekolah'

Untuk mengirit ongkos, hanya Edna yang akan berangkat menemani mamanya. Agar ongkos tak makin bengkak, Edna sudah berencana untuk bepergian ala backpacker. Meskipun dalam praktiknya, tak semua bisa sesuai rencana, termasuk dalam hal mengirit ongkos ini. Tepat seperti dugaan Edna, ternyata mamanya sangat bersemangat begitu menerima kabar gembira dari anaknya. Meskipun awalnya ia sempat ‘curiga’ dengan asal-muasal ongkos ke Eropa itu.

Begitu Edna dan mamanya bersepakat, mereka segera ngebut membuat persiapan. Mulai dari membeli tiket, membuat visa, sampai merencanakan perjalanan. Enam bulan terakhir sebelum terbang, diskusi antara Edna dan Jeanne diisi dengan perbincangan seputar berbagai destinasi wisata di Eropa.

Tujuan pertama yang wajib dikunjungi bagi mama Edna adalah negeri Belanda. Sebagai orang yang lahir dan besar di Manado, Jeanne sudah akrab dengan hal berbau Belanda. Saudara dan teman-temannya sudah berulang kali ke negara kincir angin itu. Mama Edna sudah membayangkan dirinya berfoto dengan baju tradisional Belanda dan meliat kincir angin.


Foto : dok. pribadi Edna Caroline

Meski namanya ibu dan anak, seleranya bisa bertolak belakang. Edna, sejujurnya, lebih suka berkunjung ke museum seni, duduk seharian di kafe dan merasakan hidup sebagai masyarakat lokal. Sedangkan mama Edna lebih suka melihat taman bunga di Madurodam. “Mama kan feminin banget. Dia kepengin banget ke Madurodam untuk lihat taman bunga. Sedangkan aku nggak begitu suka,” kata dia.

Lalu bagaimana jalan keluarnya? “Tips paling utama jalan sama orang tua, lu jangan pikir sedang jalan-jalan berdua, tapi gua tuh nemenin nyokab jalan-jalan. Gua pengin dia happy. Ketika sikap kita begitu, lu jadi bisa menerima.” Akhirnya mereka memutuskan akan pelesir ke Belanda, Swiss, dan Paris di Prancis.

Membawa serta orang tua yang usianya hampir 70 tahun memang butuh persiapan matang, terutama persoalan makanan dan kesehatan. Mungkin karena faktor usia, metabolisme tubuh Jeanne menjadi tidak normal. Mama Edna jadi lebih cepat lapar. Ia wajib makan tiga kali sehari plus cemilan yang kadang tidak terhitung jumlahnya. Edna mengakalinya dengan membeli makanan-makanan kering yang bisa disantap di mana saja.

Untuk jaga-jaga jika ada hal darurat, Edna juga menyiapkan asuransi kesehatan. Dia juga mencatat kontak Kedutaan Besar RI serta teman-teman yang tinggal di negara yang mereka lalui. Jika terjadi kemungkinan terburuk, setidaknya ia sudah ada persiapan.

“Kalau bawa obat-obatan dari Indonesia juga harus persiapkan resep dari dokter, karena sewaktu-waktu bisa diperiksa oleh petugas bandara. Waktu itu kami beruntung karena nggak dicek. Kalau diperiksa, mungkin obat mama nggak boleh dibawa karena kami nggak bawa resepnya,” dia bercerita.

Mereka pun memilih berangkat pada bulan April tahun lalu. Sebetulnya Edna agak was-was juga. Sebab dibandingkan adiknya, Edna kurang begitu akrab dengan mamanya. Ia hanya bisa berharap agar tidak ada kejadian yang dapat merusak suasana.

Setelah sempat transit di dua negara, Malaysia dan Uni Emirat Arab, Edna dan Jeanne akhirrnya mendarat tiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda. Sebelum melangkah keluar dari bandara, tak lupa Jeanne berfoto di depan tulisan Arrival Schiphol. Landmark nama tempat sangat penting dan tidak boleh dilewatkan oleh mama Edna. Padahal bagi Edna, foto di tempat itu sangat norak. Namun ia tak kuasa menolak saat dijadikan fotografer pribadi mamanya. Jepret. Jadi lah foto perdana Jeanne di negeri Belanda.


Foto : dok. pribadi Edna Caroline

Meski tak sedingin di bulan Januari, tiupan angin pada bulan April di Amsterdam tetap terasa menusuk tulang bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan hawa panas di Jakarta. Jeanne segera merapatkan jaket tebalnya. Termos kecil berisi air panas yang selalu ia bawa menjadi andalannya saat udara dingin menyerang. Dibekali senjatanya itu, ia bisa dengan tenang menikmati tur kanal dengan perahu yang menjadi ciri khas kota Amsterdam.

Selama jalan-jalan, Edna lah yang jadi ‘pemandu’ pelesiran mama dan anak itu. Dia memang harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Jeanne. Sepanjang perjalanan, Edna teringat ketika ia dan adiknya masih kecil. Dulu mereka tidak perlu berpikir dan hanya tahu menikmati jalan-jalan saja. Ibunya lah yang memikirkan semuanya. Kini setidaknya untuk beberapa hari ke depan, Edna bertukar peran dengan sang mama.

Selama ini kami tinggal beda rumah, sehingga aku nggak ngeh penyakit jantungnya mama seperti apa. Dia terlihat kepayahan banget. Di situ aku baru sadar, iya ya mama sudah tua

Jeanne terlihat begitu menikmati pemandangan arsitektur di ibu kota Belanda. Namun ada satu kejadian yang membuat Edna merasa bersalah. Setelah seharian berpergian, Edna dan Jeanne hendak menaiki kereta di Centraal Station. Edna seperti lupa jika dirinya sedang berada di Belanda bersama mamanya. Begitu melihat kereta datang, Edna spontan berlari mengejar agar tidak tertinggal, bak sedang mengejar kereta listrik di Stasiun Palmerah di seberang kantornya di Jakarta. Padahal kalau dia mau menunggu, kereta selanjutnya hanya berjeda kurang dari sepuluh menit.

Edna berhasil masuk ke dalam kereta, sedangkan Jeanne sempoyongan berlari mengejar kereta. Jeanne masuk tepat waktu ketika pintu otomatis tertutup. Tapi tangannya sedikit terluka karena terkena gesekan pintu. Edna menyesal bukan main. “Aku kalau jalan cepat, sedangkan mamaku nggak bisa cepat karena punya penyakit jantung. Selama ini kami tinggal beda rumah, sehingga aku nggak ngeh penyakit jantungnya mama seperti apa. Dia terlihat kepayahan banget. Di situ aku baru sadar, iya ya mama sudah tua,” Edna mengenang pengalamannya setahun lalu.

Perjalanan itu memuat Edna sadar mengenai beberapa hal-hal yang sebelumnya ia anggap biasa saja. “Karena selama ini mama single parent, buatku mama itu hero yang serba kuat dan hebat. Aku nggak punya pengalaman bahwa, mama sudah selemah itu. Jadi kebersamaan ini membuatku mengenal dia lebih dalam,” ujar Edna.


Foto : dok. pribadi Edna Caroline

Edna yang masih serba gesit dan terbiasa bepergian sendirian, berulang kali harus menahan sabar ketika Jeanne terus menerus diserang rasa lapar. Termasuk ketika dalam perjalanan menuju kawasan Chamonix di wilayah Rhone-Aples, Prancis, tempat di mana wisatawan menikmati bermain salju dan ski dengan pemandangan pegunungan dan pohon cemara yang luar biasa. Sambil menunggu Jeanne menghabiskan sepotong roti bagel, Edna khawatir jika mereka akan ketinggalan bus travel.

Edna juga cuma bisa geleng-geleng kepala ketika tiba di pusat kota Paris, ketika keduanya tengah menikmati city tour menggunakan bus. Di akhir perjalanannya ini, mama Edna terserang flu. Obat yang ia minum membuat ibunya mengantuk, walhasil ia tidur sepanjang jalan. Edna terpaksa membangunkan mamanya untuk berfoto di depan Menara Eiffel.

Mom, this is the most beatiful city in the world, kenapa malah tidur,” ujar Edna. Meski tak sempat menikmati pemandangan kota Paris karena tertidur, Jeanne sempat mengungkapkan rasa bahagianya karena dapat menghabiskan waktu berdua dengan putri tercinta. “Selama perjalanan 16 hari ini ternyata katanya mama paling senang karena bisa menghabiskan waktu bersama anaknya. Aku terharu banget.”

Kisah perjalanan ibu dan anak setahun silam itu, Edna tulis dalam bukunya Backpacker with Mom dan Lansia Backpacker. Lewat kisahnya, dia ingin memberikan dorongan bagi para orang tua yang sudah lanjut usia dan anak-anaknya agar tak perlu takut jalan-jalan bersama karena berbagai alasan.

“Kita tuh suka lupa, sekali-kali kita inget lah ada orang tua yang masih tinggal di rumah,” ujar Edna. Menurut dia, pengalaman jalan bersama mamanya meninggalkan kesan yang tak akan luntur selamanya. “Aku pernah solo travelling, juga sering jalan sama teman. Tapi yang paling berkesan sama orang tua sih karena secara emosional jadi lebih kuat.” katanya.

Masalah biaya yang kerap menjadi kendala, bagi Edna, tinggal diatur sesuai kesanggupan masing-masing. Piknik tak harus ke luar negeri atau tempat yang jauh, dus ongkosnya mahal. Di Indonesia pun masih banyak tujuan wisata yang sangat asyik untuk dijelajahi. “Masalah duit masih bisa dicari lagi, cuma waktu yang nggak bisa terulang......Anehnya setelah pulang jalan-jalan, ada aja loh rezekinya. Bukannya mengharapkan, tapi kenyataannya begitu.”


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE