INTERMESO


               ANJING DAN KUCING :                         THE MOTORCYCLE DIARIES

Gunadi membawa anjing Siberian Husky dan kucingnya naik motor dari Jakarta ke Yogyakarta saat Lebaran. Menempuh 21 jam perjalanan.

Gunadi bersama Halvor dan White Socks di Gunung Bongkok, Purwakarta.

FOTO : dok. Gunadi Tedjo Kesumo

Selasa, 6 November 2018

Lebih dari setengah abad silam, Ernesto Guevara, mahasiswa sekolah kedokteran di Buenos Aires bersama sahabatnya, Alberto Granado, memulai petualangan mereka menyusuri beberapa negara di Amerika Latin dengan menunggang motor Norton 500 cc. Konon perjalanan selama sembilan bulan menempuh jarak lebih dari 8000 kilometer itu lah yang mengubah hidup Ernesto. Bertahun-tahun kemudian, orang lebih mengenalnya sebagai Che Guevara.

Perjalanan Halvor dan White Socks ke Yogyakarta pada musim Lebaran tahun lalu tentu saja tak bisa dibandingkan dengan perjalanan Ernesto dan Alberto yang telah difilmkan oleh sutradara Walter Salles pada 2004. Tapi perjalanan anjing dan kucing ini ke Yogyakarta juga luar biasa. Gila.

Perjalanan Halvor dan White Socks ke Yogyakarta sebenarnya di luar rencana Gunadi Tedjo Kesumo, pemilik anjing dan kucing ini. Ceritanya, keluarga Gunadi tertimpa musibah ketika ibu mertuanya mendadak meninggal dunia. Gunadi yang tinggal di Jakarta diminta segera menyusul istri dan anaknya yang sudah lebih dahulu tiba di Jogjakarta.

Kebetulan pula saat itu lagi masa Lebaran. Untuk mencari tiket pesawat atau kereta api ke Yogyakarta sudah jelas sulitnya bukan main. Dia juga tak ingin menitipkan Halvor dan White Socks di rumah penitipan hewan. Gunadi pun nekat membawa Halvor dan White Socks di atas sepeda motor menempuh perjalanan sejauh sekitar 540 kilometer.

Perjalanan yang seharusnya ia perkirakan tak lebih dari 12 jam ternyata molor hingga 21 jam. “Selain karena macet, saya bawa motor juga pelan di bahu jalan. Dari Jakarta jam 9 malam, sampai di sana besoknya jam 6 sore, sekitar 21 jam,” Gunadi menuturkan perjalanannya kepada detikX beberapa hari lalu.

Barangkali hanya ‘orang gila’ seperti dia yang mau naik motor bersama dua binatang menempuh jarak sejauh itu. “Itu karena antara terpaksa, sama mau buat kejutan. Padahal badan capek, harus sampai selamat dan bawa mereka berdua ini. Pas sampai Yogyakarta semua keluarga kaget. Itu jadi rekor saya, gila kan?”


Foto : dok. Gunadi Tedjo Kesumo


Foto : dok. Gunadi Tedjo Kesumo


Foto : dok. Gunadi Tedjo Kesumo


Foto : dok. Gunadi Tedjo Kesumo


Foto : dok. Gunadi Tedjo Kesumo

Jalan-jalan menunggang sepeda motor banyak orang yang melakukannya. Namun jika sambil memboncengkan seekor anjing dan kucing, mungkin hanya segelintir orang nekat yang melakukannya. Gunadi salah satu orang 'nekat' itu. Beberapa waktu lalu, detikX tak sengaja berpapasan dengan Gunadi ketika sedang melintasi bawah kolong jalan layang di Jalan Baru Bogor.

Pemandangan itu pasti kelihatan ‘aneh’ di jalan raya. Dengan percaya diri Gunadi memacu sepeda motor bebek berwarna hitam dengan seekor anjing Siberian Husky dan kucing kampung berwarna hitam duduk anteng di depannya. Karena penasaran, reporter detikX menyalip dan menyetop pengendara ini. Entah kagum atau heran, pengguna jalan lain ikutan menengok dan membuka kaca mobil, seolah tak percaya dengan hal yang dilihat barusan.

Karena bujet pas-pasan, kalau ada waktu luang di akhir pekan baru bisa saya bawa jalan-jalan ke tempat seperti ini'

“Kami baru pulang jalan-jalan dari Curug Seribu,” jawab Gunadi enteng sambil menunjuk dua binatang berbulu yang dibawa bersamanya. Curug Seribu merupakan wisata alam yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, Bogor, Jawa Barat. Rupanya Gunadi sudah sering mengajak hewan peliharaannya berwisata dengan motor. Dan kawasan Curug di Bogor merupakan salah satu lokasi favorit Halvor dan White Socks, nama yang ia berikan bagi anjing dan kucingnya.

Udara sejuk dan dingin di lereng Gunung Halimun rupanya membuat Halvor betah berlama-lama. Kondisi ini sangat cocok dengan anjing Siberian Husky seperti Halvor yang nenek moyangnya berasal dari Semenanjung Chukchi, di wilayah timur Siberia, Rusia. “Kalau punya banyak duit bisa sediakan satu ruangan khusus full AC untuk Husky. Tapi karena bujet pas-pasan, kalau ada waktu luang di akhir pekan baru bisa saya bawa jalan-jalan ke tempat seperti ini,” kata Gunadi. Anjing berjenis kelamin jantan ini bulunya pendek karena tidak selalu berada di tempat dingin.


Foto : dok. Gunadi Tedjo Kesumo

Gunadi tak punya kelihaian seperti Cesar Millan atau Jackson Galaxy yang bisa menjinakkan dan melatih anjing dan kucing. Gunadi bukan pelatih binatang yang dapat mengajarkan trik kepada anjing dan kucingnya untuk duduk di motor. Bahkan hingga menempuh jarak ratusan kilometer dari rumahnya di Jakarta Barat. Ia juga bukan pawang binatang yang bisa mendamaikan anjing dan kucing, dua hewan yang konon sulit hidup bersama.

Awalnya ia justru berkomitmen tidak mau pelihara binatang. Gunadi masih mengingat pesan sang ibu. Saat itu ibunya pernah berpesan untuk tidak memelihara binatang karena ‘hangat hangat tahi ayam’ saja. “Ibu saya bilang, memelihara itu butuh komitmen yang kuat, butuh ketelatenan, butuh ketekunan. Karena mereka merupakan sesuatu yang bernyawa,” kata Gunadi, kini 52 tahun. Karena ingat pesan ibunya itu, semula dia tidak mau membeli binatang peliharaan, kecuali ikan hias atau kura-kura. “Karena ya itu tadi, takut kurang mampu mengurus. Nanti malah membuat binatangnya sakit dan meninggal. Kan jadi merasa bersalah.”

Gunadi bergeming meski James, anak sulungnya, terus merengek dibelikan binatang peliharaan. Ia kaget ketika Halvor, anjing berbulu putih dengan campuran warna hitam di ujungnya, tiba-tiba sudah ada di pekarangan rumahnya. Rupanya James tak kehabisan akal. Tak berhasil membujuk ayahnya, dia beralih ke ibunya. Ibunya tak kuasa menolak permintaan membelikan seekor anjing.

James sebenarnya tak punya alasan khusus membeli anjing Siberian Husky. Nampaknya ia juga tak mencari informasi lebih dulu mengenai jenis anjing yang akan dibelinya. Saat itu kebetulan Halvor ada di toko yang menjual hewan. Halvor terlihat unik karena memiliki kelainan warna mata atau heterokromia. Mata kanannya berwarna biru, sedangkan bola mata sebelah kiri berwarna kecoklatan.

Namanya juga anak-anak, belakangan setelah rasa penasarannya terpenuhi, ia lebih asik main game ketimbang membawa Halvor jalan pagi. Karena kurang perhatian, Gunadi mengambil alih pemeliharaan anjing yang kini berusia tiga tahun itu. Kebetulan Gunadi doyan berwisata. Sejak masih SMA hingga kuliah di Institut Teknologi Bandung, Gunadi hobi naik turun gunung. Terutama beberapa Gunung di Jawa Tengah seperti Gunung Merapi, Merbabu hingga Gunung Sumbing sudah ia jelajahi. Namun sejak pria asal Tegal ini pindah dan bekerja di Jakarta, ia sudah mulai mengurangi kegiatannya itu. Justru ia lebih banyak menghabiskan waktu di pantai untuk mempelajari teknik free diving di laut lepas.

Bapak tiga anak ini pun kepikiran turut membawa Halvor ke pantai atau menyeberang ke satu pulau. Tapi Gunadi khawatir jika naik transportasi umum seperti kapal, si pemilik kapal tidak mengijinkan membawa hewan peliharaan. Apalagi tidak semua orang nyaman dengan binatang berkaki empat ini. Gunadi akhirnya memutuskan untuk membawa Halvor jalan-jalan dengan mobil.

Sebagai percobaan perdana ia membawa Halvor ke Pantai Ancol. “Itu pertama kali Halvor ikut saya naik mobil dan duduk di bangku kiri depan. Awalnya agak gugup tapi nggak lama kemudian dia bisa menyesuaikan,” tuturnya. Lancar dengan percobaan pertama, Gunadi ingin membawa Halvor menjelajahi tempat wisata lain. Tapi kalau terus menerus naik mobil, ongkosnya jadi lebih mahal. Apalagi jika kegiatan ini dilakukan rutin, pikirnya, lumayan menguras kantong juga. Jika menggunakan mobil, Gunadi juga harus melewatkan lokasi terpencil yang jalanannya sulit dijangkau.


Foto : dok. Gunadi Tedjo Kesumo

Sedangkan di rumah hanya ada motor bebek yang nangkring di depan rumah. Gunadi sempat terpikir membeli motor matik yang punya pijakan lebih luas. Dengan pijakan itu tentu akan lebih mudah membawa Husky. Namun akhirnya ia memilih memodifikasi motor bebeknya dengan memanjangkan tempat duduk. Gunadi memasang papan kayu di depan tempat duduknya yang berfungsi sebagai alat bantu pijak sekaligus tempat duduk untuk Halvor.

“Dari saat masih belum berumur satu tahun, saya melatihnya naik ke atas tempat duduk motor dengan menggendongnya. Setelah terbiasa dan tubuhnya lebih besar, Halvor mulai bisa loncat dan naik ke atas motor sendiri,” katanya. Dari hanya sekedar keliling komplek rumah, Halvor mulai menikmati perjalanan jauh dengan motor. “Setelah itu saya bawa ke tempat kerja yang tidak terlalu jauh, lalu lebih jauh lagi sampai bisa jalan untuk pertama kali naik motor ke Pulau Untung Jawa. Saya titip motor di Tanjung Pasir lalu lanjut naik kapal.”

Saat sudah mulai terbiasa, saya biarkan mereka berdua main. Eh ternyata bisa dekat tanpa saya perlu bersusah-payah

Ketika Halvor berumur sekitar satu setengah tahun, Gunadi mengadopsi White Socks, seekor kucing kampung yang tak sengaja ia temukan di jalan. Saat itu Gunadi yang memiliki lisensi scuba diving A1 dari CMAS sedang membawa Halvor jalan-jalan di luar rumah. Gunadi melihat seekor kucing berwarna hitam kotor dan nampak ketakutan. Karena tak tega, ia membawa serta kucing itu pulang.

Menyatukan anjing dan kucing yang nalurinya saling bermusuhan bukan hal mudah. Seekor anjing Husky punya naluri membunuh binatang tinggi, terutama terhadap hewan yang lebih kecil. Gunadi tak punya teknik khusus untuk menyatukan mereka. Justru mereka lah yang perlahan mulai akrab dengan sendirinya.

Begitu tiba di rumah, Gunadi memandikan kucing kecil itu. “Sambil saya gendong saya dekatkan kucing dengan Halvor. Saat sudah mulai terbiasa, saya biarkan mereka berdua main. Eh ternyata bisa dekat tanpa saya perlu bersusah payah,” kata Gunadi. Selama beberapa jam berbincang dengan detikX, Anjing dan kucing yang memiliki akun instagram bernama @halvorhusky ini memang terlihat sangat akur. Hanya sesekali Halvor menyalak ketika si kucing iseng mencuri ayam goreng yang tengah dinikmati anjing itu.

Sejak saat itu, Halvor dan White Sock jadi teman Gunadi berkemah dan jalan-jalan ke banyak tempat. Beberapa waktu lalu dia mengajak anjing dan kucing itu berkemah di Gunung Lembu, Purwakarta, Jawa Barat. Gunadi membawa ransel berisi hammock, fly sheet, tenda, tak lupa tempat minum dan makanan kering untuk kedua binatangnya. Halvor memimpin jalan. Sementara kucing yang cenderung malas berjalan itu ia gendong di pundak sebelah kiri.

Di sepanjang jalan, mereka kerap bertemu wisatawan lain yang juga suka pada binatang. Namun ada juga yang takut dan trauma dengan anjing atau kucing. “Orang yang tadinya punya pengalaman buruk sama anjing, setelah kenal dan dekat sama Halvor malah nggak takut lagi. Kebetulan anjing tipe ini bisa cepat akrab dan ramah dengan orang lain,” ujarnya.


Reporter/Penulis: GRESNIA ARELA,MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE