INTERMESO

Karena Sesama Muslim Dilarang Berperang

Ada ratusan prajurit India-Pakistan yang membelot dari Sekutu dan memihak Indonesia. Sebagian besar beragama Islam.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Minggu, 11 November 2018

Dua perwira muda Mayor Zaini Azhar Maulani dan Mayor KKO Suharmo Haryanto yang sedang menempuh pendidikan di Command and General Staf College Quetta, Provinsi Balochistan, Pakistan, hari itu terbang menuju Islamabad. Mereka rencananya mengisi liburan semester pertama pada Maret 1971 di ibu kota Pakistan sekaligus memberikan laporan rutin dan melengkapi laporan bulanan kepada Atase Militer dan Atase Angkatan Laut di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Pakistan.

Saat keluar dari mobil milik kedutaan yang menjemput mereka di Bandara Internasional Islamabad mereka disambut penghormatan jaga berjajar enam orang berwajah pribumi Pakistan yang berseragam unit pengamanan kedutaan. Kedua perwira muda itu terperangah melihat tim penyambut itu. Tiga pita yang tergantung di atas kemeja enam orang itu jadi penyebabnya. ZA Maulani sebagai perwira langsung mengenali tiga pita itu. "Tiga pita itu dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia," seperti yang diungkapkannya dalam buku Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Tak sembarangan orang bisa memakai tiga pita yang dilihat Maulani itu : Pita Bintang Gerilya, Gerakan Operasi Militer (GOM) I, dan GOM II. GOM I diberikan pada prajurit yang turut bertempur saat operasi militer menghadapi peristiwa Madiun 1948. Sementara GOM II untuk mereka yang terlibat dalam operasi menghadapi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pada 1950. "Pada tahun 1971 Bintang Gerilya masih merupakan bintang tertinggi di lingkungan ABRI," kata Maulani, mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie.

Melihat para penyambutnya memakai tiga pita itu, tanpa pikir panjang Z.A. Maulani dan Suharmo memberi hormat terlebih dulu dan menyalami satu persatu. Dalam kategori komunitas TNI, penyandang bintang jasa itu tergolong "Generasi 1945". "Mengikuti kebiasaan prajurit Siliwangi mereka itu dihormati dengan panggilan maung kolot atau macan tua," ujar Maulani, alumnus Akademi Militer Nasional 1961 itu. "Karena jasa-jasa mereka pada tanah air dan bangsa Indonesia maung-maung kolot itu sangat layak mendapat penghormatan dari kami."

Prajurit India yang bergabung dengan pasukan Sekutu
Foto : dok. Imperial War Museum

Kisah para penerima tanda jasa itu dimulai 43 hari setelah Republik lahir. Satu divisi pasukan Inggris dari Divisi India ke-23 berlabuh di Tanjung Priok pada 29 September 1945 yang dipimpin Mayor Jenderal D.C. Hawthorn. Bersama pasukan ini ikut pula perwira penerangan pasukan India, Kapten Poonamalle Ramakrishna Subrahmanyan, atau lebih dikenal sebagai P.R.S. Mani, yang bertugas melaporkan semua kegiatan tentara India. Divisi ini ditugaskan untuk daerah Jawa Barat termasuk Batavia.

Kedatangan kelompok pertama itu kemudian disusul Divisi India ke-26 di bawah komando Mayjen H.M. Chambers untuk menduduki Padang dan Medan pada 10 Oktober. Sementara pada 20 Oktober di Semarang mendarat Brigade Darurat dan terakhir Divisi India ke-5 di bawah komando Mayjen E.C. Mansergh untuk Jawa Timur pada 30 Oktober.

Militer Inggris dianggap jadi bagian rencana membangun kembali kekuatan kolonial Belanda'

Mani mencatat tak ada riuh sambutan bagi pasukan ini seperti yang mereka dapatkan saat mendarat di Burma dan Malaysia. "Suasana tenang yang mencekam dan tidak menyenangkan di situ menunjukkan adanya kecurigaan," ujar Mani dalam buku Jejak Revolusi 1945.

Keterlibatan pasukan India yang saat itu masih satu wilayah dengan Pakistan dalam militer Inggris punya riwayat panjang. Sebagai daerah jajahan Inggris, pasukan dari kawasan itu sudah ikut dalam Perang Dunia I. Masa itu hampir 1,3 juta prajurit dari India terlibat perang di Eropa, Mediterania, Mesopotamia, Afrika Utara dan Timur. Begitu juga saat Perang Dunia ke-2, lebih dari 2 juta prajurit India terlibat di dalamnya.

Pengiriman tentara Sekutu itu ditujukan untuk melucuti dan memulangkan serdadu-serdadu Jepang serta menyelamatkan tahanan-tahanan Eropa dari kamp-kamp interniran. Selama masa pendudukan Jepang terdapat 68 ribu tawanan perang dan interniran di Pulau Jawa sementara di Pulau Sumatera lebih dari 13 ribu orang. Presiden Sukarno sendiri meminta agar pendaratan pasukan Sekutu itu tidak dihalang-halangi. Syaratnya hanya dilakukan untuk ketentraman umum dan tidak menyinggung masalah kemerdekaan Indonesia.

Belanda memang ingin mendompleng pasukan Sekutu untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia. Mengingat kekuatan militer Belanda sendiri sudah tak memadai untuk kepentingan itu. Belanda juga berniat menyusun kembali kekuatan sisa-sisa tentara kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). "Akhirnya militer Inggris dianggap jadi bagian rencana membangun kembali kekuatan kolonial Belanda," ujar Firdaus Syam, penyusun buku Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia kepada detikX, Rabu lalu.

Perang Surabaya pada November 1945
Foto : dok. Imperial War Museum

P.R.S. Mani yang juga seorang wartawan mencatat, sebagian tentara India, terutama prajurit India yang beragama Islam, agak enggan dikirim ke Indonesia dan menghadapi kemungkinan mesti bertempur dengan prajurit Indonesia. Apalagi saat kemudian mereka dikirim ke Surabaya dan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak.

“Pelabuhan sudah penuh dengan tulisan anti kolonialisme dan imperialisme....Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Jawa, kami menemui slogan dalam bahasa Hindi, ‘Azadi ya Khunrezi....Merdeka atau pertumpahan darah’,” Mani menulis. Pengaruh slogan-slogan itu di kalangan prajurit India, terutama para prajurit dari Mahratta dan Rajputana, menurut Mani, sungguh luar biasa. “Aku mendengar laporan, ada sebagian dari mereka mulai bertanya kepada para perwira apakah mereka mesti bertempur melawan prajurit Indonesia.”

Di India sendiri, pengiriman prajurit-prajurit India di bawah bendera pasukan Sekutu ke Indonesia dan beberapa negara lain, sebenarnya tak disokong para pemimpin pergerakan seperti Jawaharlal Nehru. Beberapa kali Nehru memprotes diterjunkannya prajurit-prajurit India dalam pertempuran melawan tentara Indonesia. “India mestinya mengikuti Australia dan China yang menolak pemakaian kekuatannya untuk menindas kemerdekaan Indonesia,” kata Nehru dikutip Richard McMillan dalam bukunya, The British Occupation of Indonesia: 1945-1946.

Pihak Belanda sebenarnya khawatir keputusan Inggris mengirimkan divisi-divisi India. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus Johannes van Mook dalam bukunya Indonesie Nederland En De Wereld menuturkan banyak pasukan Inggris yang dikirim sudah bertahun-tahun berada dalam medan tempur. Mereka umumnya dikuasai rasa ingin pulang. Apalagi tugas di Hindia Belanda berada di luar kepentingan langsung Kerajaan Inggris. Membuat penugasan itu jadi tidak populer di kalangan prajurit militer Inggris.

Van Mook sendiri menyebut Belanda sebenarnya mengusulkan dikerahkan divisi Afrika. Namun usulan itu ditolak. Belanda takut perkembangan situasi di kawasan India yang juga sedang berjuang mendapatkan kemerdekaan akan mempengaruhi daya juang prajurit-prajurit tersebut. Selain itu muncul rasa khawatir prajurit terutama yang beragama Islam yang berasal dari kawasan Pakistan berbalik menjadi simpati pada perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaannya.

Prajurit India dalam pertempuran di Surabaya pada November 1945
Foto : dok. Imperial War Museum

Kisah lain dituturkan Firdaus Syam yang terjadi pada pasukan India-Pakistan yang mendarat di Surabaya. Salah seorang dari prajurit itu bernama Ghulam Rasul. Ghulam mendapat kabar banyak orang yang berasal dari daerah yang sama dengan dirinya berada di sekitar daerah yang kini disebut Jembatan Merah. "Salah satunya bernama Zaristan yang telah fasih berbahasa Indonesia," ujar Firdaus yang juga Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional. Zaristan memberi informasi banyak penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam.

Di rumah Zaristan pula, Ghulam dan kawan-kawannya mendengar pidato Sukarno yang berapi-api. Melalui bantuan Zaristan, Ghulam memahami dalam pidato tersebut Bung Karno meminta bantuan saudara-saudara dari India. Pidato Sukarno tadi medapat respon salah satunya dari Markas Besar Liga Muslim India di New Delhi. Pimpinannya Muhammad Ali Jinnah menyampaikan protes keras atas penjajahan Belanda. Pendiri Republik Islam Pakistan itu menyerukan pula agar seluruh umat Islam di India-Pakistan bergerak membantu perjuangan Indonesia.

Keputusan meninggalkan satuan hanya mungkin terjadi bila ada pendorong sangat dahsyat di luar rasio atau sebab-sebab yang sangat prinsip

Sejumlah prajurit yang mendengar anjuran dari Ali Jinnah itu jadi bimbang menjalankan perintah komandannya. Batin mereka berkecamuk karena baru menyadari kedatangan mereka ke Indonesia ternyata untuk memerangi sesama muslim. Salah satunya Lance Naik atau Kopral Kepala Mir Khan yang mengaku sangat gelisah setiap kali mendengar teriakan "Allahu Akbar!" ketika berhadapan kontak senjata dengan laskar-laskar Indonesia. Kegelisahan ini menjadi perbincangan di antara para prajurit India-Pakistan.

"Berperang dan membunuh sesama Muslim yang sedang memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan dipandang sebagai dosa besar," ujar Zahir Khan, anak dari seorang prajurit Pakistan yang membelot ke Indonesia, Hikmat Khan, kepada detikX, Kamis lalu.

Tak kurang dari 600 serdadu asal Pakistan membelot dan bergabung dengan kubu Republik. Jumlah itu dibenarkan Atase Pertahanan Kedutaan Besar Pakistan untuk Indonesia Kolonel Khurram Shabbir dalam keterangan resminya pada detikX. Menurut MAulani keputusan untuk melakukan desersi di medan perang merupakan keputusan berat dengan resiko tinggi. Di manapun menurut hukum militer ancaman sanksinya adalah hukuman mati. "Keputusan meninggalkan satuan hanya mungkin terjadi bila ada pendorong sangat dahsyat di luar rasio atau sebab-sebab yang sangat prinsip," kata Maulani.

Tak semua pembelot dari India-Pakistan ini dilandasi pertimbangan agama. Tapi faktor agama (Islam) jelas berpengaruh besar. Meski hanya sebagian kecil dari prajurit-prajurit India yang dikirim ke Indonesia beragama Islam, namun menurut penelusuran Richard McMillan, 60 persen dari para pembelot ini seorang muslim. Berdasar laporan intelijen dari markas besar Pasukan Sekutu di Indonesia, desersi ratusan prajurit India itu sepertinya tak terlalu dipandang masalah serius. "Jumlah prajurit muslim yang tak mau bertempur melawan sesama muslim itu jelas hanya sebagian kecil saja," Richard mengutip.

Meski tak diangggap masalah serius, pada beberapa kompi, pembelotan ini membuat kekuatan mereka tergerus habis. Misalnya yang terjadi pada Batalyon Punjab 8/8th di Sumatera dan Batalyon Punjab 6/8th di Pulau Jawa. Tingkat pembelotan di dua batalyon ini jauh lebih besar dari batalyon lain. Di lihat dari namanya, para desertir ini terang seorang muslim. Mereka membelot ke kubu Indonesia dengan membawa semua persenjataan. Rata-rata pembelot ini kabur meninggalkan markasnya pada malam hari, meski ada pula yang membelot saat operasi militer.

Setelah berakhirnya perang kemerdekaan para pasukan pembelot dari Pakistan hanya tersisa 75 orang. Ada yang memutuskan repatriasi ke Pakistan pada tahun 1950 sebanyak 30 prajurit. Beberapa yang kembali ke Pakistan dikaryakan sebagai tenaga pengamanan kedutaan di Islamabad. Sementara yang memutuskan tinggal di Indonesia, sebagian meneruskan pekerjaan sebagai prajurit TNI maupun Polri.


Penulis: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE