INTERMESO

"Tidak Boleh Muslim Bunuh Sesama Muslim"

Ada 746 prajurit India-Pakistan yang membelot dari Pasukan Sekutu dan ikut bertempur di pihak Indonesia. Mengapa mereka membelot?

Poster propaganda untuk membujuk para prajurit India-Pakistan di Surabaya pada 1945.

Foto: dok. Imperial War Museum

Selasa, 13 November 2018

Hikmat Khan kaget mendengar perubahan perintah dari komandannya. Divisi India yang menjadi bagian dari Pasukan Sekutu di bawah komando militer Inggris yang menaungi prajurit asal Peshawar itu diinstruksikan berangkat ke Indonesia. Kala itu Indonesia baru beberapa pekan memproklamasikan kemerdekaannya.

Semula, prajurit-prajurit dari India-Pakistan itu memang tak ada rencana dikirim ke Indonesia. "Awalnya mereka dikabarkan akan bertugas di wilayah Singapura," ujar Zahir Khan, salah seorang anak Hikmat, kepada detikX, di kediamannya di kawasan Sunter, Jakarta, Kamis pekan lalu.

Indonesia sebenarnya bukan kawasan yang asing bagi Hikmat. Abang kandung Hikmat, Aslam Khan, sudah jauh hari merantau dari kampung halaman mereka di India (kini Pakistan) ke Indonesia, kala itu masih Hindia Belanda. "Paman saya memilih merantau mengikuti orang Pakistan yang lebih dulu ke Indonesia. Tujuannya ya berdagang," ujar Zahir. Kadang-kadang mantan polisi Inggris yang bertugas di Hong Kong itu mengunjungi abangnya yang menetap di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Hikmat pun pernah beberapa waktu bermukim di wilayah Tapal Kuda itu.

Selepas bertugas di Hong Kong, Hikmat kembali ke kampung halamannya. Anak muda dari suku Pathan itu kemudian bergabung dengan dinas ketentaraan. Tak sulit bagi Hikmat untuk diterima jadi prajurit. Perawakan orang-orang Pathan yang kokoh kuat dengan stamina baik membuatnya sangat diminati militer Inggris. Tidak berapa lama setelah mendarat di Surabaya, Hikmat memutuskan menyeberang ke pihak Indonesia. "Kalau saya mengikuti mereka melawan sesama muslim, saya berdosa. Tidak bisa seorang muslim membunuh sesama muslim," ujar Nazir menirukan alasan ayahnya membelot.

Hikmat bukan satu-satunya tentara India-Pakistan yang membelot ke pihak Indonesia pada perang kemerdekaan. Di Jawa Barat, Ghulam Rasul, prajurit Divisi India ke-23, yang mendarat di Tanjung Priok pada akhir September 1945 mengisahkan, saat merencanakan pembelotan, dia sudah menjalin kontak dengan sejumlah komandan di Divisi Siliwangi. Ghulam berserta tujuh kawannya diminta mengucapkan salam 'assalamualaikum' sebagai kode agar tak ditembak. Mereka kemudian bergabung dengan Kompi I Brigade II Resimen II Divisi Siliwangi yang ditempatkan di daerah Ciawi.

Tentara Sekutu dalam perang Surabaya pada 1945
Foto : dok. Imperial War Museum

Menurut Richard McMillan dalam bukunya, The British Occupation of Indonesia: 1945-1946, ada 746 prajurit India-Pakistan yang desersi dan membelot membela Indonesia. Dibanding total pasukan Sekutu yang dikirim ke Indonesia kala itu, sekitar 45.000 prajurit, tentara yang membelot ini hanya 1,7 persen.Tak semua pembelot dari India-Pakistan ini dilandasi pertimbangan agama. Tapi faktor agama (Islam) jelas berpengaruh besar.

Meski hanya sebagian kecil dari prajurit-prajurit India yang dikirim ke Indonesia beragama Islam, namun menurut penelusuran Richard McMillan, 60 persen dari para pembelot ini seorang muslim. Berdasar laporan intelijen dari markas besar Pasukan Sekutu di Indonesia, desersi ratusan prajurit India itu sepertinya tak terlalu dipandang masalah serius. "Jumlah prajurit muslim yang tak mau bertempur melawan sesama muslim itu jelas hanya sebagian kecil saja," Richard mengutip.

Kisah pembelotan lainnya datang dari Medan ketika Kontingen pertama Brigade ke-4 dari Divisi India ke-26 yang ditugaskan menduduki kota Medan dan sekitarnya mendarat di Belawan. Kontingen ini terdiri dari Batalyon 6 South Wales Border, unit-unit administrasi, dan satu kompi angkutan. Di samping itu turut pula pembesar-pembesar Netherlands Indies Civil Administration (NICA) beserta peleton Korps Intelijen Koninkelijke Nederlands Indische Leger (KNIL). Kontingen ini berangkat dari Madras, India, menggunakan belasan kapal berbagai jenis.

Tapi persiapan kedatangan rombongan tersebut sudah dilakukan beberapa minggu sebelumnya. Dua tim pendahulu dipimpin Letnan Satu (Pelaut) Brondgeest, perwira Angkatan Laut Belanda, lalu disusul Letnan Westerling bersama tiga sersan yang diterjunkan di dekat Polonia dengan membawa 180 pucuk revolver. Pasukan Sekutu yang baru datang itu ditampung di Hotel De Boer, Medan. Sebagian sisanya ditempatkan di Grand Hotel.

"Awalnya mereka hanya kasih senjata untuk para pejuang...Puncaknya mulai terjadi pembelotan demi pembelotan."'

Di belakang Grand Hotel itu, menurut sejarawan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Suprayitno, terdapat rumah makan Fajar Asia dan Penginapan Cinta Saudara. Pemiliknya anggota Laskar Rakyat Napindo bernama Nyak Hamzah Abdullah. Fajar Asia menjadi tempat makan favorit bagi tentara India-Pakistan yang beragama Islam. "Sepertinya prajurit itu cari masakan halal yang sesuai lidah mereka. Apalagi letaknya cukup dekat dengan penginapan," ujar Suprayitno kepada detikX.

Interaksi tentara-tentara Sekutu itu dengan penduduk lokal semakin intens di rumah makan itu. Mereka lantas berkenalan dengan dua orang pejuang keturunan India bernama Tabib Ansari dan Ajad-Husin. Ansari "mencuci otak" pasukan Divisi India dari Pakistan. Kesucian perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan jadi materinya. Balutan ideologis dalam propaganda itu memang berhasil. Simpati tentara-tentara Sekutu itu makin lama makin besar. "Awalnya mereka hanya kasih senjata untuk para pejuang," ujar Suprayitno. "Puncaknya mulai terjadi pembelotan demi pembelotan."

Pembelotan pun diatur dari rumah makan dan penginapan itu. Tentara asal Pakistan diinapkan satu malam. Seragam militer mereka ditenggelamkan dalam sumur penginapan. Menjelang subuh satu per satu tentara meninggalkan penginapan dengan senjata lengkap yang dibungkus dengan seprai. Mereka lantas bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) B yang dipimpin Kapten Nip Xarim yang bermarkas di Two Rivers Estate, sekitar 18 kilometer di sebelah selatan Polonia.

Pasukan Sekutu di Surabaya
Foto : dok. Imperial War Museum

Nip Xarim ini baru berusia 24 tahun. Bekas juru tulis pemerintah militer Jepang di Medan ini merupakan putra Abdulkarim atau Xarim M.S. tokoh komunis Sumatera Timur kelahiran Aceh. Menurut Anthony Reid dalam bukunya The Blood of The People : Revolution and The End of Traditional Rule in Northern Sumatra ,puncak desersi tentara Pakistan terjadi pada Maret 1946. Sekitar 15 orang tentara memutuskan ikut berjuang bersama laskar Republik. "Mereka bersimpati terhadap perjuangan anti kolonial," Anthony Reid menulis.

Selain Tabib Ansari ada orang berkebangsaan India lainnya bernama Abdul Sattar Al-Quraisyi yang juga berperan membujuk pasukan dari Pakistan. Melalui Abdul Sattar atau kemudian lebih dikenal dengan nama Young Sattar, para tentara itu menyerahkan 6 peti granat, 24 pucuk stengun, dan 8 pucuk senapan Lee Einfield. Sejumlah prajurit pun membelot dan berjuang bersama Young Sattar. Sattar,  yang dikenal sebagai petinju era 1950-an, memimpin sebuah batalyon multietnis termasuk pemuda Arab dan Tionghoa.

Suprayitno menyebut sekitar 71 orang serdadu Inggris dari Divisi India yang memutuskan meninggalkan kesatuannya di wilayah Sumatera Timur.  Prajurit-prajurit itu ikut bertempur dan sebagian besar gugur di berbagai front pertempuran. Hanya tersisa 75 orang, termasuk Hikmat Khan dan Ghulam Rasul, yang berhasil selamat hingga perang usai. Hikmat memilih gantung senjata. Sementara Ghulam melanjutkan karirnya di Angkatan Darat sampai pensiun pada 1965 dengan pangkat terakhir Letnan Dua.

Pembelotan prajurit ini menjadi perhatian khusus Kantor Perang militer Inggris di London. Letnan Kolonel George Slater Nangle seorang perwira penghubung dari Kantor Perang Inggris yang mengunjungi Indonesia pada November 1945 melaporkan, "ada sejumlah prajurit beragama Islam menjadi sasaran propaganda dari kaum Muslim Indonesia dan beberapa diantaranya membahayakan." Laporan Letkol Nangle itu dikutip Richard McMillan dalam bukunya.

Prajurit India dalam pasukan Sekutu
Foto :  dok. Imperial War Museum

Propaganda solidaritas sesama muslimin itu dilakukan dalam berbagai bentuk. Brigade Infantri India ke-49 yang bertugas di Surabaya mendengar panggilan lewat pelantang meminta semua umat Islam bersatu dan mendukung perjuangan revolusi. Kadang-kadang juga dilakukan dengan menangkap satu persatu pasukan India Muslim kemudian dibujuk dengan sentimen keagamaan saat ditahan. Sementara di Jawa Barat, ditemukan selebaran-selebaran yang ditulis dalam bahasa Inggris berisi ajakan untuk desersi dan bergabung dengan tentara muslim Indonesia.

Beda lagi di Bandung bagian selatan, setiap malam ada propaganda lewat siaran radio dalam bahasa Inggris dan Hindustan. Penyiarnya memakai nama Kapten Rashid. Pihak militer Inggris menduga kuat penyiar itu salah seorang prajurit yang lebih dulu desersi. "Beberapa eks prajurit Pakistan yang saya temui menyatakan mereka sempat dilarang mendengarkan siaran radio," ujar Zahir Khan.

Beberapa eks prajurit Pakistan yang saya temui menyatakan mereka sempat dilarang mendengarkan siaran radio

Dua unit yang tingkat desersinya paling banyak berasal dari Batalion ke-8 dari Resimen Punjab ke-8 di Sumatra dan Batalion ke-6 dari Resimen Punjab ke-8 di Jawa. Sebagian besar para pembelot meninggalkan baraknya saat malam tapi ada juga yang desersi saat operasi militer. Tetapi tidak semua unit yang mayoritas beragama Islam ada prajurit yang kabur. Contohnya Batalion ke-4 Resimen Infantri Rajpur ke-4 yang bertugas di JawaBatalion ke-2 dari Frontier Force Rifles ke-7. "Sepertinya komandannya memiliki kedekatan dengan para bawahannya atau punya lingkungan markas yang nyaman," tulis McMillan.

Budi yang ditanam para prajurit Pakistan pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu tak pernah terlupakan. Saat pecah konflik India-Pakistan pada 1965, Presiden Sukarno memilih memihak Pakistan. Sejumlah kapal selam Angkatan Laut Republik Indonesia dikirimkan ke Teluk Benggala untuk membantu memblokade pangkalan Angkatan Laut India.


Penulis: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE