INTERMESO

Kisah Haru
'Ratu Hantu' Suzanna

"Ketika kami dalam kemelut dulu, kami sempat berencana bunuh diri bertiga. Kamar sudah kami siram dengan bensin"

Ilustrasi : Edi Wahyono

Minggu, 18 November 2018

Di kehidupan nyata, Suzanna bukan lah ‘hantu’ yang menyeramkan seperti yang dia tampilkan dalam film-filmnya. Dia bukan Suzanna yang bicaranya pelan dan datar dengan tatapan yang bikin kuduk meremang. Dia bukan Sundel Bolong bukan pula Nyi Blorong.

Suzzanna Martha Frederika van Osch, menurut suaminya, Clift Sangra, juga bukan orang yang pendiam dan selalu serius. “Hahaha...dia beda 180 derajat. Di rumah, Suzanna itu orang yang ceria, cerewet dan riang,” kata Clift kepada detikX, beberapa hari lalu. “Ya, kadang-kadang dia memang suka berdiam diri.”

Suzzanna punya darah gado-gado Jerman-Belanda-Manado-Jawa dalam tubuhnya. Lahir di Bogor pada 13 Oktober 1942, bakat seni mengalir dari orangtuanya. Ayahnya seorang pemain sandiwara sementara ibunya seorang penyanyi. Usianya baru delapan tahun saat Suzanna pertama kali main dalam film garapan Usmar Ismail, Bapak Film Indonesia, Darah dan Doa, pada 1950.

Berkat kegigihannya, beberapa tahun kemudian Suzanna yang telah jadi gadis remaja bisa memenangkan audisi di Yogyakarta untuk bermain dalam film Asrama Dara yang juga disutradarai oleh Usmar Ismail. Akting Suzanna yang bermain sebagai Ina yang lugu dipuji banyak orang. Pada April 1960, Suzanna terpilih sebagai aktris anak terbaik dalam film Asrama Dara pada Festival Film Asia ke-7 di Tokyo.

Suzanna nikah muda. Dia baru 18 tahun saat menikah dengan Dicky Suprapto pada 1960. Konon, Dicky yang juga seorang aktor sudah dikenalnya sejak SMP di Magelang. Mereka berdua mendirikan perusahaan film Tidar Djaja Film dan sempat memproduksi beberapa film seperti Tuan Tanah Kedawung dan film horor Beranak Dalam Kubur. Pasangan ini dikaruniai dua anak, Arie Adrianus Suprapto dan Kiki Maria.

Suzanna dan Clift Sangra pada 1983
Foto : dok.pribadi Clift Sangra

Beranak Dalam Kubur yang disutradarai oleh Ali Shahab ini merupakan film horor pertama Suzanna. Saat itu Suzanna sudah menjadi bintang dan salah satu aktris dengan bayaran tertinggi di Indonesia. Untuk film Bernapas dalam Lumpur (tahun 1970), kabarnya dia mendapat honor Rp 1 juta. Tapi saat karirnya ada puncak, justru rumah tangganya berantakan dan tertimpa musibah.

Dicky mengaku terpikat seorang janda muda di sebuah klub malam di Jakarta. Demi janda muda itu, Rachmawati Soekarnoputri, Dicky meninggalkan Suzanna dan kedua anak mereka, Arie dan Kiki. Hubungan Dicky dan Rachma ini sempat bikin heboh di media lantaran Dicky belum resmi bercerai dari Suzanna.

Mereka sudah sama-sama dewasa, tahu mana yang baik dan buruk'

Dicky, saat itu 33 tahun, sementara Rahmawati, 24 tahun. Kepada wartawan, Dicky berdalih tak menikah secara sah dengan Suzanna. “Mereka sudah sama-sama dewasa, tahu mana yang baik dan buruk,” kata Guntur, kakak Rachmawati, menanggapi hubungan adiknya dengan Dicky, dikutip majalah Tempo, pada 1970-an. Dicky dan Rachmawati menikah pada 1975.

Terguncang oleh prahara rumah tangganya, Suzanna sempat libur panjang dari dunia film. Sekitar empat tahun dia cuti dari industri film. Kepada wartawan Benta Buana beberapa tahun kemudian, Suzanna menuturkan bagaimana dia bersama kedua anaknya melewati masa-masa gelap itu.

“Ketika kami dalam kemelut dulu, kami sempat berencana bunuh diri bertiga. Kamar sudah kami siram dengan bensin. Saya sudah siap dengan pistol. Tapi Arie tiba-tiba berkata, ‘Jangan Mama, kita tidak boleh mati. Saya belum mau mati, saya belum membalas kebaikan mama. Arie belum membahagiakan mama,” Suzanna, artis termahal di Indonesia kala itu, menuturkan.

Suzanna dalam Asrama Dara pada 1958
Foto : dok.pribadi Clift Sangra

Belum juga pulih luka dari perpisahan dengan Dicky, datang lagi musibah menimpa Suzanna. Pada Kamis malam itu, 8 September 1977, Arie Adrianus baru pulang dari bertamu ke rumah teman perempuannya, Wiwiek. Pemuda tinggi kurus berambut gondrong itu menghadiahkan puisi kepada Wiwiek.

Seorang pemabuk berjalan dengan gontai

Ia sedang dilanda duka

Tiada kata tiada sapa

Ia mati tak tersangka

Ya, malam itu, putra sulung Suzanna yang baru 17 tahun itu mati tak tersangka. Pisau dari beberapa pemuda yang mengeroyoknya menikam perut dan lehernya. Upaya Suzanna melarikan Arie ke Rumah Sakit Pertamina tak bisa menyelamatkan putranya. Menjelang subuh, Arie meninggalkan Suzanna dan adiknya, Kiki Maria. Padahal, sebelum Arie meninggal, Suzanna sebenarnya siap meneken kontrak film lagi. “Uangnya untuk menyenangkan kedua anak saya,” kata Suzanna.

Perpisahan kedua orang tuanya memang membuat Arie limbung. Dia sempat lari kepada morfin. Sempat pula bikin geng Ereran yang kerjanya kebut-kebutan di jalanan Jakarta. Tak jarang pula terlibat tawuran. Seusai lulus dari SMP Pangudi Luhur, Arie juga menolak melanjutkan sekolah. Dia memilih mengoprek motor dan mengisi acara di Radio Amigos.

Dia juga pernah kursus musik. Bahkan ibunya berencana mengirimnya ke Amsterdam, Belanda, untuk sekolah musik. “Tapi bulan-bulan terakhir ini dia manis sekali,” kata Suzanna. Arie dikuburkan di pemakaman Batu Tulis, Bogor. Saat pemakaman, ayahnya, Dicky, datang bersama Rachmawati.

Ali Shahab lah yang akhirnya bisa merayu Suzanna untuk bermain film lagi setelah empat tahun 'bersembunyi'. Mengenakan baju serba hitam yang kontras sekali dengan kulit putihnya, Suzanna datang ke konferensi pers bersama Nur Afni Octavia dan Robby Sugara, pada Desember 1978. Sudah empat tahun dia tak main film sejak 1974 setelah prahara dalam rumah tangganya. “Almarhum anak saya ingin saya main film lagi,” kata Suzanna.

Selama ‘libur’ main film, kabarnya sudah 30 kali dia menolak tawaran bermain film. Hanya lantaran teman dekatnya, sutradara Ali Shahab, dia mau main film lagi dalam Pulau Cinta bersama Robby Sugara. Film drama ini lumayan sukses. Suzanna masuk nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada 1979.

Poster Film Beranak Dalam Kubur (1971)
Foto : dok.Wikipedia

Dia dan Suzanna, kata Ali Shahab, memang sudah kenal lama. Menurut Ali, dia sempat menjadi make-up artist untuk Rapi Film yang didirikan oleh Gope T. Samtani pada 1968. “Saya lupa judul filmnya apa. Kebetulan yang jadi pemeran utamanya Suzanna. Karena saya make up artist, saban hari ketemu juga, lama-lama kami jadi bersahabat,” Ali menuturkan kepada detikX, Sabtu lalu.

Ali Shahab pula yang menjadi sutradara film horor pertama Suzanna, Beranak Dalam Kubur, pada 1971. Setelah film horor yang sangat laris pada masa itu, Ali kembali menyutradarai beberapa film Suzanna seperti Bumi Makin Panas dan Napsu Gila. “Suzanna walaupun saat itu sudah jadi artis paling terkenal dan namanya besar, dengan kami sangat akrab sekali dan sama sekali nggak meminta perlakuan khusus,” ujar Ali.

Kami sudah lama nggak ada komunikasi. Saya juga tak tahu dia tinggal di mana

Setelah Beranak Dalam Kubur, Suzanna lumayan lama tak bermain film horor. Baru pada 1981, dia kembali bermain film horor dalam Sundel Bolong yang disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra. Sejak saat itu, tawaran main film horor datang bertubi-tubi. “Kebetulan masyarakat sepertinya lebih suka beliau main film horor,” kata Clift. Film-film hantu, suka tak suka, tetap disukai sampai hari ini.

Suzanna dan Clift Sangra menikah pada 1983. Clift merupakan lawan main Suzanna dalam film Sangkuriang. Saat menikah dengan Cliff, Suzanna sudah 41 tahun, sementara Cliff kurang lebih 23 tahun lebih muda. Menurut Clift, setelah Sangkuriang, dia masih bermain bersama istrinya dalam 6 film layar lebar dan tiga sinetron. Usai membintangi film Ajian Ratu Kidul pada 1991, Suzanna pulang ke Magelang, Jawa Tengah, dan menyepi dari hiruk pikuk industri film.

Sebenarnya, kata Clift, masih banyak yang menawarinya main film. “Tapi ditolak Suzanna,” ujar Clift. Suzanna memilih pulang ke kampung halaman di Magelang untuk mengurus ibunya yang sudah lanjut usia, Johanna Van Osch. “Dia mau fokus mengurus ibunya.” Selama sekian tahun tak banyak berita soal Suzanna.

Pada pertengahan November 2005, tiba-tiba ada kabar heboh soal keluarga Suzanna. Clift Sangra dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penganiayaan terhadap Abriharso Prihanto, suami dari Kiki Maria, anak tirinya sendiri. Clift balas melaporkan Abriharso dengan tuduhan yang sama. Gara-gara kasus itu, hubungan Suzanna dengan Kiki Maria memburuk dan Clift sempat beberapa bulan menghuni penjara.

Hingga Sang Ratu Film Horor meninggal pada 15 Oktober 2008, dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-66, hubungan ibu-anak itu masih renggang. Bahkan konon, Kiki tak dapat warisan dari 'Ratu Hantu' Suzanna. “Kami sudah lama nggak ada komunikasi. Saya juga tak tahu dia tinggal di mana,” kata Clift Sangra soal hubungannya dengan anak tirinya, Kiki Maria, saat ini.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE